Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kesedihan Nyonya Yolanda


__ADS_3

Rasa sakit yang dirasakan oleh Nyonya Yolanda masih belum sembuh. Bahkan jika ditanya kembali, air matanya masih saja mau menetes. Sekarang ia kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit. Nyawa Tesya tidak bisa diselamatkan. Kabar terakhir yang ia dapat Otis juga telah tewas di dalam jurang. Suaminya harus masuk ke dalam penjara karena terbukti telah merencanakan pembunuhan Pak Rahmad.


Ditemukannya Tante Renata di dalam kamar Tesya sebenarnya menimbulkan kecurigaan di dalam hati Nyonya Yolanda. Namun apalagi yang bisa ia lakukan untuk saat ini? Sejak Tesya tidak ada dia tidak bisa percaya dengan siapapun lagi. Semua bisa saja menjadi penghianat demi mendapatkan uang.


Setelah pulang dari pemakaman Tesya, Nyonya Yolanda mengurung diri di dalam kamar. Sekarang harta yang dia miliki benar-benar tidak berguna. Jika ada kebahagiaan dijual, mungkin ia akan membeli kebahagiaan dengan harta yang ia miliki. Karena untuk saat ini Nyonya Yolanda membutuhkan kasih sayang dan cinta.


Suara ketukan pintu membuat Nyonya Yolanda memiringkan kepalanya ke samping. Wanita itu memberi izin untuk masuk sebelum meletakkan bantal di atas pangkuannya. Matanya masih merah dan bengkak. Masih terlihat jelas wajah kesedihan di sana.


Seorang pelayan masuk membawakan makan dan minum untuk Nyonya Yolanda. Padahal sebenarnya dia tidak ada memesan sejak awal. Pelayan itu berinisiatif membawakan makanan dan minuman karena ia takut sampai Nyonya Yolanda jatuh sakit. Dia tahu kalau beban yang diderita oleh Nyonya Yolanda sangat berat. Wanita itu tidak akan mampu memikulnya sendirian.


"Bawa saja kembali makanan dan minuman ini ke dapur karena aku belum selera makan. Jika nanti aku sudah lapar, aku akan menghubungimu." Nyonya Yolanda selalu menggunakan bahasa dan tutur kata yang sopan, meskipun berbicara dengan bawahannya. Hal ini yang membuatnya selalu disayangi oleh semua pekerjanya di rumah.


"Makanannya masih hangat, Nyonya. Cicipilah walaupun sedikit. Perut Anda pasti kosong. Sejak kemarin anda belum ada makan."


Pelayan itu tahu kalau semalaman suntuk Nyonya Yolanda berada di kantor Polisi untuk memberi keterangan. Karena saat kejadian, Nyonya Yolanda yang pertama kali menemukan kediaman Tesya. Walaupun didampingi oleh pengacara tetap saja Nyonya Yolanda jadi tidak memiliki waktu untuk istirahat. Setelah semua masalah kematian Tesya selesai, justru Ia mendapat kabar Kalau Tuan Abraham akan segera menjalani proses hukuman. Pagi harinya setelah tiba di rumah Nyonya Yolanda langsung ganti pakaian dan berangkat lagi ke pemakaman Tesya. Setelah itu wanita itu kembali lagi ke rumah. Bisa dipastikan kalau Nyonya Yolanda tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk makan.


"Tapi aku belum lapar," jawab Nyonya Yolanda pelan. Suaranya hampir serak.


"Nyonya. Saya rela Anda pecat. Asalkan Anda mau memakan makanan ini. Saya tidak mau anda sampai sakit." Pelayan itu masih bersikeras untuk memaksa Nyonya Yolanda memakan masakannya. Sebelum-sebelumnya dia tidak berani seperti ini. Tetapi pelayan itu merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuk balas budi. Nyonya Yolanda selama ini telah memberi mereka kehidupan yang layak dengan gaji yang besar. Tidak pernah memaksa bawahannya untuk melakukan pekerjaan yang berat. Mereka tidak mau sampai Nyonya Yolanda jatuh sakit apa lagi sampai menjemput Tesya. Yang mereka tahu Tesya adalah nyawa Nyonya Yolanda. Mereka merasa yakin Tesya sudah tidak ada di dunia ini lagi, makanan Nyonya Yolanda tidak akan memiliki keinginan untuk hidup lebih lama.


"Tapi aku tidak mau memakannya. Mulutku terasa begitu pahit."


"Apa anda mau saya panggilkan dokter, Nyonya?"

__ADS_1


"Tidak. Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja. Tolong bawa makanan dan minuman ini kembali ke dapur. Setelah aku istirahat Aku akan menghubungimu untuk membawakan makan siang."


"Baiklah, Nyonya. Tetapi jika dalam waktu tiga jam anda tidak lagi menghubungi saya, saya akan kembali dengan membawa makanan dan minuman yang berbeda. Sekarang saya bawa makanan ini ke dapur." Pelayan itu meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa dan di atas nampan. Pelayan itu pergi meninggalkan kamar Nyonya Yolanda setelah berpamitan. Menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Nyonya Yolanda menghela napas panjang. Dia sendiri merasa tidak yakin kalau tiga jam lagi perutnya sudah lapar. Wanita itu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah tempat tidur. Sudah saatnya untuk istirahat. Dengan tidur setidaknya masalah yang sekarang ia hadapi bisa terlupakan walaupun hanya sejenak.


Baru ingin menaikkan kakinya ke atas tempat tidur tiba-tiba pintu kamar sudah terbuka lagi. Nyonya Yolanda memejamkan mata dengan tangan terkepal. Kali ini emosinya benar-benar diuji. Ia merasa yakin kalau orang yang muncul itu adalah pelayan yang tadi membawa makan dan minum.


"Aku sudah bilang kalau-"


Nyonya Yolanda menahan kalimatnya ketika melihat Otis berdiri di depan pintu. Wanita itu syok bukan main. Baru saja tadi malam Ia mendapat kabar kalau Otis telah tewas bahkan jasadnya dikebumikan di kampung halamannya sana. Tapi kini pria itu berdiri di hadapannya. Yang pertama kali diperhatikan oleh Nyonya Yolanda adalah kedua kaki Otis. Kaki pria itu bersentuhan langsung dengan lantai yang menandakan kalau Otis bukan hantu.


"Otis? Kau masih hidup?"


Tika yang saat itu berdiri di belakang Otis hanya bisa mengepal kedua tangannya dengan begitu erat. Wanita itu cemburu. Ya, dia cemburu. Hatinya terbakar melihat Nyonya Yolanda memeluk Otis dengan cara seperti itu. Terlihat jelas kalau tidak ada lagi batasan antara majikan dan supir. Mereka berdua justru terlihat seperti sepasang kekasih. Karena tidak mau semakin sakit hati, Tika memutuskan untuk pergi dari sana. Sambil berjalan, wanita itu meneteskan air matanya. Sejak tadi malam Ia mendapat kabar kalau Tante Renata telah tewas namun dia tidak bisa meneteskan air matanya. Tetapi kali ini melihat pria yang ia sukai memeluk wanita lain ia justru menangis. Tetesan air matanya semakin deras ketika ia semakin jauh dari posisi Otia berada.


Nyonya Yolanda melepas pelukannya dan memandang wajah Otis dengan mata berkaca-kaca. Dia mengusap lembut pipi Otis yang dipenuhi dengan luka-luka. Sambil menggeleng pelan, wanita itu sedikit berjinjit dan mendaratkan bibirnya di bibir Otis. Dia sangat merindukan pria itu. Dia tidak mau sampai kehilangan Otis.


Tiba-tiba saja Otis memegang pinggang Nyonya Yolanda dan mendorong wanita itu agar menjauh. Pria itu menggeleng pertanda dia tidak suka jika menyanyi Yolanda menciumnya.


"Kenapa, Otis? Kenapa kau menolakku?"


"Karena anda bukan milik saya!"

__ADS_1


Nyonya Yolanda terdiam mendengar jawaban Otis. Ia tidak menyangka kalau Otis akan mengatakan kalimat seperti itu. Bisa dibilang kenyataannya itu benar. Di antara mereka tidak ada status apapun kecuali majikan dan supir.


"Tapi aku membutuhkanmu."


"Anda bisa menggunakan pundak saya dan tubuh saya ketika anda sedang bersedih, Nyonya. Saya akan melakukan hal apapun agar anda tidak bersedih lagi. Tetapi Tolong jangan jadikan saja sebagai pelarian anda. Meskipun saya ini adalah supir anda, tetapi saya ini seorang pria yang masih memiliki harga diri. Saya tidak mau menyentuh wanita yang bukan milik saya."


Nyonya Yolanda seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Otis. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Maksudmu status. Kau butuh status?"


"Status saya sudah jelas kalau saya hanya seorang supir. Anda tidak perlu memberi saya status lebih dari itu."


"Tapi aku tidak mau kau menjadi supirku lagi!"


"Baiklah jika menurut anda itu yang terbaik, Saya akan terima. Setelah membereskan barang-barang saya di kamar saya akan pergi dari rumah ini." Otis menunduk di depan Nyonya Yolanda. Ketika pria itu mengangkat kepalanya tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat di pipi Otis. "Kau bilang kau mau pergi. Kau ingin pergi seperti Tesya meninggalkanku. Apa aku begitu buruk hingga kalian memutuskan untuk pergi dariku?" teriak Nyonya Yolanda marah.


"Nyonya, tolong jangan salah artikan kebaikan saya selama ini. Saya hanya profesional dalam bekerja. Saya tidak memiliki niat untuk merebut anda dari Tuan Abraham. Saya hanya merasa tidak tega saja melihat seorang wanita disakiti. Perhatian saya selama ini semata-mata karena saya ingin anda berubah menjadi wanita yang jauh lebih tegar. Meskipun anda memiliki segalanya. Jika hati Anda lemah anda akan mudah diperdaya oleh orang lain."


"Apa kau benar-benar akan meninggalkanku?" Suara Nyonya Yolanda berubah serak. Buliran air mata kembali menetes di pipinya. Wanita itu melangkah mendekati Otis. Ia bahkan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Otis. "Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendirian. Tidak ada yang aku percaya di dunia ini selain kau dan Tesya. Jika Tesya sudah tiada sekarang hanya tinggal kau yang bisa aku percaya Otis."


"Anda ingin saya tetap menjadi supir anda?" tanya Otis dengan tatapan yang begitu serius. Nyonya Yolanda mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Otis. Seharusnya dia bisa menjawab dengan cepat tetapi kali ini sepertinya ia memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Otis.


"Kenapa Anda diam saja, Nyonya?" tanya Otis sekali lagi.


Nyonya Yolanda menatap mata Otis tanpa berkedip. Wanita itu mengatur nafasnya yang sejak tadi tidak tenang. "Otis, menikahlah denganku."

__ADS_1


__ADS_2