Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Menu Kampung


__ADS_3

Otis tidak tahu harus memasak apa untuk Nyonya Yolanda. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memasak nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Ini menu paling simpel dan enak menurut versi Otis. Tidak tahu bagaimana dengan Nyonya Yolanda. Daging yang seharusnya bisa digunakan untuk menu sarapan sudah habis. Tadi malam Otis kelaparan dan memasak semua daging di atas panggangan sampai semua habis.


"Apa sudah matang? Wanginya sampai ke kamar." Otis memutar tubuhnya dan melihat Nyonya Yolanda yang sudah cantik dan wangi. Pria itu kembali ke kompor untuk memeriksa masakannya agar tidak gosong.


"Sudah hampir selesai, Nyonya. Saya sedang menggoreng sosis," ucap Otis sembari membolak-balikkan sosis goreng buatannya.


"Apa ini?" Nyonya Yolanda memperhatikan dua piring nasi goreng spesial buatan Otis yang kini tersaji di atas meja.


"Nasi goreng Nyonya," jawab Otis pelan. Menurutnya, orang bodoh sekalipun akan tahu kalau nasi yang di beri bumbu dan kecap namanya adalah nasi goreng. Bagaimana mungkin Nyonya Yolanda tidak tahu. Atau mungkin dia memang belum pernah makan nasi goreng? Tapi nasi goreng merupakan menu favorit orang Indonesia. Otis yakin itu.


"Kenapa bentuknya aneh sekali," ucap Nyonya Yolanda lagi sebelum duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Otis hanya bisa bersabar melihat tingkah laku majikannya. Pria Itu meletakkan sosis yang sudah matang di atas piring saji sebelum membawanya ke meja makan. Otis menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi sebelum menuang air ke dalam gelas.


"Bentuknya memang terlihat aneh, tapi rasanya bisa diadu dengan masakan chef hotel bintang lima, Nyonya," ucap Otis dengan penuh percaya diri.


"Oh ya?" Nyonya Yolanda terlihat ragu. Dia memegang sendok dan mengambil sedikit nasi goreng yang ada di piring. Wanita itu memperhatikan nasi yang ada di dalam sendok dengan seksama. Sebelum akhirnya ia memasukkannya ke dalam mulut.


Otis Yang biasanya lahap ketika makan nasi goreng kini terlihat tidak berselera melihat nasi goreng masakannya sendiri. Bukan karena rasa masakan itu tetapi karena ekspresi Nyonya Yolanda yang seolah-olah menyepelekan hasil masakannya. Perlahan Nyonya Yolanda menggerakkan mulutnya. Dia sedang mencicipi rasa dari nasi goreng itu sendiri. Memahami kira-kira bumbu apa saja yang terdapat di dalamnya. Wajahnya terlihat sangat aneh hingga membuat Otis khawatir kalau makanannya kali ini tidaklah enak.


"Apa seburuk itu rasa masakan saya nyonya?"


Nyonya Yolanda menggeleng. Dia memandang Otis lalu mengangguk. "Dari mana kau belajar membuat nasi goreng seperti ini?"


"Untuk memasak nasi goreng kita tidak membutuhkan keahlian khusus Nyonya. Hanya perlu mencampurkan dua bawang dan memasak nasinya bersama dengan kecap. Ini menu yang sangat sederhana," jawab Otis dengan penuh keyakinan.


"Tidak mungkin," ujar Nyonya Yolanda tidak percaya.


Lagi-lagi Otis hanya bisa mengelus dada menghadapi watak majikannya. "Jika anda tidak menyukainya, saya akan coba untuk memasak menu lain."


"Jangan!" Tolak Nyonya Yolanda. "Makanan ini sangat enak. Bahkan jauh lebih enak dari masakan chef di restoran bintang 5." Nyonya Yolanda mengambil nasi goreng lagi dengan sendok. Kali ini porsinya sedikit banyak dari porsi sebelumnya. Wanita itu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan penuh suka cita seolah-olah ini pertama kalinya dia makan enak.

__ADS_1


Otis tersenyum simpul melihat kelakuan Nyonya Yolanda. Kali ini pria itu baru mulai merasa lapar. Dia juga memakan masakannya sendiri dengan begitu lahap. Suasana menjadi kembali hening. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca.


...***...


Tidak butuh waktu lama, dua porsi nasi goreng dan sepiring sosis telah habis dilahap oleh Otis dan Nyonya Yolanda. Kini mereka saling memandang satu sama lain sebelum sama-sama memalingkan wajahnya. Otis memilih untuk menunduk. Sedangkan Nyonya Yolanda mengambil ponselnya dan memeriksa jaringan . Bibir wanita itu tersenyum ketika mengetahui jaringan telepon masih belum bisa digunakan.


"Nyonya, sampai kapan kita berada di tempat ini?"


"Sampai aku bosan," jawabnya santai.


"Tapi pakaian dan semua barang-barang saya ada di hotel. Kenapa anda tidak bilang kalau kita akan pindah rumah. Dengan begitu saya akan membawa barang-barang saya ke dalam mobil semalam," protes pria itu.


"Jangan lancang, Otis. Di sini aku majikannya. Jadi turuti saja apa yang Aku perintahkan. Jangan banyak protes." Nyonya Yolanda kembali fokus ke layar ponselnya.


"Aku tidak sedang protes, Nyonya. Tapi saya tidak mungkin berpenampilan tanpa busana seperti ini."


"Itu masalah yang gampang. Aku akan memesan baju ganti untukmu," jawab Nyonya Yolanda dengan santai.


Nyonya Yolanda tetap memperlihatkan wajahnya yang tenang. Wanita itu mengotak-atik layar ponselnya sebelum meletakkannya kembali dan tersenyum.


"Itu masalah yang muda Otis. Tunggu saja. Beberapa saat lagi pakaian gantimu akan datang. Aku ingin ke depan untuk bermain salju. Sebaiknya kau tetap di dalam rumah. Kau akan menggigil jika keluar tanpa busana seperti itu." Nyonya Yolanda memakai mantel berbulu yang ia bawa dari kamar. Wanita itu melangkah menuju ke pintu depan. Otis beranjak dari kursi dan membereskan piring kotor yang ada di meja makan. Sekarang tugasnya selain menjadi sopir dia juga menjadi seorang pembantu. Pria itu mencuci piring kotor hingga bersih.


"Aaaa!"


Teriakan Nyonya Yolanda yang begitu keras membuat Otis segera bergegas. Pria itu berlari menuju ke pintu depan dengan wajah yang sangat khawatir. Dia takut Nyonya Yolanda sampai celaka. Tanpa pikir-pikir ia menarik pintu utama dengan begitu kuat.


"Nyonya, ada apa?" tanya Otis kepada Nyonya Yolanda yang saat itu masih berdiri.


"Mantelku. Mantelku kotor." Nyonya Yolanda menunjuk mantel putihnya yang terkena noda. Hal itu membuat Otis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berlari dengan begitu kencang dengan wajah khawatir hanya untuk melihat mantel Nyonya Yolanda yang kotor. Ini sungguh menjengkelkan!

__ADS_1


"Jika anda tidak mau mantel Anda kotor, sebaiknya Anda diam saja di dalam rumah," ucap Otis dengan penuh kesabaran.


"Tapi seharusnya mantel ini tidak kotor karena di luar hanya ada tumpukan salju. Kenapa bisa ada jejak sepatu kotor seperti ini di lantai?" sahut Nyonya Yolanda tidak mau kalah.


Otis memperhatikan jejak sepatu yang ada di lantai. Jejak sepatu itu bukan miliknya. Posisi jejaknya juga tidak sama dengan posisi dia masuk kemarin. Hal itu membuat kecurigaan di dalam diri Otis. Hanya mereka berdua saja yang ada di rumah itu. Seseorang sedang mengintai dan mengikuti mereka.


"Nyonya kemarilah," panggil Otis.


Kali ini nyonya Yolanda tidak banyak membangkang. Wanita itu berjalan mendekati Otis. "Apa Anda yakin kalau hanya kita berdua yang mengetahui tempat ini?"


Nyonya Yolanda menggeleng. "Abraham juga mengetahui rumah ini. Tetapi seharusnya dia tidak tahu di mana lokasinya karena aku tidak pernah membawanya ke mari. Dia hanya tahu kalau aku pernah mengeluarkan uang yang begitu besar jumlahnya untuk membeli sebuah rumah."


Sampai situ Otis sudah merasa curiga. Dia yakin orang yang sekarang sedang mengawasi mereka adalah orang bayaran Tuan Abraham. Namun untuk apa pria itu menyuruhnya menjaga Nyonya Yolanda jika pada akhirnya dia telah mengirim mata-mata juga. Hal ini membuat Otis menjadi bingung. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran para orang kaya.


"Anda masih mau jalan-jalan, Nyonya? Apa Anda mau saya temani?"


"Aku bisa jalan sendirian." Nyonya Yolanda memandang dada kekar Otis. Dia memalingkan wajahnya. "Sebaiknya jangan keluar karena kau akan kedinginan," ketus Nyonya Yolanda sebelum melangkah maju ke depan.


Dengan tangan terlipat di depan perut Otis menggeleng pelan memperhatikan tingkah laku majikannya.


"Dia wanita yang begitu keras kepala," gumam Otis di dalam hati. Tanpa sengaja Otis melihat seseorang yang bersembunyi di balik pohon. "Siapa di sana?" teriak Otis. Teriakan Otis membuat Nyonya Yolanda menahan langka kakinya. Wanita Itu berputar dan memandang Otis lagi.


"Ada apa?"


Otis tahu kalau orang yang bersembunyi itu ingin kabur. Cepat-cepat dia berlari untuk mengejarnya. Bahkan tidak lagi menjawab pertanyaannya Yolanda.


"Otis, Kau mau ke mana?" teriak Nyonya Yolanda.


"Nyonya, masuklah ke dalam rumah dan kunci semua pintu dan jendela aku akan segera kembali!" teriak Otis sambil berlari.

__ADS_1


Hal itu membuat Nyonya Yolanda menjadi takut. Namun wanita itu kali ini tidak banyak berpikir. Dia segera masuk untuk menuruti perintah Otis. Wanita itu segera mengunci pintu dari dalam sebelum berdiri di depan pintu. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" gumamnya dengan wajah bingung.


__ADS_2