Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Rumah Putih


__ADS_3

"Laki-laki yang berkata lembut dan sangat romantis belum tentu setia. Terkadang mereka bersikap manis di depan pasangan mereka hanya untuk menutupi kesalahan mereka sendiri. Setelah ketahuan mereka mungkin baru menunjukkan sifat aslinya."


"Tidak selamanya laki-laki yang bicara lembut suka selingkuh, Nyonya. Dia bersikap lembut karena ingin membuat wanita yang dicintainya tenang dan merasa nyaman. Jangan samakan semua pria ketika anda disakiti oleh satu pria," jawab Otis. Dia kurang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Yolanda. Bagi Otis, dia adalah pria lembut dan setia. Dia juga akan sangat romantis kepada pasangannya nanti. Hanya saja, sampai detik ini dia belum menemukan wanita itu.


"Itu karena kau belum menikah. Nanti kalau kau sudah menikah kau sendiri akan tahu, bagaimana kehidupan dalam rumah tangga. Tidak selamanya manis. Terkadang hal sepele bisa jadi masalah besar." Nyonya Yolanda memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Otis tidak mau menanggapi persoalan ini lagi. Semakin di bahas hanya akan membuat Nyonya Yolanda tidak nyaman. Pria itu kembali fokus dengan laju mobilnya. Memandang jalan depan yang saat ini di kelilingi salju.


"Nyonya, kita mau kemana? Kita sudah cukup jauh dari hotel. Tadi pihak hotel sempat berpesan agar kita tidak pergi terlalu jauh karena akan ada badai salju dan jalan akan di tutup."


"Jalan saja. Aku sudah sering ke sini. Aku tahu harus kemana," jawab Nyonya Yolanda. Wanita itu memeluk dirinya sendiri yang terasa kedinginan. Dia sudah terlihat jauh lebih tegar dari sebelumnya. Tetapi sekarang Otis dibuat bingung karena Nyonya Yolanda mengajaknya pergi ke tempat yang tidak tahu kemana tujuannya.


"Persimpangan depan belok kanan. Nanti akan ada rumah bercat putih. Kita berhenti di sana."


Otis memandang ke depan lagi. Persimpangan yang dimaksud belum terlihat. Pria itu menambah laju mobilnya sedikit lagi agar bisa segera sampai.


...***...


Ternyata Nyonya Yolanda memang sudah merencanakan semuanya. Dia membawa Otis ke tempat yang tidak ada jaringan. Saat itu Otis tidak bisa menggunakan ponselnya sama sekali. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh Nyonya Yolanda agar suaminya tidak tahu apa yang dia lakukan. Wanita itu butuh ketenangan dan kebebasan untuk bisa menerima kenyataan.


Salju turun hingga membuat tumpukan yang semakin tebal. Mobil yang tadi mereka gunakan sudah dipenuhi dengan salju dan tidak lagi bisa bergerak dari sana. Mereka memang berada di tempat yang aman. Rumah mewah bercat putih itu memang sangat nyaman. Sangat cocok jika digunakan sebagai tempat istirahat dan menenangkan diri.


Satu hal yang membuat Otis bingung. Kenapa Nyonya Yolanda harus memesan kamar hotel selama 14 hari jika dia memiliki rumah di Kanada. Tetapi orang kaya bebas melakukan apapun terhadap uangnya sendiri. Walau dipikiran Otis itu termasuk perbuatan yang sangat boros.


"Apa kau sudah makan?" Otis memiringkan tubuhnya. Dia menjauh dari sandaran sofa dan segera berdiri untuk menghormati Nyonya Yolanda.


"Duduk saja. Aku tidak akan marah." Nyonya Yolanda duduk di sofa yang bersebrangan dengan Otis. Mendapatkan ijin untuk duduk membuat Otis kembali menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Anda sudah makan, Nyonya?"


Memang sekarang sudah waktunya makan malam. Tetapi mereka belum ada memakan apapun sejak sore. Otis sendiri memang sudah merasa lapar. Namun, dibandingkan dengan keadaan perutnya, pria itu lebih memikirkan kesehatan Nyonya Yolanda.

__ADS_1


"Aku tidak lapar." Nyonya Yolanda lagi-lagi beranjak dari sofa. Wanita itu mendekati rak yang berisi minuman keras. Wanita itu memilih salah satu minuman dan mengambil gelas kristal yang tergantung. Dia duduk di kursi bar lalu meneguk minuman beralkohol itu secara perlahan.


"Kau tidak minum, Otis?"


"Tidak, Nyonya. Alkohol tidak bagus untuk kesehatan."


Nyonya Yolanda memiringkan bibirnya. Dia meneguk lagi minuman yang ada di gelas hingga habis sebelum menuangnya lagi. Otis mengambil ponselnya dari saku. Ia ingin memastikan lagi apa sudah ada jaringan atau belum. Namun, hanya kekecewaan yang ia dapat karena ponsel itu sama sekali tidak bisa digunakan.


PRANKKK


Suara gelas yang pecah membuat Otis kaget. Pria itu segera beranjak dan memandang Nyonya Yolanda. Wajahnya bisa kembali tenang ketika melihat Nyonya Yolanda. Gelas yang tadi dia pegang memang sudah hancur dan berserak di permukaan lantai. Dilihat dari keadaan di sana, sepertinya Nyonya Yolanda sengaja melempar gelas itu ke lantai.


"Pria brengsek!" umpat Nyonya Yolanda. Bukan berhenti justru wanita itu meminum minuman beralkohol itu langsung dari botolnya. Otis membuka mulutnya ingin melarang. Namun, dia tahu ini satu-satunya cara agar Nyonya Yolanda bisa senang dan melupakan kesedihannya. Pada akhirnya Otis memutuskan untuk menjadi pengawal yang sedang mengawasi majikannya yang ingin mabuk.


...***...


Sudah ada beberapa botol yang berserak di lantai. Rata-rata semua dalam keadaan pecah. Otis yang sangat khawatir akan keselamatan Nyonya Yolanda kini melangkah mendekat. Pria itu tidak mau sampai Nyonyanya menginjak pecahan kaca yang berserat di lantai walaupun kini nanya Yolanda masih memakai sendal.


"Lepaskan!" berontak Nyonya Yolanda. Tetapi Wanita itu sudah dalam keadaan mabuk. Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menolak Apa yang dilakukan oleh Otis. Jika saja Otis pria jahat mungkin saat ini Wanita itu sudah habis iya nodai. Pria mana yang tidak tergoda melihat wanita cantik dan seksi berada di dalam pelukannya dalam keadaan tidak berdaya.


Otis menjatuhkan tubuh Nyonya Yolanda di sofa. Pria itu memegang perutnya yang terasa lapar. Sejak tadi dia tidak bisa memasak sesuatu karena takut meninggalkan Nyonya Yolanda sendirian.


"Nyonya, anda di sini dulu ya. Saya mau masak untuk makan malam." Otis menutupi tubuh Nyonya Yolanda dengan selimut. Dia memandang ke laut dan melihat hujan salju yang sangat lebar. Pria itu menghela napas panjang sebelum lanjut jalan ke dapur.


Otis membuka kulkas dan hanya menemukan daging beku di dalam sana. Pria itu mengambilnya daging tersebut untuk di olah menjadi makanan. Belum sempat daging itu di masak, tiba-tiba terdengar suara keributan di depan sana. Karena khawatir pria itu langsung lari saja ke depan.


Nyonya Yolanda berdiri di atas meja dan menari-nari. Dia menghidupkan music lalu menjadikan ruang tamu itu sebagai diskotik. Otis menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan terlipat. Melihat Nyonya Yolanda lompat-lompat seperti orang gila membuatnya tersenyum.


"Apa seperti ini cara orang kaya menghilangkan kesedihannya? Cukup menarik. Tapi, tidak baik jika diteruskan. Ini berbahaya. Apa lagi dia seorang wanita."


Otis mengernyitkan dahi ketika melihat kaki Nyonya Yolanda sudah ada di pinggiran meja. Wanita itu akan terjatuh jika terus-terusan melompat. Otis segera berlari.

__ADS_1


Seperti apa yang dia pikirkan. Nyonya Yolanda menginjak pinggiran meja sebelum terhuyung-huyung ke belakang. Di saat yang tepat Otis menangkap tubuh wanita itu. Dia memboyongnya dan ingin membawanya ke kamar. Otis berpikir akan lebih aman majikannya itu jika tidur di kamar. Selain aman, Otis juga bisa memantaunya sambil memasak karena pintu kamar ada di dekat dapur.


"Otis, kau tampan sekali. Apa kau mau menciumku?" ratu Nyonya Yolanda.


Otis tahu ini hanya rayuan jebakan. Jika dia sampai terjebak, dia akan kehilangan pekerjaannya. Pria itu tetap jalan sambil memandang ke depan. Dia tidak mau memandang Nyonya Yolanda. Karena pada kenyataannya, wanita itu memang sangat menggoda.


"Hoeeek!"


Kali ini Otis tidak bisa tinggal diam. Nyonya Yolanda muntah di dadanya dan itu membuat Otis juga ingin muntah.


Cepat-cepat Otis membawa Nyonya Yolanda menuju ke toilet. Dia mengabaikan bau tak sedap yang kini ada di bajunya. Pria itu ingin membantu Nyonya Yolanda membersihkan tubuhnya.


Saat Nyonya Yolanda ingin muntah lagi, Otis segera membawanya ke toilet. Memijat tengkuknya agar keadaannya jauh lebih baik.


Setelah melihat Nyonya Yolanda mulai tenang, Otis segera membuka bajunya. Dia juga tidak tahan dengan bau itu. Bisa-bisa setelah Nyonya Yolanda, dia yang akan muntah. Satu persatu kancing kemeja hitam itu ia buka sebelum ia lempar ke tempat pakaian kotor. Otis ingin mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya. Bukan karena malu, tetapi cuaca sangat dingin. Buka baju seperti ini hanya akan membuatnya beku.


Nyonya Yolanda berusaha berdiri sambil berpegangan meja wastafel. Wanita itu memandang Otis yang kini sedang bertelanjang dada melalui cermin. Dia terlihat kaget. Kedua matanya membulat seperti ingin keluar.


"Otis, apa yang kau lakukan? Kenapa kau buka baju?"


Otis mengeryitkan dahinya. Dia menebak-nebak. Sebenarnya Nyonya Yolanda beneran mabuk atau hanya pura-pura saja. Dia detik setelah berteriak wanita itu kembali jatuh dan tergeletak di lantai. Otis menghela napas panjang melihat keadaan majikannya yang begitu menyedihkan.


"Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?" umpatnya di dalam hati.



Otis



Nyonya Yolanda

__ADS_1


__ADS_2