Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Salah Paham


__ADS_3

Otis saat itu sedang menyiapkan mobil di depan rumah. Sejak Tuan Abraham tiba di rumah putih, pria itu tidak lagi berani masuk ke dalam. Dia takut Tuan Abraham salah paham. Meskipun mobil yang ingin mereka tumpangi sudah kilat tetap saja ia mengelus-ngelus mobil itu karena sudah tidak ada kerjaan lain lagi. Kemunculan Nyonya Yolanda dari depan rumah membuat Otis mengernyitkan dahi. Karena tidak berani lama-lama memandang wajah majikannya, ia segera menunduk dan membukakan pintu.


"Kita tidak jadi ke gunung. Ke hotel saja," perintah Nyonya Yolanda sebelum masuk ke dalam mobil. Sepertinya dia sudah tidak berselera untuk bermain. Dia hanya ingin tidur tenang di tempat yang jauh dari suaminya.


Otis memandang ke arah Nyonya Yolanda sejenak sebelum menutup pintu. Melihat rambut Nyonya Yolanda yang setengah basah dan pulangnya Tuan Abraham membuat pria itu salah paham.


"Apa yang sudah aku pikirkan? Kenapa aku merasa sakit hati hanya karena memikirkannya saja. Mereka sepasang suami istri yang bahagia. Untuk apa Aku mendoakan mereka berpisah?" gumam Otis di dalam hati sebelum masuk ke dalam mobil.


Nyonya Yolanda memandang ke depan sebelum membuang tatapannya ke luar jendela. "Dia tidak akan menyerah. Dia juga pasti akan datang ke hotel nanti. Aku bisa pergi kemanapun yang ku suka. Untuk menghindarinya, itu sangat mudah bagiku. Tapi bagaimana denganmu? Kau dibayar olehnya untuk mengikutiku. Jika kau tidak lagi bersamaku, Abraham tidak akan membayarmu."


Otis tersenyum sejenak sebelum memandang wajah Nyonya Yolanda melalui kaca di depannya. "Saya baik-baik saja dan akan baik-baik saja, Nyonya. Tesya pasti akan menemani saya dan membantu saya pulang nanti. Saat ini saya tidak pernah mengkhawatirkan keadaan saya sendiri. Justru saya mengkhawatirkan keadaan anda. Saya tahu Anda memiliki banyak uang dan bisa membayar siapapun untuk menjaga dan melindungi anda. Tapi saya tahu anda tidak bisa membayar seseorang untuk meminjamkan pundaknya ketika anda ingin menangis."


"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu? Aku baik-baik saja. Aku tidak akan terpuruk hanya karena masalah ini," ucap Nyonya Yolanda dengan penuh keyakinan.


"Saya harap apa yang anda ucapkan sama dengan apa yang Anda rasakan hari ini, Nyonya. Saya akan mengantar Anda ke hotel sesuai permintaan anda yang pertama tadi. Setelah itu silahkan saja Anda mau pergi ke mana yang anda suka. Saya akan mencari kesibukan seolah Anda kabur tanpa sepengetahuan saya. Tolong jangan katakan lagi ke mana anda pergi. Karena itu hanya akan membuat Saya berbohong kepada Tuan Abraham nanti. Dalam bekerja, Saya tidak suka berbohong."


Nyonya Yolanda tidak mau banyak bicara lagi. Sebenarnya perkataan Otis sudah menyinggung perasaannya. Bahkan rasanya ia tidak ingin bicara dengan pria itu lagi. Namun memang ada satu hal penting yang ingin dia katakan. "Jangan beri tahu Abraham kalau aku sudah mengetahui perselingkuhannya. Sepertinya memang ada yang sengaja mengirim foto itu agar aku dan Abraham bertengkar. Kau urus saja pekerjaanmu sendiri. Jangan ikut campur dalam masalah rumah tanggaku."


Ada luka di dalam hati Otis. Ucapan Nyonya Yolanda bagaikan sebilah pisau yang menusuk di hati. "Baik, Nyonya." Otis kembali fokus dengan laju mobilnya. Jalanan juga masih licin karena turunnya salju. Otis tidak bisa lengah karena itu akan membuat mereka celaka.

__ADS_1


Deringan ponsel di dalam tas Nyonya Yolanda menarik perhatian. Tanpa menunggu Nyonya Yolanda segera mengangkat panggilan masuk itu. "Aku tidak mau bertemu denganmu sebelum kau mengabulkan permintaanku," ketus Nyonya Yolanda.


"Aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurusnya. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi."


"Apa?"


"Pulang ke Indonesia bersamaku sekarang juga. Setelah tiba di Indonesia Kau akan menerima semua yang kau inginkan."


Nyonya Yolanda diam sejenak seperti sedang mempertimbangkan keputusannya kali ini. Beberapa detik kemudian ia menarik nafas dengan mata terpejam. "Baiklah. Aku akan ikut pulang bersamamu ke Indonesia."


"Tunggu aku di bandara kita akan pulang bersama-sama."


Otis yang saat itu tidak tahu apa-apa memilih untuk diam saja. Dia juga sadar akan posisinya yang hanya seorang sopir.


...***...


Ketika Otis dan Nyonya Yolanda tiba di bandara, Tuan Abraham sudah menunggu mereka di sana. Tuan Abraham memandang Otis dengan tatapan tidak suka sebelum menghampiri istrinya. Tanpa banyak kata pria itu memeluk istrinya dan menciumnya dengan penuh Kerinduan. Dia sengaja memperlihatkan kemesraannya di depan Otis kerena ingin membuat pria itu cemburu. Kini dipikiran Tuan Abraham telah dipenuhi pikiran yang mengatakan kalau Otis jatuh cinta kepada istrinya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Otis hanya merasa kasihan dan kagum terhadap Nyonya Yolanda. Tidak ada niat sedikitpun untuk merebut Nyonya Yolanda dari pelukan Tuan Abraham. Dia hanya tidak mau Nyonya Yolanda disakiti oleh pria seperti Tuan Abraham.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Nyonya Yolanda tanpa mau memperdulikan Otis di sana.

__ADS_1


"Ya. Masuklah ke dalam pesawat. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada Otis." Tuan Abraham mengusap lembut pipi Nyonya Yolanda.


Nyonya Yolanda memandang wajah Otis sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam pesawat. Sebenarnya wanita itu ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya kepada Otis. Tapi dia tidak mau mempersulit posisi Otis. Dia tahu bagaimana kejamnya seorang Abraham ketika sudah cemburu. Nyonya Yolanda tidak mau melibatkan Otis di dalam masalahnya.


Setelah Nyonya Yolanda berada di dalam pesawat, Tuan Abraham menatap Otis yang kini masih menunduk. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan mendengus kesal. Ia seperti sedang menghina pria yang kini berdiri di hadapannya. Membanding-bandingkan dirinya dan Otis dan menyakinkan dirinya sendiri kalau Otis bukan saingan baginya.


"Aku tahu kalau kau menyukai istriku. Kau telah mencuci pikirannya agar dia tidak menghubungi selama satu minggu bukan? Entar rayuan apa yang sudah kau katakan kepadanya hingga tiba-tiba sikapnya berubah seperti ini. Aku memang tidak akan memecatmu. Tetapi mulai dari sekarang hidupmu akan berada dalam pengawasan ku. Pikirkan dua kali ketika kau ingin merayu dan menggoda istriku. Ketampananmu tidak ada harganya. Sekarang ini hidup harus memiliki banyak harta. Sebagai seorang pria Kau pasti bisa membandingkan kalau kelas kita sangat berbeda. Sebelum kau menyesal, sebaiknya Kau pikir sekali lagi untuk memiliki istriku."


Tuan Abraham merasa tidak ada yang dikatakan lagi. Pria itu memutar tubuhnya menuju ke arah tangga untuk naik ke dalam pesawat. Bahkan dia tidak tertarik untuk mengajak Otis untuk masuk ke pesawat bersama dengan dirinya.


"Tunggu, Tuan." Baru beberapa meter melangkah Tuan Abraham harus kembali berhenti ketika Otis memanggilnya.


"Cepat katakan karena pesawatnya akan segera berangkat," ujarnya tanpa memandang.


"Sejak awal tujuan saya masuk ke rumah anda karena ingin bekerja. Tidak ada sedikitpun niat di dalam hati saya untuk menghancurkan rumah tangga anda dan Nyonya. Saya cukup sadar diri. Bahkan sebelum anda menyadarkan saya hingga seperti ini. Selama ini Saya bahkan tidak pernah memandang diri saya tampan. Anda bisa pegang kata-kata saya. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mencuci otak Nyonya Yolanda untuk menjauhi anda. Tapi satu hal yang harus anda ingat. Saya tidak akan diam saja ketika seorang wanita disakiti di hadapan saya. Karena seorang pria sejati tidak akan tega melihat wanita disakiti."


Tuan Abraham tertawa seolah perkataan Otis hanya lelucon semata. "Yolanda tidak akan pernah merasa Tersakiti. Aku memberinya harta yang bergelimang agar dia selalu bahagia. Jika kau tidak memiliki niat untuk menggodanya semua akan sama seperti sebelumnya."


Tuan Abraham kembali melanjutkan langkah kakinya. Sedangkan Otis masih menunggu di bawah. Ketika Tuan Abraham sudah benar-benar masuk ke dalam pesawat Ia juga melangkah masuk ke dalam. Otis sempat melihat Tesya yang ternyata memperhatikan mereka di sekitar sana. Wanita itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Menggunakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam. Meskipun begitu Otis bisa mengenalnya dengan jelas.

__ADS_1


"Dia benar-benar bertugas untuk menjaga Nyonya Yolanda dari bahaya. Dimana Nyonya Yolanda berada, dia pasti selalu ada," gumam Otis di dalam hati.


__ADS_2