
Beberapa waktu sebelum Nyonya Besar meninggal, Sandra datang menemuinya. Wanita itu ingin memberi tahu berita kehamilannya. Secara diam-diam dia masuk ke dalam kamar Nyonya Besar. Wanita itu ingin Nyonya Besar membantu hubungannya dan Tuan Abraham agar secepatnya Tuan Abraham menceraikan Nyonya Yolanda dan menikahinya karena sudah hamil. Dia merasa sangat yakin kalau Nyonya Besar pasti akan mendukungnya.
"Ada apa, Sandra? Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?" Nyonya Besar terlihat kaget melihat Sandra muncul di kamarnya. Biasanya setiap kali ingin masuk ke kamar wanita itu selalu mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada orang lain di dalam. Kali ini bisa di bilang kalau Sandra sangat tidak sopan.
"Nyonya, ada hal penting yang ingin saya katakan kepada anda." Sandra segera duduk di karpet dan memandang Nyonya Besar yang saat itu duduk di atas sofa.
"Cepat katakan. Kenapa wajahmu terlihat murung seperti itu."Nyonya Besar memeriksa rambutnya yang baru saja perawatan di salon. Dia bahkan tidak mau memandang langsung Sandra.
"Sebenarnya Saya mau bilang kalau saya telah hamil."
"Hamil?" Nyonya Besar syok mendengarnya. Yang dia tahu Sandra belum menikah bagaimana mungkin wanita itu hamil?
"Benar, Nyonya. Anda juga harus tahu siapa ayah dari anak ini." Kali ini wajah Sandra terlihat semakin bersemangat.
"Tunggu. Sudah berapa usia kandunganmu? Sejak kapan kau tahu kalau kau hamil?"
__ADS_1
"Saya baru mengetahuinya melalui tespek. Saya belum ada Periksa ke dokter. Saya datang ke sini hanya ingin memberitahu anda siapa sebenarnya ayah kandung dari anak yang ada di perut saya ini."
"Cepat katakan. Siapa ayah kandungnya." Kali ini Nyonya Besar yang terlihat tidak sabar untuk mengetahui identitas ayah dari anak yang di kandung oleh Sandra.
"Tuan Abraham, Nyonya. Anak ini milik Tuan Abraham."
Reaksi yang diberikan Nyonya Besar sangat jauh dari apa yang dipikirkan oleh Sandra. Tadinya dia pikir wanita itu akan senang dan langsung memeluknya karena ada calon cucu yang kini dikandungnya. Namun kali ini justru wanita itu terlihat marah. Tiba-tiba saja Nyonya Besar menarik rambut Sandra dan mengumpat kasar.
"Apa yang sudah kau lakukan. Kenapa kau menggoda Putraku!"
"Nyonya, tolong lepaskan saya. Ini sakit." Sandra memegang tangan Nyonya Besar berharap wanita itu tidak lagi menyiksanya.
"Aku tidak yakin itu adalah anaknya Abraham."
"Nyonya, kenapa Anda tega sekali mengatakan kalimat seperti itu. Anak ini benar-benar anak Tuan Abraham. Hanya dia satu-satunya pria yang pernah berhubungan dengan saya. Bukankah selama ini Anda meminta saya untuk mendekati Tuan Abraham agar dia meninggalkan istrinya yang mandul itu. Sekarang saya sudah berhasil mendapatkan hati Tuan Abraham dan memiliki anak darinya. Kenapa anda tidak setuju. Anda seharusnya senang karena sebentar lagi ada bayi mungil yang memanggil anda nenek."
__ADS_1
"Diam kau ******!" hina Nyonya Besar dengan geram. "Apa Kau pikir aku tidak tahu wanita seperti apa kau ini? Aku pernah memergokimu masuk ke kamar supir dan keluar dalam kondisi berantakan. Memang benar pertama-tama kali kita bertemu aku sangat mendukung kau untuk bersatu dengan Abraham. Saat itu aku berpikir kalau kau wanita baik dan sangat pantas menjadi istri anakku. Tetapi lama-kelamaan aku mengetahui sifat aslimu. Kau itu wanita murahan. Aku yakin kalau kau mendekati Abraham juga karena harta bukan karena benar-benar mencintainya. Tidak seperti Yolanda yang benar-benar tulus mencintai Putraku."
"Nyonya Anda pasti salah paham. Waktu itu kami tidak melakukan apapun di kamar. Kami hanya mengobrol saja karena kebetulan ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan." Sandra sudah kelihatan panik. Dia tidak menyangka kalau Nyonya Besar sudah mengetahui kelakuannya selama ini.
"Percuma saja kau membela dirimu mati-matian. Aku juga tidak akan percaya lagi dengan apa yang kau katakan. Sandra Kau harus tahu satu hal. Sampai detik ini kau masih ada di rumah ini karena aku menghargai nenekmu. Beliau sangat berjasa bagi keluarga Abraham. Aku menghargai dia hingga tidak mau memecatmu. Tapi setelah aku tahu kalau kau memiliki niat jahat kepada anakku. Aku kini tidak bisa diam lagi. Aku akan melakukan sesuatu untuk membuat rumah tangga Putraku tetap harmonis. Aku tidak mau Abraham dan Yolanda sampai bercerai. Sebaiknya anak itu gugurkan saja. Karena sampai kapanpun Abraham tidak akan mungkin menikahimu. Aku juga akan memberimu pelajaran jika kau sampai memberitahu kehamilanmu kepada Yolanda."
Sandra meremas gaun yang ia kenakan sambil menahan air mata yang begitu perih. Penghinaan ini sungguh-sungguh menyakitkan. "Anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini. Saya bukan sampah yang bisa dibuang kapan saja." Sandra beranjak dari posisinya. Wanita itu berdiri dan memandang Nyonya Besar. "Saya akan buat Abraham dan Yolanda berpisah. Saya akan beritahu semua orang tentang kehamilan saya. Saya tidak peduli seperti apa orang menilai saya nanti. Saya tidak mau menanggung malu sendirian. Anda juga harus tahu Nyonya, kalau setiap kali kami berhubungan saya selalu merekam dan memfoto apa yang telah kami lakukan. Saya bisa menyebarkan video dan foto-foto itu Kapan saja. Jika saya tidak bisa menikah dengan Tuan Abraham setidaknya saya bisa merasa puas melihat keluarga Abraham hancur dan malu. Semua orang di dunia ini akan tahu kalau keluarga Abraham adalah keluarga yang begitu memalukan. Kalian bukan lagu keluarga terhormat!"
"CUKUP!" Nyonya Besar beranjak dari posisinya juga hingga mereka saling berhadapan. "Berani sekali kau mengancamku." Nyonya Besar ingin berdiri namun jantungnya tiba-tiba saja terasa sangat sakit. Wanita itu memegang dadanya dan menahan rasa perih yang begitu luar biasa. Dia kembali terduduk di sofa sambil meringis kesakitan.
"Putraku mandul. Itu bukan anak Abraham," rintih Nyonya Besar.
"APA?" Sandra melebarkan kedua matanya.
"Aku seharusnya minta maaf sama Yolanda karena selama ini telah menyalahkannya. Sekarang aku tidak memiliki kesempatan lagi," lirih Nyonya Besar di akhir-akhir kesadarannya.
__ADS_1
Sedangkan Sandra masih berdiri tanpa memberi pertolongan apapun. Seolah-olah wanita itu senang jika melihat Nyonya Besar sampai meninggal. "Bagus. Kau lebih baik mati daripada hidup menjadi masalah. Aku tidak mau kau memberitahu informasi penting ini kepada Abraham. Dia tidak boleh tahu hubunganku dengan sopir di kamar bawah. Dia tidak boleh tahu kalau sebenarnya dia mandul dan anak ini bukan anaknya. Jika dia sampai tahu, Abraham tidak akan mau mengakui anak ini. Aku tidak mau sampai rencanaku untuk menjadi orang kaya gagal. Perjuanganku sudah sampai tahap ini. Aku tidak mau ada satu orang pun yang menggagalkan rencanaku," gumam Sandra di dalam hati.
Nyonya besar memejamkan mata dengan tangan di dada. Melihat wanita itu tidak bergerak lagi membuat Sandra segera berpura-pura menangis. Ia berteriak sekencang mungkin untuk minta tolong. Detik itu tidak ada yang curiga dengannya karena selama ini Nyonya Besar sangat menyayangi Sandra bahkan memperlakukan wanita itu seperti putrinya sendiri. Mereka semua segera membawa Nyonya Besar ke rumah sakit berharap nyawa wanita itu bisa ditolong. Padahal yang sebenarnya terjadi sejak Nyonya Besar jatuh lagi ke sofa dan memejamkan mata, Wanita itu sudah tidak bernyawa. Dan Sandra tahu akan hal itu.