
Tuan Abraham tidak bisa berkata-kata lagi ketika melihat Otis berdiri di hadapannya. Di depan sana, Otis terlihat sangat ceria sambil mengobrol dengan rekannya yang masih bekerja di rumah itu. Sejenak Tuan Abraham berpikir kalau Otis muncul hanya untuk memberi tahu semua orang atas semua yang terjadi.
Namun, semua dugaannya salah. Dari posisi Tuan Abraham berdiri, dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Otis di sana. Otis sama sekali tidak membahas masalah penembakan waktu itu.
"Otis, kami benar-benar kaget melihatmu muncul. Tetapi kami sangat senang karena kau masih hidup. Lain kali, berhati-hatilah dalam mengendarai mobil agar kecelakaan yang pernah kau alami tidak terulang kembali."
"Waktu itu aku sangat mengantuk. Aku tidak tahu kalau ada jurang di depan sana. Kejadiannya sangat cepat. Aku ditolong oleh orang baik bahkan aku di rawat olehnya sampai sembuh. Aku merasa sangat beruntung karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertemu dengan kalian lagi," jawab Otis sambil tersenyum. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kalau pria itu ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di depan rekannya.
__ADS_1
Otis melihat ke arah Tuan Abraham yang kini berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan tatapan penuh arti. Beberapa supir yang sempat mengobrol dengan Otis memilih untuk kembali bekerja dan meninggalkan Otis sendirian di sana. Otis segera berjalan mendekati Tuan Abraham. Dia juga harus mendapatkan izin agar bisa tinggal di rumah itu lagi.
"Selamat siang, Tuan. Bagaimana kabar anda hari ini?"
"Apa yang kau inginkan. Apa kau menginginkan uang. Untuk apa kau datang ke rumah ini lagi?" ketus Tuan Abraham tidak suka.
"Kau masih mau bekerja denganku setelah apa yang aku lakukan terhadapmu. Kau bahkan hampir mati karena perbuatanku," ujar Tuan Abraham. Rasanya masih sulit bagi Tuan Abraham untuk percaya kalau Otis kembali tidak dengan tujuan tertentu.
__ADS_1
"Saya anggap permasalahan yang terjadi di antara kita sudah selesai. Semua telah impas. Kita sama-sama sudah mendapatkan pelajaran. Kejadian kemarin saya anggap itu adalah hukuman saya karena sudah berani mencintai istri anda dan membuat anda bercerai dengan Nyonya Yolanda. Tujuan saya datang ke sini bukan untuk membahas hal itu. Saya hanya ingin kembali bekerja seperti biasa. Saya memang butuh uang. Tapi saya bukan pengemis. Saya ingin mendapatkan uang setelah saya melakukan pekerjaan."
"Tapi aku tidak mau kau bekerja di rumah ini lagi. Aku akan membayar sisa gajimu lalu kau bisa pergi dari sini sekarang juga." Tuan Abraham mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang lalu memberikannya kepada Otis. "Aku akan mentransfer sisanya. Kau tidak perlu khawatir. Kali ini aku akan tepat janji."
"Saya sudah bilang sejak awal kalau saya tidak butuh uang dengan cara seperti ini. Saya ingin bekerja. Pria bodoh seperti saya sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Saya rindu dengan rumah ini dan rekan-rekan yang ada di dalamnya. Tolong Tuan. Ijinkan saya bekerja lagi menjadi supir anda. Tidak harus menjadi supir Anda juga tidak apa-apa. Saya bisa bekerja menjadi tukang kebun."
"Sebenarnya apa tujuan dia datang kemari? Tapi ada bagusnya juga jika dia ada di depan mataku. Dengan begitu aku jadi tahu kalau dia tidak menjalin hubungan lagi dengan Yolanda," gumam Tuan Abraham di dalam hati. "Baiklah aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Aku harap kali ini kau tidak mengecewakanku, Otis."
__ADS_1
Otis tersenyum bahagia mendengarnya. "Terima kasih, Tuan." Otis merasa lega sekarang. Kini pria itu ingin segera mencari bukti sebelum memutuskan untuk pergi dari rumah itu selama-lamanya.