Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Misi Awal


__ADS_3

Otis tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Pria itu segera berkunjung ke kamar Tika untuk memeriksa bukti-bukti yang ada di dalam kamar tersebut. Otis merasa beruntung karena sampai detik ini kamar Tika belum dihuni oleh siapapun. Belum ada pekerja yang pantas untuk menggantikan posisi Tika. Memang wanita itu jika dilihat dari hasil kerjaannya selalu saja memuaskan. Wajar saja bila dia sempat menjadi kepercayaan Nyonya Yolanda.


Setibanya di dalam kamar Tika, Otis dibuat kaget. Bukan karena melihat kamar yang sudah rapi. Tetapi Otis yakin kalau tidak ada petunjuk apapun di dalam kamar tersebut. Otis melangkah menuju ke lemari pakaian berharap menemukan petunjuk di sana. Namun ia tidak juga menemukan apapun. Semua barang-barang Tika sudah hilang. Karena memang sebelum kejadian kecelakaan, saat itu posisinya Tika pergi meninggalkan rumah. Jelas aja semua barang-barang pribadi yang ia miliki ada di taksi saat kecelakaan terjadi.


"Koper Tika. Siapa yang saat itu mengamankan koper Tika ketika terjadi kecelakaan? Aku yakin pasti bisa menemukan petunjuk di dalam koper tersebut," gumam Otis di dalam hati. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor seseorang.


"Apakah kau sudah berhasil menemukan petunjuk yang Aku minta?" tanya seseorang di dalam telepon.


"Aku butuh koper yang dibawa Tika saat pergi dari rumah. Koper itu pasti ada di bagasi taksi yang ditumpangi Tika saat kecelakaan."


"Baiklah. Koper itu akan menjadi urusanku. Sekarang pergilah ke kamar wanita yang bernama Renata. Kamarnya paling luas dari kamar pekerja yang lainnya. Letaknya menyendiri. Tidak jauh dari pintu belakang," ujar pria di dalam telepon.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Otis sebelum memutuskan panggilan telepon tersebut. Sekali lagi pria itu memeriksa kamar Tika namun masih juga tidak menemukan petunjuk apapun hingga akhirnya Otis memutuskan untuk segera pergi menuju ke kamar Renata.


Otis sempat menebak-nebak sebenarnya di mana kamar Tante Renata berada. Pria itu memandang satu persatu pintu di tempat tinggal para pekerja yang bekerja di rumah itu. Namun tidak ada satupun yang mencolok. Otis terus saja melangkah menuju ke arah pintu belakang. Langkahnya terhenti ketika melihat pintu putih yang ukurannya sedikit besar dan hanya ada satu ruangan di situ. Lokasinya tertutup guci guci mewah hingga membuat Otis sulit untuk menemukannya. Otis memandang keadaan sekitar sebelum masuk ke dalam kamar tersebut. Wajahnya harus kecewa ketika ia tidak berhasil membuka pintu tersebut karena dikunci.


"Sekarang aku harus mencari kunci kamar ini." Otis lagi-lagi harus memutar otak untuk bisa membuka kamar tersebut. Dia ingat seseorang yang bertugas untuk menyimpan seluruh kunci yang ada di rumah itu. Kini yang dipikirkan Otis adalah alasan agar bisa mendapatkan kunci kamar Renata tanpa harus dicurigai.


Otis memandang seseorang yang kebetulan lewat di sana. Seseorang itu adalah petugas yang menyimpan kunci seluruh rumah. Otis tiba-tiba saja terduduk tidak jauh dari depan pintu kamar lalu termenung. Hal itu menarik perhatian hingga pria yang lewat tadi datang menghampiri Otis.


"Aku sedih," jawab Otis tidak bersemangat. Aktingnya benar-benar menyakinkan.


"Apa yang sedang kau pikirkan. Ceritakan padaku. Bukankah kita teman," ucap pria itu. Dia bahkan juga duduk di lantai. Tepatnya di samping Otis.

__ADS_1


"Aku tahu kalau Tante Renata dan Tika menjalin hubungan yang sangat dekat. Mereka sudah seperti ibu dan anak. Sekarang mereka sama-sama pergi. Kau pasti tidak lupa kalau aku sempat menjalin hubungan dengan Tika. Kami bisa dibilang saling membutuhkan meskipun tidak terlihat seperti saling mencintai. Aku merasa sangat kehilangan Tika. Tetapi aku tidak menemukan petunjuk apapun di kamar Tika." Otis terdiam karena keceplosan. "Maksudku aku ingin berkunjung ke kampung Tika untuk menyampaikan kabar duka ini kepada keluarganya. Tetapi kamar Tika telah bersih dan tidak ada petunjuk apapun di dalam sana. Aku berharap di kamar Tante Renata aku menemukan petunjuk tersebut. Tapi sayang pintunya terkunci. Aku tidak bisa masuk ke dalamnya untuk memeriksa."


"Otis, maafkan aku. Bukannya aku tidak ingin membantumu tapi aku tidak bisa memberikan kunci kamar Tante Renata tanpa izin dari Tuan Abraham. Ini perbuatan yang sangat beresiko. Aku tidak mau mengorbankan pekerjaanku hanya untuk membantumu," ujar pria itu apa adanya. Dia tahu berapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini.


"Ya, tentu saja. Jika aku ada di posisimu aku juga akan mengatakan hal yang sama. Lagian aku ini siapa. Sama sekali tidak bisa dipercaya." Lagi-lagi Otis memasang wajah menyedihkan.


"Otis, bukan seperti itu maksudku. Tetapi-"


"Tidak apa-apa," potong Otis. Dia beranjak dari posisinya lalu berdiri. "Andai saja aku menemukan petunjuk di dalam kamar ini aku akan merasa tenang. Setidaknya aku bisa membuat Tika bahagia di alam sana."


Perkataan Otis membuat pria itu menjadi dilema. Ia memandang wajah Otis yang terlihat sangat serius. "Baiklah. Aku akan meminjamkan kunci kamar ini. Tapi sebagai teman maukah kau melindungiku. Maksudku jika terjadi sesuatu aku akan katakan kepada Tuan Abraham kalau kau mencuri kunci kamar ini."

__ADS_1


Otis tersenyum mendengarnya. "Baiklah."


__ADS_2