Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Rencana Jahat


__ADS_3

Nyonya Yolanda meletakkan ponselnya di meja sebelum mengangkat kedua kakinya di atas sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tetapi entah kenapa kedua matanya masih belum mau terpejam. Berulang kali dia mencari posisi tidur agar bisa terlelap namun tetap saja gagal. Kini Nyonya Yolanda memutuskan untuk duduk sambil menonton televisi. Hanya itu solusi yang ia temukan untuk menghilangkan rasa jenuhnya.


Nyonya Yolanda merasa ada yang aneh. Firasatnya tidak enak. Sudah hampir sepuluh kali dia memandang ke jendela. Nyonya Yolanda merasa kalau seseorang sedang mengawasinya. Tapi ketika dilihat, tidak ada seorangpun di balkon. Balkon itu kosong. Kalaupun ada orang di balkon, pasti naiknya cukup sulit karena kamar Nyonya Yolanda ada di lantai paling atas.


"Sampai detik ini aku belum berhasil menemukan keberadaan Otis. Aku sangat merindukannya. Apa benar kami telah berpisah?" gumamnya dengan wajah sedih. Wanita itu menekan remot lagi untuk mencari film yang seru. Tiba-tiba saja Nyonya Yolanda di buat kaget dengan kemunculan seorang pria asing di dalam kamarnya. Pria itu memegang pisau dan memakai topeng. Dengan wajah panik, Nyonya Yolanda segera terperanjat dari sofa. Wanita itu berusaha untuk kabur.


"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?"


"Anda tidak perlu tahu, siapa saya. Saya datang ke sini karena saya ingin mempertemukan anda dengan kekasih anda!" sahut pria itu dengan suara baritonnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Nyonya Yolanda tidak mengerti.


"Saya akan membunuh anda, Nyonya Yolanda. Dengan begitu anda bisa bertemu dengan kekasih anda yang sudah lebih dulu pergi." Dia tertawa kencang.


Pria itu melangkah maju untuk menangkap Nyonya Yolanda. Tetapi Nyonya Yolanda sudah keburu berlari menuju ke pintu. Dia berusaha membuka pintu namun gagal. Detik itu Nyonya Yolanda baru sadar kalau dia telah terkunci di dalam kamar bersama dengan seorang pria bersenjata.


"Anda tidak akan bisa kabur, Nyonya. Mau berteriak juga percuma. Karena di rumah ini, hanya anda satu-satunya orang yang masih hidup!"


"TOLONG!" teriak Nyonya Yolanda. Dia berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria asing tersebut. Meskipun kini rasa takut itu sudah membuatnya ingin pingsan.

__ADS_1


Pria asing itu tertawa mendengar Nyonya Yolanda berteriak. "Sudah saya bilang Nyonya. Percuma saja anda teriak karena hanya anda satu-satunya orang yang masih hidup di rumah ini. Saya sudah menghabisi semua orang yang tinggal di rumah ini. Terutama nenek tua yang selama ini menjaga anda." Pria itu memamerkan pisaunya di depan Nyonya Yolanda. Ada darah di pisau yang di pegang pria itu. Dari sana Nyonya Yolanda sudah merasa sedih. Dia tidak mau kehilangan lagi.


"Nenek Zue," celetuk Nyonya Yolanda sedih.


"Dia terlalu berambisi untuk menyelamatkan nyawa Anda sedangkan nyawanya sendiri dalam bahaya," ujar pria itu. Dia sendiri adalah suruhan Nenek Zue. Dia sengaja membuat cerita seperti itu agar di mata Nyonya Yolanda, Nenek Zue adalah wanita yang sangat berjasa.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Siapa yang sudah mengirimmu? Aku bisa membayarmu jauh lebih besar dari orang yang sudah menyuruhmu." Nyonya Yolanda berusaha untuk bernegosiasi.


"Anda tidak perlu tahu siapa yang sudah mengirim saya. Karena yang anda perlu tahu adalah tujuan saya datang kemari." Dengan santainya pria itu berjalan ke sofa dan duduk di sana. Dia tahu kalau Nyonya Yolanda tidak bisa lari kemanapun karena ruangan itu telah terkunci. "Sebelum Anda mati, katakan permintaan terakhir Anda nyonya."

__ADS_1


"Saya mau makan pizza," ujar Nyonya Yolanda tiba-tiba. Bahkan dia tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk sebuah lelucon. Tapi, entah kenapa dia mengatakan kalimat seperti itu.


Pria pembunuh itu tertawa dibuat Nyonya Yolanda. Dia beranjak lalu memandang Nyonya Yolanda dengan saksama. "Baiklah. Sekotak pizza akan segera datang. Kau bisa memakannya sebelum mati!"


__ADS_2