Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kiriman Tuan Abraham


__ADS_3

Nyonya Yolanda keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Wanita itu sudah mengenakan pakaian piyama. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk wanita itu berjalan mendekati sofa tempat OSIS berbaring. Ada senyum manis di bibirnya ketika melihat pria yang ia cintai tidur dengan lelap. Rasanya Nyonya Yolanda tidak mau membangunkan Otis. Wanita itu duduk di sofa yang berbeda dari Otis berbaring. Dia mengambil ponselnya yang sudah terisi penuh.


"Hampir saja tadi aku ketiduran di kamar mandi," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati. Wanita itu meletakkan ponselnya kembali ke meja ketika tidak ada yang penting di sana. Sambil tersenyum dia memandang autis lagi. Mengagumi wajah tampan kekasihnya.


Nyonya Yolanda tersentak kaget ketika mendengar seseorang berbicara di depan kamarnya. Karena penasaran wanita itu segera beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu. Tanpa pikir panjang Nyonya Yolanda membuka lebar pintu kamarnya untuk melihat Siapa yang ada di depan sana.


Dua orang pelayan wanita berdiri sambil membawakan minuman hangat untuk Nyonya Yolanda. Di samping gelas berisi air hangat itu ada buliran pil yang tidak lain adalah Vitamin yang harus dikonsumsi Nyonya Yolanda setiap malam.


"Nyonya, apa anda belum tidur. Maafkan kami karena kami terlambat mengantarnya," ucap pelayan wanita itu dengan wajah bersalah. Sebenarnya tugas itu adalah milik Tika. Tetapi karena Tika baru saja datang mereka tidak tega untuk mengganggunya.


"Terima kasih." Nyonya Yolanda segera menerimanya lalu masuk ke dalam. Ia segera menutup rapat pintu kamarnya agar pelayan itu tidak melihat keberadaan Otis di dalam sana.


Otis tersentak kaget ketika mendengar suara Nyonya Yolanda menutup pintu. Pria itu terduduk sambil memijat-mijat dahinya. Kepalanya terasa pusing. Tidurnya kurang lama.


"Minum ini," ujar Nyonya Yolanda. Wanita itu meletakkan vitamin yang seharusnya dia minum di atas meja dan meminta Otis untuk menghabiskannya.


Otis mengeryitkan dahinya. "Apa itu?"


"Vitamin agar tubuhmu tidak mudah lelah," jawab Nyonya Yolanda santai. "Aku meminumnya setiap malam. Jika tidak meminum pil ini, Aku merasa tubuhku sangat lemah dan tidak berdaya. Pil ini sangat bagus. Sesuai dengan harganya," jelas Nyonya Yolanda dengan singkat.


"Tapi aku tidak mau ketergantungan pil kimia seperti ini." Otis seperti tidak tertarik meskipun sebenarnya saat ini tubuh membutuhkan vitamin karena terlalu banyak beraktivitas.


"Tenang saja. Pil ini adalah pil herbal yang dikirim langsung dari Cina. Aku berani jamin. Tidak memberikan efek ketergantungan. Coba saja minum sekali dan rasakan bedanya."


Otis tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Mau tidak mau dia meminum pil itu. "Bagaimana dengan anda Yolanda. Anda tidak meminumnya? Bukankah vitamin ini untuk anda?"


"Itu masalah yang mudah. Aku hanya perlu menghubungi pelayan yang ada di bawah lalu meminta mereka untuk mengirim vitamin yang baru. Aku katakan saja kalau pilnya terjatuh dan hilang."


Otis memandang jam yang ada di dinding. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Ini adalah waktu yang tepat untuk istirahat. Otis tidak mau menundanya lagi. Pria itu ingin kembali ke kamar tidurnya. Setidaknya ia sudah melihat wajah cantik sang kekasih setelah mandi.


"Ternyata sudah malam sekali."


"Kau mau ke mana?" tanya Nyonya Yolanda ketika Otis beranjak dari sofa.


"Aku ingin kembali ke kamarku. Aku juga butuh istirahat."


"Kenapa tidak tidur di kamar ini saja?" tawar Nyonya Yolanda.


"Saya belum berhak untuk tidur di kamar ini."


"Lalu, kapan kita bisa bersama tanpa harus berpisah lagi?"


Otis berjalan mendekati Nyonya Yolanda lalu mengusap wajah wanita itu dengan lembut. "Secepatnya." Pria itu mendaratkan kecupan cinta di pucuk kepala Nyonya Yolanda. "Tidur sana. Mimpi yang indah. Aku ingin kembali ke kamarku. Besok kita akan bertemu lagi." Nyonya Yolanda hanya menjawab dengan anggukan. Wanita itu juga sudah ngantuk berat dan ingin segera istirahat.


"Ingat ya langsung masuk kamar dan tidur jangan singgah-singgah lagi."

__ADS_1


Otis mengukir senyuman. Pria itu segera pergi meninggalkan Nyonya Yolanda sendirian di dalam kamar. Karena memang sudah sangat mengantuk, Nyonya Yolanda berjalan ke tempat tidur. Dia ingin segera berbaring di sana dan tidur sambil besok siang.


Otis berjalan cepat menuruni anak tangga. Lampu-lampu besar sudah dipadamkan. Rumah itu tidak seterang saat Otis pertama kali tiba. Sambil turun, Otis kembali memperhatikan keadaan rumah. Sunyi tetapi rumah itu akan selalu aman. Di depan sana ada penjaga yang mengawasi keadaan hingga 24 jam.


Otis memasuki lorong yang menghubungkannya ke kamar tidur pribadi miliknya. Pria itu merasa jauh lebih lega sekarang ketika dia melihat kamar Tika sudah terang. "Dia pasti sudah tidur," batin Otis di dalam hati. Dia mengeluarkan kunci kamar dari dalam saku sebelum membukanya.


Tiba-tiba saja dia pria mendorong Otis hingga masuk ke dalam. Mereka bahkan membuat kepala Otis Sampat terbentur lemari kayu yang ada di dalam kamar.


"Siapa kalian?" tanya Otis. Bukan menjawab justru pria itu berniat untuk memukul Otis. Meskipun kemampuan bela diri Otis tidak hebat, tetapi kalau untuk membela diri dia bisa.


Otis melayangkan pukulan terbaiknya ke salah satu pria yang ingin menghajarnya. Belum juga bertanya, Otis sudah tahu kalau dua pria misterius itu pasti kiriman Tuan Abraham.


"Kalian tidak akan bisa membunuhku! Di rumah ini ada banyak cctv. Bahkan Tuan Abraham saja tidak bisa membebaskan dirinya ketika dia terbukti membunuh.Lakukan saja jika memang kalian ingin menemani Tuan Abraham di dalam penjara!" Otis tidak menyangka kalau triknya menakut-nakuti dua pria itu berhasil. Mereka diam sambil berpikir. Detik itu Otis memanfaatkan kesempatan yang ada. Otis mendorong dua pria itu sebelum kabur dari kamar. Setibanya di depan kamar, Otis berteriak sekencang mungkin.


"TOLONG!"


Jelas saja teriakan Otis membuat semua orang yang ada di sana keluar dari kamar. Termasuk Tika. Sedangkan dua pria tadi tidak bisa berbuat banyak. Mereka memutuskan untuk kabur dan pergi dengan membawa kegagalan.


"Hei berhenti!" teriak salah satu pengawal yang muncul. Mereka segera mengejarnya.


"Otis, apa kau baik-baik saja?" Tika terlihat khawatir. Terlebih lagi ketika wanita itu melihat dahi Otis yang berdarah. "Sini aku obati."


"Tapi ini hanya luka ringan," protes Otis. Dia menolak.


"Jangan banyak protes," sahut Tika. Wanita itu tetap menarik tangan Otis agar mengikutinya.


"Duduk di sini. Aku akan ambilkan kotak P3K," ujar Tika. Wanita itu berjalan ke arah lemari.


"Apa mereka orang bayaran Tuan Abraham?" tanya Otis kepada Tika.


"Ya. Siapa lagi yang bisa masuk ke dalam rumah ini selain orang bayaran Tuan Abraham?" jawab Tika santai. Wanita itu muncul dengan kotak P3K di tangannya. "Bukankah aku sudah bilang. Tuan Abraham tidak akan diam saja. Tetapi jika kau tidak sayang dengan nyawamu, lanjutkan saja mendekati Nyonya Yolanda."


Tika membersihkan darah yang ada pada dahi Otis sebelum mengobatinya.


"Aku juga tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Nyonya Yolanda juga membalas perasaanku."


"Tapi tetap saja hubungan kalian salah. Itu sama saja kau merebut Nyonya Yolanda dari Tuan Abraham."


"Bukankah Tuan Abraham yang cari masalah lebih dulu?"


"Ya, benar. Tetapi kenapa kau mau melibatkan diri di dalam masalah mereka, Otis?"


"Karena aku mencintainya, Tika. Nanti, ketika kau jatuh cinta pada seseorang. Kau pasti tahu apa yang sekarang aku lakukan."


Tika menahan gerakannya sejenak mendengar perkataan Otis. Wanita itu tidak mau banyak protes selain mengukir senyuman saja. "Kau ini bisa saja. Tapi sepertinya aku akan lama jatuh cinta. Aku tidak suka jatuh cinta," ucap Tika sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tika, apa kau kenal dengan Tesya?"


"Pengawal pribadi Nyonya Yolanda? Yang sudah meninggal itu bukan?"


"Ya, dia. Apa kau mengenalnya?"


"Tidak. Tapi aku pernah dengar namanya. Nyonya Yolanda sering kali menghubunginya. Jika sudah menelepon, Nyonya Yolanda bisa sampai berjam-jam berdiri sambil mengobrol."


"Benarkah?"


"Ya. Kenapa kau tidak percaya padaku."


"Aku percaya." Otis memegang kepalanya yang sudah diberi perban oleh Tika. "Terima kasih. Kau memang temanku yang baik."


Lagi-lagi Tika tersentuh mendengarnya. "Sampai kapan kau memandangku sebagai teman, Otis? Aku sangat menginginkanmu menjadi kekasihku," gumam Tika di dalam hati.


...***...


"Sejauh ini bukti-bukti yang kita kumpulkan sudah hampir 70%, Tuan. Saya yakin di persidangan nanti kita bisa menang. Keluarga Rahmad juga sepertinya gak mau memperpanjang masalah ini lagi. Mereka menghargai anda sebagai majikan Rahmad. Hanya saja mereka ingin kita menunjukkan bukti-bukti sebelum mereka mencabut tuntutan."


"Itu berarti sebentar lagi aku akan bebas?"


"Benar, Tuan."


"Aku memang sudah muak berada di tempat ini. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Yolanda." Tuan Abraham memandang pengacaranya lagi. "Apa supir sialan itu masih tinggal di sana?"


"Masih, Tuan."


"Kau sudah berhasil mengumpulkan bukti-bukti kedekatan mereka? Bukankah itu juga penting?"


"Saya sudah membayar orang untuk melakukannya, Tuan. Untuk saat ini, anda pikirkan permasalahan Rahmad saja." Pengacara itu mengeluarkan sebuah foto dari dalam tas. "Tuan, apa anda mengenal wanita ini?"


Tuan Abraham mengambil foto itu dan memperlihatkan wajah seorang wanita yang ada di dalamnya. "Ini Renata. Semua orang yang ada di rumah memanggilnya dengan sebutan Tante Renata. Salah satu pekerja di rumahku. Yolanda yang membawanya masuk ke dalam rumah. Tetapi dia juga sudah tewas. Bersama dengan Tesya. Kabarnya yang aku dengar mereka berdua sama-sama dibunuh oleh seseorang ketika sedang bertemu."


Tuan Abraham sama sekali tidak curiga ketika pertama kali melihat foto Tante Renata. Pria itu berpikir kalau selama ini Tante Renata dan Tesya menjalin hubungan yang dekat karena mereka sama-sama pilihan Yolanda.


"Tetapi saya melihat wanita ini di tempat kejadian. Ada salah satu rumah warga yang menggunakan CCTV. Dari CCTV itu saya berharap bisa mendapatkan bukti-bukti. Berulang kali saya melihat wajah wanita itu muncul di sana. Apa memang tempat tinggal dia ada di sana atau dia dengan sengaja datang ke sana?"


"Itu tidak mungkin. Dia tidak tinggal di daerah pegunungan itu. Apa kau yakin kalau dia yang ada di rekaman CCTV."


"Saya yakin, Tuan. Sepertinya dia terlibat dalam masalah ini. Sebenarnya sejak kemarin saya juga sudah menyimpan curiga. Nyonya Yolanda menutup kasus kematian wanita ini dan juga Tesya. Kalau saya perhatikan lebih serius lagi. Wanita ini dan Tesya sepertinya saling membunuh. Salah satu dari mereka mengetahui kejahatan yang satunya. Karena takut terbongkar si tersangka memilih untuk membunuh agar tidak ada bukti. Tetapi ini hanya perkiraan saya saja."


"Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh Yolanda dari aku. Waktu itu dia memperkenalkan Tesya kepadaku sebagai sepupunya. Setelah cukup lama aku baru tahu kalau ternyata Tesya adalah pengawal pribadi yang dia bayar untuk menjaganya selama ini. Aku sendiri tidak tahu di mana Tesya tinggal bagaimana cara wanita itu melindungi Yolanda selama ini. Tesya sempat mengunjungi Sandra dan memberi hukuman kepada wanita itu. Aku bisa melihatnya melalui CCTV. Tetapi aku tidak terlalu peduli karena memang aku tidak serius dengan Sandra saat itu. Sepertinya Tesya melakukan semua itu juga atas perintah Yolanda. Dia ingin membalas perbuatan Sandra karena sudah menghancurkan rumah tangganya. Ketika pulang dari Kanada aku juga sempat melihat Tesya mengamati kami dari kejauhan ketika kami tiba di bandara. Dia bekerja dengan sangat profesional."


"Kalau begitu bisa kita simpulkan kalau orang yang jahat itu adalah wanita bernama Renata ini bukan Tesya. Izinkan saya menyelidiki lebih dalam lagi wanita ini, Tuan. Jika kita berhasil mengungkap identitas asli wanita ini maka kita akan bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum."

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang menurutmu pantas untuk dilakukan. Selama ada di dalam penjara Aku tidak bisa berbuat banyak. Semua Aku pasrahkan kepadamu."


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu mulai besok saya akan mulai melakukan penyelidikan tentang wanita ini juga. Semoga saja kita segera mendapat titik terang." Tuan Abraham hanya mengangguk saja. Pria itu memandang ke depan sambil berdoa agar di persidangan nanti, bukti-bukti yang dikumpulkan bisa membebaskannya dari tuntutan.


__ADS_2