Supir Nyonya Yolanda

Supir Nyonya Yolanda
Kampung Halaman


__ADS_3

Otis tersenyum lebar melihat kampung halaman yang sudah bertahun-tahun dia tinggalkan kini ada di depan matanya. Menghirup udara di sana mengingatnya ketika dia masih kecil dulu. Sayang memang kedua orang tuanya sudah tidak ada. Jika masih ada, Otis pasti akan bangga sekali memperkenalkan Nyonya Yolanda sebagai majikannya yang cantik.


Nyonya Yolanda menurunkan kaca matanya dan memperhatikan pemandangan dengan begitu teliti. Tempat itu memang sangat indah. Nyonya Yolanda sendiri tidak menyangka kalau dia bisa menemukan tempat sejuk dan indah seperti itu di Indonesia. Selama ini dia terlalu tergiur untuk jalan-jalan ke luar negeri tanpa mau menjelajah alam negaranya sendiri.


"Nyonya, di sana rumah saya. Ayo kita masuk," ajak Otis.


Otis sebenarnya akan menyiapkan sebuah hotel untuk tempat tinggal Nyonya Yolanda selama ada di sana. Lokasinya di sana perbukitan dengan hamparan danau yang indah. Tetapi Otis tidak bisa langsung membawa Nyonya Yolanda ke hotel karena jaraknya cukup jauh. Mereka harus menggunakan sepeda motor untuk bisa tiba di hotel tersebut.


"Itu rumahmu?" tanya Nyonya Yolanda ragu.


"Jelek ya Nyonya?" sahut Otis sambil garuk-garuk kepala.


"Ya," jawab Nyonya Yolanda jujur. Wanita itu melangkah maju menuju ke rumah. "Tapi sepertinya nyaman," sambung Nyonya Yolanda lagi hingga membuat Otis tersenyum mengembang.


"Otis!"

__ADS_1


Nyonya Yolanda dan Otis sama-sama berhenti ketika mereka mendengar seseorang berteriak. Seorang wanita berpakaian sederhana berlari menghampiri Otis. Wanita itu terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan Otis lagi. Tanpa permisi, dia segera memeluk Otis sambil memejamkan mata.


"Kenapa kau tidak memberi kabar kalau mau pulang?" tanya Wanita itu sambil memeluk Otis dengan begitu erat.


"Jangan seperti ini," tolak Otis. Pria itu memaksa pelukan wanita itu agar terlepas. Otis memandang wajah Nyonya Yolanda yang terlihat penuh tanya.


"Otis, kau ini sombong sekali."


"Nyonya, dia tetangga saya," ucap Otis sambil memperkenalkan wanita itu. "Namanya-"


"Senang bertemu denganmu, Lula." Nyonya Yolanda memandang Otis lagi. Wanita itu sudah merasa tidak nyaman berdiri di sana. "Bisakah kita ke sana sekarang?"


Otis mengangguk cepat. "Baik, Nyonya. Mari saya antar."


Otis mengabaikan Lula begitu saja. Memang sejak dulu Otis tahu kalau Lula sangat tergila-gila padanya. Wanita itu bahkan berulang kali mengatakan perasaannya kepada Otis. Kali ini perasaan Otis masih sama. Dia tidak mencintai Lula. Ini yang membuat Otis lebih baik menghindari Lula daripada harus mendapat masalah baru. Dia ada di kampung juga karena ingin membahagiakan Nyonya Yolanda. Bukan untuk bersenang-senang menikmati dana pensiun.

__ADS_1


Rumah kayu itu memang sudah tua. Tetapi bangunannya masih sangat kuat. Otis memberi jalan kepada Nyonya Yolanda untuk masuk duluan setelah itu dia yang masuk.


Nyonya Yolanda menahan langkah kakinya ketika ingin duduk di sebuah kursi kayu yang tersedia di sana. Ada debu dan itu membuat Nyonya Yolanda menjadi risih.


"Nyonya, maafkan saya karena membawa anda ke tempat kotor. Saya akan segera membawa anda ke hotel."


"Hotel?"


"Ya. Di hotel fasilitasnya lebih lengkap dan nyaman. Saya sudah pesankan hotel terbaik yang ada di wilayah ini. Semoga anda menyukainya."


Nyonya Yolanda tidak memiliki pilihan lain. Dia juga tidak akan bisa tidur jika berada di rumah jelek seperti itu. Mau tidak mau wanita itu setuju saja ketika di tawari untuk tinggal di hotel. Urusan biaya juga dia sudah pasti bisa membayarnya. Berapapun harga hotelnya nanti.


Otis membersihkan debu di kursi kayu. Setelah memastikan tempat di sana kayak di duduki, pria jtu memandang wajah Nyonya Yolanda lagi. "Nyonya, anda bisa duduk di sini. Saya akan mencari kendaraan untuk membawa anda ke hotel."


Nyonya Yolanda mengangguk. Dia segera duduk di kursi tersebut. Wanita itu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia ingin tahu sekarang ada di mana dan seberapa jauh dia dari rumah. Namun, wajahnya terlihat kecewa ketika jaringan di sana tidak ada.

__ADS_1


"Sepertinya ini benar-benar tempat untuk menenangkan diri," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati.


__ADS_2