
Nyonya Yolanda memegang sebuah majalah dan membacanya dengan serius. Ia sengaja mencari kegiatan agar tidak mengobrol dengan suaminya yang kini duduk di sampingnya. Jangankan untuk berbicara, dekat-dekat saja dia muak rasanya. Nyonya Yolanda merasa jijik kepada suaminya sendiri ketika tahu kalau suaminya sudah pernah tidur dengan wanita lain. Setiap kali dia memandang wajah Tuan Abraham, wajah wanita itu langsung muncul di dalam ingatannya. Ingin sekali rasanya Dia memaki-maki suaminya, namun semua masih ia tahan sebelum apa yang ia inginkan dia dapatkan.
"Sayang, sudahlah. Aku di sini. Kenapa kau bersikap seolah kau sedang sendirian. Mana rengekan manja yang selama ini sering aku dengar. Di mana pelukan hangat yang selama ini selalu aku dapatkan. Aku menjemputmu karena aku merindukanmu. Jangan pernah berpikir kalau aku tidak lagi mencintaimu. Karena setiap harinya rasa cinta ini selalu tumbuhannya untukmu," ucap Tuan Abraham dengan sungguh-sungguh.
"Aku sedang malas bicara. Anggap saja aku sedang marah karena kau telah melakukan sebuah kesalahan," jawab Nyonya Yolanda tanpa memandang.
Taun Abraham menggeram. Namun dia masih menekan emosinya agar tidak naik ke permukaan. Yolanda bukan tipe wanita yang bisa dikasari. Wanita itu sangat lembut hatinya hingga Tuan Abraham harus sangat-sangat sabar ketika berbicara dengannya.
"Yolanda sayang ... Aku tidak akan pernah tahu apa kesalahanku Jika kau tidak mengatakannya. Tolong jangan diami aku seperti ini. Selama kita menikah baru ini aku sangat ketakutan. Aku tidak bisa kehilanganmu. Bersikaplah seperti biasanya agar aku merasa kalau hubungan kita baik-baik saja."
Nyonya Yolanda menutup majalahnya dengan kasar lalu memandang Tuan Abraham dengan wajah tidak suka. "Kau yakin tidak sedang melakukan kesalahan apapun? Kau yakin kalau tidak ada yang sedang kau sembunyikan dariku?"
Tuan Abraham terlihat ragu untuk menjawabnya. Padahal biasanya mudah sekali ia untuk menjawab dengan kata tidak. "Apa Yolanda sudah mengetahui hubunganku dengan Sandra? Tapi siapa yang memberitahunya. Hubungan ini aku simpan dengan begitu rapat. Hanya aku dan Sandra yang mengetahuinya. Bahkan mata-mata yang dimiliki Yolanda juga tidak akan mungkin bisa mengetahui hubungan kami. Bisa Aku pastikan itu," gumam Tuan Abraham di dalam hati.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang mencari-cari alasan untuk menghindari kesalahanmu. Atau kau sedang mencari cara untuk menghilangkan jejak kesalahanmu."
Tuan Abraham mengambil tangan Nyonya Yolanda dan mengusapnya dengan lembut. Menatapnya dalam-dalam dengan penuh cinta.
"Ya, aku salah," jawabnya pasrah.
Nyonya Yolanda mengeryitkan dahinya. Jika sampai Tuan Abraham benar-benar akan mengakui hubungannya dengan wanita lain. Nyonya Yolanda tidak tahu harus bagaimana sekarang, karena dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Aku salah karena selama ini aku membiarkanmu liburan sendiri. Sebagai seorang suami Seharusnya aku bisa meluangkan waktu untuk liburan bersamamu. Tadinya aku pikir dengan uang segalanya akan baik-baik saja. Ternyata sebuah perhatian nilainya jauh lebih mahal dari apapun. Aku janji ini yang terakhir. Setelah ini setiap kali kau ingin liburan aku akan ikut bersamamu. Berapa lama pun yang kau inginkan akan aku turuti. Kemanapun kau ingin pergi akan aku ikuti. Tapi untuk saat ini tolong maafkan aku. Jangan marah Lagi." Tuan Abraham mengecup punggung tangan Nyonya Yolanda dengan mesra. Dia menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
Nyonya Yolanda hanya diam saja ketika berada di dalam pelukan Tuan Abraham. Wanita itu merasa sedikit lega karena Tuan Abraham tidak mengatakan hal yang sejak tadi ia takuti.
__ADS_1
"Apa selama aku liburan dia bersama dengan wanita itu. Apa dia melakukannya ketika aku tidak ada. Bodoh sekali Aku karena selama ini sudah mempercayainya. Tadinya aku pikir jika setiap hari kami bertemu dan saling berkomunikasi maka dia akan selalu setia. Tidak pernah memandang wanita lain. Ternyata di balik kebersamaan kami yang terlihat sangat romantis masih ada celah untuk masuknya wanita lain," gumam Nyonya Yolanda di dalam hati.
***
Otis duduk di kursi yang lokasinya jauh dari Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda. Dia sengaja mengasingkan diri agar tidak mendengar apapun yang dilakukan oleh sepasang suami istri tersebut. Tadinya Otis ingin melewati perjalanan ini sambil tidur saja. Tetapi entah kenapa kedua matanya tidak bisa terpejam. Pria itu memandang keluar jendela untuk menikmati pemandangan yang ada. Seorang pramugari tiba-tiba muncul sambil membawakan makan siang. Pramugari itu sendiri sempat terkesima melihat ketampanan Otis. Ia bahkan tidak berkonsentrasi hingga menumpahkan jus yang akan ia letakkan di meja.
"Maaf, Tuan. Maaf." Pramugari itu seperti tidak tahu kalau Otis hanya seorang supir. Memang dilihat dari penampilannya, Otis terlihat seperti pria berkelas. Apa lagi kini pria itu ikut bersama seorang konglomerat. Tidak ada yang bisa menilainya sebagai seorang supir.
"Tidak apa-apa," jawab Otis cepat. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Di mana toiletnya. Saya akan mengeringkan baju saya di toilet saja."
"Di sebelah sana Tuan. Apa Anda mau saya antar?" tawar pramugari itu.
"Tidak. Saya bisa sendiri," tolak Otis sebelum ia melangkah menuju ke toilet. Pramugari itu mengambil gelas yang sudah kosong karena isinya telah tumpah. Ia membersihkan kekacauan yang ada dan ingin mengganti jus yang baru.
Otis membuka jas yang ia kenakan untuk membersihkannya. Pria itu menghela nafas ketika cairan jus yang berwarna kuning tidak mudah untuk dihilangkan dari kemeja putih yang tadi ia kenakan. Wajah pria itu terlihat sangat frustasi. Rasanya dia malas sekali jika harus ganti baju.
Berbeda dengan Otis yang memilih untuk mengabaikan pramugari tersebut. Dia melangkah menuju ke kursi tempatnya duduk untuk mengambil baju ganti. Tiba-tiba saja terdengar rintihan dari belakang.
"Kepalaku," lirih pramugari itu.
Otis menahan langka kakinya. Melihat pramugari itu hampir terjatuh dia segera berlari untuk menolongnya. Karena keseimbangannya tidak pas Otis terduduk dan pramugari itu ada di atas pangkuannya. Dengan manjanya pramugari itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Otis. Rasanya Ia sangat senang karena bisa memeluk Otis seperti itu.
Di waktu yang bersamaan Nyonya Yolanda dan Tuan Abraham juga ingin ke toilet. Mereka berdiri di sana dan menyaksikan apa yang terjadi. Sang pramugari segera berdiri dan merapikan penampilannya. Dia segera menunduk dengan wajah ketakutan. Berbeda dengan Otis yang saat itu tidak merasa bersalah karena memang dia tidak melakukan apapun. Pria itu berdiri dan memandang wajahnya Nyonya Yolanda sejenak sebelum menunduk.
"Lain kali jika kau ingin bersenang-senang, jangan lakukan hal kotor itu di pesawatku," ujar Tuan Abraham.
__ADS_1
Nyonya Yolanda tidak mau banyak komentar. Wanita itu segera melangkah dan masuk ke dalam toilet. Otis hanya diam saja tanpa tahu harus menjawab apa. Dia memandang pramugari yang sempat berdiri di sampingnya sejenak sebelum memandang Tuan Abraham lagi.
"Permisi, Tuan," uapnya sebelum berlalu pergi menuju kursi.
Tuan Abraham masih memandang pramugari yang kini menunduk dengan wajah ketakutan. "Tidak perlu bersikap seperti itu. Aku tidak akan menghukummu. Justru aku ingin kau melakukan sesuatu. Aku akan membayarmu jika kau berhasil melakukannya."
Pramugari itu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan memandang Tuan Abraham. "Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?"
"Tidak terlalu sulit. Aku hanya ingin memintamu untuk menggoda pria tadi. Pastikan dia benar-benar tergoda hingga tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Jika kau berhasil aku akan membayarmu setelahnya."
Pramugari itu mengukir senyuman penuh arti. Jelas saja dia setuju karena dia memang tergila-gila dengan wajah dan tubuh Otis. Di tambah lagi kini ia tidak perlu takut pada siapapun karena majikannya sendiri yang menyuruhnya dan akan membayarnya.
"Baiklah, Tuan. Kapan saya harus melakukannya?"
"Tiga jam dari sekarang di tempat yang sama," jawab Tuan Abraham sebelum memutar tubuhnya. Pria itu tidak mau berdiri di sana terlalu lama.
Di dalam toilet, Nyonya Yolanda memegang kemeja Otis yang kotor. Wanita itu tersenyum ketika dia tahu kalau Otis tidak memakai baju karena pakaiannya yang kotor. "Dia pria yang baik. Aku yakin dia tidak seperti yang aku pikirkan." Nyonya Yolanda meletakkan baju itu lagi. Ia merapikan penampilannya sebelum keluar dari toilet. Wanita itu sempat berhenti di sana ketika tidak menemukan siapapun. Ia melangkah menuju ke kursi yang diduduki Otis. Sejak tadi memang ada sebuah kalimat yang ingin Ia katakan kepada Otis namun belum sempat untuk dia sampaikan.
Otis duduk sambil mengancing kemeja bajunya. Pria itu kaget ketika melihat Nyonya Yolanda berdiri di sampingnya. "Nyonya, sebaiknya jangan pernah dekat-dekat dengan saya karena itu hanya akan membuat saya jelek di mata Tuan Abraham."
Nyonya Yolanda menaikkan satu alisnya. "Kau lebih tertarik dengan pramugari tadi dari pada denganku?"
Otis terlihat bingung. Dia tidak tahu sebenarnya apa maksudnya Nyonya Yolanda mengatakan hal seperti itu. "Nyonya, Saya tadi hanya-"
"Setelah tiba di bandara temui Tesya dia akan memberikan sesuatu padamu nanti." Setelah mengatakan kalimat itu Nyonya Yolanda segera pergi. Ia tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengobrol lama-lama dengan Otis.
__ADS_1
Otis Hanya diam saja sambil memandang punggung Nyonya Yolanda yang semakin menjauh. Pria itu kembali memandang keluar jendela. "Tesya? Apa dia juga berangkat ke Indonesia?"