
Sudah satu minggu Otis tidak bertemu dengan Nyonya Yolanda. Hal ini membuatnya tersiksa. Berpisah satu hari saja sudah terasa berat. Sekarang selama tujuh hari dia tidak bisa memandang wajah kekasihnya. Bahkan mendengar suaranya saja tidak ada kesempatan lagi. Nyonya Yolanda mengirim pesan singkat sesekali dan itu juga ketika dibalas oleh Otis tidak dibalas lagi oleh Nyonya Yolanda. Jarak ini membuat Otis kembali sadar kalau ada batasan di antara mereka.
Tika menghampiri Otis dengan wajah yang begitu ceria. Wanita itu duduk di hadapan Otis lalu meletakkan roti di atas meja. "Cepat makan. Aku baru saja membelinya. Rasanya enak," ucap Tika sambil mengunyah roti yang ada di genggamannya.
Otis memandang wajah Tika sejenak sebelum mengambil roti itu dan membuka bungkusnya. Tanpa pikir-pikir lagi Otis memakai roti tersebut. Sebenarnya dia tidak terlalu suka tetapi dia ingin menghargai pemberian Tika. Pria itu memakan rotinya sampai habis.
"Malam ini dingin sekali bukan. Tadi Hujannya sangat deras. Rasanya aku ingin tidur saja seharian tanpa melakukan apapun. Namun aku sadar diri kalau aku ini hanya seorang pembantu," ucap Tika sambil menertawakan dirinya sendiri.
"Aku tidak pernah melihatmu menangis. Apa memang kau selalu dikaruniai kebahagiaan hingga tidak memiliki kesempatan untuk menangis. Ataukah sering menangis secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. Senyummu ini hanya senyum palsu untuk menutupi rasa sakit yang kau rasakan."
Tika berhenti mengunyah roti yang ada di dalam mulutnya. Ekspresi wanita itu tampak berbeda. Namun hanya sebentar saja karena lagi-lagi wanita itu mengukir senyuman manis di depan Otis. "Jika aku sedih aku akan menangis. Jika aku bahagia aku akan tersenyum. Hidup dalam kepura-puraan sangat tidak enak. Inilah diriku."
Otis menggangguk pelan. Dia meneguk teh hangat yang ada di meja sebelum memandang wajah Tika lagi.
"Otis Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Jika aku melakukan suatu kesalahan terhadapmu Apakah kau akan mau memaafkanku. Ini kesalahan yang begitu berat. Bahkan mungkin sulit untuk di maafkan."
"Aku akan memberikanmu maaf. Tetapi hanya satu kali saja. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Aku tahu kau melakukan kesalahan itu pasti karena ada alasannya," jawab Otis yang seolah tahu dengan apa yang kini dipikirkan oleh Tika.
Tika memalingkan wajahnya sambil menggangguk. "Kau harus memegang kata-katamu ini. Aku memiliki satu kesempatan maaf darimu. Itu berarti aku boleh melakukan sebuah kesalahan."
Kali ini Otis yang gantian tersenyum mendengarnya. "Kau tidak perlu menggunakan maaf itu. Jangan pernah lakukan kesalahan maka semua akan baik-baik saja."
"Tapi aku baru saja melakukan kesalahan Otis."
"Benarkah?" tanya Otis dengan satu alis terangkat ke atas. "Di mana letak kesalahannya. Coba katakan."
Tika menggeleng dengan wajah sedih. "Tidak bisa karena kau akan tahu sendiri nanti," ucapnya dengan nada yang pelan.
Otis tiba-tiba merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Gairahnya bangkit dan pria itu tersiksa. Bukan hanya itu saja. Kepalanya juga mulai terasa pusing.
"Aku harus kembali ke kamarku," ucap Otis sambil memijat kepalanya. "Sepertinya aku harus cepat tidur karena memang beberapa hari ini jam tidurku menjadi tidak teratur."
Otis berdiri lalu tiba-tiba saja tangannya memegang sofa karena hampir terjatuh. Tika juga segera berdiri lalu membantu Otis untuk berdiri tegak.
"Apakah kau baik-baik saja?" Tika memegang lengan Otis lalu mengusapnya dengan sentuhan yang menggoda.
"Kepalaku terasa pusing." Otis memandang wajah Tika. Entah kenapa tiba-tiba wanita itu berubah menjadi Nyonya Yolanda. Tetapi sesekali wajahnya kembali menjadi wajah Tika. Dan itu membuat Otis semakin pusing.
"Apa kau masih bisa mengenaliku Otis?" tanya Tika dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Yolanda?" celetuk Otis. Tiba-tiba saja pria itu memeluk Tika dengan erat. "Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tega meninggalkanku. Apa kau tidak merindukanku?"
Tika memejamkan mata ketika hatinya kembali cemburu. Kini tubuhnya yang dipeluk oleh Otis tetapi pikiran pria itu ada pada Nyonya Yolanda. Tetapi Tika tidak memiliki pilihan lain selain menggoda Otis. Roti yang ia berikan kepada Otis memang telah diberi obat.
"Aku juga sangat merindukanmu, Otis." Tika memandang wajah Otis selalu mencium bibir pria itu. Tiba-tiba saja buliran air mata menetes. Seharusnya dia bahagia karena sudah berhasil berciuman dengan Otis. Tetapi entah kenapa setiap gerakan yang ia lakukan timbul rasa bersalah di dalam hati. Tika ingin menyudahinya tetapi tidak bisa. Semua harus terjadi malam ini juga.
"Aku sangat-sangat merindukanmu Yolanda." Otis mendorong Tika hingga terjatuh di sofa. Pria itu mencium lagi bibir dan leher jenjang Tika dengan penuh nafsu. Tika memejamkan matanya sebelum membuka satu persatu kancing kemeja Otis. Ini perbuatan yang salah. Tetapi dia harus melakukannya. Dipandang sekali lagi kamera CCTV yang menonton mereka. Setelah memastikan apa yang ia lakukan direkam dan bisa dilihat, Tika kembali menarik leher Otis dan mencium pria itu lebih panas lagi.
"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu seperti malam-malam kemarin. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku sangat-sangat tersiksa. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya," ucap Otis dengan wajah yang begitu tersiksa.
Tika tahu kalau pria itu tidak akan sanggup menahan gairahnya karena obat yang telah Ia makan sedang bekerja. Ini juga masih belum seberapa. Pria itu akan selalu merasa ingin dipuaskan.
"Lakukan saja Otis. Dengan begitu Aku tidak merasa bersalah karena sudah menjebakmu," ucap Tika sambil mengusap pipi Otis.
Otis menggendong Tika dan membawanya ke kamar. Sepertinya pria itu benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Bahkan dia juga tidak sadar kalau wanita yang ada di gendongannya adalah sahabatnya sendiri.
Setelah tiba di dalam kamar, Otis menutup rapat pintu bahkan lupa untuk mengunci pintu. Pria itu meletakkan tubuh Tika di atas ranjang dengan hati-hati. Dia membuka kemeja yang melekat di tubuh karena merasa sangat panas.
"Kau benar-benar menggoda dan selalu menggodaku, Yolanda." Otis lagi-lagi membayangkan kalau wanita yang ada di hadapannya adalah Nyonya Yolanda. Pria itu mendekati Tika lalu mencium wanita itu dengan panas. Memberi godaan di area sensitif wanita tersebut.
Tika mendesah ketika tangan Otis bermain di pahanya yang mulus. Ini pengalaman pertama bagi Tika. Tubuhnya sangat-sangat ia jaga selama ini dari sentuhan pria manapun. Tetapi sekarang dengan bodohnya ia menyerahkan keperawanan yang ia miliki kepada Otis. Kepada pria yang sama sekali tidak mencintainya dan mungkin akan sangat membencinya setelah tahu kejadian ini.
Otis membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Tika. Tubuh polos itu terlihat semakin menggoda. Pria itu sendiri segera membuka celana yang menjadi pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya.
Otis menahan gerakannya ketika ia ingin memiliki Tika. Pria itu memandang wajah Tika dengan saksama. Seolah-olah dia kembali sadar dengan apa yang terjadi. Hal itu membuat Tika takut. Dia tidak mau sampai rencananya gagal malam ini.
"Otis, lakukanlah. Aku mohon," lirih Tika sambil mengusap wajah Otis.
Otis mencium bibir kita lagi sebelum menerobos pertahanan Tika. Hal itu membuat air mata Tika menetes semakin deras. Rasa sakit dan bersalah bercampur menjadi satu. Ini adalah kesalahan besar yang sudah ia lakukan terhadap sahabatnya sendiri.
Di atas tubuh Tika, Otis terus bergerak untuk memuaskan dirinya sendiri. Pria itu tidak lagi sadar dengan apa yang terjadi.
Tika mulai bisa menguasai dirinya sendiri. Pikiran kacau yang sempat memenuhi isi kepalanya kini hilang ketika Otis memberikan kenikmatan dunia kepadanya. Hembusan nafas Otis menyentuh wajahnya dan semakin membuat Tika berani untuk menggerakkan tubuhnya.
Meskipun dalam keadaan tidak sadar tetapi Otis memperlakukan Tika layaknya seorang Ratu. Berulang kali pria itu mencium bibir Tika agar Tika tidak merasa kesakitan. Tika semakin merasa bersalah karena sudah menjebak Otis.
"Maafkan aku Otis ...."
Satu jam sebelumnya.
__ADS_1
Tika jalan-jalan di samping rumah memberi makan ikan. Malam ini cuaca terasa sangat dingin. Semua orang sudah tidur di dalam kamar. Tetapi tidak dengan Tika yang merasa sangat bosan. Wanita itu ingin mengobrol dengan ikan-ikan yang memang sering ia temui. Sambil tertawa riang wanita itu berbicara dengan ikan seolah ikan itu adalah sahabatnya.
Tiba-tiba saja dari arah belakang seorang pria muncul mendatangi Tika. Pria itu duduk di kursi yang tidak jauh dari posisi Tika berada. Tika meletakkan makanan ikan yang sempat ada di tangannya lalu memandang pria itu dengan wajah ketakutan.
"Anda siapa? Apa yang anda inginkan." Tika terus menjauh.
"Bukankah kau adalah keponakannya Tante Renata."
Mendengar nama Tante Renata disebut kembali membuat Tika menjadi tidak tenang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak berani memandang Mmata lawan bicaranya secara langsung.
"Ya. Tetapi aku juga tidak tahu bagaimana hubungan Tante Renata dengan orang tuaku. Tiba-tiba saja aku dipaksa untuk memanggilnya dengan sebutan tante," sahut Tika.
Pria itu mengangguk lalu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Apa kau tahu kalau ternyata Tante Renata yang sudah membunuh Pak Rahmad?"
Tika kaget bukan main. Hal itu membuat pria yang ada di hadapannya tertawa. "Sudah kuduga. Kau mengetahui semua yang terjadi. Tetapi kau memilih diam karena tidak mau sampai terlibat. Bukankan begitu Tika?" Pria itu terus memojokkan Tika hingga Tika tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku tidak tahu apapun. Tolong Jangan libatkan aku ke dalam masalah yang sudah dibuat oleh Tante Renata." Tika memohon dengan tangan terkatup.
"Tapi sayangnya kami harus melibatkan seseorang untuk membebaskan Tuan Abraham. Tidak mungkin kami menyeret wanita yang sudah dikuburkan. Mau tidak mau kami harus menjadikanmu sebagai pengganti Tuan Abraham di penjara. Bukankah ini ide yang bagus?"
"Jangan mengancam saya dengan kata-kata omong kosong itu. Saya tidak percaya jika anda bisa memasukkan saya ke dalam penjara. Saya tidak melakukan perbuatan itu." Meskipun sekarang dia diselimuti rasa takut, tetapi Tika masih berusaha untuk melawan.
"Begitu juga dengan Tuan Abraham. Dia tidak pernah membunuh bahkan menyentuh Pak Rahmad. Tetapi sekarang dia ada di dalam penjara. Bukankah itu sangat tidak adil baginya."
Tika semakin ketakutan. Wanita itu rasanya ingin lari saja dan bersembunyi agar tidak bertemu lagi dengan pria yang ada di hadapannya.
"Tapi kau tenang saja. Aku tidak sejahat itu. Meskipun aku bisa memasukkanmu ke dalam penjara untuk menggantikan Tuan Abraham.Tapi aku tidak sekejam itu. Lakukan sesuatu maka aku akan membebaskanmu. Bagaimana?"
"Sesuatu kau bilang?" Tika terlihat tertarik.
"Ya. Aku ingin kau menggoda Otis. Tidur dengannya. Pastikan kau melakukannya di tempat yang bisa dilihat oleh CCTV. Aku tidak memiliki waktu untuk merekam adegan panas itu."
"Tidak. Aku tidak akan menjebak temanku sendiri. Dia pria yang baik."
"Dia memang pria yang baik. Tapi itu hanya ada di dalam pikiranmu. Pria baik tidak akan mau merebut wanita yang masih memiliki suami. Bukankah kau sendiri juga menyukainya. Ini adalah kesempatan yang bagus bagimu untuk mendapatkannya. Tujuanku sederhana. Aku hanya ingin Tuan Abraham dan Nyonya Yolanda kembali bersatu. Aku tahu menyingkirkan Otis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika sampai Nyonya Yolanda mengusut masalah itu maka dalam waktu sekejap Otis akan kembali ke rumah ini. Hanya ini satu-satunya cara yang muncul di dalam pikiranku. Membuat Nyonya Yolanda membenci Otis adalah satu-satunya cara untuk menyingkirkan Otis dari rumah ini."
"Tapi Bagaimana denganku. Otis pasti akan sangat membenciku setelah Kejadian ini."
"Itu urusanmu bukan urusanku. Lakukan tugasmu dengan benar maka aku tidak akan menyeretmu ke dalam penjara. Kau tidak memiliki waktu banyak. Berikan roti ini kepada Otis. Jangan sampai salah makan. Karena jika tidak kau sendiri yang akan terjebak dalam permainanmu. Besok pagi Nyonya Yolanda akan pulang. Pastikan dia melihat apa yang kalian lakukan. Aku tidak mau setelah kau sampai gagal. Kau harus melakukan tugasmu dengan benar. Aku jamin kalau kau tidak akan terlibat dalam masalah ini lagi. Kami tidak akan menyeretmu ke dalam penjara."
__ADS_1
Tika memandang roti itu dengan wajah ragu-ragu. Ini keputusan yang berat baginya. Namun Tika tidak mau sampai masuk ke dalam penjara. Apa lagi karena kasus pembunuhan. Bisa-bisa seumur hidupnya akan dihabiskan di dalam jeruji besi.
"Baiklah," jawab Tika pasrah.