
Isak menyalakan ponselnya yang mati. Banyak sekali panggilan masuk dari Nami. Sang bunda. Weekend kemarin ia habiskan untuk beristirahat alias tidur sepuasnya.
Bangun, makan dan tidur lagi. Dua hari hanya itu kegiatan yang Isak lakukan. Ia tak sekalipun membuka alat komunikasinya. Keluarganya dan Rena tahu kebiasaan Isak yang satu ini. Tak lupa ia mengompres kepalanya yang benjol juga terasa nyeri.
Ponselnya langsung menyala, Bunda. Isak menggeser tanda terima.
"Assalamualaikum abang?"
"Waalaikumsalam Bunda,"
"Abang sehat? Kata Kila kamu nggak ketemu sama dia karena sakit? Benerkan bang? Nggak menghindarkan?"
Ya sebenarnya, waktu Leha mengajaknya ke rumah wanita itu, ia ada kencan buta yang sudah disiapkan oleh Nami.
Kali ini anak dari teman arisan sang Bunda. Bundanya tidak memaksa tapi Isak diharus dan disegerakan, menikah.
Ini juga bentuk rasa kecewa sang Bunda padanya, Akibat putusnya hubungan dirinya dengan Leha. Bahkan Nami mogok bicara. Isak tak masalah, ia tahu bundanya tak bisa lama mendiamkannya.
Tapi yang membuatnya semakin pusing adalah ratusan undangan kencan buta yang telah disiapkan Nami untuknya dan Nalen.
Awalnya Isak tolak keras tapi semakin hari undangan itu bukannya menipis namun semakin menumpuk dan beranak pinak.
Nalen yang biasanya hanya diam tanpa protes kini ikut menyalahkan abangnya itu. Karena si Abang ia jadi ikut terseret.
Bundanya bahkan membuka kencan buta bagi siapa saja yang tertarik pada sang anak. Layaknya es susu coklat yang dijual dipinggir jalan. Murah meriah.
Isak kesal. Ia protes namun dengan tegas Nami menjabarkan, memang ia sedang memamerkan dan memperkenalkan anak-anaknya kekhalayak umum, tapi Nami masih memantau, melihat dan meneliti kepribadian dari calon-calon menantunya.
Isak lelah berdebat pun akhirnya menyetujui kencan buta yang telah Nami persiapkan. Dengan syarat hanya bertemu. Untuk kelanjutannya terserah dirinya.
"Rena panggil Leha kemari!" ucap Isak pada Rena di telepon.
Rena membeku. Ia tak pernah mengatakan pada Isak bila Leha bekerja di perusahaannya.
Gaswat!Pikirnya.
Rena masuk ke ruangan Isak dengan terburu. Wajahnya pucat pasi. Seperti ketahuan menyembunyikan rahasia besar.
"Bang … " Rena merasa bersalah.
"Mana Leha? Yang aku panggil Leha bukan kamu" Tatapan Isak dingin dan datar.
"Abang tahu Leha kerja disini?"
"Kenapa?"
"Mmm … anu ituu … "
__ADS_1
Isak melihat Rena yang gugup. Ia melepas kacamata bacanya. Mencubit pangkal hidung.
"Tak apa, abang tidak marah. Sana sudah panggilkan Leha kemari"
"Ya"
Rena mengangguk ia langsung mencari keberadaan Leha. Ia melihat Enda.
"Enda"
"Ya mbak Rena?"
"Kamu lihat Leha?"
"Lagi nemenin mbak Dewi sarapan di pantry"
"Oh, makasih"
Rena melangkah cepat ke arah pantry. Ia mendengar gurauan Leha disana. Ia masuk dan menemukan Sari juga ikut sarapan.
"Leha?"
"Mbak Rena, Ada apa Mbak?"
"Bisa kesini?"
Dewi menawari Rena, Sari menyuapkan nasi uduknya. Dewi memberikan bihun miliknya pada Sari. Ia tak suka bihun.
"Makasih Dewi, saya pinjam Leha sebentar ya"
Dewi dan Sari mengangguk kemudian keduanya saling bertatapan.
"Ada apa ya?"
"Leha hari ini beresin ruangan pak Isak?"
"Iya mbak, kenapa memangnya mbak?"
"Kamu nggak liat muka mbak Rena kayak tertekan gitu. Jangan bilang Leha buang berkas penting?"
"Nggak mungkin Mbak, kita nggak diperbolehkan pegang berkas diatas meja, kalau beberes ruangan bos Isak."
Kembali Sari menyuapkan nasi uduknya. Dewi memberikan kuning telurnya pada Sari.
"Ya semoga aja ya."
***
__ADS_1
Leha menyandarkan dahinya pada pintu loker. Teringat kembali dengan kesepakatannya dengan Isak.
Rena dengan wajah panik menemuinya. Wanita itu bertanya apa yang Isak lakukan padanya, Leha menceritakan jika mereka bertemu sebagai ojol dan penumpang.
Hanya itu, Rena bertanya ekspresi Isak saat mengetahui Leha bekerja di perusahaan lelaki itu.
"Kayak mau makan orang mbak, sumpah ngeri"
"Terus?"
"Ya, ini baru dipanggil lagi sama bos lagi"
Tak mungkin juga Leha menceritakan pada Rena, ia membawa Isak ke rumahnya, bertemu sang abah dan menegaskan bahwa Isak adalah calon suami Leha.
Bisa runyam urusannya. Tidak tahu darimana Si abah bisa mendapatkan video Leha yang menarikan tari kemenangan Neymar bersama Isak. Tidak. Lelaki itu tidak itu menari ia hanya diam mematung di sebelah Leha yang genit. Video yang memalukan.
Hingga saat ini pun Abah Hamid belum tabu jika Udin menipunya. Bahkan tak jarang Abah menanyai Leha keberadaan Udin Saparudin yang sibuk dengan tunangannya itu.
"Mbak, Mbak Rena nggak dipecatkan gara-gara masukin aku kesini?" Ucap Leha mencicit.
"Nggak kok"
Sebenarnya Rena juga tak tahu bagaimana nasib dirinya. Tidak dipecat hanya, Isak akan mendiamkan dirinya. Atau bahkan sikapnya menjadi lebih menyebalkan.
Lalu Leha menemui Isak. Lelaki itu menatapnya garang. Terakhir yang Leha ingat, jika dirinya mengantarkan Isak sampai apartemennya.
Lelaki itu menanggapi kelakuan Abah dan Uwaknya dengan kooperatif. Juga membaur. Leha pikir Isak akan diam saja.
Masalahnya, Abahnya menjadi suka pada Isak. Uwaknya pun begitu. Bahkan Si abah selalu menanyainya, apa dirinya akan berkencan dengan Isak jika Leha keluar untuk bekerja.
"Bapak kepalanya gimana keadaannya?"
"Pusing, sakit, mual"
"Apa nggak sebaiknya ke rumah sakit?"
Leha menjadi cemas. Ia mendekat meja Isak.
Isak melihat kecemasan dalam bola mata Leha. Mata bening yang terpantul bayangan Isak disana. Leha mengamati kepala Isak. Ia tak menyadari jika lelaki itu memandanginya.
"Oke mari kita pacaran!"
"Hah?"
Tenggorokannya tercekat.
Leha kembali mengetukkan dahinya pada loker. Yang membuat wanita itu pusing bukan mereka kembali pacaran -pura-pura- melainkan syarat yang diinginkan Isak. Tubuhnya.
__ADS_1
Tbc.