
Kepala Isak berdenyut. Memikirkan Leha yang menghilang juga Bita yang hingga kini tidak ditemukan. Kalau Leha, Isak tahu dimana istrinya itu berada.
Ia ada di Singapura, menyelesaikan pekerjaannya bersama BoNus. Ia ingin langsung menyusul tapi menghilangnya Bita membuat mereka kalang kabut. Bukannya apa-apa. Suami istri itu mengapa begitu tega meninggalkan Onaldo sendirian.
"Kau bisa melacaknya?"
"Buntu, bahkan cctv rumah sakit bersih, tapi aku menemukan sesuatu yang mungkin kamu akan menyesalinya."
Pernyataan Nalen membuat kernyitan di dahi Isak. Ia mengarahkan laptopnya ke arah Isak. Disana terlihat Leha yang bersembunyi di belakang pintu. Saat kamera diputar dan mengarah ke dalam kamar Bita. Disana ada Isak dan Bita yang berpelukan.
"Siaaal!" Umpatan Isak teriakan. Sebelumnya ia dibuat bingung dengan alasan Leha yang meninggalkannya begitu saja.
Nalen pun akhirnya mengerti keanehan yang Sabrina ucapkan saat di Singapura, kekasihnya itu mengatakan jika ada yang aneh dengan Leha. Lalu setelah kakinya menginjak Jakarta. Ia mendapat kabar tentang batalnya resepsi sang kakak, juga Leha sampai meminta perpisahan dengan Isak.
Lalu ditambah berita Bita yang menghilang. Ia merasa prihatin dengan abangnya itu, ia dipusingkan tentang masa lalu, masa depan dan anak dari masa lalunya.
Bagaimana tidak Bita, wanita itu meninggalkan anaknya pada keluarganya tanpa kata, ditambah lelaki sang suami.Bita yang juga tidak tahu kemana rimbanya.
Keluarga yang benar-benar berantakan. Nalen menatap si abang yang mengacak rambutnya. Dering ponsel Isak mengalihkan pikiran mereka.
"Ya"
"BAGAIMANA KALIAN BISA KEHILANGAN JEJAKNYA! KALIAN SAYA BAYAR MAHAL! MENGIKUTI SATU ORANG WANITA SAJA TIDAK BECUS!"
"SAYA TIDAK MAU TAHU! CARI HINGGA KETEMU!"
"BREN GSEK! BAJI NGAN! SIAAL! SIAAL!" Makianya, saat ini hanya umpatan dan makian yang keluar dari bibir Isak.
"Bang, lo ngikutin si pendek?"
"Si pendek!" Desis dengan sorot nyalang pada Nalen yang hanya bisa diam ditempat, kursinya serasa berpaku, ia ingin kabur saja.
"Leha, maksud Nalen Leha" cicit Nalen. Kalian tahu jika orang yang sabar mengamuk, bisa heboh dunia persilatan.
Isak mengalihkan perhatian pada ponselnya, ia mendial nomor Leha. Nada tersambung yang tidak diangkat. Lalu ia mematikan ponselnya, dan mendial nomor lain.
"Lacak nomornya baru saja saya terhubung." Setelah itu Isak kembali mendial nomor Leha yang sudah tidak bisa lagi dihubungi.
***
Di meja makan keluarga Harlan. Dash menatap kesal pada wanita yang ia anggap lebih muda darinya, bahkan ia pikir anak gelap sang ayah itu yang ternyata istri dari omnya.
Ponselnya sedari tadi bergetar, dan mengganggu. "Buang saja ponselmu itu tante" Dash menekankan kata tante pada Leha.
"Berisik sekali, mending kau keluarkan baterainya, jangan kau nyalakan jika tidak ingin terlacak" saran Dash yang beranjak membawa mangkuk kosong ke bak cuci piring, membuat Leha meraih ponselnya dan melepas baterainya.
Sudut bibir Dash naik. "Tante mau ikut jalan keliling rumah?" Setelah selesai dengan cucian piringnya. Harlan dan Grisel tentu telah pergi sejak pagi, berbelanja juga berjalan-jalan, mereka selalu menyebutnya pacaran.
Sedangkan Dash ingin pergi juga, sebelum Lorraine datang dan mengganggunya. "Cepat tante! Kalau kau ingin ikut, saat ini aku diburu waktu" ucap Dash tinggi.
"Iya sebentar Dash!" Dengan cepat Leha mencuci mangkuknya. Lalu meraih jaket dan menyusul Dash, lelaki itu sudah menaiki sepeda yang lucu, ada kaca spion dengan boncengan di belakangnya.
Leha menatap Dash, apa bocah itu akan memboncengnya? Leha bergelut dengan pikirannya yang memperlambat gerakan wanita itu mengenakan sepatu.
"Tante cepatlah kebur—"
"Dash! Kau mau bersepeda? Kebetulan sekaliii, kita memang jodoh, ayok, ayoook" suara cempreng dan centil terdengar mendekat. Leha memperhatikannya, mirip dengan Sabrina sekilas. Dari segi dandanan dan tinggi badan. Cantik, bule.
"Kan kau lama Tante" omel lelaki itu, Leha melangkah mendekati, "Dash mana sepedaku?"
Sedari tadi wanita yang Leha pikir sepantaran dengannya itu manatap tajam Leha.
"Ini kau gunakan sepedaku, aku akan dibonceng oleh Dash" dengan ketus. Wanita dengan dandanan mirip Sabrina itu. Lalu melemparkan dirinya di boncengan Dash.
"Kau pakelah sepedamu sendiri, aku akan membonceng dia" Dash berkata tidak ramah. Ia juga tidak ramah pada Leha tapi ini lebih ke malas dan dingin.
__ADS_1
"Nggak! Nggak ada yang bisa kamu bonceng selain aku!" Ucap wanita itu. Ia menatap Leha dengan tatapan permusuhan. Wanita itu pikir Leha adalah saingannya. Dan menganggap Leha sepantaran dengannya.
"Turun pakelah sepedamu sendiri!" Dash menggoyang sepedanya. Dengan merengut wanita itu kembali meraih sepedanya.
"Ayo tante ikut tidak?" Ucap Dash pada Leha.
Leha sebenarnya tak masalah jika ia menggunakan sepeda wanita yang jika tatapan mata bisa mengeluarkan laser, dirinya saat ini telah hangus terbakar karena tatapan permusuhan wanita itu.
Setengah perjalanan yang menyiksa, akhirnya Leha bisa leluasa ********* sepeda milik wanita itu. Dengan alasan pegal wanita yang bernama Lorraine itu berpindah di boncengan Dash.
Bocah lelaki itu memang terlihat tidak suka pada Lorraine, apalagi saat wanita itu mulai mengeluh, kata-kata tajam Dash berikan, namun berbanding terbalik dengan kelakuan bocah lelaki yang selalu memantau wanita itu dari kaca spion sesekali. Dan Leha mendapatinya.
Leha memacu sepedanya mendekati sebuah dermaga. Pemandangan pantai privat milik keluarga Harlan sungguh indah. Leha juga mendapati adanya rumah-rumah penduduk. Namun Rain menjelaskan jika itu adalah rumah para pekerja.
Dan lagi satu wanita bergabung dengan mereka, Jenara, usiannya tiga tahun diatas Dash, anak salah satu pekerja, dan perlakuan Dash sangat berbeda dengan wanita itu, lebih lembut dan banyak senyum. Leha kira Rain dan Dash ada hubungan, namun melihat bagaimana Dash memperlakukan Jenara bisa dibilang lelaki itu suka dengan Jenara.
Leha melirik Rain yang menjadi pendiam. Leha seperti melihat dirinya di posisi yang sama dengan Rain. Setelah capek bersepeda mereka singgah di sebuah rumah yang ada di luar gerbang rumah Harlan. Langsung menghadap pantai dengan pemandangan indahnya.
Yang ternyata sebuah kedai minuman es coklat, Lombok terkenal dengan kokoanya dan Es coklat disini sungguh nikmat.
Coklatnya kita bisa request mau manis atau ada hint pahit atau bahkan tidak terlalu manis. Tentu saja pilihan Leha yang manis dengan hint pahit sedikit.
"Aku pesankan" ucap Dash pada Jenara. "Terima kasih Dash" ucap Jenara manis. Tapi Leha yang sebagai pengamat tahu jika Jenara tidak melihat Dash lebih dari teman.
Rumit.
Rain telah memesan terlebih dahulu, ia juga memesankan Leha. Karena senang Leha mau mengalah Rain menganggap Leha menjadi bestienya apalagi ia tahu jika Leha adalah istri dari Om Isak.
"Tante nanti namanya dipanggil ya," Rain mengingatkan,setelah ia meletakkan satu Croissant hangat kepiring Leha, dan Dash.
Rain tidak duduk bersama dengan mereka, ia menepi, duduk di salah satu paviliun yang memang disediakan oleh kedai rumahan ini.
"Tante sudah pesan?" Tanya Jenara, ia meletakkan roti panggang dengan sirup dan berry diatasnya. Yang dibawa oleh Dash.
Leha melirik Rain yang duduk membelakangi mereka. "Kenapa Rain berada disana?"
Leha tidak berpikir demikian. Mungkin Rain menghindari perlakuan Dash pada Jenara yang membuat Rain sadar jika usahanya sia-sia.
Mengapa Leha yang baper? Melihat ketiga bocah di depannya ini, mengingatkan pada hubungannya dengan Isak dan Bita.
"Pemandangan di tempat Rain sepertinya indah, Tamte kesana dulu ya Dash" pamit Leha.
"Hi Rain, indah sekali ya?" Rambut Rain yang berkibar tertiup angin, membuat kecantikan yang Leha kira adalah hasil makeup nyatanya itu wajah asli Rain.
Wajahnya terlihat dewasa. Namun dengan kecantikan yang akan tetap sama hingga ia nanti menjadi nenek-nenek.
"Ya sangat, oleh karena itu aku disini, mengambil semua memori yang aku bisa untuk aku simpan dalam kenangan"
"Kamu mau pergi?"
"Iya, aku harus kuliah, tante, menuju cita-cita yang kau ingin, dan aku akan kehilangan banyak. Sangat banyak. Tapi jika nanti aku bisa mendapatkan apa yang hilang diakhir, aku rasa setimpal." Ucapan yang Leha tidak mengerti saat itu.
"Cita-cita? Lsm kelautan?"
Dengan cepat Rain menatap kedua orang dalam kedai yang dari tempatnya terlihat sangat serasi. Raut wajah Rain semakin sendu.
"Dasar mereka ember" ia kembali menatap laut luas didepannya. Ada rasa berat saat Rain menghela nafasnya.
"Jika aku hilang apa aku akan dicari ya Tante? Jika aku jauh apa akan dirindukan? Atau melupakan dan hidup bahagia?" Leha melihat cermin dalam di diri Rain untuknya.
"Menjauh bukan mauku, tapi hidupku tidak hanya berputar tentangnya itu katanya. Apa aku bisa ya tante? Kami menyukai laut, karena penuh misteri. Kami dekat dulu, menggambar monster laut yang akan kita basmi bersama."
"Seiring berjalannya waktu, kami beranjak dewasa, aku masih menyukai, imajinasi kami tentang petualang membasmi monster laut, tapi tidak dengannya, dia bertumbuh dengan realita." Rain menyesap coklat hangatnya. Ia menyobek croissant dan mencelupkannya, lalu memakannya.
"Mengenal rasa suka pada lawan jenis, aku sudah sedari kecil memandangnya spesial, namun tidak dengannya, ia mengenal suka saat remaja dan tentu membuat aku patah hati."
__ADS_1
"Aku bahkan membuang makanan favoritku, toash, blueberry dan sirup. Menyakitkan," Rain menelungkupkan kepalanya di meja. Menghadap pemandangan pantai. Jeda lama.
"Apa nanti jika aku setante bisa menemukan lelaki yang bakal aku cintai lebih dari dia?"
"Sebenarnya Tante juga sama seperti kamu, tante nggak tahu hasilnya itu bagaimana?" Senyum Leha melebar, pipinya sedikit merona.
"Jeda" Ucap mereka bersama. Rain tertawa begitu pun Leha. Ia bisa melihat tawa manis Rain.
"Kita perlu Jeda. Untuk tetap waras, begitu yang aku dengar dari Om Harlan" pantas saja Harlan membawanya kemari karena ada contoh yang sama untuk dirinya.
"Kalian ngobrolin apa? Sepertinya seru" Jenara mendatangi mereka Dash pun berada di belakang mereka.
"Tentang monster laut," ucap Leha mengerling pada Rain. Senyuman Rain melebar.
"Aahh … pengen punya suami kayak Om Isak" balasan dari Rain.
"Rain kamu udah mikir mau nikah? Sekolah dulu,"
"Nggak apa Nara, sekali mendayung tiga dua pulau kita miliki, kalau nanti aku ketemu jodoh aku nggak nolak, apalagi seperti Om Isak" goda Rain.
"Kenapa tante jadi semakin kesal dengan Monster laut ya, kurang kuat itu pemburunya!"
"Kau sangat terobsesi dengan pria tua rupanya Rain!" Ucap ketus Dash.
"Kita akan pulang? Aku akan masuk dulu, tante mau sekalian aku bawakan?" Rain tidak menjawab Dash.
"Tante ikut saja." Ucap Leha.
Rain mengendarai sepedanya sendiri. Jenara ada di boncengan Dash, Dan Leha mengendarai sepeda Jenara.
Jika tadi, Rain suka sekali mengganggu Dash, pulang ia lebih sering mengobrol dengan Leha. Meninggalkan Dash dan Jenara. Leha melirik Dash yang selalu melirik ke arah Rain.
Dari rumah Jenara, Rain langsung pamit pulang ke rumahnya. Saat ini Dash membonceng Leha.
"Dash, kamu suka Nara ya?" Ia melihat pipi bocah lelaki itu memerah. "Lebih dari Rain?" Pipinya masih memerah, tapi ada raut keaal disana.
"Kenapa ke bocah itu!" Ucapnya ketus.
"Kami teman kecil dan aku hanya anggap dia adik perusuh, suka sekali membuat onar" ucap Dash, mengingat kelakuan Rain.
"Dia mau kuliah jauh lho, apa kamu nggak kesepian"
"Nggak malah bagus" jawab Dash cepat. Leha mengintip Dash mencengkram stang sepedanya erat.
"Jenara baik, kamu sudah berapa kali menembaknya?"
"Tante kenapa kepo sih!"
"Nggak jika suatu hari nanti Rain mendapatkan partner buat berburu monster laut, kamu tidak akan kesepian, jika kamu menemukan partnermu sendiri"
Dash tidak lagi menjawab. Ia terdiam dengan pikirannya. Leha pun juga, berbicara dengan Rain entah mengapa membuat hatinya menjadi ringan.
"Kamu tahu Dash, Rain akan berangkat mencari partner berburunya besok"
Duk!
"Aw!" Pekik Leha. Ia menubruk keras punggung calon dewasa itu.
"Kenapa Dash?" Leha turun dari boncengan Dash.
"Rain berangkat satu bulan lagi kali tant" ucap Dash yang pias.
"Masa kok tadi dia bilang besok sih? Apa tante salah denger."
Jantung Dash bertalu, kenapa Rain tidak memberitahukannya, "Tante pake sepedanya, bawa pulang, Dash ada perlu" ucap lelaki itu.
__ADS_1
"Hei Dash!" Lelaki itu berlari kencang dan sudah menghilang di pepohonan. Leha menatap sekeliling untung saja ia tahu jalan ke rumah Harlan sudah dekat.
Tbc.