
"Lo tahu nggak si itu, dia kemarenan di kasih pilihan gitu katanya"
Bisik-bisik yang Leha dengar. Ia belum bertemu Sari karena Mbak Wanda menyuruhnya untuk membereskan ruang rapat yang akan segera digunakan.
"Siapa yang bikin masalah lagi cong?" Ucap pegawai lelaki pada rekan perempuannya.
"Ada itu si OB, Sari kalo nggak salah namanya"
"Yang itu ya nek, yang lagi hot gosip, simpenan pak bos itu kan??"
"Bukan kali, ada lagi, temennya si itu sih" lagi sambaran dari pegawai lainnya.
"Kenapa emang dese nek?"
"Ngebuang berkas Pak Bos" bisik salah satu nya.
"Gile berani bener tuh orang! Dipecat dong!"
"Disuruh milih ngundurin diri atau dipecat tidak terhormat dan tanpa pesangon" Leha yang mendengar itu meletakkan peralatan perangnya. Maksudnya apa itu mulut penggosip itu.
Sari? Yang buang berkas Isak?
"Mbak Rena? Bener Sari yang buang?"
Rena menatap penyesalan disana, entah menyesal untuk apa,
"Iya Ha, Pak Bos punya cctvnya sendiri, dia langsung kasik Sari Ulti, kemaren. Tadi dia pamitan sama Pak bos setelah beres-beres"
Wajah Leha mengeras. Leha bukan kesal pada Sari yang menjebaknya, yang membuat Leha marah. Sejak kapan Isak tahu jika bukan dirinya yang melakukan itu.
Dan segala macam pengacuhannya pada dirinya apa sebabnya? Selama ini Leha diam karena ia merasa bersalah. Dan bertekat untuk membongkar jika bukan dirinya yang melakukannya. Nyatanya orang yang ia panggil sahabat yang melakukannya.
"Leha mau kemana, didalam ad—"
Brak!
Terlambat. Leha melenggang menuju ruang Isak disana ada Bita dan Isak yang berpelukan.
"Maaf pak, saya mengganggu, permisi"
Leha hanya menatap Isak dengan tajam tanpa senyum Leha mengangguk dan keluar ruangan Isak.
"Leha!" Seru Bita. Ia akan mengejar Leha. Namun ditahan oleh Isak.
"Lewi itu Leha salah paham kayaknya sama aku" ucap Bita agak gemetar.
"Udah kamu istirahat dulu disini, aku pesankan dulu"
Isak mendudukkan Bita yang cemas. Dan ia beranjak keluar. "Tunggu aku pesankan minum" ucap lelaki itu. Lalu keluar ruangannya.
Isak mencari keberadaan Leha.
***
"Lakik emang kampret! Kemaren aje kayak nggak mau ditinggal, nempel mulu! Kambing emang!" Leha masuk pantry dengan bersungut.
"Sekarang kayak berasa lupa ingatan, ternyata pengen balikan! Dasar kampret! Durjana!"
Leha berencana mencari Sari, ia sudah berkeliling perusahaan tapi ia tak mendapati Sari, bertemu Enda, lelaki itu berkata Sari telah pergi 10 menit yang lalu.
Menarik peralatannya Leha masuk dalam kamar mandi lelaki.
"Kalo bisa gua kosek kayak gini, gua kosek dah ah! Dia yang ngelamar, dia yang … ah madikipe, beneran dah ah!"
"Gue uyel itu muka pake sikat WC enih! Biar kinclong! Kagak datar kayak papan triplek!"
"Nih kayak gini nih! Biar bersih! Tanpa noda! Sama wangi! Nih begini! Rasain! Biar bersih! Biar cinta mati sama gue! Kebayang-bayang, sekalian dah!"
"Meruntuk di kamar mandi? Kebiasaan barumu sungguh unik"
Leha melongok dari kubikel kamar mandi. Ia melihat Daru sedang mencuci tangannya.
"Pak … Daru?
"Hai Leha apa kabar?"
Wajah lelaki itu menyipit dengan senyuman merekah. Melihat keterkejutan Leha.
"Pak Daruuu"
Leha berlari mendekati Daru dengan alat perang miliknya. Daru seketika mundur. Ia ngeri jika terkena tetesan air kamar mandi.
"Iyaa tapi bisa itu alat perangmu … "
"Oh maaf Pak, Leha senang, Pak Daru kapan sampai ke sini?"
"Sudah dua mingguan,"
"Ish kok nggak ngasi tahu Leha,"
"Kita kan belum bertukar nomor ponsel disini."
"Ah benar juga."
Leha keluar kamar mandi dan berjalan bersama Daru di koridor lantai G, kasak kusuk terus terdengar. Namun Leha tidak menyadari jika kasak-kusuk itu membicarakan dirinya yang mengobrol dengan Daru.
Lelaki tampan dengan wajah kebulean yang menawan, rahang tegas, hidung mancung, kulit kecoklatan. Idola para wanita.
__ADS_1
"Siapa tuh bule?"
"Kok bisa ngomong sama tuh bule partner perusahaan?"
"Udahlah kenapa heran ya dia naik keranjang apalagi" celetuk Ina gerombolan si penggosip yang semakin dendam dengan Leha.
"Lu tau nggak sih temennya sendiri aja mengjebak doi,"
"Kelakuannya sok iye makanya temennya aja emoh sama dia"
Banyak lagi komentar dan kasak kusuk.
Isak menemukannya, bersama dengan lelaki yang memercikan rasa cemburu Isak.
"Selamat Pagi Pak Daru, Anda sudah datang, bagaimana jika langsung ke ruang rapat?"
Daru mengangkat tanganya dan melihat pergelangan tangannya. Bola matanya menangkap angka di sana. Isak menatap Leha lama. Dan wanita itu sedang tidak ingin bertemu dengan Isak. Ia melarikan tatapannya pada tempat lain.
"Boleh saya pinjam karyawan anda sebentar Pak Isak? Rapat masih setengah jam lagi, saya ingin berbicara penting dengannya"
"Tapi sepertinya masih banyak yang harus karyawan saya itu kerjakan."
"Apa masih banyak pekerjaanmu Leha?"
"Tidak Pak Daru sudah selesai semua" Leha menatap lamat Daru. Ia sama sekali tidak melirik Isak yang ada disana.
"Bagaimana Pak saya boleh meminjam waktunya hanya 30 menit?"
Tatapan Isak menajam. Wanita itu menghindarinya. Dan Isak merasa jengkel.
"Silahkan Pak"
"Terima kasih Pak Isak, Saya permisi, ayo Leha"
Daru menunduk hormat, Leha pun tidak melirik ia menyusul Daru. Isak melihat dengan tampang dinginnya.
Kasak-kusuk kembali terdengar, sesaat tadi hening kuping-kuping penjulit itu sedang terpasang dengan kadar peka yang tinggi mengikuti dram terbaru dari OB yang viral karena menaiki ranjang presidir.
"Si Pak Bos kalah?"
"Kalah telak!"
"Itu laki bule boleh juga, apa raja minyak sehingga OB kita berpaling, emang siapa itu bule?"
"Psst … lo gak liat aura Pak Bos buricak burinong merah membara!"
"Hot gosip! Di ruangan Bos ada perempuan hamidun apa itu anak Pak bos?"
"Lo itu kalo ngasi gosip itu yang valid! Kalo lo aja masih nanya kekita, kita nanya ke siapa dong?"
Tawa tergelak menyudahi obrolan perjulitan di lantai G.
***
"Pak Daru pesen Latte kan?"
"Emang kamu mau pesen apa?"
"Teh Prenjak aja pak, saya minta air panas, cangkir sama gula" kekeh Leha.
"Teh Prenjak?"
"Teh yang waktu itu Leha bawa ke Qatar,"
"Oh wangi enak itu?"
"Saya mau itu aja"
"Kalau gitu kita ke pantry aja pak"
"Yaudah"
Daru berkata jika teh yang Leha beri hanya bertahan lima hari, makhluk yang ada di apartemen lelaki itu yang dengan tidak tahu diri, setiap pagi siang malam selalu mengutil satu demi satu teh miliknya.
Alasannya wangi yang membuat mereka mengobati atau bahkan semakin merindukan kampung halaman.
"Gulanya?"
"Satu"
Leha letakkan cangkir dengan kepulan didepan Isak.
"Terima kasih." Daru menghirup wangi yang menenangkan.
"Lho Daru?" Suara wanita dengan perut buncit menghampiri kedua nya yang sedang menikmati teh mereka.
"Mbak Bita? Ada mas Zain?"
"Nggak aku kesini ketemu Lewi, Leha kamu minum apa? Kok wangi"
"Kalian saling kenal?" Tanya Leha,
"Daru ini sepupu Zain, Leha, kamu nggak lihat mereka mirip?"
Wanita itu sudah mendudukan dirinya. Leha memperhatikan Daru, memang terlihat garis wajahnya, ada kemiripan, Bita melongok pada cangkir Leha.
"Mbak Bita mau?"
__ADS_1
"Ah makasi Leha aku sama Lewi mau makan siang" ucap Bita melirik Isak yang terus menatap Leha.
Leha mengeratkan genggamannya pada cangkir teh miliknya. Daru memperhatikan Leha, wanita itu masih menyungging senyum getir.
"Bita ayo, kamu harus memberi makan yang ada di perut itu" Isak bersuara,
"Eh kalian mau ikut?"
"Makasih mbak Bita, Leha masih ada urusan dengan Pak Daru" tolak Leha.
"Oh, oke kalau gitu, aku pergi dulu ya Leha"
Isak membantu dengan telaten wanita hamil itu, ia memapah Bita. Layaknya suami siaga. Sepeninggal Isak dan Bita.
Leha membungan nafasnya kasar. Ia menelungkupkan kepalanya pada meja. Kembali helaan nafas kasar Daru dengar.
Lelaki itu tersenyum disela menyesap tehnya.
"Jadi lelaki yang mau kau bersihkan pake sikat WC itu Pak Isak?"
Daru mengingat gerutuan Leha di kamar mandi, lelaki itu tergelak. Leha melotot lebar. Memperingatkan Daru untuk diam.
Leha ikut tertawa melihat Daru mengelak hingga ia memegangi perutnya, setidaknya gunda gulananya tidak se mendung itu.
"Pak Daru nggak makan siang?"
"Kamu?"
"Leha nitip somai sam temen pak, Bapak mau?"
"Boleh"
Leha mengambil ponselnya dan mendial nomor Ujang
"Jang somai satu lagi, nggak pedes, iya pisah aja sambelnya. Pake krupuk emi yak, jangan lupa kasih sambel rujaknya, tiga, udah gue tf ke dana. Sip thanks"
"Sebentar lagi Pak"
Tak sampai 10 menit pesanan Leha datang. Ujang masuk dengan Enda. Ada Nilan dan Dewi. Mereka biasa makan bersama.
Agak canggung untuk siang ini, karena Daru yang ikut makan bersama.
"Kayaknya pantry terlalu sempit, gimana kalau kita ke rooftop aja?"
"Itu pesenan Mbak Rena?"
"Suruh nyusul ke rooftop aja"
Enda mengangguk. Ia mengirimi Rena pesan. Mereka menaiki tangga darurat. Di rooftop sangat cantik, dan tertata apik. Ada sebuah meja kayu panjang, dan dua kursi panjang yang juga dari kayu.
Banyak pot-pot tanaman yang terawat. Juga ada meja dengan payung, kursi kayu masih tertumpuk terbalik di atas mejanya.
Rooftop tempat isturahat ini memang tak lagi digunakan, tapi Leha dan yang lainnya membersihkan dan merawat menjadikan sekilas lataknya kafe rooftop.
"Bagus"
"Selamat datang di markas kami Pak" Leha menyambut Daru.
"Wah Saya bisa terus kesini kalau makan siang, pemandangannya mengagumkan"
Terlihat gedung-gedung pencakar langit yang menjadi pemandangannya.
"Mari Pak" Leha mengajak Daru duduk.
"Ini punya Pak Daeu" menyerahkan sekotak somai.
"Maaf telat, em siapa ini? Anggota baru?"
"Iya mbak kenalkan saya Daru"
"Jangan bilang … Bapak Handaru Brahma, dari Mount High?"
"Benar Mbak Rena."
"Astaga, Maaf Pak, selamat datang di Insonesia" Mereka saling kasak kusuk dibelakangbtak mengira Daru orang penting perusahaan.
"Mbak Rena tak perlu formal, sekarang kita teman makan siang, sama seperti yang lainnya"
"Ah maaf"
Rena merasakan kecanggungan yang ia ciptakan.
"Ya Pak Daru, silahkan makan, Uajng mana pesenan saya?"
"Ini Mbak Rena"
Ujang memberikan bjngkusanndengan nasi padang didalamnya.
"Hhmmm wanginyaa, ah Mbak Rena, Dewi jadi pengen rendang"
"Dedek utun mau nih Onty Rena suapi, Mau rendang aja?"
Rena menyuapi Dewi. Ia senang melihat bumil satu ini bahagia. Dan Rena makan nasi padang dengan sendok, dia bukan masuk tim-tim ya, tapi ini makan siang agak nggak enak saja bertemu klien perusahan dengan tangan bau nasi padang.
Jadi menggunakan sendok menjadi pilihan. Awalnya banyak dari mereka protes dan menjadi gurauan di lingkaran pertemanannya ini.
Tbc.
__ADS_1