Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 60


__ADS_3

Centung!


Leha mendapatkan bayaran dari Sabrina. "Ntar jemput pokoknya."


***


Leha mengenakan helmnya. Pukul setengah 6 malam. Setelah pekerjaannya selesai. Ia beranjak ke parkiran motornya dan akan menjemput sahabatnya.


Leha merasa motornya semakin berat. Tak lama suara rendah bersuara dekat telingannya.


"Minta helmnya!" Leha terjengkit ke depan. Kaget juga merinding. Bulu kuduknya meremang.


"Astaga bapak!" Pekik kesal. Isak menyodorkan tangannya didepan wajah Leha.


"Mana?"


"Apa?"


"Helmnya"


"Helm buat apa?"


"Buat ikut kerumahmu"


"Ngapain?" Kening Leha mengerut.


"Banyak tanya! Sini" Isak meraih helm yang ada di gantungan dekat kaki Leha tapi dengan cepat Leha menjauhkannya.


"Nggak bisa!" Leha bersuara tinggi. Kepalanya menggeleng saat Isak menggerakkan jemarinya meminta helmnya.


"Nggak! Leha ada janji Pak!"


"Janji? Sama siapa?"


"Temen" Leha mengangguk.


"Laki apa cewek?"


"Cewek bapak!" Isak mengamati wajah Leha. Wajahnya mendekat dan terus menatap Leha. Lama.


Leha menjauhkan kepalanya. Saat dirinya tidak lagi bisa menjauh. Debaran jantungnya ikut menggila. Berdoa supaya Isak tak mendengarnya.


Leha menahan nafasnya. Wajahnya memerah. "Bernafaslah" saat Isak menjauhinya. Leha menghembuskan nafasnya leganya.


"Jangan berbohong!"


"Bohong apa sih pak!"


"Kamu mau ketemu sama cowok kan"


"Nggak ish!"


"Kalau bapak nggak percaya ikutin aja Leha—" kembali Isak yang sudah turun dari kursi belakang motor Leha kembali naik dan  duduk.


"Bukan Leha bonceng, tapi, bapak ikut Leha pake mobil bapak, sana"

__ADS_1


"Sana … sana … Leha udah telat ini! Ntuh diteleponkan!" usir Leha. Dering ponselnya kencang menggema di parkiran motor. 


Leha mengangkat dan Isak menempeli belakang ponsel Leha ingin mendengar suara si penelepon. Leha merasa risih ia menjauh tapi Isak tetap kekeuh. Mau tak mau ia membiarkan saja kelakuan Isak yang semakin hari semakin aneh.


"Ya Nol, bentaran yak, ini lagi di parkiran, ah elah, iyaaaak … bener jemput lau, gue matiin" Leha melirik Isak.


"Bapak dengerkan? Suara cewek kan? Udah ah, Leha mau berangkat, nggak mau si grandong itu marah-marah."


Isak menatap menyelidik pada Leha. Ia masih tidak percaya. Leha melajukan motornya. Lelaki itu berlari pada mobilnya. Ia menyusul motor Leha.


Tapi, apes buat Isak. Dari kantor menuju tempat Sabrina, apalagi saat seperti ini, pulang kerja, macetnya tak bergerak.


Wajahnya jengkel. Isak terus terusan mendial nomor Leha yang tidak diangkat.


Kakinya bergoyang tak bisa diam. Ia kesal dan tak sabar dengan kemacetan. Melihat tak ada yang bisa Isak lakukan lelaki itu mulai menyerah. Ia akan membiarkan Leha kali ini.


Membiarkan Leha? Nyatanya lelaki itu meraih ponselnya dan terus mendial nomor Leha, memberondong wanitanya itu dengan puluhan pesan. Kata ikhlas yang tak ikhlas.


***


Centung!


Centung!


Centung! Centung!


"Buset deh itu sapa yang ngirim lo pesen itu? Pacar lo ya?"


"Hah apa?" Leha dan Sabrina menuju mall terdekat, jalanan padat merayap, paling efisien memang kalau naik motor. Mereka bisa meliuk kekanan kiri, mencari jalan di sela-sela mobil.


Sabrina dengan bijak menghentikan kekepoannya, nanti saja jika mereka telah sampai tujuan. Leha dengan tangkas mencari jalan tikus, masuk gang keluar gang, melewati jembatan kecil. Perkampungan. Untuk menghindari kemacetan ibu kota yang memang perlu diperhatikan.


Akhirnya Leha masuk di sebuah parkiran Mall. Ia menghela nafasnya saat melepaskan helmnya,


Centung! Centung!


Centung!


Centung! Centung!


"Masih ya, dari siapa sih! Pacar?" Sabrina mendengar lagu winning dance Neymar ia ingat sempat ada wanita yang sedang viral dulu saat piala dunia.


"Halo Pak? Kenapa? Leha baru nyampe Mall, hah! Lha kenapa nyuruh pulang?"


"Heh! Lu siapanya Leha? Enak aja nyuruh-nyuru pulang temen gue!" Sabrina menyambar ponsel Leha. Ia mengomel dengan siapa pun yang ada diseberang telepon Leha.


"Saya, tunangan Leha!" Suara tegas juga rendah di ujung telepon.


Mata Sabrina membola. "Tu-tunangan?" Ia menatap Leha dengan pandangan bertanya. "Lo udah tunangan?" Leha hanya menyengir dengan kepala mengangguk.


"Maaf ya Mas, eeemm … ?"


"Isak" bisik Leha.


"Iya Mas Isak, saya pinjam Lehanya sebentar nanti juga saya kembalikan, terima kasih" Sabrina melebarkan matanya mengambil nafas ia menunggu jawaban Isak,  

__ADS_1


"Berikan ponselnya pada tunangan saya" Sabrina mencibir,


"Nih posesif banget tunangan lo!" Sabrina menyodorkan ponsel Leha pada sang empunya. Leha hanya terkekeh melihat Sabrina yang terus mencibir dan menggerutu.


"Pak?"


"Jangan malam-malam pulangnya!"


"Iya"


"Beneran jangan lupa waktu! Ke mall aja jangan kemana-mana lagi langsung pulang, share lock, hati-hati!" Leha menaikan alisnya, Isak tak pernah seperhatian ini dengannya. Ada apa dengan lelaki ini, pikir Leha.


"Iyaaaaa … Leha tutup ya Pak!" Leha memutuskan panggilan Isak. Ia menatap lama layar ponsel yang telah menggelap.


"Ayo ah gue udah laper" Sabrina ingin bertanya siapa dan bagaimana sahabatnya itu bisa bertunangan, ia sangat kepo. Dan Brina akan bertanya nanti saat perut mereka kenyang.


***


"Jadi … lo udah tunangan, Hot?" Leha menatap Sabrina waspada, Leha mengangguk dengan pipi mengembung.


Kembali memasukkan suapan nasi dengan ayam gorengnya krispinya. Mereka memutuskan untuk makan di salah satu gerai ayam terkenal. Brina menyeruput sup krim.


"Isak siapa sih? kok rasanya gue familiar sama suaranya" ucap Brina yang mencocol kentang pada saos tomat. Lalu mencelupkan pentung ayam pada sup krim. Ia sangat suka mencampurkan kedua makanan itu. Dan menggigit ganas. Lapar.


"Lu tahu kok"


Siapa yang tak mengenal Isak. Seorang pangeran dari keluarga Ibrahim dan CEO Lewi Crop. Mantu incaran para kaum elit.


"Isak siapa dah, jangan bikin kepo! Jangan sampe tuh orang nyakitin lo! Gue getok pake ini ayam kalau berani! Emang dia terkenal? Sampai gue tahu?"


Sabrina merasa Si Isak-Isak ini terlalu posesif. Ia tahu jika tadi Isak ini keberatan Leha jalan dengannya. Apalagi Leha bercerita sebenarnya Isak ini ingin ikut bertemu dengannya.


"Iya, yang punya perusahan tempat gue kerja." Ucap Leha yang sudah beralih ke burgernya. Tangannya meraih sodanya. Menyeruput.


"Lo kena sindrom sinetron ya! Cinta bisa dan OB? Astagah manisnyaaa …"


"Kagak! Eh bisa jadi,"


"Emang lo kerja dimana? Perusahaan gedong kalau terkenal dan gue tahu?" Kembali Leha hanya mengangguk.


"Lewi Crop"


Kentang dalam genggaman Sabrina terlepas. Ia terdiam. Tak ada tanggapan dari temannya yang cerewet membuat mata Leha bergulir pada manusia didepannya yang membatu.


"Kenapa? Lu naksir?"


Melihat gelagat Sabrina yang terdiam membuat pikiran Leha menyimpulkan jika Sabrina juga tersirep oleh ajian pengasih dan penyayang milik Isak. Sabrina menggelengkan kepalanya.


"Lo kenal Nalendra Ibrahim?" Leha menatap lekat pada Sabrina. Mendengar nama si kunyuk disebut membuat Leha lebih fokus pada Sabrina.


"Dia adik Isak? Lu kenal?" Sabrina kembali mengangguk. Senyuman tersunging di bibirnya.


"Dia mantan terindah, gue kalah sama masa lalunya" ucap Sabrina terdengar agak lirih. 


"Ternyata dunia beneran sempit ya" celetukan yang Sabrina buat ceria. 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2