
Leha merenggangkan tubuhnya. Lalu meringkuk di kasur empuk. Untuk sesaat ia terdiam. Mengumpulkan nyawanya. Matanya terbuka. Disorientasi tempat. Leha terduduk dengan gerakan menyentak. Mengingat kegiatan panas yang semalam ia lakukan.
Matanya menjelajah ruangan hotel. Kamar luar dengan cat putih dan perabotan berwarna coklat. Ia tak menemukan seseorang disampingnya.
"Pemandangan yang menyenangkan untuk pagi hari. Kau ingin menggodaku?" Suara berat berasal dari pintu yang terbuka.
Leha terpaku, disana Isak menyandar shirtless hanya menggunakan sweatpant. Sangat seksi. Dan menggodanya. Bukannya lelaki itu lebih lezat dan jelas mengundangnya.
Tatapan lurus Isak pada dirinya. Dengan menggigit bibir bawah lelaki itu. Membuat Leha mengikuti kemana mata lelaki itu menuju.
Dengan gerakan gesit. Leha menaikan selimutnya. Matanya membulat sempurna. Ia telan jang. Leha mencoba mengintip lagi. Benar-benar naked.
Leha merapikan selimutnya agar menutupi dirinya dengan sempurna. Ia masih bisa melihat tatapan lapar Isak.
Ia tahu telah melakukan kesalahan. Tapi Leha sadar Ia juga menginginkannya secara sadar. Jadi tidak perlu disesalkan.
Heleh! Gombal mukio! Kagak nyesel preett! Sekarang aje lu udah nyesel! Rahang Leha mengeras.
"Bersih-bersihlah, lalu sarapan" Isak kembali keluar dengan cangkir di tangannya. Lelaki itu tampak santai. Berbeda dengan Leha yang ketar-ketir sendirian.
"Oh iya itu baju mu di paperbag itu" Isak menyentak dagunya ke arah sofa panjang dekat dengan jendela kamar.
Isak keluar, Leha bergegas untuk mandi. "Ahh" pekiknya, ia merasakan perih di pangkal pahanya. Wajah Leha merona. Mengingat betapa me sum dirinya.
Kegiatan panas mereka baru selesai menjelang pagi. Itu pun karena Leha yang kelelahan dan tertidur.
Leha menggigit bibirnya dan menggaruk asal kepalanya. Ia sendiri tidak menyangka jika bisa seganas itu.
Melihat bercak yang ada di tubuh Isak saat tadi berdiri menyender di pintu. Leha berlari menuju kamar mandi dengan menahan perih di pangkal pahanya.
Leha telah segar. Rambutnya masih basah. Ia meraih paperbag hanya ada hoodie besar disana. Leha mau tak mau memakainya. Bahkan tidak ada dalaman.
Hoodie itu terlihat seperti gaun yang menenggelamkan tubuh mungil Leha. Dengan ragu Leha melangkah keluar. Ia menjelajahkan matanya pada luar ruangan yang ternyata terdapat sofa besar juga televisi.
Saat datang mana sempat Leha memperhatikan ruangan itu, ia sudah tenggelam dalam hasrat dan gairah.
Astaga nak bontot Abah Hamid berdosa. Maapin Leha Bah!
Leha menggeleng ia tak boleh menyesal. Kemarin terjadi atas kesadaran Leha sendiri. Leha melangkah. Mengikuti suara yang berasa di sisi kanan ruangan. Ia melihat Iska yang sedang berkutat didepan kompor.
__ADS_1
Lelaki itu masih dengan shirtless dan menggunakan apron. Sungguh seksi. Leha mendekat. Bukan duduk di pantry tapi mendekat menuju punggung terbuka Isak. Ia bisa melihat ada bercak cakaran juga bercak keunguan.
Leha mengenggak liurnya susah payah. Ia mendekap punggung Isak. Menempelkan pipinya pada punggung kecoklatan itu. Leha memejamkan mata.
"Hei, duduklah disana"
Leha tak mengindahkan ucapan Isak. Ia mengangkat tangan dan mengalungkan tangannya pada pinggang Isak.
Isak mematikan kompornya. Omele telah ia pindahkan ke piring. Ia membalikkan tubuhnya. Dan Leha masuk dalam dekapan Isak.
"Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu" Isak berdecak. Air menetes dari rambut wanita itu.
"Sudah sarapan dulu" Isak mendorong Leha tapi wanita itu masih saja menempelinya seperti koala.
Isak berjalan dengan tangan kanan memegang piring berisi omelet dan Leha yang masih setia di gendongannya tidak mau melepasnya.
Leha menatap banyaknya bercak keunguan di tubuh bagian depan Isak. Ia pun sama beringasnya dengan Isak yang juga membubuhi banyak bercak keunguan.
Meletakkan piring. Isak menggendong Leha. "Kau itu manja sekali" Leha juga tidak mengerti mengapa ia sangat ingin menempeli Isak.
Leha menyurukkan wajahnya pada leher Isak. Ia suka wangi lelaki itu. Hembusan nafas hangatnya terasa di kulit telan jang Isak.
Bahkan gelenyar gairah kembali menjalari dirinya saat tubuh mungil dengan aset yang penuh itu menempeli padanya. Ia tahu didalam hoodie itu Leha tidak mengenakan apapun.
Ia harus kuat, dan yang pasti ia tidak akan pernah melepaskan Leha.
"Tunggu disini, saya ambilkan hairdryer dan handuk, kamu harus keringkan jangan sampai masuk angin" Isak menurunkan Leha di sofa besar dekat televisi.
Leha kembali tertidur. Hangat dari hairdryer membuatnya mengantuk dan ia melewatkan sarapannya.
Isak mengangkat Leha menuju ranjang. Membearingkannya. Lelaki itu pun ikut berbaring disana.
Isak mengecup pelipis dan membawa Leha dalam pelukannya. Mereka melewatkan sarapan mereka.
"Ergh … " lenguhan Leha.
Ia menatap Isak sudah berada diatasnya. Yang tak lagi mengenakan hoodienya. Isak memainkan gunung kembarnya.
"Bapak" Erang Leha dengan suara parau bangun tidur.
__ADS_1
"Abang" ucap Isak ditengah menenggelamkan wajahnya pada kesukaan barunya. Sebenarnya sudah sedari dulu, ia menyukai gunung kembar Leha. Sangat pas di tangannya.
"Baang" erangnya.
Leha mengelinjat dengan apa yang Isak lakukan. "Aku suka ini" Tangan Isak terus memainkannya. Nafas Leha menderu.
Ia tak kuat, "Baaang" melenguh. "Kenapa?" Tanya Isak. Kembali bibirnya membungkam bibir Leha yang berisik. Meraupnya dan memperdalam.
Tangan Leha merayap mengelusi roti sobek milik Isak. Dan Isak memepelkan dirinya yang masih menggunakan celana pada Leha yang tak mengenakan apapun.
Hanya lembaran kain yang memisahkan miliknya dan Isak. Erangan Leha meninggi, perlahan Isak melepaskan penghalang satu-satunya pada dirinya.
Dengan Leha yang basah dibawah sana mempermudah Isak untuk bertemu dan menyatu.
Suasana panas dan deruan nafas bercampur dengan lenguhan keduannya. Mata sayu Leha membius Isak untuk terus mengkungkung Leha dibawahnya.
De sahan bercampur lenguhan juga bibir yang membengkak Leha entah mengapa terlihat begitu cantik dimata Isak. Keindahan yang membutakan.
Kembali ia meraup lagi bibir bengkak itu. Merasai seluruhnya. Mengecupi setiap jengkal tubuh Leha.
"Aahh … Bang … jangan lupa … habis ini lamar … Leha." Ucap wanita itu sebelum menjeritkan nama.
"Isaakk"
"Lehaa"
Lenguhan keduannya. Isak ambruk di atas tubuh Leha yang juga kelelahan. Leha mengelus kepala Isak. Elusan yang mengantarkan lelaki itu semakin terlelap.
***
"Sedari kemarin, Pak Isak dan Mbak Leha menginap di Saturnus hotel, Nyonya" Wanita paruh baya, menyiram beberapa tanamannya.
"Pantau terus perkembangannya"
"Baik Nyonya" sejenak orang yang mengenakan pakaian serba hitam itu beranjak dari tempatnya. Melepaskan sarung tangan juga tapinya ia mendudukan tubuhnya pada kursi taman. Mendial sat6 nomor.
"Yah, sebentar lagi kita ngunduh mantu" ucap wanita itu sumringah.
Tbc.
__ADS_1