Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 28


__ADS_3

Wanita yang duduk di kursi sebelahnya ini adalah pasangan kencan butanya, Nabila Rahma. Isak benar tidak tertarik pada awalnya. Tapi saat suara lembut itu menyapa dan mata mereka saling bertemu. Isak merasa sesuatu yang familiar dari wanita di depannya ini.


Dan saat mengobrol ternyata ia wanita yang cerdas. Obrolan mereka cocok. Sebenarnya selama ini, Isak tidak pernah memberi kesempatan pada pasangan kencan butanya untuk mengobrol lebih dengannya.


Sengaja tidak memberi harapan palsu yang akan menyusahkannya kelak. Tapi Nabila ini berbeda. Ada sesuatu pada diri wanita ini yang menyita perhatiannya tapi Isak tak menyadari apa yang membuatnya mau mengobrol dengan Nabila.


Isak tidak menghubungi Leha untuk menggagalkan kencan butanya kali ini. Ia menyuruh Leha untuk pulang. Bahkan Isak menawarkan diri untuk mengantar pulang Nabila.


Itu sesuatu yang langkah.


Nabila sendiri merasa senang, mendapat tanggapan yang baik dari Isak. Karena rumor yang beredar sangat bertolak belakang dengan sifat yang Isak pwelihatkan padanya sekarang.


Rumornya Isak ini, lelaki tidak berperasaan, kejam, datar, dingin juga playboy, berganti wanita seperti berganti ****** *****.


Tapi setelah mereka mengobrol, ternyata Isak orangnya seru dan mereka nyambung. Tampan, kaya dan menawan adalah bonus menurut Nabila.


"Terima kasih sudah mengantar, kapan-kapan bisa kita makan siang bersama?"


"Tentu saja, kau tinggal menghubungiku saja kapan waktunya"


"Selamat malam, Isak, senang bisa berkenalan denganmu"


"Selamat malam Nabila, sama-sama"


Tak menunggu lama mobil Isak melaju meninggalkan kawasan perumahan elit Nabila.


***


Leha menghela nafasnya berat. Ini sudah dua minggu, setelah, terakhir Isak menghubunginya. Ia gundah gulana. Mendorong lesu perlengkapan tempurnya Leha memasuki ruangan Isak.


Ia bertugas membersihkan kaca-kaca jendela dan gorden ruangan Isak. Harusnya ini jadwalnya berdua dengan Sari.


Tapi Leha datang terlalu pagi, mungkin, suasana kantornya masih sepi, ia hanya bertemu Pak Min, Satpam perusahaannya.


Leha meletakkan tangga, ia akan mengganti gorden ruangan Isak.


Leha terlalu fokus pada pekerjaannya juga pikirannya yang risau. Ia tak menyadari kehadiran seseorang dalan ruangan Isak.


"Oh calon kakak ipar yang nggak jadi, pagi-pagi sudah nangkring aja diatas situ, kenapa? Galau ya?"


"Astajiiimmm"


Hampir saja jantung Leha turun ke perut. Ia menoleh kesal pada Nalen. Lelaki itu memasang wajah yang menyebalkan.


Nalen tahu bagaimana perkembangan kencan buta kakak sulungnya. Isak sedang dekat dengan salah satu wanita, teman kencan butanya.


Nalen tahu dikarenakan banyaknya calon-calon kencan buta sang kakak yang dilimpahkan padanya. Kekesalannya ia sasarkan pada Leha dengan menjahili wanita itu. Seperti saat ini.


Leha tak ingin menanggapi. Sudah cukup si kunyuk itu membuatnya semakin galau.


Leha tidak menanggapi ia memilih sibuk dengan pekerjaannya.


"Hoi Sholeh! Kuping apa cantolan panci?"


Sabar Leha! Orang sabar Uangnya melimpah! Batinnya.

__ADS_1


"Pak Nalen ada yang bisa Leha bantu?" 


Senyum sales Leha tercetak. Ia tak ingin banyak bicara pada lelaki dengan mulut pedas itu. Entah apa salahnya, 'adik iparnya' ini begitu tak suka dengannya.


"Buatkan saya kopi!"


Leha menghela nafas kasar.


"Baik pak"


"Saya tunggu dua menit di ruangan saya"


Nalen selalu suka mengganggu Leha. Leha segera berlari ke arah pantry. Ia menggerutu, memaki dan meruntuki calon 'adik ipar'nya itu.


"Kutil kunyuk! Bisa bae buat susah orang! Kagak liat gue sibuk ape! Madikipe emang!!"


Sari datang, "Pagi amat Ha? Kopi buat sapa tuh?"


"Si kunyuk!"


"Oh pak Nalen, yaudah siniin biar gue aja yang kasih"


"Jangan, Gue aja, gue gak mau ada masalah, kerjaan gue banyak hari ini, gue gak mau dirusuhi si kunyuk"


"Bener! Jangan jadi masalah, gue gak mau lu tinggalin, kerjaan kita banyak hari ini"


Leha mengangguk, Sari menyemangati Leha. Dengan tos bersama. Hari ini jadwal mereka berdua mengganti semua gorden di lantai H.


***


Leha berada di lantai dasar, tempat dimana tersedia dua mesin cuci dan satu pengering. Ruangan seukuran 2,5 x 2,5 m itu lumayan bersih, karena jarang dipakai. Leha tinggal mencuci satu kloter lagi dan mengeringkannya.


Sari sudah kembali ke atas untuk memasang gorden yang telah selesai dicuci. Jika selesai, Leha akan menyusul dengan tumpukan gorden bersih lainnya.


Mereka membagi tugas untuk mempercepat pekerjaan mereka, yang mana, Sari tidak ingin sendirian didalam ruang cuci.


Jadi Leha yang merasa dirinya jegger mengambil alih ruang cuci yang terkenal angker. Ia memutar musik untuk menghalau ketakutannya.


"Jangan ganggu! Leha disini cuma mau nyuci"


Ia menangkup tangannya. Berbicara pada penunggu disitu agar tidak mengganggunya.


Blam!


Klek!


Leha mendengar suara berdebum. Perasaannya mulai tak enak. Pintu ruang cuci terkunci. Leha juga mendengarkan derapan kaki yang menjauhi tampatnya.


"Hei jangan main-main, ini kagak lucu!!"


"Woii Bukaaa … "


Dok! Dok! Dok!


"Dimari masih ada orang woiiii … !"

__ADS_1


"Hoi buka kagak!"


Leha mengedor hingga menendang tapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu ruang cuci itu. Leha meraih benda pipih dari sakunya. Ia akan menghubungi Sari.


Siaalnya tidak ada sinyal yang masuk dalam ponselnya. Leha terus mencoba menghubungi Enda dan Ujang. Tapi nihil. Tak tersambung.


Leha duduk bersandar pada pintu dengan beralaskan gorden kering. menunggu Sari sadar bahwa dirinya terkunci dibawah.


Ia menyandarkan tubuhnya. Kerjaannya telah selesai. Wangi cucian baru kering dan hangat membuatnya mengantuk.


Kantuknya mengalahkan rasa takut. Matanya akan menutup dan terlelap saat ia mendengar langkah mendekat. Leha bangun dan menggedor pintu itu membabi buta.


"Dimari, woiii"


Dok! Dok! Dok!


"Siapa di dalem?"


"Pak Min? Pak min, enih Leha pak"


Suara lelaki agak berat, Leha pikir itu Pak Min satpam perusahaan. Tapi ia tak mendapatkan jawaban, hanya kenop yang diputar dari luar. Lalu yang Leha dengar langkah yang pergi darinya.


"Pak Miiiin, buka pak!"


Gedoran Leha menguat. 


Haduh gimana dah enih, ujug-ujug jadi kebelet! Ada aja ah elah! Gerutu Leha dalam hati.


Kebelet yang sudah diujung tanduk. Dikit lagi ngucur. Leha berdoa dalam hati siapapun penyelamatnya, jika lelaki akan dijadikan idola, jika perempuan akan ia jadikan bestie.


"Pak! Pak Min! Cepet pak! Leha kebelet!"


Gustiiiii mau ngucur eniihhh ... teriak Leha dalam hati.


"Pa-pak Miinn …. " Ucapnya lirih tertahan.


Dok! Dok! Dok!


"Menjauh dari pintu"


"Hah?! Ap—"


BRAK!


Leha terkejut, ia melipir dekat mesin cuci, menyeret tubuhnya susah payah. Berjalan layaknya geisha, sesenti demi sesenti, menjaga agar si anu tidak berontak. Pintu didepannya bolong bercelah.


BRAK!


BRAK!


JBRAK!


Pandangan mereka bertemu hanya sesaat, wanita itu mendorong alat angkut gorden bersihnya menuju lelaki di depannya.


"BAPAK, MAKASIH BANYAK-BANYAK, NITIP DULU, LEHA KEBELET!"

__ADS_1


Leha ngacir meninggalkan gorden bersih pada sang penyelamat. Isak Ibrahim, sang bos, hanya bisa menatap tercenung pada gadis yang sudah tak terlihat hilalnya itu.


Tbc.


__ADS_2