Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 34


__ADS_3

Leha tidak membicarakan masalah mereka. Isak tidak memberinya kesempatan. Belum. 


Mereka sibuk berjalan-jalan dan bekerja. Nami selalu antusias mengajak Leha mengelilingi tempat-tempat wisata.


Selama senin sampai jumat, Isak dan Leha berkutat dengan masalah-masalah di Ibrahim Crop. Sedangkan Sabtu dan Minggu, hari mereka disita oleh Nami. Terus begitu tak terasa mereka sudah memasuki minggu kedua mereka di Doha.


Benar menguras tenaga. Mereka selalu pulang tengah malam dan bahkan tidak pulang pun pernah untuk mengatasi masalah yang ternyata cukup rumit.


Ada karyawan yang bekerja sama dengan perusahaan lawan untuk menjatuhkan Ibrahim Corp. Ia menjual data-data klien Ibrahim Crop dan juga korupsi.


Isak telah menaruh curiga sejak lama. Dulu mereka masih berhati-hati untuk mengumpulkan barang bukti.


Barang bukti sudah banyak terkumpul dan waktunya untuk memberantas para sampah yang tidak berguna.


"Gusto telah digelandang polisi, ternyata selain ia melakukan kejahatan pada perusahaan diketahui pekerjaan sampingannya adalah penjual barang haram"


"Kita benar-benar kecolongan!" Ucap Nalen bernada tinggi. Nalen pun datang, Isak memintanya untuk mengurus beberapa investor.


"Dulu ia seorang yang baik" ucap Ibrahim.


"Ia terlalu serakah" cemooh Nalen.


Entah mengapa sejak awal ia tak suka dengan Gusto walau ia adalah teman ayahnya. Wajahnya memang baik tapi memiliki pikiran yang licik.


Sama halnya ia memandang Leha di awal pertemuan. Wajah polos tapi licik yang Nalen benci.


Bukan hanya itu sikap Gusto pada karyawan juga tidak hormat. Ia mengkambing hitamkan sekertarisnya. Padahal sekretarisnya adalah mata-mata yang telah disiapkan Isak. Lelaki paru baya, seumuran dengan Ibrahim. Heru.


Lelaki jujur yang Isak percaya, ia selalu memberi semua bukti kejahatan Gusto pada Isak.


Tak jarang Gusto melakukan kekerasan pada Heru. Tindakkan itu telah terekam cctv yang sengaja Heru pasang atas perintah Isak. Dan tanpa sepengetahuan Gusto.


Persidangan berlangsung dengan keributan dari pihak Gusto hang tidak terima.


Tentu saja hukuman Gusto bertambah dengan pasal berlipat. Lelaki itu murka, ia mengutuk Isak, Ibrahim juga Heru yang menjadi saksi.


"AKU BUNUH KALIAN!"


"SIALAAN! TIDAK TAHU BALAS BUDI!"


"AKU JUGA IKUT MEMAJUKAN PERUSAHAAN!"


"AKU YANG MENDATANGKAN INVETOR KE PERUSAHAAN!!! DASAR KALIAN TAK TAHU TERIMA KASIH!"


"HARUSNYA AKU YANG MENJADI CEO, BUKAN ANAK BARU GEDE ITU! SIALAAN KAU IBRAHIM!! SIAP-SIAP SAJA KALIAN!"


"KALIAN TIDAK AKAN BISA MENGALAHKAN GRANDE!"

__ADS_1


"KALIAN AKAN SEGERA PAILIT!"


"AHAHAHAHAAA" Tawa Gusto menggema di ruang sidang.


"Aku kecewa mengapa kau menjadi seperti ini Gusto?" Ibrahim berhadapan dengan Gusto. Ia menatap kawan lamanya itu. Pancaran matanya kecewa juga sendu.


"Kalian semua akan menerima balasannya!" Desisnya. Menatapi semuannya. Gusto kembali terbahak sebelum digelandang masuk dalam bui. Banyak ancaman yang Gusto teriakkan dan menambah masa hukumannya.


"Aku rasa dia sudah gila" Nalen melihat kelakuan Gusto.


"Atau akting? Agar ditempatkan pada Rumah sakit jiwa." Timpal Isak. Lelaki licik seperti Gusto pasti memiliki banyak akal jahat untuk meloloskan  dirinya. Tetapi Isak tidak bodoh.


Isak tetap melanjutkan jalur hukum dan ia akan mencari bukti yang valid, jika Gusto melakukan semua kejahatannya dengan sehat dan sadar.


"Pantau terus, untuk sidang selanjutnya aku serahkan padamu dan kirim laporan terbaru padaku" Isak menatap Nalen. Untuk sementara adiknya itu akan terus memantau perkembangan tentang masalah perusahaan.


"Ya, laksanakan!" Nalen memberi hormat pada Isak dengan cengiran.


"Lalu jangan bersinggungan dengan kerjaan sampingan Gusto. Mereka tidak ada hubungannya dengan kita!"


"Kau juga berpikir sama denganku Bang?"


"Berpikir seperti?" Alis Isak dinaikkan, ia ingin mendengar pemikiran adiknya itu.


"Sindikat berarti besarkan? Aku hanya beropini, bisa jadi ia terlibat dengan sindikat besar. Menilik dari gaya hidup orang itu, tidak mungkin kalau tidak masuk jajaran elit"


"Aku serahkan padamu, aku percaya"


Leha masuk dengan jadwal di tangannya. Isak tak mengira bahwa Leha berkompeten menjadi sekretaris.


Leha juga menyiapkan dirinya sebaik-baiknya. Leha lulusan sarjana di universitas negeri. Dan keahlian berbasaha inggrisnya yang mumpuni, Leha bukannya orang pemalas ia pernah mendapatkan pekerjaan bonafit di suatu perusahaan besar tapi ia mundur. Waktunya tersita hanya untuk kerja, kerja dan kerja.


Tak jarang ia harus menginap di kantor jika mendekati deadlinenya. Dan tubuhnya menjadi lebih sering sakit. Ia kurang olahraga dan juga makan sering telah.


Menyebabkan  Hamid yang kuatir, mengultimatum dirinya untuk meninggalkan pekerjaannya itu. 


Sang ayah bahkan dengan tegas mengatakan jika ia masih bisa mencukupi kehidupan Leha dengan kekayaannya yang ia punya saat ini kekayaan yang tak habis tujuh turunan delapan tanjakan.


Leha sebagai anak yang berbakti, ia menurut lagi pula setelah Leha pikir Abahnya sering ia tinggal sendirian, mengamati bagaimana si Abah makan sendirian di meja makan yang dulunya ramai menjadi sepi. 


Sering kali Leha melihat sang Abah termenung, membuat miris dalam hatinya. Leha ingin menemani Si abah. Dan jika nanti ia telah bersuami, Leha akan tetap tinggal dirumah Hamid. Tidak akan meninggalkan orang tua satu-satunya itu merasa kesepian.


***


Leha menunggu kedatangan perwakilan dari Mount High. Dari depan dua orang lelaki perawakan tinggi. Mendatanginya. Leha dengan sedia melebarkan senyumannya.


"Selamat datang di Ibrahim Crop, Tuan Izil Lazuardi?"

__ADS_1


"Ya, benar"


"Perkenalkan saya Leha, asisten Tuan Isak Ibrahim, beliau telah menunggu kedatangan anda, mari"


Mereka beranjak menuju lift. Leha melirik satu orang dibelakang lelaki yang bernama Izil. Leha menunduk hormat, ia menghargai, karena ia merasa lelaki itu menatapnya dengan senyuman.


Mereka disambut oleh Isak yang sudah berdiri dari kursinya. 


"Selamat datang, di Ibrahim Crop. Izil Lazuardi"


"Kau tak berubah Isak Ibrahim, apa kabarmu? Saya mendengar rumor," Izil mendekat dan ia memeluk teman lamanya itu.


"Kami sudah menyelesaikannya, di khianati oleh orang yang kita percaya sungguh tak terbayangkan rasanya, Saya tak tahu jika Tuan Izil seorang pendengar rumor?"


"Kau berada di dunia ini, kau harus peka dan berhati-hati terhadap "rumor" yang beredar, yang bisa saja menolongmu bukan?"


"Dan perkenalkan ini adalah tangan kanan Saya, Handaru Brahma dia yang akan mewakilkan Mount High,"


Daru maju dan menjabat tangan Isak, ia menganggu hormat pada Isak.


"Senang berkenalan denganmu"


"Sama-sama Tuan"


"Kalian tenang saja, kami telah menyelesaikan masalah "rumor" itu dengan baik, Jadi jangan ragu, mari kita duduk, Leha siapkan minuman"


Leha mengangguk. "Baik Tuan"


Leha semakin canggung ketika selama rapat mata Dari tak lepas darinya. Awalnya Leha tersenyum profesional.


Makin lama lha kok makin buat Leha risih.


Belum lagi senyuman itu. Manis banget. Tapi terlalu keliatan banget menggodanya. Atau hanya kehaluan Leha saja.


Iyak lu halu! Mana mungkin laki putih, tinggi, caem, mata abu ntu ngeliatin elu!


Tapi emang ngeliatin gue! Liat noh, tuh laki mesam-mesem. Kan gue jadi enak gitu.


Ehalaaah Ha inget lu kerja! Tuh orang pasti orang kagak bener! Masa lagi rapat serius ntuh orang liatin elu mulu!


Naksir gue kali!


Kepedean lu, Dasar kantong juwet!


Dewi dan iblis dari batinnya berdebat sengit. Leha menyiapkan makanan ringan dalam pantry untuk cemilan rapat. walau hanya rapat perkenalan, tapi cukup serius dan perlu waktu.


"Sholeha Badrun"

__ADS_1


"Ya" jawab Leha refleks mendengar nama panjangnya disebut, kenapa kagak sekalian aje sebinti-bintinya. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sosok di depannya, matanya membulat seperti tahu bulat sangking terkejutnya.


Tbc.


__ADS_2