Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 82. EP


__ADS_3

Hamid merasa kalang kabut, walau ia tahu jika Leha sedang bekerja, juga pernikahannya diundur masalah pekerjaannya itu. Hamid tidak yakin jika masalah mereka hanya itu.


Ia pernah melihat Isak dirumah sakit dengan seorang wanita dan sangat dekat dengan Isak.


Tapi Hamid memiliki prinsip, jika Leha belum meminta bantuannya berarti anaknya itu bisa menyelesaikannya sendiri. Ya memang kadang membuatnya sedih, melihat bagaimana mandirinya anaknya itu. Tapi Hamid sangat bangga dengan Leha.


Dan ketika Isak mendatanginya dengan semua pengakuan yang selama ini ditutupi, Hamid dengan legowo memaafkannya. Karena apa yang Ia lihat, sama seperti dengan apa yang Nami lihat.


Mereka saling mencintai. Hanya satu jika Isak tidak lagi mencintai anaknya tolong kembalikan dengan baik-baik seperti saat Isak mengkhitbahnya baik-baik dulu.


"Abah" Leha memeluk lelaki nomor satu nya itu.


"Anak bontot Abah udah gede aje, udah jadi istri orang sekarang, Nanti Abah masih boleh pinjem bontot Abah kan bang?"


"Kapanpun boleh bah, Nanti pulang dari sini kita nyekar sekeluarga ke nyak Leha ya Bah" Leha memeluk Hamid dengan air mata yang berlinang.


"Adek abang udah punya suami, yang nurut ya sama suami, jangan bandel lu!"


"Iya dek, jangan bandel lu, jangan bikin ulah"


"Iya abang, Leha sayang abang" Leha memeluk kedua abangnya.


Dan masalah tempat tinggal, Leha merasa berat meninggalkan Abahnya sendirian, Isak tidak keberatan jika tinggal bersama Hamid, ia juga sering menginap dirumah Leha.


Saat Isak kemalaman untuk pulang ke apartemennya. Namun Hamid tidak mau menjadi beban, lagi pula di rumahnya ada Sari dan Perdi yang resmi Hamid angkat menjadi anak angkat.


Hamid membantu orang tua Perdi. Membayarkan biaya sekolah bocah yang Leha bilang pintar itu. Ia pun tak jarang menjadi karyawan lepas Katering Sehat.


***


Leha memeluk Sara yang juga datang bersama tunangannya. "Asik, gak ada pelangkah yang, Bang Isak sama Leha, bang Nalen balikan sama Sabrina, astaga aku ketinggalan berita ini"


"Sab, lu balikan sama Bang Nalen? Serius lu? Kalo gue sih ogah, orang gamon malesin!"


"Dek!"


Wadidaw ada yang murka. "Sab eug cabs yak"


"Lu cabs pake apa?"


"Eug cabs pake motor~ cabs pake motor~ " Sara melipir, bahkan ia takut harus berhadapan dengan Nalen.

__ADS_1


"Tolong Sab, talinya jangan lepas" Sara kemudian kabur. Jika Nalen sudah memanggilnya "Dek" berarti kemarahannya sampai di suhu 100 derajat panasnya.


"Leha yuhuuu miss youuuu" Sara menjerat Leha dan menariknya menjauh dari Nalen.


"Kakak ipar selamat ya, samawa, langsung jos, dan yang pasti terima kasih ya, pelangkahku mundur satu per satu"


"Sama-sama ya" Leha memeluk Sara kencang,


"Leha, anak Bunda" Nami meneteskan air matanya. 


"Bun, Leha resmi jadi anak Bunda"


"Maafin Bunda ya, soal Bita, Bunda—"


"Bun Leha udah denger alasan Bunda nggak mau ngasih tahu Leha, Bunda jaga perasaan Leha, Leha sayang banget sama Bunda, Ayah"


"Leha yang minta maaf ya Bun kemarin yang Leha batalin dan kabur, pasti Bunda kepikiran pasti, maafin Leha"


"Bunda juga sayang Leha, Bang dijaga ya Leha, awas ya kalau kamu nyakitin Leha, pilih mana? Rumah sakit? Rumah sakit?"


Nami mengacungkan kedua tangannya pada Isak. "Nggak Bun, janji" Isak mengacungkan tanda peace, dan mereka tergelak.


"Issh TBL TBL TBL takut banget lho, Bunda serem ah" Sara menyela.


***


Mobil Isak membelah jalan macet Ibu kota, langsung dari bandara. Masuk kesalah satu gedung tinggi, melalui beberapa pos satpam, Leha merasa familiar.


Jangan bilang ia pernah mengantar pelanggan ke tempat ini? Leha memperhatikan rute yang Isak lewati. Hingga ke pagar atas TownHouse, ingatan Leha samar.


Para satpam menyapa suaminya itu. Saat mobil Isak berhenti disalah satu rumah, Leha menatap rumah itu dengan familiar.


"Kenapa?"


"Kayaknya aku pernah kesini" ucap Leha yang membuat alis Isak naik.


"Aku pernah bawa kamu kesini?" Sangat jarang Isak membawa seseorang selain keluarganya ke Townhousenya. Bahkan Bita saja tidak pernah.


"Iya pernah, apalagi nomor 273, tapi bukan abang yang bawa Leha kesini, kayaknya Leha bawa pelanggan kesini"


"Leha ingetnya, pake baju ojol" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Udah masuk dulu mungkin kamu inget."


"Gimana mau inget, kan Leha nganter pelanggan cuma sampai depan rum …" rasa familiar itu kembali, layaknya dejavu.


"Tunggu Leha mulai inget." Leha mengambil ponselnya dan mencari pada riwayat pesanan. Ia memiliki perasaan tahu mengapa ia familiar dengan Town house Isak.


"Bapak?!"


"Ternyata Bapak yang ngasih bintang satu sama Leha, tapi emang tipsnya gede, tapi apa salah Leha pak waktu itu?" Leha kembali dibawa kesal mengingat kejadian dulu itu.


Leha pikir pelanggannya itu orang baek ngasi tips gede taunya ngasi bintang satu.


"Hah, apa? Saya pernah naik ojolmu?"


"Iya pernah sih tapi cuma sekali waktu kamu nyulik aku buat ngaku ke Abah kita pacaran kan?"


"Ish bukan, waktu itu Leha nganter AyoMakan. Bapak ngomong pake itu alat yang ada diluar, terus bapak nyuruh Leha masuk, ya Leha masuk, tipsnya gede pisan, tapi bintang satu bikin Leha mumet."


"Sekarang Leha tanya bapak, kenapa bapak ngasi bintang satu!" Isak masih bengong. Ia tidak mengerti apa yang sedang Leha kesalkan, karena memanggil dirinya Bapak.


"Sumpah yank, aku abang lupa lho"


"Nih aku kirim lewat akunku ke abang ya, aku masih nyimpen fotoku sama duit dan makanan yang abang pesen"


Klink!


Dan benar ada pesan dari aplikasi ojol masuk diponselnya. Isak membuka dan menemukan sesuatu yang juga familiar baginya.


"Astaga itu kamu Yang, si ojol yang ganggu tidur abang itu kamu?" Isak tergelak. Karena teriakan si driver itu, tidurnya terganggu ditambah suara motornya. Kesal Isak memberinya bintang satu tanpa alasan.


"Jadi gara-gara aku teriak, ish abang mah jahat ke Leha"


"Ih sayang kan abang nggak tahu itu kamu, kita belum jodoh waktu itu. Kalau udah jodoh mah ya langsung aja abang bawa kamu ke penghulu"


"Hiliiiiww gombal!"


"Tapi ternyata kita pernah ketemu dulu, pantesan ada kata pujangga penyuka senja, jodoh itu ada disekitar kita, Nah kita contohnya. Jodoh betul, dari kita pernah ketemu, Udin yang sepupu Rena, bunda dan ayah yang juga teman lama, jodoh pasti bertemu, Istri love you"


"Abang mah manis banget, kayak gulali enjot, semanis sakarin, Suami love you"


Keduanya tidak menyangka jika di masa depan mereka akan sebucin ini. Merasakan cinta satu dengan yang lain, perjalanan panjang untuk bisa bersama. Juga banyaknya keraguan yang mengiringi hingga mereka bersama.

__ADS_1


***


Oh iya, mungkin aja jodoh kalian juga ada disekitar kalian atau bahkan pernah kalian temui saat ini. Kita tidak pernah tahu. We Never Know Guys!


__ADS_2