
Isak tak mengerti apa yang membuat lelaki itu melamar Leha. Setelah obrolan di pantai, bibirnya bergerak dengan sendirinya.
"Sudah gila!"
Isak merutuki dirinya yang terbawa suasana. Entah apa yang membuat Leha lebih bercahaya dalam pandangannya semalam. Lalu meluncurlah kata-kata yang ia sendiri tidak menduga. Teringat kembali pada malam kemarin.
"Bagaimana jika Saya melamar kamu? Kita menikah!" Suara Isak meninggi. Mereka saling jeda.
"Bapak barusan lamar Leha?!"
"Mana cincin, musik romantis sama kembang apinya?"
Leha mengulurkan tangannya. Isak dibuat melongo.
"Bapak jangan bilang, bapak cuman kebawa suasana aje? dan ngeliat Leha lebih caem malam ini. Bapak, Leha cuman pacar pura-pura, gimane ceritanye bapak lamar Leha?" ucap wanita itu. Kembali Isak dibuat tercengang.
Bagaimana wanita itu tahu. Ia mendekat pada Isak. Leha meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Isak. Ia menariknya hingga wajah mereka berhadapan.
Leha menyipitkan mata curiga. Ia memicing dihadapan wajah Isak. Sangat dekat. Lelaki itu bisa merasakan hembusan hangat nafas Leha.
Isak kembali dibuat tercekat. Matanya melebar, tatapannya menjelajah wajah Leha yang lumayan manis, pipi gembulnya merona. Hidungnya mungil di ujungnya juga memerah. Bulu mata lentik. Bibir mengerucut. Menggemaskan.
Hah! Menggemaskan?!
Tersadar, Isak menjauh, ia berdeham membersihkan tenggorokannya juga otaknya yang mulai aneh. Bagaimana bisa ia melihat Leha menjadi menggemaskan begini?
"Ah bapak cuman kebawak suasana kan yak! Ck! Dasar—"
Leha berdecak.
"Nggak! Saya benar melamar kamu! Memangnya pacar pura-pura tidak bisa Saya lamar?"
"Maksudnya bapak lamar Leha pura-pura gitu? Leha kagak mau sampai sejauh itu pak" Leha menatapnya sendu.
"Kata siapa saya pura-pura!"
"Terus? Bapak serius lamar Leha?" Isak mengangguk,
"Beneran, bapak?"
"Iya kamu pikir aja, masa saya melamar pura-pura!"
"Ya bisa aje, pan bapak hatinya lagi gonjang ganjing noh, ini bapak beneran kan?" Kembali Isak mengangguk.
Isak tidak ingin Leha meremehkannya yang memang hanya terbawa suasana. Harga dirinya lebih penting. Isak ingin menyelamatkan harga dirinya.
"Kalau gitu langsung aja Bapak bawa Bunda dan Pak Ibrahim datang ke rumah Abah Hamid, buktiin!"
"Baik, pulang nanti, Saya akan bawa Bunda dan Ayah ke rumah Abah Hamid!"
"Deal?" Ucap Leha, kesempatan menjaring ikan bukan? Untuk cinta Leha akan mencoba membuat Isak menyukainya.
"Deal!"
"Sepakat! Tidak mundur, Tunangan beneran?"
"Sepakat, Tunangan sebenarnya!"
Tantangan Leha layangkan, kembali demi harga diri, Isak mengiyakan, mereka berjabat tangan dan saat ini, lelaki itu telah bergumul dengan penyesalannya.
***
__ADS_1
"Bapaaakkk … pagi"
Leha menyapa Isak dengan antusias. Mereka telah menjadi tunangan sesungguhnya.
Sudah pukul 11 siang, Isak sengaja keluar lama dari kamarnya. Berkubang dalam kamar memikirkan tindakannya.
Ia ingin membatalkannya, namun harga dirinya merongrong agar Isak tidak menjilat ludahnya sendiri.
"Pagi, kamu dari mana?"
Ia melihat Leha dengan peluh membanjiri wajah wanita itu yang datang menyambutnya
"Abis main voli sama bunda sama Mbak Bita juga Sara" tangan Isak terulur membenahi rambut Leha yang menempel pada wajahnya.
"Bentar ya Tunangan, Leha disuruh ambil minum di kulkas"
Leha mengedip genit ke Isak. Lelaki itu mengernyit, belum terbiasa saat Leha menyebut dirinya tunangan wanita itu.
"Sini Saya bantu" Isak mengikuti Leha. Dan meracik minuman yang menyegarkan. Mengambil bahan dari kulkas dan meraciknya.
Leha menuang minumannya pada gelas dan mencobanya. Dingin asam bercampur dengan cairan manis bersoda juga rasa berry menyebar dalam mulutnya.
Menyegarkan.
"Bapak mau coba?"
Isak mengangguk, Leha melongok ke tempat penyimpanan gelas dan meraih gelas-gelas baru.
"Segar"
Leha melihat Isak dengan gelas miliknya ditangan lelaki itu. Senyum Leha mengembang.
"Kenapa?"
"Ayo tuangkan kemari dan bawa ke luar."
Isak mengangguk dan menuangkan minuman buatan Leha pada gelas-gelas Lalu Isak mengangkatnya. Mengikuti Leha keluar bungalow.
Disana, di lapangan voli pantai, keluarganya sudah berkumpul. Ada sebuah paviliun yang sedang disiapkan untuk mereka makan siang. Nami menyewa jasa salah satu restoran untuk mengerjakannya.
"Ini untuk dedeknya, biar nggak mual lagi" Leha menyerahkan satu mangkok penuh berbagai macam berry didalamnya.
Melihat mangkok yang menggiurkan, Bita tak sabar untuk mencicipi. "Timakasih onti Leha" ucap Bita layaknya bocah.
"Wow ini enak, asam manis" ucap Bita dalam kunyahannya.
"Kok kamu ada ide buatin aku ini sih, ya ampun makasih Lehaaaa … " Bita merasa terharu.
"Dulu Leha pernah kerja jadi tenaga serabutan, beberapa kali pernah jagain ibu hamil yang ngidam, ada satu ibu yang selalu mual, Leha kasian, wajahnya kuyuh dan terlihat capek karena ia nggak bisa masukin makan ke mulutnya. Tapi selalu muntah."
"Nah Leha belajar dari utube, Mbak, ya ketemu sama resep-resep dari sana, Leha obok-obok ntu utube dan mereka seneng sama makanan yang Leha bikin,"
"Mereka? Banyak yang kamu jagain Ha?"
"Lumayan Bun, awalnya cuma dua, tapi ternyata banyak yang mau ikut,"
"Lho kenapa kamu nggak buat katering, buat ibu hamil"
"Ada mbak, dipegang sama sepupu Leha,"
"Serius? Wah aku jadi pengen langganan,"
__ADS_1
Bita mengulir ponselnya melihat menu-menu pada katering milik Leha. Leha memberi tahu Bita jika ingin melihat menu pada kateringnya. Ia bisa melihat di akun sosial media miliknya.
"Mbak Bita bisa rikues, nanti Leha bikinin"
"Boleh? Senangnyaaaa, Makasih Leha" mendapat anggukan Leha, membuat Bita girang. Onald yang ada di pangkuannya ikut girang. Bocah gembul itu sedang menyu su.
"Kenapa a, su su ibu rasa berry ya" Bita bertanya pada bocah macam ulat sagu itu. Astaga ginuk-ginuk.
***
Leha membuat sarapan dan kopi di pantry. Untuk dirinya juga Isak. Disana masuk gerombolan wanita berhidung mancung yang da danya juga mancung.
Rambutn kecoklatan panjang gelombang badai. Sudahlah mirip artis sampo. Dandan modis. Mereka menghampiri Leha.
"Kau siapanya Tuan Isak?"
Salah satu dari mereka mulai mendekat dengan tampang juteknya.
"Saya Leha, Asisten Tuan Isak, salam kenal" ucapnya.
Memang selama di kantor, Leha dan Isak sangat sibuk. Mereka berangkat dan akan berdiam dalam ruangan Isak atau ruangan Ibrahim. Lalu mereka akan disibukkan dengan bermacam pertemuan.
Jadi Isak tidak mengenalkan Leha secara menyeluruh. Hanya yang bersinggungan dengan mereka yang akan tahu siapa Leha.
"Kau dibawa Tuan Isak dari negara antah berantah itu pasti"
"Negara miskin, jorok dan udik"
Leha yang tadi sedang membuka roti lapisnya merasa tersinggung.
"Apa kalian pernah ke Indonesia?" Tanya Leha.
"Indonesia?" Kata ketiganya berbarengan.
"Kalian bahkan tak tahu nama negara tempat Lewi Crop berada? Sudah dipastikan kalian tidak pernah kesana?"
"Kami memang tak berminat kesana, kenapa harus menginjakkan kaki kami di tempat udik itu,"
"Hanya mengotori kaki kami saja!" lanjut salah satunya dengan mengibaskan rambutnya macam iklan obat ketombe.
"Lha mbuak bilang aje lu kagak punya duit buat kenegara Ane, sok sokan ngatain lu! Gue gibeng gaya pitung, mingkem lu! Cocor lu itu mirip lohan jan belagak lah!" Gerutu Leha.
"Hei kau ngomong apa!"
"Kamu mengatai kami!"
"He'eh, nah ntu pinter pan! Ngarti omongan guah! Oh sorry, aku sedang bernyanyi, rapper idolaku baru merilis lagu barunya."
Ketiganya mengernyit dalam. Ia merasa Leha aneh. Tidak menyambung dengan obrolan mereka.
"Kalian mau mendengarkannya?"
Ketiganya menggeleng serempak kemudian beranjak dari tempatnya. Leha menghela nafas pelan. Akhirnya kekacauan berlalu juga.
Tidak di Indonesia maupun Qatar ada saja orang-orang perundung dan penggosip. Leha tahu jika ia menjadi bahan gosip di perusahaan Ibrahim. Karena Leha yang selalu nempel pada Isak.
Yang mereka tahu sekretaris Isak adalah Rena. Lalu siapa Leha? banyak dari para wanita pengincar Isak mempertanyakannya.
Leha menghirup aroma teh vanila mawar digelasnya, wangi, teh yang khusus Leha bawa dari Indonesia, awalnya hanya untuk tombo kangen, tapi juga bisa untuk tombo pikiran yang caruk marut.
"Saya penasaran, bagaimana gaya gibeng ala pitung itu?" suara berat, membuat Leha mendongak. Senyuman menyapa Leha di pintu pantry.
__ADS_1
Tbc.