Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 63


__ADS_3

"Kau telah mendapatkannya?"


"Iya Tuan, silahkan" amplop coklat diserahkan pada Tuannya.


"Semua bukti ada disana Tuan, mungkin bisa membantu Tuan Ibrahim,"


"Kapan Rapat besar diadakan"


"Minggu depan." 


"Cecunguk itu harusnya segera mendepak ular bodoh dalam kelompok, Jack, Jack! Sangat bodoh hanya karena satu hama, dia akan berurusan dengan ku" ucap lelaki itu dengan menenggak cendolnya.


Ini hari terakhirnya di Indonesia.  Besok ia akan kembali ke negaranya tempat dimana markas besarnya berada. Meksiko.


"Tetap awasi mereka"


"Baik Tuan"


"Tolong kau ambil cendol hijau dan gula merah, yang aku pesan ke alamat yang sudah kukirimkan padamu"


"Baik Tuan"


***


Leha menyiapkan satu pesanan diluar Katering Sehat. Ada tumpukan kardus-kardus di depannya. Teringat saat ia memilih bahan di pasar. Ada seorang dengan tampilan preman yang tampaknya sedang memilih batokan gula merah.


Kening Leha mengernyit. Kejadian langkah. Awalnya Leha tidak peduli. Namun saat pedagang nakal ingin menipu si preman itu. Leha pasang badan.


"Pak gula aren yang enak untuk cendol yang mana?" Ucap si Preman pada pedagang. Pedagang itu melirik takut. Namun saat mendengar suara ramah dari si preman si pedagang dengan tidak ramah menarik gula merah abal dan keras pada si preman.


"Ini, bagus"


"Saya beli sekilo kalau begitu"


"Disini tidak jual kiloan tapi lusinan" ucapnya dengan mata melirik tak suka pada si preman. Leha yang melihat itu malah kesal pada si pedagang yang tak ramah. Dan sejak kapan di toko itu tidak boleh beli kiloan.


Leha juga hanya pernah belanja di toko itu dua kali dan kapok, pedagangnya selalu seenaknya menaikkan barang-barang. Juga suka meremehkan selalu merendahkan para pembelinya.


"Bang, ini mah gula merah bukan aren!" Ucap Leha.


"Lagian bang lu kagak takut nipu bos preman enih bang?" Ucap Leha kembali. Si preman menatap Leha. Mengapa gadis ini tahu.


Si preman menatap Leha penuh minat. "Jangan ngibul lu neng!" Ucap pedagang itu agak takut.


"Lu kagak liat nih, ini, sama enih, lu mau tahu kagak tato gede ada di punggungnye. Lu mau kios lu yang kagak seberapa ini dibakar?" Lirih Leha mendekatkan kepalanya pada pedagang.

__ADS_1


Kemudian ia menjauh melihat wajah pedagang itu mulai pucat pasi. Ia menggeleng cepat.


"Om kagak usah beli dimari, ayo ikut gua, nanti gua kasih tahu tempat murah beli bahan yang terpercaya" bisik Leha pada si preman yang hanya mengangguk.


"Kalau gitu kagak jadi beli disini bang kita"


"Oh iya neng kagak nga-ngapa" Pedagang itu mengayunkan tangannya, mengusir perlahan Leha dan si preman.


"Ayo Om"


Si preman mengikuti Leha. "Om mau buat apa pake gula aren?"


"Es cendol"


"Ah, kalo cendol enakan emang pake gula aren dari kabupaten Lebak, Benten, gula arennya legit terus ada wangi khas, apalagi kalau ditambah buah nangka, beeeehhh suedaaaaap"


Si preman hanya mengangguk ia setuju dengan gadis yang sangat ceria itu.


"Om tadi hampir ditipu. Bukannya Leha mau mematikan bisnis orang tapi buat apa beli sama penipu kan?"


Si preman hanya mengangguk. Mendengarkan ocehan gadis yang menurutnya menarik ini.


"Bah Juki!" Seruan Leha, ia berlari mendekati lelaki paruh baya, sepantaran Hamid.


"Eh elu Ha, mau borong lu?" Ucapnya.


"Bener pelanggan enih?" Juki menatap tubuh bongsor si preman.


"Lu bawak reman dari mane Ha? Serem bener algojo lu" bisik Juki


"Ssttt Bah jangan kenceng-kenceng kagak takut di gibeng?" Juki melirik sesaat pada si preman, ia susah payah menelan salivanya.


"Ngapa lu bawa kemari dah!"


"Leha becanda Bah … " tawa Leha menyembur.


"Ini Om … Om, om, namanye siape?" Bisik Leha.


"Saya Harlan"


"Enih Om Harlan Bah, di dimari mau nyari gula aren, sekilo Bah,"


"Oalah mau gula aren ada dimari tenag aje, punya gue kualitas jaminan mutu lah" Juki membanggakan dagangannya.


"Bukan sekilo, saya mau beli satu kuintal, ada?" Leha tentu saja melebarkan matanya.

__ADS_1


"Banyak amat, ya pasti ada, buat apaan?"


"Buat cendol"


"Oh mau dagang cendol, yaudah lu kemari aje kalo cari bahan cendol, gue juga punya cendol enak dimari, lu mau tepung beras apa tepung campur, bentar lu udah dapet bahan cendolnye?"


"Belum"


"Nah kebetulan, gue punya kenalan pemasok cendol, mau kagak lu?"


"Boleh Bah"


"Ini, masih sekitaran dimari, lu kesitu bilang dari Bang Juki Jali" Leha hanya mengangguk. Leha memberikan list barang yang ia butuhkan dan nanti barang yang ia beli dikirim langsung oleh karyawan Juki.


Dan setelah berdiskusi dengan cepat. Akhirnya Om Harlan begitu Leha menyebutnya, meminta bantuan pada Leha. Ia menyerahkan kartu nama, karena Harlan ada keperluan dan lelaki itu diburu waktu.


Sebuah mobil hitam terparkir di depan samping rumah Leha. Seorang dengan setelan jas rapi dan necis keluar dari dalam mobil yang kilapnya sama dengan mobil Isak.


"Nona Leha?" Tanpa basa-basi. Leha mengangguk.


"Saya Yasir, bawahan Tuan Harlan, mau mengambil pesanan beliau" Leha melihat ke arah tumpukan tinggi gula aren juga berkerdus-kerdus cendol. Lalu melarikan matanya pada mobil hitam milik Yasir.


"Emm … "


"Oh tenang saja Nona, sebentar lagi ada mobil yang akan mengangkutnya."


Tit … tit … tit …


Deru mobil dan suara peringatan terdengar mendekat. Mobil pikup besar memasuki perkarangan rumah Leha. Dua ornag menghampiri Yasir dan mengangguk hormat. Lalu mulai membuka bagian belakang truk itu.


Sebuah alat katrol canggih beremote keluar. Ia mulai mengerjakan tugasnya. Kebisingan mobil besar membuat manusia yang berada didalam rumah Leha ikut menyaksikan.


"Wah canggih" celetuk Sari dan Perdi.


"Bang Hai, udah kayak film perang-perangan bule ye alatnye" kembali celetuk Perdi. Bocah 15 tahun itu berjalan dekat kegaris kuning untuk melihat lebih jelas.


Haikal juga imut mendekat ia memegang pundak Perdi sambil menganga. "Mpok kapan lu punya ginian, ntar gua mau jadi karyawan lu" ujar Perdi.


"Ya doain aje Mei"


"Beneran lu Ha mau beli beginian? Punya duit lu?" Sari melotot pada sang sahabat. Ada rasa bangga. Dalam senyumnya.


"Iyak, Mei, Maybe yes, Meybe No"


"Heleh semprul lu!" Setidaknya Sari tahu lawakan Leha yang menggunakan bahasa inggris yang ia mengerti sedikit itu. Leha tertawa tergelak. Melihat wajah tertekuk Sari.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2