
Sore Leha habiskan dengan dikamar dan menangis. Tanpa mengetuk Hamid membuka pintu anak bungsunya.
"Nangisin ape lu sekarang?"
Kebiasaan Leha kalau menonton drama korea atau membaca novel. Akan sesenggukan.
Awalnya panik, ia kira sang anak dibuli disekolah. Saat lantas tahu alasan sebenarnya Hamid murka dan langsung membawanya ke tempat Haji Mahmud untuk diruqyah. Dan sekarang itu hal wajar dan dimaklumi oleh orang terdekat Leha.
"Ini Bah, masa Indun mati Bah Huaaaa …"
"Ashar udeh belon lu? Bentar lagi magrib! Mandi anak perawan ntu sore udah wangi lha enih lebus kambing!" Omel Hamid.
"Iye ye,"
"Ntu si Isak kagak sering dateng kemari lagi, tapi ke proyek terus" tanya Hamid penasaran
"Sibuk Bah, pan bos besar, udahlah tua dijalan die" jawab Leha ngelantur yang memang benar adanya.
"Yaudeh sana lu beliin Abah padang,"
"Kenape meski padang, nasi goreng aje yak, apa sate haji Juki. Pecak kembung Mpok Jana, gimane Bah! Jangan padang, kolesterol! Udeh Leha yang bayar, sate kambing haji Rohim, mantep Bah!"
Mengapa ia harus berhubungan dengan nasi padang lagi, serelah ia dipatahkan oleh nasi padang! Emang bangsul itu nasi!
Leha sedang negosiasi. Dan …
"Halah lagak lu kolesterol! Udah sana beliin sana!"
Gagal!
Leha mengambil kunci motornya ogah-ogahan. Melewati kontrakan Saipul Leha berteriak.
"Ginuk-ginuk onty kangen lhooo!" Tapi motornya tetap meluncur menuju rumah makan padang favoritnya.
"Udak ciek duo tigo, Leha mau bungkus, empat biji yak!"
"Ambo biji sapa pula yang kau sebut itu!"
Leha menyengir. "Bumbunya banyakin, sambel banyakin. Harganya murahin."
"Bangkrut lah aku!" Lelaki itu menepuk jidatnya keras lalu tertawa kencang.
"Biasa ya Uda ciek duo tigo"
"Beres"
Leha masuk mendekati si Udak, ia mengambil piring plastik dan merobek tiga kerupuk kulit dan menyiramnya dengan bumbu sate padang.
__ADS_1
Lalu ia mencari duduk dekat jendela. Leha ingin menyapa para penggemarnya.
"Weh ardi baru balik lu!" Sapa Leha pasa peseda motoe yang lewat.
"Oi bang Jago!"
"Leha! Woi! Nyupir lagi kagak? Apa jadi kenek aje, penumpang gue sepi enih!"
"Lah ya maap Bang Jago! Leha lagi istirahat dulu, lagi ngegojek ajee"
"Yaude kalo lu butuh kerjaan koling gua aje!"
"Set daaah sok bat koling lu!" Tawa mereka tergelak.
"Perdik! Per! Perdik! Lha bocah budek! Per gue jajanin padang sini kau anak dajjal!"
"Iyaaa kakak Leha Perdi caem bertandang di rumah makan pasang Udak ciek duo tigo" bocah berumur 14 tahun itu melesat bagai kuda bila diiming-imingi makanan.
"Lu tuh kalo gratis aje dateng kayaj motor balap!"
Seru dan rame suasana rumah makan pasang. Leha melihat sosok yang familiar, ia bergandengan mesra dengan seorang lelaki.
"Sari?"
Dandannya mak, Mpok Marni kalah. Sosok wanita itu menutupi dirinya denga tas.
Lelaki itu merangkul pundak terbuka Sari. Lelaki yang Sari sebut 'Mas' itu lebih cocok disebut engkong.
"Lepas!" Leha mencangkram lengan si engkong.
"Kamu siapa?"
"Elu yang siape?? Ini temen gue!"
Lalu sekawanan penggemar Leha beebadan besar, berotot kawat dan bertampang preman. Berdiri dibelakang Leha.
"Mas! Jangan pergi Mas!" Si engkong kelabakan, ia melepas rengkuhannya pada Sari.
"Elu ya! Kenapa selalu ngerecoki hidup orang! Kemaewn gue dipecat gegaea elu! Swkarang elu mengebuat duit gue ilang! Siaal! mana tuh orang udah grepek-grepek gue!"
"Lo jual diri?"
"Mau gua gibeng lu!"
"Lha terus?"
Leha menatap Sari penuh meremehkan.
__ADS_1
"Gua cuma nemenin tu aki-aki"
"Pake jaket gue mbak! Lu caem, jangan lah buka-bukaan begini!"
"Apa lu bocah! Sok bijak banget lu!"
"Udak teh anget, sama … "
"Lu mau sate padang ape nasi padang?"
"Nasi"
"Nasi satu"
***
Leha memacu beatnya menuju rumahnya. Dengan memungut satu piaraan yang makannya banyak. Kayak babon.
Ya. Sari. Ia ikut ke rumah Leha.
"Assalamualaikuumm"
"Walaikum salam"
"Bah" Leha salim.
"Salim lu!" Sari mengamati sekitar. Ia menunduk dan kemudian salim pada Hamid.
"Siape nih?"
"Temen Leha Bah, mau nginep. Ini nasi padang Abah, duitnya Leha abisin, Bah"
"Bagus! Abisin!" Sarkas Hamid.
Uang yang Hamid beri biasa Leha untuk meneraktir teman-temannya makanan enak. Atau membeli susu dan popok, untuk Si ginuk, intinya Leha membantu teman yang membutuhkan.
"Lu putus sama Pak Bos?" Sari mengangkat kertas-kertas galau Leha. Leha merampas, meremasnya dan ia lempar sembarangan.
"Pantes ketawa mulu lu! Nggak wajar emang sedari tadi" Sari menggelengkan kepalanya.
"Nih mandi sono!" Leha memberikan baju dan handuk bersih.
"Ambil wudhu, Sholat!"
"Gue kristen! Anak Bapa … "
Terdiam, saling pandang dan tawa mereka tergelak. Menertawakan perbedaan sungguh indah.
__ADS_1
Tbc.