Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 40


__ADS_3

Makan siang mereka terlambat. Dan mereka telah memesan makanan, sambil menunggu pesanan datang Leha menyuapi Onaldo dengan makanan yang ada di dalam tasnya.


Onaldo akan merengek jika makan sambil duduk, dan ketika Leha mengajaknya berjalan di sekitar restoran, Bocah itu akan makan dengan lahap.


Dalam gendongan Leha. Tangannya yang ginuk-ginuk itu ingin meraih Daru.


"Pak Daru coba gendong, kayaknya Onaldo pengen digendong sama pak Daru"


"Tapi aku belom pernah menggendong bayi?"


Daru agak gugup. Namun tangan Onaldo meraih lengannya dan menarik dengan kuat pakaian Daru untuk segera mengambil tubuh bulat itu.


"Udah sini, Pak Daru pasti bisa."


"Oke sini"


Leha meletakkan mangkoknya pada kursi. Dan melepaskan selendang gendongnya. Ia memberikan Onaldo pada Daru. Bocah gembil itu memainkan gelembung pada mulutnya.


"Eh nak Bunda, main apa sih ini?"


Leha mengelap mulut Onaldo, Leha berdiri begitu dekat dengannya, Daru dapat melihat wajah Leha. Wajah mungil, kulit putih, pipi memerah, dan terlihat cantik dimata Daru.


Senyuman merekah Leha seperti menularinya tanpa sadar bibirnya ikut melebar. Daru terpesona.


"Leha, bawa Onaldo masuk" perintah Isak yang tiba-tiba muncul. Ia berdiri disamping Leha. Dengan melirik tajam Leha.


"Nanti Pak, ini belum habis makannya. Bentar Leha mau ambil minumnya,"


"Sekalian pesankan saya kopi"


"Pak Daru juga mau kopi? Latte pasti?"


"Kamu tahu"


Leha beranjak, setelah Daru mengangguk pada Leha. Senyumnya mengembang. Isak bisa melihat raut wajah Daru yang tampak bersemu juga bahagia. Tatapan lelaki itu, tatapan mengagumi. Isak mengenalinya.


Melihat gelagat itu mengapa Isak merasakan hatinya tak enak. Apalagi Daru yang terus memperhatikan punggung Leha dengan wajah memuja itu. Isak merasa kesal.


Sesaat tadi, dengan gilanya, Daru membayangkan, bagaimana jika dirinya, Leha dan Onaldo adalah keluarga kecil yang sesunggunya.


Semua hanya bayangan semu saja membuatnya bahagia. Sungguh miris. Apa dia sudah sejatuh itu pada Leha?


Benar-benar gila. Ia harus mundur!


Onaldo mengeliat pada gendongannya, ia menggapai Isak. Isak melihat tangan gembul itu ingin meraihnya.


"Yaah … yahyaaahhhahah"


"Oh mau ke ayah, siniii … "


Giliran Isak menggendong Onaldo. Daru seperti ditampar dengan panggilan Onaldo pada Isak. Bocah itu seperti menyadarkan Daru jika tidak ada tempat di sana.


Onaldo sudah dalam gendongan Isak. Ia mengenakan kain gendongan. Isak ingin melanjutkan menyuapi Onaldo.


Meraih mangkuk, "Dek sini aaaakk … " ucap Isak.


"Jangan dek dong Pak! Panggil Abang? Dia kan nanti jadi abang, kalau dek nanti dia makin manja." Ucap Leha yang datang dengan membawa dua cup kopi, dan gelas mungil milik Onaldo.

__ADS_1


"Ini buat Pak Daru, one shot, one sugar and one krim"


"Dan buat Bapak, double shot americano with ice"


"Dan buat si ginuk ini Latte"


Leha mendekati Isak. Ia menyurukkan gelas mungil dengan dot pada mulut Onaldo. Bocah itu minum dengan kuat.


"Duh nak Bunda aus banget ini,"


Kaki Onaldo menyentak kegirangan, melihat Leha berbicara dengannya. Tawanya tergelak bercampur dengan susu yang keluar dari mulut mungil itu.


"Kamu itu, anaknya lagi minum di godain," Isak mengelap mulut Onaldo yang belepotan susu.


"Mana kopi Saya?"


"Ini Bapak"


Isak meraih gelasnya dan meneguk, alisnya tertekuk. Leha masih membantu bocah itu untuk minum.


"Coklat?"


"Ya, Bapak udah minum berapa gelas kopi hari ini?"


"Cuma satu"


"Lupa pagi tadi, bapak sudah minta kopi?"


"Udah dua gelas ya, dan gak ada cangkir ketiga!"


Daru yang mendengar percakapan itu menatap gelas lattenya. Ini bahkan gelas keempatnya, Ah ... ternyata rasa senangnya, tak bertahan lama. Ia merasa iri pada Isak. Leha begitu memperhatikan pada hal-hal kecil lelaki itu.


"Nggak Onaldo biar dengan saya saja!" Nadanya agak ketus. Saat ini ia perlu kopi untuk menghadapi realita sesungguhnya -bertemu Bita-


"Yaudah, Oh kayaknya ginuk Bunda mulai ngantuk ya?"


Leha memberitahu Isak untuk masuk dan Leha akan membereskan tas perlengkapan. Leha juga menyuru untuk Daru masuk dan makan, karena makanan pesanan mereka sudah terhidang.


Leha masuk, disana kedatangan orang tua si bocah menggemaskan,


"Mbak Bita, Pak Zain" Leha mendekat.


"Gimana dedeknya?"


"Sehat, aku disuruh diet, katanya dedeknya kegemukan," ucap Bita.


"Terus aku kan kasih menu-menu yang kamu kasih ke aku ke dokter giziku, katanya menu kamu bagus banget buat aku, nutrisi dan vitaminnya mencukupi."


"Sampe dokterku nanya siapa yang buat menu-menunya, aku bilang kalau sodara, terus katanya lagi kamu dikira ahli gizi"


"Makasih ya Leha"


"Sama-mbak Bita, Leha jadi malu, itu kan karena riset dan nanya-nanya dokter-dokter kenalan Leha mbak, ahli gizi abal aku mah," Leha terkekeh malu-malu, ia tak menyangka resep buatnnya diakui oleh dokter Bita.


"Wah kamu banyak ya kenalan dokter,"


"Nggak juga, cuma beberapa" Wajah Leha bersemu. Ia menepuk pelan lengan Bita,

__ADS_1


"Kamu sudah ketemu Leha kan, Isak, Daru saya dan istri pamit dulu" Zain beranjak dari tempatnya.


"Buru-buru, nggak mau makan sama kita, Mbak, Pak?"


"Kita ada janji sama mertuaku Leha, ini juga karena nunggu kamu, buat terima kasih sama buku menu, eh kamu bisa nerbitin lho itu,"


"Leha nggak kepikiran ke situ, lagipula itu masih untuk pribadi, dan belum berani, tapi mungkin nanti suatu hari Mbak"


"Iya apapun aku doain biar jadi itu bukumu, aku pulang dulu ya see you"


"Hati-hati mbak, pak"


"Isak terima kasihnya" Isak menatap hangat Bita. Tatapan rindu dan binar memuja itu masih Leha tangkap. Cuma lihat saja sudah nyeri begini.


"Iya sama-sama, kalau kamu perlu bantuan, kamu bisa menghubungiku" ucapnya pelan, Leha masih bisa mendengar, Bita tersenyum manis, ia mengangguk. Dan senyuman lembut dan tatapan terpesona itu, baru sekali Leha lihat dari Isak.


Daru dalam diamnya bisa menangkap ada sesuatu antara ibu dari bocah gembul dan Isak. Pandangan itu, ia mengenalinya, sama sepertinya saat melihat Leha.


Apa dia masih memiliki kesempatan?


***


Leha disibukkan dengan acara yang akan diadakan oleh perusahaan Ibrahim juga Fifa. 


Perusahaan orang tua Isak itu akan mengadakan pesta, untuk kerja sama mereka, mengontrak beberapa Ikon bola, untuk menjadi brand ambassador bola yang perusahaan Ibrahim produksi. Juga tidak ketinggalan pemain lama. 


CR7, Neymar, Messi, Mbappe, David Beckham, Zidane. Mereka akan membintangi iklan bola dari perusahaan Ibrahim.


Mereka melakukan iklan di stadion terbesar kedua di Qatar. Al Bayt, di kota Al Khor. Dan selesai pengambilan iklan Ibrahim Corp akan mengadakan gala dinner untuk menyambut para pemain bola dan Fifa. Mereka juga mengundang partner lain dari Ibrahim Corp. Mount High salah satunya.


Leha akan menginap di bungalow milik keluarga Ibrahim. Tempatnya dekat dengan hotel untuk mengadakan gala dinner juga stadion Al Bayt.


Kesibukan memantau jalannya pengambilan iklan membuat Leha pening. Namun Leha dengan keras kepala tetap kuat. Ia ingin melihat idolanya, My Husbandnya, Neymar.


Leha berharap bisa berfoto. Tapi kenyataan tidak seindah khayalan. Para pemain bola dijaga ketat oleh para bodyguard. Leha bahkan tidak bisa mendekat sejengkal pun. Hanya bisa membuat video dari jauh.


***


Hari ini mereka akan gala dinner. Ini masih pagi dan Leha akan bermain ke pantai sebentar, Leha menyiapkan diri, ia mengenakan baju renang two piece yang ia beli dengan Sara, dan ditutupi jaket sepaha.


"Pagi, tunangan" bisik Leha melihat Isak yang duduk dengan kopinya. Leha memberanikan diri mengecup pipi Isak.


Leha melahap roti milik Isak dan menyeruput kopi pahit Leha. Isak terpaku di tempatnya, sekali lagi ia belum terbiasa dengan keagresifan Leha.


"Pagi kakak Ipar, jadi kita?" Leha mengangguk, menatap Sara dari atas hingga bawah, ternyata gadis itu juga sudah siap.


"Yuuuk adik ipar"


"Kalian mau kemana pagi-pagi gini? Hoaaamm … " Nalen baru keluar dari kamarnya, ia baru bangun. Ia baru tidur beberapa jam tadi, terbangun karena lapar.


"Ini udah jam 9, kita mau berenang dan main dipantai, udah yuk Leha"


Sara menyeret Leha dan meninggalkan kedua kakaknya itu. Dengan cepat mereka berjalan menuju pantai.


"Leha?" Sosok lelaki tinggi menyapa Leha.


"Pak Daru?"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2