Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 41


__ADS_3

"Leha?" Sosok lelaki tinggi menyapa Leha.


"Pak Daru?"


"Kamu mau kepantai?"


"Yaelah, pake basa-basi lagi, ya iyalah ke pantai" Sara menanggapi dengan wajah ketusnya. Ia merangkul ketat Leha. Kakak iparnya.


"Hush! Iya pak, Pak Daru mau ikut?"


"Boleh?"


"Ya ayo Pak, Mumpung gratis" Leha terkekeh.


"Pak Daru?" Suara Isak dibelakang mereka. Disana juga ada Nalen yang menatap Daru dengan tatapan datarnya. Isak mendekat pada Daru, sedangkan Nalen tersenyum mengejek pada Leha.


"Pak Isak, mau ke pantai juga Pak?"


"Iya mau jalan-jalan,"


Mereka jalan bersama, Sara sudah mendahului mereka. Ia malas dengan seseorang yang terlalu basa-basi seperti Daru.


"Mau ngapain kamu ke pantai? Jangan bilang mau berenang? Atau mau mikat bule-bule? Atau Bang Isak? Dengan badanmu yang kayak bocah esde itu? Ngayal kamu!!" Ucapan julid lambe Nalen emang bikin tangan Leha gatal.


Pengen Gua tonjok itu congor laki apa jejadian!


"Pak Nalen? Shut your congor up!" Melengos, Leha pergi menyusul Sara yang sedang melakukan pemanasan.


Di sana ada berderet warung-warung yang menyewakan board surfing juga pelatihan cepatnya.


Sara sudah berdiri di depan salah satu warung itu. Wanita itu berbincang dengan salah satu lelaki dengan kulit kecoklatan dan kacamata hitam.


"Sara kamu bisa Surfing?"


"Ya lumayan"


"Kau mau aku ajari kakak ipar?"


"Mau banget"


"Sebentar aku tanya temanku dulu, apa dia masih punya papan surfing untuk pemula"


Leha mengangguk, Isak, Daru dan Nalen. Sudah berada di samping Leha.


"Kalian mau surfing? Kamu bisa?" Isak bertanya.


"Nggak. Tapi Sara mau ngajarin Pak" ucap Leha antusias.


"Sara? Pasti kamu diserahin sama Dion"


Sara dan lelaki berkulit eksotik itu mendatangi Leha.


"Leha ini kenalkan Dion, dia yang bakal ngajarin kamu, dia juga orang Indonesia, warga Bali dia"


"Halo aku Leha, bentar Ra, Katanya kamu yang mau ngajarin aku?" 


Leha menatap Sara yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Orang kayak dia mana mau sabar, ya nggak mungkinlah, apa lagi ngajarin kamu yang yaaa … "


Nalen melipir duduk di tempat yang disediakan oleh warung surfing milik  Dion. Leha menatapnya dengan aura membunuh yang kental.


"Kamu nggak nyaman kalau aku yang ngajari?" Dion bersuara, rendah dan dalam. Leha melemparkan tatapannya pada Dion.


"Ng-nggak, ayo sekarang,"


Leha kembali antusias. Isak  melangkah ke dekat Nalen dan Ia melonjorkan kakinya pada bangku santai itu. Sedangkan Daru ia berjalan-jalan dipinggir pantai.


Leha belajar dengan serius, ia mendengarkan dengan seksama. Apa yang Dion arahkan. Kapan lagi ia mendapatkan pengalaman baru seperti ini.


Leha memang orang yang seperti itu. Selalu penasaran dengan apapun. Makanya saat ia bekerja serabutan, ia belajar banyak mengenai kehidupan. Juga pengalamannya tak bisa dikatakan sedikit.


Salah satunya catering untuk ibu hamil yang ia lakoni bersama saudaranya, Mpok Jana. Walau ia batasi pelanggan yang ingin berlangganan. Karena Leha masih belum percaya diri.


Ia sadar masih awam dan masih belajar, walau banyak dari mereka juga menganjurkan Leha untuk membuat catering diet dan sebagainya.


Leha hanya mengiyakan, Masalahnya Leha bukan orang yang ahli dalam bidang pergizian.


Ia hanya seorang driver yang kebetulan ingin membantu sekelilingnya saja saat itu. Juga pengalamannya menjadi asisten, dulu ia sering menjadi asisten dosen saat kuliah.


Dan untuk sekretaris, ia pernah beberapa bulan menjadi sekretaris sementara, ditawari oleh mertua dari wanita hamil yang ia bantu. Jadi untuk OB Leha memiliki banyak keahlian.


"Kamu siap? Kita kan masuk air"


"Siap" jawab Leha.


"Bawa board mu"


"Oke siap"


"Yash couch!"


Dion berdiri, Leha hanya sebatas dada lelaki itu. Ia menepuk kepala Leha, gemas. Pipi gembul Leha memerah karena panas matahari.


Isak dari kursi malasnya melirik lurus pada kedua orang di kejauhan sana dari balik kacamata hitamnya. Lirikan menghunus kepala Dion.


"Pinter juga tuh pendek cari perhatian" Nalen juga ikut mengawasi. Nalen ingin mencari cela untuk menyerang Leha nanti.


Leha berada di dekat pantai. Ombak menggulung di lautan, membawa air laut ketepian. Leha menegang. Adrenalinnya serasa dipacu.


"Lepas jaketmu, kau menggunakan baju renang kan?"


Dion melirik jaket kebesaran yang Leha pakai. Leha hanya mengangguk. Pikirannya ia akan menghantam kan tubuhnya pada ombak-ombak itu. Serasa ombak yang menggulung tinggi itu adalah temannya. Belum, Leha belum akan sampai sana.


Ia akan belajar dipinggir, ia akan melakukan pdkt pada laut yang terlihat bersahabat di permukaan itu. Leha melihat Sara yang dengan lihai membelah ombak.


Leha kembali melakukan pemanasan. Ia melompat ditempat. Setelahnya ia melepaskan jaket oversizenya.


Pakaian renang two piece berwarna hitam menutupi dirinya. Bagian dada juga bawahnya. Melekat sempurna pada tubuhnya yang mungil. Layaknya baju renang itu diciptakan untuk tubuhnya.


Mata Isak melebar, begitu juga Nalen yang tidak menyangka, sesuatu yang indah tersembunyi dibalik jaket oversize itu. Ia teringat ejekannya pada Leha menyamakan Leha dengan bocah Esde.


Isak beranjak dari tempatnya. Wajahnya mengeras, ia melepaskan jaket yang ia kenakan, Nalen menatap Isak tak percaya. Apa yang akan abangnya itu lakukan?


Daru pun harus berulang kali meneguk saliva nya. Tapi matanya tak bisa teralih dari Leha. Dan membuat wajahnya memanas. Daru lelaki normal, melihat orang yang ia sukai menggunakan pakaian yang terlalu terbuka ya tentu saja tubuhnya bereaksi.

__ADS_1


"Wow kau seksi" Dion bersiul. Ia pun tak menyangka.


"Tapi sebaiknya lain kali kau pakai wetsuit saja"


"Hah kau bicara apa Couch!"


Dion hanya tergelak, Leha tidak mendengarkan dirinya, wanita itu terlihat antusias juga merasakan tantangan.


"Lihat aku, nanti kau ikuti ya" Leha mengangguk, ia mendengarkan dan memperhatikan Dion yang membuat contoh untuk Leha.


"Sekarang cobalah" Leha kembali mengangguk. Ia melompat beberapa kali, Leha mulai melangkah.


Greb!


Bluk!


Kain menutupi kepalanya. Tangannya ditahan, dan papan surfingnya yang ia bawa terjatuh. Matanya menangkap warna kain yang menutupinya. Ini adalah jaket yang dipakai Isak.


"Hei! Apa-apaan enih!"


Lelaki itu melepas rekatan pada kakinya. Lalu menggotong Leha layaknya karung beras di pundaknya. Leha meronta. Ia tahu siapa pelakunya, walau ia tak bisa melihat tetapi dari wangi parfum yang lelaki itu gunakan ia tahu.


"Bapak, turunin Leha Pak! Hei kenape dah si bapak nih?"


Leha menggebuki punggung.


"Bapak apaan dah!"


"Bapak! Turunin Leha sekarang atau Leha teriak!" Leha mereog.


"Kamu dari tadi sudah teriak."


"Bapak! Mau bawa Leha kemana? Leha mau belajar surfing!"


Klek!


"Ark!"


Brak!


Leha susah Isak turunkan dengan cara wanita itu dilempar pada ranjang empuknya.


Klek!


Leha melepaskan jaket yang menutupinya. Ia mendapati Isak yang mengunci pintu, kemudian dengan wajah dingin, rahang lelaki itu mengeras.


Leha beranjak dari ranjangnya. Lalu mendekati Isak. Ia ingin kembali ke pantai. Ia melewati Isak dan ingin membuka pintunya. Tetapi pintunya terkunci dan Leha tidak menemukan kuncinya.


"Bapak Buka! Mana kuncinya! Leha mau keluar! Duh jaket Leha ketinggalan dipantai lagi! Bapak buka, pintunya! Dion sudah nungguin Leha! Biar Leha minta nomernya Dion dulu,bapak, nanti kalau luang Leha bisa hub—"


Bruk!


Bibir Leha dikunci dengan sesuatu yang lembab, hangat dan basah. Mata wanita itu bergetar. Tubuhnya kaku. Tangan Isak meraih pinggang Leha. Menariknya lebih mendekat dan lekat pada tubuh Leha.


"Hanya Saya yang boleh lihat!" Desis suara serak Isak dikuping Leha.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2