
3 hari menjelang pernikahan. Leha datang ke kantor Isak. Menunggu dengan jari saling menaut. Cemas.
Tak lama,"Sayang" suara girang Isak. Leha digiring masuk dalam ruangan Isak. Wajah Leha terlihat kaku. Tak biasanya.
Namun Isak merangkul Leha. Didalam ruangan dengan perlahan Leha melepas rangkulan Isak ia duduk di sofa.
"Sini, jangan jauh-jauh" ucap Isak dengan meraih lengan Leha dan menarik perlahan mendekati dirinya.
Leha nurut. Ia duduk disamping Isak. Lelaki itu melancarkan rayuannya. Senang mendapati Leha segelah ia menyelesaikan meeting yang melelehkan.
"Bang, Leha mau ngomong serius"
"Apa?" Isak mejelajah ke leher Leha. Leha mencari kekuatan dengan menautkan kedua jemarinya. Ia mengatur nafasnya agar bisa menahan tangisannya nanti.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita" ucap Leha. Sedang kan Isak terus menelusup pada leher wanita itu. Hening. Diam.
Isak pikir Leha hanya bercanda. Keheningan yang lama, membuat Isak manatap Leha nyalang.
"Bilang ini bercandaan!" Desisnya. Ia memegang bahu Leha. Dan menghadapkan padanya. Leha menggeleng. Isak menatap ada kekecewaan dalam mata bening istrinya itu.
"Kenapa?" Ujarnya lirih, ia menunggu Leha membuka mulutnya. Ada apa dengan istrinya. "Leha mau membebaskan Abang" ucap Leha tak kalah lirih.
"Hah?! Maksudmu? Membebaskan?"
"Ini cuma Leha saja, Leha lelah dengan semuanya" ucap Leha yang masih tidak Isak terima.
"Lelah? Apa salahku?" Leha menggeleng lagi.
"Ini bukan salah abang, abang berhak bahagia, dan Leha … Leha—"
"BAHAGIA? AHAHAHA … KAMU SEDANG MEMPERMAINKAN PERASAANKU?"
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MEMBATALKANNYA!" Bentak Isak. Isak meremas bahu Leh dengan kencang. Ia ikut tersulut emosi. Apa kata perempuan itu? Membebaskan, bukan salahnya dan apa tadi perempuan itu bilang lelah?
"Aw!" Isak yang seakan sadar telah menyakiti Leha segera mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Leha, maaf, Leha Abang tidak sengaja" ucapnya ia meraih tangan Leha dan menggenggamnya. Leha hanya menggeleng.
"Apa salah Abang, Leha? Kenapa?" Suara Isak melirih.
"Leha bebaskan Abang memilih cinta abang, Leha mundur dengan Ikhlas, Leha ingin setelahbini abang meraih bahagia abang dengan Mbak Bita" ucap Leha. Isak menatap Leha dalam.
"Bita? Apa hubungannya dengan Bita? Kamu kalau mau pisah jangan membawa orang lain, Leha" ucapan kasar Isak, Sekali lagi hati Leha seakan remuk. Melihat bagaimana Isak membela nama Bita.
Wanita itu menghela nafasnya panjang. "Leha tidak membawa nama lain bang, hanya memang Leha merelakan abangndengan Mbak Bita, Leha tahu abang belum sepenuhnya mencintai Leha. Tapi Leha masih manusia yang ingin perasaannya timbal balik dengan pasangan dan abang tidak bisa itu"
"Abang bisa, kasih abang waktu Leha" ucap Isak ia tidak menutupi jika ia pikir jika saat ini perasaannya pada Leha hanya sekedar sayang. Untuk cinta ia belum yakin. Karena saat Bita memintanya. Ada rasa bahagia diujung hatinya. Dan itu menandakan ia belum sepenuhnya melepas Bita, bukan?
Dasar Bren gsek! Ia memang baji ngan! Tapi ia tidak ingin Leha meninggalkannya. Egois.
"Tolong Leha bertahan sebentar lagi oke?" Isak meraih kedua tangan Leha dan menyakinkan Leha. Matanya berkaca. Leha hanya menunduk menatap sepatunya.
"Sampai kapan Bang? Leha tidak ingin berbagi hati suami, mungkin kemarin sebelum ada cinta di hati Leha, Leha tidak peduli, tapi ini semakin menyakitkan, bukan lagi perasaan manis seperti sebelumnya." Ucap Leha dengan air mata yang menetes
"Dan awalnya Leha menegaskan pada diri Leha, jika perasaan yang abang ucapkan memang cinta sebenarnya, tapi ternyata itu hanya dimulut abang, sakit setelah Leha sadari hingga kini, perasaan itu bahkan belum ada dihati abang" suara Leha terbata, nafasnya tercekat, jantungnya diremas kuat. Ternyata semenyakitkan ini mengucapkan kesakitan pada sang pembuat sakit.
"Leha minta tolong, lepaskan Leha bang, Leha takut jika menunggu hingga Leha tua dan perasaan abang masih seperti semula. Leha hanya ingin dicintai, Maaf bang! Ini terlalu menyakitkan untuk Leha" Leha menangis tertahan. Ia memegangi kuat dadanya yang nyeri. Mencari kekuatan disana.
"Cukup Bang, Leha mau egois saat ini, Leha ingin sudahi sebelum hati Leha lebur tidak lagi tersisa, Maaf keputusan Leha ini, Semoga abang bahagia dengan Mbak Bita"
"Bita, Bita Bita, Kenapa dengan Bita? Kenapa kamu sangkutkan semua dengan Bita?" ucapnya dengan nada tinggi, Isak frustasi, ia mengacak rambut kasar.
"Karena bahagia abang ada di Mbak Bita bukan di Leha! Leha melihat sendiri jika Mbak Bita ingin bersama abang, bahkan mau menjadi yang kedua, tapi Maaf, Leha tidak bisa, lebih baik Leha yang mundur. Dan disana, Leha sadar jika disini, masih ada cinta untuk Mbak Bita" telunjuk Leha menunjuk keras dada Isak.
"Leha punya hati bang, dan rasa abang tidak cukup untuk Leha, Leha lelah, Maaf"
Leha menjauh perlahan dengan senyuman merekah. "Leha sudah berbicara pada Bunda dan Ayah. Mereka setuju, untuk abah, serahkan pada Leha, Leha tidak ingin meneruskannya lagi. Leha minta maaf, Leha mundur, Leha berhenti"
"Leha pamit ya bang, sehat dan bahagia selalu" Sudah selesai.
Isak untuk sesaat terpekur di tempatnya. Apa Leha merasa tersiksa dengannya? Apa ia begitu menyakiti Leha? Tunggu, apa ia tahu mengenai Bita? Tidak, Leha salah paham, Isak beranjak keluar, ia tidak melihat Rena di mejanya.
__ADS_1
Menekan tombol lift berkali. Hingga terbuka. Ia masuk. Isak berdoa semoga terkejar. Ia akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
Sampai di Lobby Isak tidak menemukan Leha dimanapun. Ia berlari menuju parkiran. Mengendarai mobilnya dan menuju rumah Leha.
Yang tidak Isak tahu Leha sedang perjalanan menuju bandara. Ada pekerjaan terakhir dari BoNus. Leha akan ke singapura. Sebelum cuti. Harusnya jika resepsi mereka jadi.
Setelah satu jam taksinya berjibaku dengan macet, Leha sampai. Ia menuju daerah keberangkatan.
Menunggu 5 menit, panggilan pesawatnya terdengar. Leha kembali menengok kebelakang.
Huh! Leha menghembuskan nafasnya kasar, drama sialaan! Mengapa ia berharap jika adegan bandara yang ada di drama-drama romantis itu akan kejadian padanya.
Drama siaalan! Isak Bren gsek! Umpatnya dalam hati.
Dengan memantapkan diri Leha masuk kedalam pesawat yang akan membawanya ke Negara Singa ikan itu. Selamat tinggal cinta pertama. Dejavu. Dulu Leha pun mengatakan itu saat ia kembali ke indonesia setelah berlibur ke jepang.
Leha telah memiliki rencananya sendiri. Ia pun telah mengatakan pada Hamid tentang mengundurkan resepsi. Ia belum memberi tahu tentang perpisahannya. Nanti Leha belum siap mendapatkan kemarahan sang Abah.
Bilang Leha pengecut dan kabur dari situasi. Ia lelah. Dan perlu sejenak menjauh. Nami juga telah menghentikan semua persiapan resepsi yang memang belum menyebarkan undangan.
Saat akan dibayar. Leha telah membayar semuanya lunas.
"Mantumu yang bayar kemarin"
Nami membatu. Nami merasa ada yang Leha tutupi. Leha memang tidak menyinggung Bita. Ia hanya menyinggung jika Isak tidak mencintainya. Dan pernikahan ini salah. Ia merasakan tatapan lelahbdan kecewa pada sang mantu. Tangisan syarat kekalahan juga kesakitan ikut menyayat siapa pun yang mendengarnya.
Itu sebabnya ia membiarkan sang mantu menjauh lebih dulu, masalah apa Nami tak tahu. Tapi ia memiliki insting jika Leha tahu tentang Bita.
Ia merasa ikut bersalah. Ia mengira dengan menutupi Bita. Leha akan lebih bisa fokus pada resepsinya. Tapi ternyata ia salah dan menjadi bumerang pada pernikahan sang anak.
Nami terpekur di ruang makan rumahnya. Suasana sendu, para pekerja merasakannya. Padahal sebelumnya majikannya bersemangat menyambut resepsi sang anak. Tapi setelah kemarin sang mantu datang. Suasana rumah menjadi suram.
Belum lagi si sulung yang kemarin datang dengan keadaan mabuk berat. Meracau dan mengamuk. Kejadian baru pertama kalinya si sulung yang terkesan tenang dan dingin menjadi seperti itu.
Dan pengumuman batalnya acara resepsi menjawab rasa penasaran pekerja di rumah itu atas suramnya rumah ini.
__ADS_1
Tbc.