
Leha mengajak Sari jalan-jalan malam ditemani Saipul. Mereka berpapasan saat Leha akan keluar gang kampungnya. Saipul sedang mencari kerang rebus. Untuk istrinya.
"Diana ngidam?"
Wajah Saipul mulai keruh. Ia masih belum siap jika sang istri hamil lagi. Duo kembarnya masih kecil. Juga biaya, Saipul memikirkannya.
"Nggak tahu Ha, Diana jadi uring-uringan mulu, ini gue juga mau mampir beli tespek"
"Terus kenape muke lu malah jadi mencureng begitu!" Leha menaikkan alisnya.
"Lu tau gue cuma ngegojek, biaya si kembar aje kadang elu bantu, gimana kalo ada lagi ntu anak gue di perut Diana"
"Lha elu pake kon dom kagak?" Sari menimpali, menatap Saipul merendah. Lelaki macam begini minta banget di gaplok!
"Yaaahh …" Saipul menyengir, senyumannya sumir tak sampai mata.
"Elu harus tanggung jawab lha! Maennya enak, kalo jadi ya elu empanin." Ucap Leha ikut jengkel.
Mereka melanjutkan mencari cemilan malam. Melihat orang berjualan di depannya, Leha akan berhenti dan membelinya.
Akhirnya mereka menemukan pedagang kerang rebus. Leha memborong semua kerang yang tersisa. Ia berikan dua kilo untuk Saipul tapi lelaki itu menolak. Ia akan membawa sekilo saja. Takutnya tidak akan istrinya makan lagi pula ia dan kedua anaknya alergi makanan laut.
Jadi sisa empat kilo Leha bawa pulang. Mereka akan pesta kerang hijau di rumahnya. Juga jangan lupakan jajanan yang telah ia beli sebelumnya.
Hamid tak.sanggup lagi ia kekenyangan. Dan sudah masuk ke kamar tinggal dua perawan yang masih terus mengunyah ditemani acara televisi.
Leha menyesap minuman dinginnya. Es kelapa muda, Dirasa tidak ada lagi tontonan yang seru mereka berpindah dengan laptop yang menayangkan drama korea. Setelah menonton drama korea di laptopnya. Leha kebawa baper. Lagi ia menangis tersedu.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba ia terbahak. Dan menggerutu yang tak jelas. Macam orang mabuk.
"Lu kenapa dah? Kalo ngantuk tidur aja biar gue beresin"
"Kagak! Dengerin gue! Huaaaaa sedih beut Sar, ini dada rasanya nyeriii hate ini bwaang"
Sroootttt …
Suara Leha mulai bindeng dengan hidung yang mampet.
"Inih nih tisu" mata Sari jijik melihat Leha menyedot ingusnya.
"Beneran lu putus?"
"Iyak! Lu tahu pan kita kayak bumi dan langit"
"Dia di bumi, gua dilangit-langit, huaaaaa …"
"Gimane lu bisa bayangin sekretek ape hati gue, merana karena cintaaahhh …"
"Liat aje gue akan setrong, gue bisa ngelupain nya huaaaaa … " cicitnya yang kemudian Leha menangis.
"Hati gue rasanya di cacah" Isaknya dengan air mata yang keluar deras.
"Ah iyak! Lu belon minta maap sama gua! Lu kok bisa kerjasama sama tuh orang! Lu butuh duit?"
Leha menengklengkan kepalanya ke samping menatap Sari yang diam dan terus mengunyah kerangnya.
__ADS_1
Sari sebenarnya menyesal, ia hanya iri dengan Leha dan dengan gelap mata ingin menyalurkan rasa ketidaksukaannya itu pada Leha.
Tapi ia memang tidak berpikir jika berkas-berkas itu sebegitu pentingnya. Ia memang bodoh.
"Ya gitu!"
"Ya gitu, ya gitu itu lu sama engkong-engkong tadi?"
Sari melengos. Ia membawa tumpukkan kulit kerang dan membungkus sisa kerang yang tak habis ke dalam plastik dan memasukkan ke lemari es milik Leha.
"Sana bebersih sana!" Ucap Sari yang membereskan peralatan makan kotor.
"Iye, iye, Baang Isaaaakk paling caem aku sukaaa awbang syuka sekaliiii" Leha berjalan sempoyongan dengan mendendangkan lagu dangdut, Sari hanya menggeleng melihat kelakuan Leha yang galau.
"Mendem kerang ntu orang?" Sari dengan cepat mencuci peralatan makannya.
Ia menuju kamar Leha dan melihat wanita itu telah tidur. Dari dengkurannya Leha sangat nyenyak.
"Baang Isak Jahat!"
Igaunya. Sari menarik selimut dan menutupi tubuh Leha yang tidur miring mengambil semua tempat tidur.
Sari meraih kasur lipat yang ada di pojokan ranjang dan menatanya. Ia menarik satu bantal dan selimut tipis, ia mulai merebahkan dirinya.
Matanya tak mau terpejam. Ia melirik Leha. Wanita yang ia jahati. Orang yang menganggapnya sahabat. Namun orang yang menyadarkan dirinya.
Mungkin esok Mama Rosmi akan memarahinya. Ini adalah hari pertama menjajakan diri. Tapi ia sudah terlanjur masuk dalam dunia ini.
__ADS_1
Sari membuang nafasnya kasar. Ia memulai memejamkan mata dan menjemput mimpi.
Tbc.