
Makan malam didominasi percakapan para wanita. Nalen yang biasa berbuat jahil pada Leha menjadi pendiam. Mereka melanjutkan untuk mengobrol dan Leha lebih memilih bermain dengan Onaldo.
Malam semakin larut Bocah gembul itu terlelap dalam pelukan Leha. Leha menyerahkan Onaldo pada sang ayah, Zain.
Ia menatap lelaki yang menggendong anaknya itu, lelaki tampan, mapan dan hot daddy. Lalu pandangannya bergulir pada dua sosok yang sedang bercengkrama hangat di lain sisi. Wanita itu. Wanita yang menjadi cinta pertama Isak.
Bita tertawa sangat cantik.
Ah memang dunia noh adil buat rakyat yang good looking. Hidup Bita sungguh sempurna. Anak lucu, suami tampan mapan dan penyayang. Mau apa lagi coba?
"Kenapa?" Suara yang Leha kenal. Nalendra Ibrahim.
"Dari sini aja kamu bisa liatkan muka abang, dia sebahagia apa itu disana"
Nalen menghentakkan dagunya ke tempat Isak dan Bita.
"Terus? Mereka kan sepupu" Ucap Leha ia masih lurus pada Isak.
Nalen terkekeh melihat kepolosan Leha yang membuatnya muak. Terlalu dibuat-buat.
"Ya sadar diri, kamu jauh dari tipenya, Mereka menghabiskan masa kecilnya bersama, Mereka mengenal baik satu dengan yang lain,"
"Teruuss? ... Memangnya, bisa apa kakakmu itu pada Bita? Mau merebutnya dari Zain? Kalau begitu, dia sudah gila!" Ejek Leha pada Nalen.
"Mungkin saja ... Bang Isak, bisa saja bertindak diluar nalar, kedekatan mereka tidak bisa begitu saja terhapus dalam semalam, bukan? Apa lagi cinta yang dipendam? Merebut ... Dia sangat bisa!"
Nalen menarik sudut bibirnya, membuat Leha menatapnya tajam.
Leha yakin Isak tidak akan melakukan hal yang akan membuat kecewa banyak orang, bukan?
"Tanpa kamu bilang, aku sadar, lagi pula kenapa kau selalu mengurusi hubungan kakakmu?"
"Lebih baik pikirkan tentang dirimu sendiri, aku dengar semua kencan buta untuk Bang Isak dialihkan padamu, dan ya, selamat mencari "tipe" mu disana!" Lanjut Leha sebelum beranjak keluar dari bungalow milik keluarga Ibrahim.
Membiarkan Nalen terdiam ditempatnya. Pikiran lelaki itu sekarang terfokus pada sang Bunda dan semua rencana kencan buta yang akan menanti dirinya.
Bungalow yang terdapat di kawasan Corniche, pesisir timur Qatar, Al khor. Berhadapan langsung dengan pantai yang terbentang luas. Leha sangat bersyukur dapat menginjakkan kaki di tempat seindah ini.
__ADS_1
Malam semakin larut dengan angin yang berhembus menyapukan udara dingin pada sekujur tubuh Leha. Deburan ombak terdengar semakin dekat. Seraya langkahnya menjauhi bungalow.
Ia sempat berganti pakaian sebelum makan malam. Mengenakan terusan tipis panjang semata kaki tanpa lengan. Kibaran kain tipis itu membuat dirinya kesusahan untuk melangkah. Mengusap bahunya, yang merasakan dinginnya angin menerpa pundak te lan jangnya.
Bulan terlihat jelas, bundar dan terang. Begitu juga bintang-bintang yang mengelilinginya tampak berkilau indah. Ia menapaki jalan taman. Jalur khusus yang diperuntukkan untuk pejalan kaki menuju pantai.
Leha melepaskan sandal bertali yang ia gunakan. Melepaskannya begitu saja. Ia menapakkan kakinya di pasir, merasakan kaki-kakinya yang tenggelam dalam pasir hangat.
Senyuman terbit di bibirnya. Sudah lama ia tidak bermain di pantai.
Terakhir kapan ya?
Otak Leha mencari momen pada saat ia dan seluruh keluarganya piknik di Ancol.
Saat akhir SMA nya dan Leha dinyatakan lulus masuk perguruan tinggi negeri. Sebagai hadiah, Abahnya menyewa dua buah angkot untuk memboyong keluarganya dan keluarga Uwak Hasbih, saat itu kedua kakak Leha masih tinggal dekat. Udin, juga Saipul pun ikut. Suasana menyenangkan. Momen ke pantai yang ia ingat.
Leha berdiri menghadap laut. Gelap, tak terlihat apapun. Ia tak mengerti tentang hatinya. Ia melihat cahaya kerinduan dan sayang yang begitu besar pada kedua mata Isak saat lelaki itu menatap Bita, Entah apa yang dipikirkan lelaki itu saat tangan Isak mengusap lembut perut buncit Bita. Leha tidak ingin tahu.
Apa semua ucapan Nalen yang tersirat itu benar? Jika Isak masih mengharapkan Bita. Dan bisa saja merebutnya dari Zain?
Dan jika Isak berbuat gila? Apa yang akan ia lakukan saat itu terjadi?
Belum lagi Abahnya selalu menyindir kapan Isak melamar dirinya. Juga ucapan Isak waktu itu, tentang melamar dan menikahi apa hanya ucapan di bibir lelaki itu saja.
Leha menendang-nendang pasir yang menenggelamkan kakinya. Kesal pada kemelut pada kepalanya, yang Nalen ciptakan padanya.
Si kunyuk satu ntu minta dihabeg emang! Sialaan!!! Runtuknya lagi.
Sebuah kain tebal tersampir pada bahunya. Leha menengok, ia bisa melihat wajah datar Isak.
"Saya kira kau sudah kembali ke kamar"
"Pengen coba jalan ke pantai malem-malem mumpung disini, nggak bakal jadi omongan. Coba di indonesia, ke Ancol, malem-malem, udeehh, langsung di kira mau me sum kita"
Tawa renyah keluar dari bibir Leha. Tawanya mereda karena tak mendapatkan respon dari sang lawan bicara. Leha menangkap binar sendu pada wajah Isak. Leha memberi waktu Isak untuk menyelami kesedihannya, hanya untuk waktu ini saja.
"Bapak pernah nanya ke Leha kenapa Leha bisa masuk ke grup chat dunia tipu-tipu kan?"
__ADS_1
Isak mengalihkan perhatiannya pada wajah Leha yang menatap kegelapan didepan mereka. Ombak menggulung dan menyapu kaki Leha.
"Leha menyalurkan rasa kesepian Leha disana Pak,"
"Memang, Leha punya Abah, Udin, Bang Saipul juga keluarga Uwak Hasbih, tapi Leha butuh tempat buat bebas melakukan sesuatu yang random. Apa ya? Itu lebih buat menyalurkan semua gunda gulana, Pak"
"Dengan mengobrol sesuatu yang random apa saja di dalam sana, Dan mereka akan menanggapi ke randoman Leha dengan ke randoman lainnya, seperti kerandoman Leha itu hal yang lumrah dan wajar"
"Mungkin itu untuk, emm … Menyenangkan diri Leha sendiri, Dan jika bapak perlu tempat seperti itu. Leha siap membantu Bapak"
Leha menunjukan deretan giginya. Angin menerbangkan rambut Leha.
"Atau Bapak mau Leha masukan dalam grup chat dunia tipu-tipu?"
"Nggak, Terima kasih banyak, kehaluan Saya tidak setinggi itu."
"Iish bapak! Bapak disana itu bisa jadi siapa aja yang bapak mau, misalnya, jadi suami mbak Bita, bener, Bapak nggak berminat?"
Leha menyondongkan dirinya pada Isak yang berada di sebelahnya. Wajahnya bwehadapan dengan wajah Isak. Binar mata Leha terlihat jahil, Wanita itu menaik-naikkan alisnya. Menggoda Isak.
"Dari mana kamu—" Mata Isak membola. Tak bisa berkata.
"Gimana? Mau Pak? Leha undang bapak ya, bentar." Leha mengambil ponselnya pada kantongnya. Ia membuka grup chat.
"Yah Bapak, sinyalnya nggak ada"
Leha mengangkat tangannya mencari sinyal ponsel. Ia memutar tubuhnya. Berjalan, dan kembali berputar terus mencari sinyal. Gaun tipisnya melambai terkena angin pantai. Alisanya menaut. Kesal dengan sinyal.
"Kamu nggak perlu undang Saya, tapi kamu mungkin bisa."
"Bisa apa Pak? Bapak ngomong sama Leha? Leha kagak denger"
Leha berhenti mencari sinyal, ia menatap Isak dengan kernyitan di wajahnya. Suara Isak teredam oleh suara gemuruh ombak yang pasang.
"Bagaimana jika Saya melamarmu? Kita menikah!" Suara Isak meninggi. Mereka saling menjeda. Leha menatap sorot keseriusan yang terpancar dari mata Isak.
"Bapak barusan lamar Leha?!"
__ADS_1
"Mana cincin? musik romantis? sama kembang apinya?"
Tbc.