Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 39


__ADS_3

"Saya penasaran, bagaimana gaya gibeng ala pitung itu?" suara berat, membuat Leha mendongak. Senyuman menyapa Leha di pintu pantry.


"Tuan Handaru?"


"Kamu itu, sudah di bilang nggak usah terlalu formal."


"Kan Tuan duluan yang ngajak Leha ngomong formal"


"Masa?"


"Iya tadi ngomong pake Saya-Saya" kekehan renyah terdengar dari lelaki itu.


"Tuan Daru mau kopi?"


"Boleh, satu gula satu krim"


"Satu krim"


Tawa mereka meledak bersamaan,


"Aku tersanjung" 


Daru merasakan kehangatan saat Leha mengingat takaran kopi kesukaannya. Perhatian yang melambungkan hati, angan serta harapannya.


"Tak perlu sungkan, kita saudara, Leha senang sekali Pak Daru, ketemu dengan orang sebangsa di tanah orang lain. Dan orang sebangsa adalah saudara sendiri."


Leha menepuk nakas pantry dan selesai kopi untuk Daru. Lelaki itu terdiam ditempatnya. Angan dan harapannya Leha jatuhkan tak lama melambung tinggi.


Lalu apa kabar hatinya? Mungkin ia harus berhati-hati, mulai saat ini Daru akan mendekati Leha, secara perlahan. Ia tak ingin membuat Leha menjauh, juga untuk menjaga hatinya agar tetap baik-baik saja.


"Ayo Pak Daru,"


"Oh ayo"


Mereka mengobrol ringan. Mengenai rasa rindu mereka pada kampung halaman, bumbu pecel yang lelaki itu kirimkan untuk Leha.


"Hyaaaakakakkaa"


Leha menengok ke arah ruangan Isak. Ia mendengar tawa bayi. Apa ia hanya halusinasi?


"Hbbbntrrrttt …"


"Hyahahahahkak"


Tak salah, Leha mengayunkan langkahnya semakin cepat. Ia melihat Isak mengendong buntelan gemoy.


"Ginuk 3 ontyyyyy"


Leha menyambar tubuh gemoy itu, setelah meletakkan nampan berisikan dua cangkir kopi.


"Ini, kamu urus Onaldo, Saya akan rapat dengan Pak Daru"


Isak menyerahkan tas dengan perlengkapan bocah gembul itu. Leha menciumi perut si bocah yang tergelak, geli. Leha sangat suka bau bayi yang wangi.


"Lho mbak Bita sama Pak Zain kemana pak?"


"Tadi Sara yang menitipkan Onaldo pada Saya, Zain sedang menemani Bita ke rumah sakit,"


"Oh, kamu sama onty yaa … yuuuukkk … "

__ADS_1


Leha akan membawa tas perlengkapan Onaldo, tapi Isak menahannya.


"Kamu mau bawa kemana Onaldo?"


"Ke tempat Leha pak, sekalian mau jalan-jalan sekitar rooftop, kan adem."


"Nggak! Disini aja, jangan sembarangan bawa dia keluar tanpa persetujuan Saya!" Pekik Isak membuat Leha terheran. Tampang si bos tampak kuatir sekali.


"Main keluar nggak apa kali pak, kan biar nggak bosen yaaa …" kembali Onaldo tergelak. Leha selalu bisa membuat si buntelan roti sobek itu girang.


"Nggak! nggak Leha! Kamu dengar perkataan Saya nggak! Diluar banyak virus! Nggak baik untuk bayi, ada polusi, panas juga!"


"Kemarikan pada Saya!"


Isak menatap nyalang pada Leha. Ia tidak akan membiarkan Onaldo di asuh Leha. Wanita serampangan itu meembuat Isak khawatir.


"Lho bukannya Bapak mau rapat sama Pak Daru?"


Isak mengusap kasar rambutnya, jika rapat dengan Mount High bukan rapat penting, Isak sudah membatalkannya.


"Setelah saya kembali, Onaldo akan bersama saya, dan jangan berani keluar dari ruangan saya, satu jengkal pun!"


Ancamnya. Leha merengut kesal.


"Eh, Bapak! Itu sekalian bawa nampannya, itu kopi bapak dan Pak Daru"


Isak melirik nampan berisi dua cangkir kopi. Ia membawanya dengan menghimpit berkas di lengan kirinya.


"Dengar kata Saya! Jangan berani—"


"Iya iya … Bapak Isak tenang saja, si ginuk-ginuk akan mulus tidak akan lecet sedikitpun" Leha memutar bola matanya malas.


Isak melangkah keluar ruangannya. Ia mendapati Daru yang berada di pintu masuk. Matanya melebar tapi hanya sekilas. Terkejut juga malu.


"Tuan Daru, sudah lama? Mari ikuti saya"


"Pak Isak sepertinya sibuk," ucap Daru dengan bahasa. Isak menatap Daru, Leha pernah mengatakan padanya jika Daru orang indonesia.


"Kau bisa bahasa? Maaf kalau anda harus melihat ketidakprofesionalan saya, Tuan Daru."


"Saya bisa, itu bahasa ibu saya, Pak Isak, juga anda bisa panggil Saya dengan Sebutan 'Pak' saja"


Isak meletakkan nampan, untuk sesaat ia menatap lama nampan dengan dua cangkir didalamnya itu.


Segila apapun Isak, lelaki itu tak percaya ia membawa nampan untuk tamunya. Isak menghembuskan nafasnya kasar. Bahkan ia dengan mudahnya menuruti ucapan Leha.


"Silahkan Kopinya Pak Daru" Isak mengulurkan cangkir kopinya untuk Daru.


"Bukan, cangkir itu milik Pak Isak, Saya yang ada krimnya ini,"


Isak melihat Daru menarik cangkir miliknya, dengan warna agak kecoklatan. Ia menatap cangkir miliknya yang lebih pekat.


"Saya lebih suka kopi yang manis dan gurih. Pak" lalu Daru menyesap kopi miliknya.


Daru menggunakan bahasa dengan Isak, saat rapat. Kemarin ia tak menggunakan bahasa karena ada Izil yang tentu bukan orang indonesia dan tidak bisa bahasa.


Rapat Isak dan Daru melewatkan jam makan siang. 


"Bagaimana jika makan siang bersama, saya jadi tidak enak Pak Daru."

__ADS_1


"Boleh, Tidak masalah Pak Isak, jadi kita tidak perlu berlama untuk menyelesaikan masalah yang ada. Saya cukup salut dengan ide-ide yang anda berikan. Dan semoga kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak"


Mereka saling berjabat tangan. Mereka melangkah ke ruangan Isak. Mengobrol masalah pekerjaan.


Isak membuka ruang kerja nya. Suasana temaram, Ia melupakan keberadaan Leha dan Onaldo. Jika sudah keeja Isak selalu begitu melupakan apapun yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Dan sering pula Nami mengomeli anak sulungnya itu.


Isak mengayunkan langkahnya pada sofa kulit. Ia menatap gundukan di atasnya. Isak mendapati Leha yang berpelukan dengan Onaldo.


Pemandangan yang menghangatkan hatinya. Isak mendekat. Ia berjongkok di depan kedua nya yang terlelap pulas.


Isak memandangi bocah gembul yang mengenyot jempolnya. Lalu mengulir pandangan pada Leha yang mendengkur halus.


Helaian rambut menutupi wajahnya yang tertidur miring. Tangannya melingkupi tubuh Onaldo.


Isak menjulurkan tangannya. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah bersih Leha. Mengusap pipi wanita itu perlahan. Sentuhan ringannya membangunkan Leha.


"Eh tunangan Leha sudah datang" ucap Leha dengan mengerjapkan matanya. Ia mengucek perlahan. Tak lama bocah gembul yang terlelap itu ikut terbangun.


"Ndaah"


Bocah itu mengarahkan tangan gembulnya ke wajah leha, dagu Leha basah terkena liur Onaldo.


"Eh Nak Bunda juga bangun"


"Bunda?"


"Iya dari tadi Onaldo bilang Nda, nda terus, Dan itu nggak mungkin Mbak Bita, kan dia maunya di panggil Mommy, terus Sara maunya dipanggil Mama, lha ndah, Ya pasti Leha pak"


"Ndaaaa … ndaah … ndaaaahyaaa … "


"Iya ini Bunda, terus ini Ayah, Yah Isak, coba bilang sayang? Ayah, ayah,"


Onaldo menatap tangan yang berlumuran liur itu saat Leha mengulurkan tangan mungilnya ke arah Isak. Menepuk-nepukkan perlahan ke tangan Isak.


"Ya … yaaaahhh yah hyaayayayaah …"


"Bagus! Iya sayang, ini Ayah Isak, Pintarnya Nak bunda, ya sayang"


Isak tersenyum lebar, ia mengangkat tubuh Onaldo, dan menciumnya bocah gembul itu sangat menggemaskan, Leha ikut beranjak, merapikan rambutnya, ia merasa ada yang menatap dirinya, menengok, tatapan mereka bertemu.


Laha menatap terkejut, sedangkan lawannya menatap dirinya. Sendu.


"Pak Daru?!" Pekiknya.


Isak menegok cepat. Ia melupakan fakta tadi dirinya mengundang makan siang partner bisnisnya itu.


"Keluarga kecil yang hangat"


Mata Leha berbinar. 


"Bapak, denger tuh, Aura kebapakan anak lima terpancar kuat dari Pak Isak, makanya segerakan, ini tunangannya di nikahi, ya kan Pak Daru?" ucap Leha malu-malu. Sambil menyenggol Isak berkali-kali.


"Maunya kamu aja itu!"


"Lha kok tahu, Mau Leha itu, makanya segerakan dong Bapaaakk" Leha menoel dagu Isak.


Daru melihat itu miris, hatinya terjerembab ke dalam lubang tak kasat mata. Hampa. Semakin melihat Leha yang menggodai Isak membuat hatinya tercubit. Ternyata ia keduluan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2