Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 49


__ADS_3

Ponsel Rena berdering,


"Iya Bang, Oh kebawa sama aku, aku? Lagi makan siang bang, di rooftop, bukaaan … Rooftop H, iya, udah kesini aja ambil sini"


Rena memutuskan sambungannya dan kembali menyuapkan gulai nangka. Rasa lembut nangka berpadu bumbu kuah kental mengikat nasi. Sangat nikmat.


Nikmat mana yang kau dustakan.


Ia menggigit tunjangnya. Rasa kenyal seperti jelly berbalut kuah gulai kental dengan warna kuning menggugah selera. 


Brak!


Semua mata tertuju pada pintu rooftop yang terbuka lebar. Disana muncul Isak. Ia terpaku pada pemandangan rooftop yang indah.


"Pak Bos!" pekik Enda.


"Udah dateng bang, ini lupa," Isak melangkah menuju Rena. Ia mengambil flashdisk yang tergantung di tangan Rena.


"Makan Pak" tawar basa-basi Daru. Ia menatap Leha yang menuangkan satu pitcher es teh ke gelas dan memberikannya pada Daru.


"Minum saja" Isak menggeser tubuh Rena yang berdecak, kesal.


Mau tak mau orang yang duduk di kursi itu merapatkan diri satu dengan yang lain, memberi tempat untuk Isak duduk.


Mereka tidak memiliki gelas kosong. "Pakai gelas mu aja … " ucapan Isak membuat mereka saling bertatapn satu dengan yang lain, Pak Bos ini suka ngomong setengah-setengah. Gelas siapa yang dia mau. Mereka saling mengangakat bahu dan menggeleng.


Rena dan Daru tahu maksud Isak. Leha tak peduli ia menengak es teh miliknya. Suasana semakin panas, tapi mereka terlindungi dinding gedung. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut-rambut Leha.


"Saya mau gelas Leha!"


Semua mata tertuju pada Leha dan mata Leha menatap lurus dan datar pada Isak. Leha mengulirkan matanya pada gelas miliknya.


"Masih Saya pakai Pak" Leha mengangkat gelasnya yang masih tersisa setengah.


"Tidak apa Saya bisa meminum itu"


"Ini bekas Saya Pak"


Isak menarik sudut bibirnya. Sepertinya Leha ingin mengajaknya buka-bukaan. Isak tidka takut.


"Saya bahkan pernah meneguk langsung dari bibirmu"


Isak mengulurkan tangannya dan meraih gelas Leha. Ia sedikit mengelus tangan Leha. Menyalurkan gelenyar aneh pada tubuh wanita itu.


Isak meneguk sisa es teh Leha hingga tandas. Lalu mengusap bibir kemerahan yang tebal dan …


Gila! Kenapa!


Membeku. Mata Leha melebar rahangnya mengetat. Rona mera menjalar dari pipi hingga telinga Leha. Ia tak tertegun dengan ucapan Isak. Dehaman terdengar di sekitar Leha.


"Yuk, balik kerja yuk! Jam makan siang kelar!" Ujang menepuk tangan. Memecahkan kecanggungan. Atas aksi Isak menggoda Leha.


"Mbak Dewi jadi bener Leha sama Pak Bos?"


"Hush jangan kenceng-kenceng"


"Jadi Sari bener ngebuang berkas?"


Suara sendu Nilam terdengar juga pada telinga Leha.


"Udah anterin aku ke toilet"


Dewi menggandeng Nilam, tanpa berkata Dewi tahu ada perang dingin antara Pak Bos dan Leha, untuk masalahnya apa ia tak mau tahu.


Nilam menurut saja. Rena ikut menyusul, lalu Enda dan Ujang, membawa sampah-sampah, dan terakhir Daru. Tanpa kata ia meninggalkan keduannya.


"Jadi sejak kapan Bapak tahu jika itu Sari?"

__ADS_1


Leha bertanya setelah dirasa teman-temannya telah pergi satu per satu.


"Hari itu juga"


Tak mungkin Leha tidak terkejut. Karena keesokan harinya Leha dimaki dan dihina oleh Isak.


"Dan buat apa kamu melakukan itu? Memaki dan menghina—"


"Maaf" kembali teringat semua makian dan hinaan yang Isak melontarkan padanya.


"Maaf?" Isak tersentak ia tak mengira tindakannya untuk membuat Leha jera, agar tidak membuat masalah ternyata sangat melukai Leha.


Tawa kering terdengar. Miris dan getir.


"Maaf Saya salah" 


Tatapan Leha kosong. Ia terdiam. Ini sungguh tidak bagus. Isak melangkah duduk di dekat Leha. Melihat Leha menghembuskan nafas kasar.


"Bapak … kita akhiri saja"


"Nggak!"


"Saya janji melamarmu!"


"Kalau gitu Leha tanya, Bapak masih cinta Mbak Bita?"


Jeda lama. Isak tidak menjawab dan itu menjawab pertanyaan Leha.


"Saya sedang berusaha membuang semua itu"


"Lalu perasaan Bapak ke Leha?"


"Saya nyaman. Saya nggak suka kamu dekat dengan lelaki lain! Dan nggak mau kita pisah."


Isak dengan berani meraih Leha dalam pelukkannya. Lelaki itu menyurukkan dalam kepalanya pada pundak Leha.


"Soal Sari maaf, Saya nggak mentolerir. Ia mengancam perusahaan dari kebangkrutan. Saya harus tegas. Agar tidak ada yang macam-macam dengan berkas saya."


"Abang tanya nggak alasannya apa dia berbuat gitu?"


"Kamu belum tahu kalau temanmu itu cemburu"


"Cemburu?"


"Cemburu kamu yang saya bawa ke Qatar"


"Hah?! Sari suka bapak?"


Isak hanya mengangkat bahunya. Leha tidak habis pikir. Ia pun tidak tahu jika Sari naksir Isak. Dan memfitnah dirinya. Ia memang belum bertemu Sari. Dan setelah tahu ingin sekali ia segera mendatangi Sari dan memukul kepala temannya itu.


"Terima kasih dengan semua catatan dan kopian yang kamu lakukan. "


Ponsel Isak berbunyi.


Isak tidak mengangkatnya.


"Pak itu Mbak Rena mungkin, bukannya Bapak mau rapat dengan Pak Daru"


Dengan ogah-ogahan Isak mengangkatnya.


"Halo?"


"Apa!"


"Sekarang bagaimana?"


Leha melihat Isak menegang, raut cemas tergambar jelas pada wajahnya. Leha menunggu hingga Isak selesai. Tapi Isak kembali sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Brak!


Rena masuk wajahnya tak kalah cemas seperti Isak. Ada apa sebenarnya. Mata Rena mulai muncul genangan bening.


"Mbak Rena ada apa?"


Tangis Rena ambyar. Rena menarik Leha dan memeluk wanita itu erat. Tangis yang membuat Leha semakin panik.


"Kenapa?"


"Bunda … "


Satu kata yang membuat kaki Leha ikut lemas. Ada apa dengan Bunda? Rasa ingin ikut menangis ia rasakan. Leha terisak. Bingung cemas dan gelisah menjadi satu.


Leha mengusap matanya. Ia menghirup udara, hidungnya mulai tersumbat.


"Mbak Rena duduk dulu" Leha memapah, suaranya sudah bindeng. Es teh masih ada, Leha menungkan ke gelas entah bekas siapa. Dan memberikannya pada Rena.


Rena meneguk cepat. Ia terlalu syok. Air matanya masih mengalir deras. Isak berjalan panik dengan suara meninggi.


Leha tak mengerti percakapan yang Isak lakukan. Leha menuangkan es teh ke gelas miliknya. Menunggu Isak selesai dengan ponselnya. Leha mendekat dan memberikan minum pada Isak.


Dan mendudukkannya di sebelah Rena yang masih terisak. Isak meneguk. Ia meraih pinggang Leha. Membenamkan kepalanya ke perut Leha. Erat. Sangat.


Leha perlu tahu. Tapi ia menunggu kedua orang didepannya ini tenang. Leha hanya berdoa agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Dan semoga saat Leha mendengar kabar itu. Ia bisa kuat. Walau dirinya agak ragu melihat Rena yang tersedu juga Isak yang lemas.


Krek!


"Ada apa?"


Daru datang. Melihat Rena yang masih terisak. Dan Isak yang memeluk Leha. Pasti ada sesuatu terjadi. Ponsel Daru bergetar. Izil menelponnya.


"Kau ada di Lewi Crop?"


"Keluarga Isak tertembak."


"Maksudmu keluarga?"


"Ya kantor mereka diserang, dan baku tembak disana, beritanya heboh."


Daru melebarkan mata. Menatap kedua orang yang lemas itu. Leha menatap mencari jawaban pada Daru yang ikut bungkam.


Elusan Leha menenangkan Isak. Lelaki itu mendongak. Leha tersenyum dengan memainkan rambut Isak dan menyampirkan ditelinga lelaki itu.


"Bu-bunda … dan Nelen tertembak dan Ayah tidak sa-sadarkan diri. Saya de-dengar Sara hiteris. Tunangan Sara yang menghubungi"


Leha mengegang. Rengkuhan Isak mengerat. Tangisannya mengucur. Suara lelaki itu bergetar dan lemah.


"Saya harus gimana?"


"Sekarang mereka dimana?"


"Mereka sedang terbang kemari, tapi Bunda belum siuman"


"Mbak Rena, Kapan perkiraan datangnya? Buka pintu khusus dan tunggu dengan ambulans." 


"Nanti Tengah malam"


Rena mengusap matanya. Ia tidak boleh terus menangis. Dengan gesit Rena melakukan tugasnya. Ia sudah keluar diikuti dengan Daru, ia merasa Rena membutuhkan bantuannya.


"Bang Isak! Ayo jemput mereka kamu kuat dan bisa! Leha ada disini dan tetap disini" Leha menangkup wajah Isak. Menghapus air mata. Dan mengecup bibir Isak.


Isak merengkuh Leha dan memperdalam ciuman mereka yang menjadi lu matan. 


"Terima kasih Leha" Isak menyatukan dahinya dengan Leha. Senyuman manis Leha sebagai jawaban Isak.


 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2