
Leha sudah mengenakan pakaian pinjaman dari Nami. Rambutnya sedang dikeringkan menggunakan hairdryer. Isak mengeringkan rambutnya.
"Saya aja pak"
Leha tak enak, semua mata tertuju padanya. Juga ada Nalen yang juga sudah mengganti pakaiannya dan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Diam!"
Leha kembali menarik tangannya.
"Abang ish! Bund anggak suka ya kamu.jahat gitu sama istrimu"
"Bund, dia bukan istri abang!" Nalen yang menjawab.
"Dek! Kamu itu jangan bercanda! Jelas-jelas tahun lalu abangmu itu menikah dengan Leha lho! Bunda sendiri yang minta Ayah buat ke indonesia" ucapnya.
"Bunda makasih ya bunda udah siuman" Leha melangkah mendekati Nami. Ia menangkup pipi ibu mertuanya yang hangat. Lalu memeluknya erat.
Dokter mengatakan bisa saja Nami mengalami amnesia. Dan mengingat apa yang ingin ia ingat. Karena trauma pada kejadian penyerangan yang keluarga Ibrahim alami.
"Iya sayang, Bunda sayang harusnya terima kasih sama Leha, waktu itu Bunda denger Leha manggil-manggil Bunda. Abis itu ada cahaya terang yang mengajak Bunda buat melihat Leha yang melambaikan tangan juga ada keluarga bunda di samping Leha."
"Bunda nggak jadi ikut cahaya tapi menyeberang ketemu kalian."
"Terima kasih Bunda datang ke kita" ucap Sara ikut meneteskan air mata.
Leha dan Isak menunggu di kamar Nami, sedangkan Sara menjaga Nalen juga Ayahnya.
Teriakkan Nalen membuat Sara yang baru keluar kamar mandi mencari keberadaan Nalen yang tak ia temukan.
Menyusul ke tempat Bundanya berada. Ternyata Sara di kejutkan dengan teriakkan Leha dikamar mandi.
Isak yang asik bergelung melanjutkan tidurnya begitu juga Nami yang tertidur tidak menyadari kedatangan Nalen yang ingin meminjam kamar mandinya.
Nalen pun tak tahu jika Leha sedang menggunakan kamar mandinya. Dan kejadian Nalen mendapat semprotan dari Leha juga Nalen yang melihat Leha dengan keadaan hanya menggunakan handuk membuat Isak meradang.
"Aku mana tahu ada yang mandi!" Nalen terus membela dirinya.
"Ini masih tengah malam dan kau mandi!" Nalen menyalahkan Leha.
"Bukannya di kamarmu ada kamar mandi? Mengapa kau kesini?"
"Sara menggunakannya. Dan aku kebelet! Mana ada pikiran, lagipula dia nggak mengunci pintunya" Ucap lelaki itu kembali menyalahkan Leha.
Leha menatap Nalen dengan tatapan kesal dan jengkelnya. Isak pun menatap kesal pada adiknya itu. Ia tak rela Nalen melihat kulit mulus Leha.
Rambut Leha telah kering. Isak menyerahkan hairdryer ke Nalen.
"Pakai ini"
Nalen mengulurkan rambutnya. "Nih keringkan!" Isak menarik tangan Nalen dan memberikan hair dryer panas ke tangan Nalen.
__ADS_1
"Auh! Dasar pilih kasih!" Gerutu adiknya itu. Nalen mengambil tempat di samping Leha. Lelaki itu menghidupkan hair dryer nya dan mulai mengeringkan rambutnya. Sara mengambil hair dryer dari tangan Nalen yang kesusahan. Luka tembaknya masih nyeri. Dan Isak tega sekali.
"Terima kasih adikku tercinta" berucap manis yang menggelikan bagi Sara. Dan melirik menyindir ke Isak yang temtu tidak di pedulikan.
***
Leha sarapan bersama Isak, Nalen dan Bita. Wanita itu membawakan sarapan untuk keluarga Isak.
Mereka sarapan dalam diam. Leha juga tidak begitu merasakan lapar. Setelah mandi tadi ia telah membuat coklat hangat dan memakan roti dengan selai srikaya itu masih membuat kenyang.
Melihat nasi uduk tidak membuatnya berselera.
"Aku membawakan sarapan khas indonesia" ucap Bita. Membuka percakapan. Wanita itu menyodorkan kerupuknya pada Isak.
"Ini krupukku, Lewi kau sangat suka kerupukkan aku masih ingat kau menghabiskan kerupuk milikku." Ucapan Bita membuat Nalen tersedak. Dengan cepat meneguk minuman Leha.
"Eh!" Pekik Leha melihat teh hangatnya direbut.
"Hik!" Bahu Leha terangkat. Sangking kagetnya Leha ikut cegukan.
"Hik! Ssss … "
"Kau harusnya memesan minumanmu!"
Isak mendorong minumannya pada Leha yang menggeleng. Menolak minuman Isak. Leha masih mengharap Nalen mengembalikan minumannya. Tapi lelaki tak tahu malu itu menghabiskannya tanpa sisa.
"Minumlah saya tak mau kau mati tersedak!" Leha melirik tajam pada perkataan Isak yang pedas.
Lalu wanita itu meraih teh hangat Isak. Dan tak berapa lama cegukan Leha mereda.
Ditengah Leha meredakan cegukan ucapan Bita membuat kecanggungan kembali terasa bertambah di meja mereka.
"Leha kau dan Nalen cocok sekali, ya kan Lewi, mungkin kalian berjodoh" ucap Bita ringan dengan kekehan dan senyuman yang terlihat manis juga lugu atau bodoh? entahlah. Dan mereka bertiga menatap Bita tak percaya.
"Mungkin jika aku berjodoh dengan Leha maka aku yang menikahinya, bukan abangku, lagi pula kau ini bertindak lugu yang malah terlihat bodoh!" Nalen beranjak nasi uduknya hanya disentuh sedikit.
"Nalen!" Bentak Isak. Suara tinggi Isak mengagetkan Leha.
"Makan rumah sakit sepertinya lebih cocok untukku." Ucapnya setelah membuang bungkus nasi uduk miliknya dan pergi menjauh. Leha menatap raut wajah Isak yang mengeras melihat kelakuan Nalen yang tidak sopan.
"Mbak Bita Leha pamit ya, makasih sarapannya, ini Leha lanjutkan dikantor saja, permisi" Leha beranjak langkahnya akan menjauh namun Isak mencekal tangannya.
"Saya antar."
"Tak usah pak, Leha bisa berangkat sendiri" Leha melepas cekalan Isak. Cekalan lelaki itu lepas tapi menjadi menagkup jemaei Leha. Isak menggandeng erat tangan Leha.
"Ta, kau ingin menjenguk Bunda kan? Ayo bersama" ucap Isak. Tanpa melepas tangannya ia meraih kotak bekal yang Bita bawa. Kapan lelaki itu menghabiskannya.
"Eh i-iya, tunggu sebentar Lewi aku belum selesai makan, bisa tungguin aku lebih lama" pintannya, bukannya ia tak tahu malu, tapi biasanya Isak akan menurutinya. Bita menunggu respon Isak.
"Maaf Bita, kau lanjutkan di kamar Bunda saja, aku ingin mengantar Leha"
__ADS_1
"Bapak temani Mbak Bita, Leha bisa berangkat sendiri pak"
Leha mencoba melepas genggaman Isak yang semakin menautkan antar jemari yang dengan Leha. Memperlihatkan tepat di depan wajah Leha.
Menegaskan jika Leha tidak bisa membantah dirinya. Leha tersenyum kecut. Begitu pula dengan Bita. Ia menghela nafas kasar.
"Iya tunggu sebentar, aku beresin dulu makanku" Isak menunggu melihat Bita merasakan kesusahan, lelaki itu pun tidak tega. Ia melepaskan tautan dijerari Leha dna membanti Bita, dan memapah wanita hamil itu.
Sedari awal Leha tahu Isak hanya pura-pura tidak peduli pada Bita. Dari genggaman tangan yang mengerat saat menjawab perkataan Bita membuat Leha tidak begitu bahagia dengan perlakuan Isak padanya tadi.
Semua tampak jelas di mata Leha bagaimana Isak yang dengan telaten dan lembut memapah Bita.
Leha dengan perlahan meninggalkan keduannya. Setelah sampai di depan pintu Nami. Leha membuang kesedihannya lalu membuka pintu.
"Pagi Bunda, sudah sarapan dan minum obatnya? Oiya Bun, Leha mau berangkat ke kantor ya Bun, ada urusan yang belum selesai" Ia hanya melihat Nami seorang diri dalam kamarnya. Namun suara guyuran di dalam kamar mandi, terdengar, menandakan Nami tidak sendirian.
"Disini aja temenin Bunda."
"Isak kemana? Izin aja ya sayang"
"Maaf Bun nggak enak sama orang kantor. Lemaron Leha langsung kesini, nggak pake izin, maaf ya Bun, janji besok Leha jagain Bunda ya,"
"Ya udah, tapi janji besok kamu nginep jagain Bundanya"
"Iya janji Bunda" ucapnya dengan mengangguk.
"Leha pamit ya Bun," Leha menyalami Nami. Lalu bergegas keluar ruangan. Leha mengambil jalan yang berlawanan dari Isak dan Bita.
Ia tak ingin Isak mengejarnya. Dan menjadikannya tameng, tapi memang hubungan mereka bermula hanya pura-pura.
Dan walaupun mereka tidak lagi meneruskan berpura-pura, tapi Leha hanua merasa semua ini mimpi. Sifat panas dan dingin Isak yang membuat Leha bingung dan memilih untuk mengakhiri semuanya.
Nami menatap punggung Leha yang keluar pintu. Nami mendengar tangisan menyedihkan Leha. Saat ia masih koma. Juga mendengarkan curhatan Isak yang plin plan. Sengaja ia memanggil Leha istri Isak. Karena ia tak akan membiarkan Isak menjadi duri dalam daging dalam pernikahan Bita.
"Lho Bun, mana Leha?" Isak membuka pintu dengan memapah Bita. Lelaki itu dengan telaten mendudukkan Bita di sofa.
"Sudah pergi" jawab Nami datar.
Klek!
"Mules Bun ternyata aku, mencret gitu. Minta dokter Gilang periksa, aku keluar dul … " Nalen melihat Isak yang sedang mengurus Bita.
"Yang sakit siapa? yang diurus siapa?" Sindir Nalen,
"Bun aku cari dokter Gilang dulu, kan disini sudah ada pasangan nggak bener ini Bun, Nalen keluar dulu ya"
"Nalen!" Hardik Isak. Nalen melenggang keluar.
"Habiskan sarapanmu" ucap Isak. Isak mengikuti Nalen, ia akan memarahi adiknya itu. Juga mengejar Leha.
Bita dan Nami di tinggal berdua, wanita paruh baya itu tidak berniat untuk mengobrol. Ia memejamkan matanya.
__ADS_1
Sedangkan Bita mengeluarkan air matanya dalam diam. Mood hamil dan ditambah hinaan Nalen membuat hatinya hancur berantakan. Wanita itu makan dengan tangisan yang membanjiri pipi tembamnya. Sakit.
Tbc.