
"Ada keperluan apa … ssshh … kalian kemari" ucap Hamid. Ia masih harus mengontrol rasa harunya. Saat ini acara lamaran anak bontotnya, kakak-kakak Leha belum bisa datang. Rencananya nanti akan hadir saat pernikahan.
"Kami kemari untuk melamarkan anak gadis bapak untuk anak sulung kami" ucap Ibrahim dengan senyum sumringah.
Begitu pun Nami yang masih menghapus air disudut-sudut matanya. Ini sebuah reuni dadakan dan penuh haru biru. Jika bukan karena Nalen yang memisahkan kedua bapak-bapak itu maka lamaran akan terlupakan.
Ia menentang tapi juga tidak mendukung entah lah biarkan itu urusan si kunyuk.
"Sebentar buat itu ane panggilkan anaknya, tapi nyang mana? Ane punya tiga orang anak? Dua lelaki dan satu perempuan nyang paling bontot? Ini mau ngelamar yang mane?" Kelakar Hamid untuk menjahili.
"Ya yang namanya Sholeha Badrun binti Hamid Badrun Bah" ucap Isak.
"Wah sudah hapal lu, udah siap ijab ini, gimana kalau sekalian di ijab aja, si Mpoknya?" Hasbih menanggapi.
"Betul, setuju" Nami menyela dengan keras.
"Ini dia Mpok Lehanya," Ucap Mpok Marni. Keluarga Ibrahim menatap Leha, semua pangling.
Leha duduk di samping Hamid. Ia menunduk malu-malu. Sedangkan Isak tidak bisa melepas pandangannya dari Leha. Ia begitu cantik di mata Isak. Leha mengenakan kebaya putih modern, dipadu dengan pasmina putih yang menutupi kepalanya. Sederhana namun cantik.
"Heh! Kontrol diri bang" ucap Sara yang terkikik, Leha mendengar teguran Sara pada Isak. Senyuman manis mengembang. Menatap Isak. Tatapan mereka bertemu.
"Mpok Leha,"
"Mpok?"
"Haduh gimana ini, kayaknya emang harus cepet ijabnya," Hasbih menyenggol Udin, ia berbisik pada lelaki itu yang lalu diangguki, si Udin beranjak dari tempatnya.
"Mpok nanti dulu, itu lamarannya dijawab dulu" hah! Leha plangak plongok.
Apa sedari tadi ia tak fokus?
"Jawab apa?" Ucapnya lugu. Semua orang yang ada di tempatpun terbahak.
"Bang coba ulangi ya, ini mpoknya mungkin konsentrasinya pecah, cepet-cepet pengen sahnya" lagi kelakar Hasbih. Kembali semua tertawa. Mau tak mau pipi Leha merona.
"Sholeha Badrun aku mau kamu menjadi pendampingku seumur hidupku, maukah kamu menerima lamaranku dan menikah denganku?" Semu menjalar di pipi Isak. Mau tak mau senyuman lebar tertarik di wajah Leha. Ia mengangguk.
__ADS_1
"Lho kok cuman ngangguk, dijawab Mpok"
"Iya Leha mau" jawabnya mencicit.
"Baik, jadi selanjutnya bagaimana ini kedua keluarga? Jadi langsung ijab?" Tanya Hasbih.
"Hah?" Leha terbengong. Ia menatap Isak, meminta jawaban dari ucapan Uwaknya. Namun lelaki itu hanya tersenyum yang tidak dimengerti Leha.
"Ane gimana baiknya aje, ikut keluarga besan" jawab Hamid.
"Lebih cepat lebih baik, tak perlu lagi menunda, agar tidak jadi fitnah" ucap bijak Ibrahim. "Benar jika kedua calon siap, saya setuju" Nami menambahi.
"Baik, pihak perempuan, bagaimana?" Menanyakan lagi pada Hamid.
"Baik segerakan saja" ucapnya final.
"Baik kita lanjutkan dengan ijab qabul setelah bada Ashar, sekarang kita menikmati makan siang yang terlambat ini" ucap Hasbih.
"Penghulunya, Gimana Udin?"
"Udin yang manggil, Bang Japra, katanya bada Ashar" Kusdi berbisik pada Hasbih. Udin sedang menunggu ijab kabul pengantin lain.
"Aku juga tak menyangka Mae … " Nami tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ada rasa rindu, haru juga kehilangan. Sahabatnya yang tak lama berkabar, ternyata lebih dulu menghadap sang pencipta.
"Dia bahagiakan? Lo nggak nyakitin sahabatku kan?" Tanyanya dengan air mata.
"Insyaallah dia bahagia, Nam, Him," Hamid ikut mengenang istri tercintanya itu.
"Kamu nggak makan?" Nalen membuka obrolan. Sedari tadi Bita diam. Ia masih tidak menyangka Isak akan langsung meng-ijab Leha.
Bita memang mencari penyakit. Harusnya ia tidak ikut. Bagaimana ia bisa membuat kebahagiaan di depannya itu hancur. Pandangan Isak ke Leha mengatakan segala peeasaan lelaki itu.
"Belum lapar" ucap Bita singkat. Ia bahkan bisa berbicara santai dengan Nalen, walau ada jantungnya lirih berdebar. Apa ini efek Nalen atau efek ijab Isak.
"Tapi kamu harus makan, karena mungkin kamu belum.lapar tapi si dedek, haus mungkin? Mau cendol? Atau es campur, tapi aku tadi nemu es selendang mayang, mungkin makan itu menyegarkan juga jadi kenyang?"
Nalen banyak bicara. Tak seperti sebelumnya, yang menjaga jarak.
__ADS_1
Disudut lain ada yang sedang memperhatikan interaksi keduanya. Sabrina, ia tersenyum miris. Ia lupa jika Nalen adalah adik Isak. Mantan terindah yang tak bisa ia lupakan.
Dan sekarang telah berbahagia dengan sang istri yang ia inginkan, mereka bahagia menanti bayi yang ada di kandungannya.
Sabrina menyingkir dari sana. Lebih baik melipir dulu, rasa sesak memang tidak sesakit dulu, tapi tidak Sabrina pungkiri, itu masih ada.
Sabrina melipir ke belakang, ke arah sawah menuju kandang bebek juga kambing. Mungkin ternak Hamid membutuhkan makanan. Karena Perdi juga absen hari ini.
Sabrina sering menginap dirumah Leha, kadang membantu Leha dalam bisnisnya jika ia libur. Disini ia merasakan kehangat keluarga. Ada banyak orang dirumah Leha. Ia suka.
Ia sering iseng ikut Perdi atau Sari ngangon, Leha juga masih melakukannya jika mereka sibuk. Dan kadang Sabrina dengan inisiatifnya ikut ngangon bebek atau kambing.
Healingnya tak perlu liburan mahal. Sawah dan ngangon kambing atau bebek, duduk di pematang sawah, bisa melepaskan pikirannya sejenak dari realita kehidupan yang memang melelahkan.
"Aku tak tahu kamu suka memelihara bebek?" suara rendah menginterupsi Sabrina memberi dedak pada bebek Hamid.
Sosok tinggi dan juga tampan melipat tangannya didada. Angkuh. Ciri khasnya sekali.
"Nalendra Ibrahim, apa kabar lama tidak bertemu mantan?" Ucap Sabrina. Dengan senyuman ala pembawa acara.
Dengusan terdengar dari si kunyuk. Karena setelah menyapanya Sabrina kembali berkutat dengan bebek-bebek itu.
"Sayang sekali, setelah kau beri dia makan, saat layak, kalian akan disembelih dan dikonsumsi" ucap Nalen yang kesal karena diabaikan oleh Sabrina.
"Nalen? Ugh disini bau" ucap centil Bita.
"Back to your princess, your majesty" ucap Sabrina berucap, saat Nalen menatap kedatangan Bita.
"Bukannya kamu Sabrina si pembawa acara gosip itu kan? Aku tahu, kamu lagi ngapain di sana?" Bita menatap jijik pada sekitaran kandang.
"Mas bawa mbaknya kedalam, disini berbahaya untuk ibu hamil," ucap Sabrina mengusir halus.
"Bita kenapa kamu kesini, jalanan disini licin, ayo aku antar ke dalam saja" ucap Nalen, ia melirik sengit Sabrina.
"Kau yang memutuskanku dan kau yang marah" ucap Nalen. Sabrina yangbmenyibukkan dirinya sedari tadi. Berdiri di tempatnya menatap punggung tegap yang menjauh itu. Punggung hangat tempatnya dulu ia pulang.
"Ternyata kamu masih tidak menyadarinya" Sabrina terkekeh miris. Mengeraskan rahangnya agar tidak menangis.
__ADS_1
Tbc.