
Leha bergelung dalam pelukan Isak. Ya mereka belum keluar kamar sejak pertama kali Isak mengajaknya ke hotel ini.
Leha menggeliat diatas tubuh sang kekasih. Ia menatap wajah Isak yang terlihat semakin tampan. Leha berbohong pada Sari jika Boba Nusantara mengajaknya mencari bahan diluar kota, jadi Leha tidak pulang. Menyesal. Pasti tapi Leha tetap nakal.
Leha menatap Isak dan menjulurkan tangannya. Ia memainkan bulu mata Isak. Hingga sang kekasih terganggu.
Leha cekikikan. Tak lama matanya teralihkan pada sesuatu pada jarinya. Sesuatu yang menyilaukan.
Leha mengambil tangannya dan memperdalam tatapannya. Ada sesuatu yang melingkar pada jarinya dengan kulit kecoklatan.
"Cincin" desis Leha.
"Hmn … "
Isak mengeratkan rengkuhannya. Menyurukkan kepalanya pada bongkahan kembar Leha.
"Bang?" Mengguncang bahu Isak, namun tidak ada respon.
"Baang!" Leha memukul bahu Isak kencang. Lelaki itu menjawab dengan gumanan.
"Ini? Cincin?" Leha membuka paksa mata Isak dan memperlihatkan cincin didepan matanya.
"Aw! Kamu apa-apaan sih?" Ucap serak Isak.
"Ini lihat!" Leha menempelkan tangannya di wajah Isak. Lelaki itu menatap Leha datar, menarik menjauh tangan Leha dan kembali masuk dalam belahan bongkahan kembar milik Leha yang ia sukai itu.
"Ini cincin kedua Bapak!" Pekik keras Leha pada Isak.
"Bang!" Ucap protes Isak.
"Ish Bapak nih kapan lamar temuin Abah dan Bunda Nami sama Bos Ibrahim?" Tanya Leha.
"Nanti" ucapnya teredam. Bibirnya tidak diam ia mengecupi daging kenyal milik Leha itu. Ia suka aroma tubuh Leha yang menenangkan. Rasanya kembali mengantuk. Leha tidak lagi heboh. Ia memandangin cincinnya.
"Abaaang, Lamar Leha ya"
"Hmn … "
"Janji?"
"Hmn … " Leha menautkan kelingkingnya dengan kelingking Isak. Memainkan jemari Isak.
"Abaang Leha cinta abang" bisiknya saat Leha merasa Isak sudah tertidur. Lalu Leha kembali memejamkan matanya. Bersamaan Isak yang membuka matanya. Mata Iska terlihat menerawang. Ia mencoba menelaah hatinya, apa ia sudah jatuh cinta pada Leha?
Kalau sayang, ia akan menjawab dengan lantang, ia sayang Leha namun untuk cinta Isak masih bingung.
Sebut saja ia bren gsek. Karena ia masih menyimpan sedikit rasanya pada Bita. Tapi ia tak memungkiri ia nyaman dengan Leha dan tidak ingin Leha meninggalkannya.
Apalagi dengan Daru-Daru itu. Tidak Isak tidak akan melepaskan Leha. Tidak akan pernah. Siaal! moodnya memburuk. Sudah seperti ini saja dulu. Kembali Isak memejamkan matanya. Menghirup lamat-lamat aroma tubuh Leha yang membuatnya tenang.
***
__ADS_1
"Bunda, Ayah, Abang mau ngelamar Leha" ucap Isak. Terlihat ada keterkejutan sesaat dari kedua orang tuanya.
"Akhirnyaaaa … " Ucap Nami dengan sumringah. Berbeda dengan Nami berkutat dengan kegembiraannya. Ibrahim menatap anaknya lekat.
Karena beberapa hari sebelumnya ia mendapati sang anak yang begitu perhatian dengan Bita.
Lalu saat ini mendapati Si sulung yang berkata melamar kekasihnya.
"Jangan aneh-aneh bang, kamu sudah siap?" Ucap Ibrahim. Ia tidak ingin anaknya mempermainkan pernikahan.
"Sebelum melangkah semakin jauh lebih baik kamu pikirkan dulu matang-matang."
"Ayah! Kenapa sih, udah kita jangan banyak mikir lagi. Bang, Leha itu memang jodohnya Abang, percaya Bunda" Nami melotot pada suaminya.
"Bukannya begitu … "
"Udah! Ini abang sudah mutusin, juga abang udah ngapain-ngapain anak gadis orang eh nggak lagi gadis, abang harus tanggung jawab. Masa mau enaknya terus ditinggalin" Dalam kepala Nami sudah menciptakan konsep-konsep pernikahan. Anak sulung. Harus besar.
Isak dan Ibrahim matanya melebar. Sang ayah menatap tajam anaknya itu.
"Bener bang?"
"Ya bener lah, anakmu itukan jomlo karatan jadi mana kuat disuguhi bodi spanyol Leha, masa anak gadis udah dijamah manja nggak tanggung jawab sih bang! Mau Bunda sunat lagi itu lato-lato"
Ucapan Nami membuat Isak menggaruk kepalanya tidak gatal dengan cengiran bocah.
"Abang, harus jaga Leha, jangan disakiti, saling jujur dan percaya" Ibrahim menghela nafasnya pasrah.
"Secepatnya" sela Nami,
"Besok" lanjut sang Bunda.
"Kecepatan Bun,"
"Ya harus kalau nanti Leha tekdung duluan kan kasihan, maka segerakan aja" ucap Nami. Bahagia membuncang dalam hati Nami. Akhirnya ia bisa menyatukan Leha dengan Isak. Nami mengambil ponselnya dan menghubungi Nalen dan Sara.
Sara menyambut dengan suka cita. Akhirnya ia satu pelangkahnya menghilang. Berbanding terbalik dengan Nalen yang tak percaya jika kakak sulungnya serius dengan si pendek.
***
Dirumah Leha ramai, Mpok Jana, Sari,dan Diana membantu memasak. Acara lamaran. Sedangkan para lelaki sibuk dengan menata kursi-kursi.
Setelah menghilang lama dari Abah akhirnya Udin kembali dengan tangisan. Ia merasa bersalah dan malu, padahal Abah belum tahu kelakuan Udin yang menipu Leha.
Abah yang didatangi Udin dengan tangisan pun bingung. Ternyata selama ini Ratu membohonginya, ia ditipu mentah-mentah. Uang lima juta hasil kerja banting tulang untuk membayar hutangnya pada Leha lenyap Ratu bawa kabur.
Mpok Marni, mengutuk Ratu tak sampai hati ia merasa dibohongi oleh orang yang udah ia anggap sodara sendiri. Makian dan cacian Udin terima.
Mereka tidak memaki Ratu tapi mengatai Udin. Bahkan Leha pun juga menjadikan Udin bahan buliannya.
"Kalau lagi seneng aje lu lupa sama gua"
__ADS_1
"Giliran ditinggalin lu nangis-nangis ke gua!"
"Dasar lu, temen cap kadal buntung!" Udon menerima umpatan Leha, Sari dan Mpok Marni. Karena kebodohannya. Ternyata selama ini Ratu masih berhubungan dengan mantan yang suka kdrt itu.
Dan mantan dna Ratu itu memang menargetkan Udin karena terlihat gampang di bodohi dan benar. 5 juta yang terlihat. Yang tak terlihat lebih dari itu yang Ratu ambil dari Udin.
Udin yang patah hati, merasa hatinya menghangat walau yang keluar dari mulut saudaranya ini adalah umpatan. Udin tahu itu umpatan sayang. Karena kebodohannya ia bisa ditipu Ratu dengan tampang cantik wanita itu.
"Leha ntu rombongan besan lu dateng" Leha yang masih dikamar didandani oleh MUA yang di sewa Sabrina itu menatap Sari mengintip dari balik pintu
"Busyeett … Ha, lu cakep bener kayak artis sinetron dah" Pekik Sari yang masuk kedalam kamar.
Sabrina ikut masuk ia tersenyum puas. Leha itu tanpa dandan aja manis, di dandanin gini bikin pangling.
"Makasih beb" ucap Leha. Sony mengerling, lelaki melambai itu, selalu memuji kulit Leha, bertanya bagaimana Leha merawat kulit mulusnya itu.
"Banyak-banyak minum air tajin waktu bayi" jawaban asal Leha. Yang membuat Sony kesal karena jawaban Leha yang bercanda itu.
"Ayo siap-siap"
***
"Sudah rapi Baaang" ucap Nami yang melihat Isak yang selalu menatap kaca. Entah mengapa ia menjadi segugup itu. Padahal hitungan kedekatan ia sudah dekat sekali dengan Hamid dan Hasbih.
Tapi mengapa sangat gugup. "Cieee gugup nih" Sara jahil.
"Ck!" Isak berdecak.
"Ini bang rumahnya?" Nami berucap. Mereka rombongan dengan tiga mobil. Mobil pertama ada Nami, Ibrahim, Isak, Sara dan Tunangannya.
Mobil kedua, Raka dan Rena, Mobil ketiga ada Bita dan Nalen. Wanita itu memaksa ikut. Sedangkan Harlan dan Yasir tidak ikut karena sedang mengurus BoNus di luar negeri.
Ibrahim dan Nami, Isak diantara keduannya. Masuk ke rumah Leha.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Selamat datang, Masuk - Ma—"
"Hamid?" Suara Ibrahim syarat kerinduan. Hamid mengulir matanya menuju samping kiri Isak. Sedari tadi ia hanya menatap Isak saja. Matanya melebar.
"Bun, itu Hamid, Hamid Badrun, Bun" ucap Ibrahim meraih tangan sang istri.
"Ibrahim, Nami?" Jawab lirih Hamid.
"Hamid, Ya Allah! Hamid, ini kamu Bang?" Ucap Nami yang matanya sudah mengembun. Ibrahim menubruk tubuh Hamid dan memeluknya kencang.
"Hamid kemana saja kalian?" Ucap Ibrahim ia memeluk erat Hamid dan Nami menepuk-nepuk bahu Hamid. Untuk sesaat mereka menangis. Mereka sahabat baik yang sudah lama kehilangan kontak.
Tbc.
__ADS_1