
Desas desus kembali menyebar, Leha ditugaskan di lantai D hari ini. Lantai divisi marketing dan pemasaran. Melangkah mendorong peralatan tempurnya Leha melewati Karlita dan gengnya.
Mereka sisa geng yang merundungnya, beberapa dari mereka hanya mendapat surat peringatan.
"Eh ada Leha, OB kesayangan jajaran atas perusahaan." Leha menatap Karlita dan para anteknya, mereka melihat Leha sinis dan jijik.
Leha hanya melemparkan senyumnya.
"Dasar Bisu lo ya!" Ucap salah satu dari antek baru karlita. Bagaimana nasib Rahmi, Pitri dan Ina, Pitri terbukti melakukan kekerasan tanpa surat peringatan ia langsung dipecat tak hormat.
Lalu Rahmi dan Ina dalang di balik pembuangan berkas yang Sari lakukan. Mereka bertiga langsung dipecat tak hormat.
Tinggalah Karlita, ia hanya mendapat surat peringatan, dengan menangis dan memohon untuk tidak dipecat. Dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Namun apa, janji tinggal janji, Karlita dengan sombongnya kembali membuli Leha. Saat ini. Wanita dengan sekutunya itu memandangi alat tempur milik Leha.
"Nggak diajari sopan santu lu sama ibuk lu! Kalau sama senior itu kudu hormat! Ngapain aja ibukmu itu!" Ucapan Karlita membuat emosi Leha meradang.
Ia meremas alat tempurnya, ia menendang sapu dan sapu itu jatuh ke kepala Karlita. Pekikan keras terdengar.
"Aduh Mbak Karlita nggak apa?" Ucap Leha yang dibuat-buat.
"Lu!" Teriaknya, tangannya sudah melayang ingin memukul Leha.
"Pagi Leha" sapaan terdengar dari belakang. Serombongan petinggi jalan melewatinya.
Karlita dengan cepat menurunkan tangannya. Ia melihat rombongan petinggi mendekati mereka. Ia menunduk menutup wajahnya dengan rambutnya.
"Leha bagaimana keadaan Ibu Nami?" Ucap salah satu petinggi. Kalau tak salah ia ketua dari tim keuangan. Pak Zainal.
Karlita melipir melihat kedekatan yang mencurigakan. Apalagi dengan Pak Zainal yang terkenal ketus pada karyawan yang tidak menonjol.
"Mulai membaik pak, mungkin beberapa hari akan diperbolehkan pulang," ucapnya.
"Bagus, titip salam ya, mungkin nanti kami akan menjenguk lagi"
"Iya pak" para rombongan itu pun ikut berlalu. Namun ada beberapa mata menatap geng Karlita dengan tajam.
Rasa takut menyerang Karlita. Ia tadi membuli Leha dan tak tahu apa para petinggi itu melihatnya atau tidak.
"Kalian sedang apa?" Tanya Wanda pada ke Karlita.
"Em ini mbak …" Karlita terbata.
"Kalau tak ada perlu kamu kerjakan pekerjaanmu atau mau saya beri surat peringatan lagi padamu Karlita." Ucap Wanda tegas.
"Jangan mbak! Saya kerjakan sekarang."
Karlita dan gengnya kembali mengerjai Leha. Tak kapok. Ia mengurung Leha di ruang cuci.
Leha duduk diatas tumpukan cucian kering kembali ia terlelap. Hingga suara jeduk dari kepalanya terantuk pintu, membuatnya terbangun. Dan Leha tidak membawa ponselnya.
"Auh!" Leha mengelus kepalanya yang nyeri.
"Eh mbak Leha." Suara Pak Min. Leha menatap mata senja itu.
__ADS_1
"Pak Min, akhirnya ada yang bukain."
"Kok bisa sih mbak,"
"Kagak tahu pak, Leha juga bingung ada aja yang iseng." Ucapnya Leha mendorong tempat kain-kain gorden.
"Ini udah jam pulang lho Mbak"
"Iya Pak Min, Leha lanjut besok aja,"
Leha menarik gorden kering dan melipatnya. Ia menatap jam dinding di ruangan khusus OB. Pukul 8 malam. Besok weekend dan ia berjanji akan menemani Nami.
Leha menguap layaknya maung.
Ia merenggangkan tubuhnya. Tangannya ke atas.
BRAK!
Pintu ruangan khusus OB terdorong dari luar. Leha melihat Isak masuk dengan peluh juga nafas tersengal.
Lalu memeluk Leha. Erat. Leha menahan nafasnya.
"Aku dengar dari Pak Min kamu kekunci lagi di ruang cuci?" Leha hanya mengangguk dalam pelukan Isak.
"Bapak lepas Leha nggak bisa nafas." Leha menepuk pelan tubuh Isak.
"Saya khawatir" ucap Isak dengan melonggarkan pelukkannya.
Peluh masih membasahi wajah Isak. "Bapak kesini lari?"
Sangking paniknya Isak lupa jika ada lift. Ia berbohong agar tidak ditertawakan oleh Leha. Entah sejak kapan ia menjadi bodoh mendadak kalau berurusan dengan Leha.
Ia pun tak mengerti bahkan ia meninggalkan Bita, wanita yang selama ini selalu ia tunggu kedatanganya. Selalu menyejukan hatinya hanya dengan menatap senyumnya. Selalu menenangkan jiwanya hanya mencium wanginya.
Dan semua itu hilang saat ia tak bisa menghubungi Leha. Awalnya Isak merasa Leha menghindarinya, tak mau menerima telepon darinya. Dan Isak mencoba menggunakan ponsel sang Bunda. Namun tetap saja tidak diangkat.
Padahal saat makan siang Leha intens membalas semua pesan Nami. Isak pun menelpon Hamid, namun sama Leha tidak menjawab. Panik. Dan Isak menyusul ke kantornya. Melihat Leha baik-baik saja rasanya begitu melegakan.
Apa mungkin dirinya telah terpikat pada Leha. Leha mendiamkannya dan menangis dikamar Bundanya untuk berpamitan membuat dirinya tak rela.
Ia ingin memperbaiki segalanya keesokannya namun Leha tidak datang menjenguk Bundanya. Bundanya sadar dan mencari Leha.
Isak ingin menjemput Leha tapi tiba-tiba pintu kamar Bunda nya terbuka keras tampak wajah Leha penuh air mata. Dan ia pingsan.
Lalu Isak yang menopang Leha dan meletakkan Leha di kasur kecil di samping brankar Bundanya.
Tidur sambil memeluk tubuh mungil itu membuatnya tidur dengan lelap. Hingga kejadian dengan Nalen yang membuat Isak tak rela Nalen melihat kulit mulus Leha. Ia cemburu.
Leha beranjak dari tempatnya. Tangan Isak menahannya.
"Mau kemana?"
"Pantry,"
"Ngapain?"
__ADS_1
"Mau buatin bapak minum, pasti bapak haus kan?"
"Nggak usah. Kita langsung saja ke rumah sakit Bunda nungguin kamu" kata Isak.
Hah! Kau jangan bermimpi tinggi, sakit rasanya terhempas hingga tanah! Harusnya kau tetap menapak dan tahu diri.
Jadi lelaki yang sedang menggenggam tangannya dan menariknya ke luar kantor ini, hanya menemuinya karena Nami. Lalu untuk apa ia harus sepanik itu.
"Pak Leha bawa motor"
"Udah titipkan saja. Kamu akan Saya antar untuk mengambil pakaian mu dirumah dan menginap di rumah sakit, Bunda mau kamu temani"
"Jadi Bapak nemuin Leha, buat Bunda" gumamnya lirih. Leha menatap luar jendela. Sekali lagi hatinya menyuruhnya untuk menggunakan logikanya.
"Kita makan dulu"
"Leha nggak lapar Pak,"
"Tapi saya lapar"
Leha tidak menjawab lagi lebih membuang tatapannya pada jalanan saja. Isak melirik Leha. Lehanya tidak sediam ini. Ia tak suka jika Leha menjadi diam dan tidak seperti biasanya yang suka seenaknya, suka memerintahnya untuk melakukan ini itu.
Suka meminta apapun padanya. Ia merasa tidak suka.
Isak membelokkan mobilnya ke rumah makan padang. "Bapak makan saja, Leha tunggu di mobil." Leha keras kepala.
Isak tidak menurutinya. Ia memutar dan membuka pintu Leha.
"Turun atau Saya gendong kamu masuk restoran." Ancaman Isak tidak Leha indahkan, ia tetap diam.
"Bapak! Apaan dah ah!"
Isak berdecak. Dengan gerakan cepat lelaki itu membopong Leha dan masuk ke restoran. Leha meronta dalam bopongan Isak.
"Turunin Leha Bapak!"
"Leha malu!"
"Ish si bapak ini! Turunin!"
Kaki Leha goyangkan. Bopongan Isak menguat. Leha hanya bisa menutup wajahnya yang menjadi pusat perhatian di restoran.
Isak menyeret kursi dengan kakinya dan mendudukan Leha pada kursi.
"Diam disini! Saya mau pesan! Jika kamu bergerak sedikit saja. Saya akan berbuat lebih memalukan lagi! ingat, saya ini nekat!" Bisik Isak di telinga Leha. Lirih dan berat.
Bukan apa-apa, Leha tidak takut namun suara Isak membangkitkan gelenyar aneh yang pernah Leha pernah rasakan dulu saat di Qatar.
Siaal! Lu emang Ja blay! Jarang di belai jadinya begini dah! Dasar perawan ting tong!
Menjalarlah semburat kemerahan dari pipi hingga telinga Leha.
Emang dasar itu manusia kampret! Bisaan bikin gua keki begini! Abah tolong Lehaaaa!!!
Tbc.
__ADS_1