
Leha kembali ke rumah Harlan. Ia masuk ke dapur, ia haus. Meraih botol minum dingin dan menuangkan minuman jeruk di gelas. Leha menenggaknya.
Ia masih belum mendapati sang pemilik rumah, Leha melipir kembali ke kamarnya, mungkin meneruskan tidurnya.
Setelah mencurahkan semua rasa galaunya pada gadis bule teman Dash, tubuh Leha terasa lelah dan lega. Ia butuh istirahat. Setelahnya ia akan kembali bekerja.
Karena ia menemukan sesuatu yang dapat ia ulik resepnya. Nanti setelah ia mengistirahatkan tubuhnya.
Siang berganti Sore.
Leha turun tubuhnya sudah luar biasa segar. Menapaki tangga akhir mendengar suara riang Rain disana.
"Rain katanya kamu berangkat hari ini?" Ucap Leha mendekati gadis yang sedang menggoda Dash.
"Diundur, soalnya papa lagi ke luar kota dulu, nunggu dia, katanya dia mau nganter aku," Rain menjelaskan dengan menusuk-nusuk pipi Dash yang menggembung, ia sedang mengunyah makan malamnya,
"Dasar Mateo, daughter complex itu papamu" Harlan menyela. Leha duduk didekat Rain,
"Tadi siang Dash ke tempatmu?" Tanya Leha berbisik. Rain mengangguk.
"Abis itu ngapain?" Kerutan di dahi Rain, menatap tidak mengerti dengan ucapan Leha.
"Maksud tante apa? Dash cuma main seperti biasa dengan papa sebelum papa pergi keluar negeri" ucap Rain lirih. Ia ingin ikut berbisik tapi susah.
"Dia tidak menyatakan cinta padamu? Atau tak ingin kau pergi? Atau menahanmu untuk pergi dari pulau ini? Atau melamarmu, mungkin?"
"Itu.Tidak. Mungkin!" Ucap Rain dan Dash bersamaan.
"Aku mendengarmu Tante"
"Dan lagi pula Dash tidak mungkin melakukan apa yang kamu katakan tante, apalagi padaku" ucap Sendu Rain. Kemudian ia kembali menjadi ceria, ia membantu Grisel.
"Mom aku bantu"
"Oh thank you Rain" Grisel mengecup kepala Rain.
"Kamu nggak nembak Rain?" Sekarang Leha yang berbisik pada Dash, namun remaja lelaki itu hanya meliriknya dingin. Tidak mau menanggapi Leha.
"Aku kalau jadi kau langsung aku raih wajahnya dan kucium bibirnya, biar dia tahu apa yang aku rasa"
"Kau sok tahu pendek!"
"Dash kau tak sopan! Tante memang pendek tapi dia lebih tua darimu!" Ucap Rain yang membelanya tidak membuat Leha senang.
Ia memang pendek. Ia serasa liliput jika berdiri bersama keluarga ini.
"Tapi Dash, Harusnya kau lihat seberapa panik wajahmu tadi, tidak ingin kehilangan, bagaimana jika disana Rain melakukan semua yang ia lakukan padamu juga dilakukan pada pria itu? Atau perlahan Rain akan melupakanmu dan condong ke lelaki lain?"
Leha memulai mengambil selembar tortilla, meraih daging cincang, kacang, salsa alpukat, ia menambahkan potongan selada, dan banyak keju. Leha melipatnya. Dan mengigit.
Kunyahannya besar, Leha sangat lapar, ia melewatkan makan siangnya. Ia menatap lelaki itu yang terlihat tidak peduli pada Rain tapi ia selalu melarikan pandangannya pada wanita itu.
"Bayangkan jika apa yang kamu lirik itu tak lagi didekatmu" ucapLeha yang mendapat sorot nyalang Dash.
"Lebih baik tante pikirin saja hubungan tante dan Om Isak, nggak usah merusuhi aku" ucap Dash kesal, Leha hanya mengangkat bahunya.
"Kan aku hanya bilang bayangkan, kenapa kamu marah Adik kecil" teriak Leha dan mendapatkan jari tengah Dash yang menjauh, ternyata merusuhi Dash sungguh menyenangkan.
__ADS_1
"Dash kemana kamu, aku ikut," Rain menyusul Dash dengan dua piring di tangannya. Pasti itu untuk Dash, gadis itu tahu apa kesukaan Dash.
Dash semoga kamu cepat sadar.
Leha menatap keduanya duduk di paviliun diluar rumah, terlihat Dash sibuk makan dan bermain ponsel, sedangkan Rain sibuk berbicara dan sesekali bisa Leha liat Dash yang melirik dengan senyum manisnya.
Leha nyalakan kameranya. Menjepret dan membuat video, ia men-zoom wajah Dash yang memperhatikan Rain.
Leha yang jahil ia mengedit dan menguploadnya di media sosial miliknya. Jadilah video pendek dengan wajah Dash yang ter-zoom dengan tulisan,
"Liatin capa cih ponakan onty, senyumnya itu lho semanis gulali enjot @DashMax @RainBowie tiati makin kesemsem lho Rain"
Mereka saling follow media sosial.
Kling
Kling
Kling
"Dimana lo? Sapa ntu bule?manis juga,@shoLEHA"
"Ketuan lu @TimSARi"
"Hot dimana lu?@shoLEHA"
"Dihatimu syantik@BRInasaBRIna"
"Aku tau yank @BRInasaBRIna si pendek @shoLEHA dimana, di lombok dia"
"Si abang kunyuk satu ini sok tahu sekali sih @NALENitali"
"Waw tante @shoLEHA Rain suka, cinta ku klepek klepek sama kamyu @DashMax"
"😒"
"😘😒 @DashMax"
***
Harusnya hari ini ia resepsi, memberitahu dunia bahwa Isak hanya miliknya, namun Leha tahu jodoh tidak bisa dipaksa.
Helaan nafas kasar membuat Dash menengok ke arahnya, bocah lelaki itu beranjak dari tempatnya, "Ayo tante mau kemana Dash temani"
Leha dengan drama yang sebelas duabelas dengan Rain. Ia mengulurkan tangannya. "Uluuuu … ponakan tante, Bawa aku pergi dari siniiii … " Dengan gaya dramatis, ia menurun naikkan pergelangan tangannya, meminta Dash menyambutnya.
Bocah lelaki itu memutar matanya malas, ia perlahan menggapai tangan Leha dan menariknya, mereka bergandengan.
"Duh Daddy itu lihat anakmu, manis banget sih" ucap Grisel,
"Kan keturunan Daddy, Mom, Ya manis dong" ujar Harlan dengan percaya diri dengan memeluk istrinya dari belakang memperhatikan kedua orang yang bergandengan layaknya kakak asik itu.
"Yank bikin adik buat Dash yuk" Harlan dan segala keabsurdannya.
"Mau kemana kalian gandengan gitu, nyebrang?" Nalen datang, Leha celingukkan memperhatikan Nalen dengan kopernya.
"Ngapain lu disini?" Pertahanan diri Leha keluar, ia merasa Nalen adalah ancaman.
__ADS_1
"Mana Brinol?"
"Aku sendirian, nanti nyusul bareng temenmu itu" ada kelegaan, tapi mengapa hatinya tidak senang. Dan raut wajahnya semakin mendung.
"Berharap Bang Isak? Kan Kamu yang ninggalin, kenapa Kamu yang kecewa keliatannya"
"Brisik lu kunyuk!" Umpat Leha.
"Kunyuk? Om Nalen? Iya bener, persis" Dash tergelak kencang.
"Udah Dash tinggalin aja dia, kita kerumah Rain aja, Tante butuh siraman kekuatan dari cinta Rain ke kamu, kok ya bisa, Rain tahan ngejar kamu lama banget, eh kamunya suka Jenara"
Dash membonceng Leha. Meninggalkan Nalen sendirian dengan senyuman misteriusnya.
"Dash tante nanya dong, ini berandai ya, Andai lho yaaa … kalau misal, Rain ketemu jodohnya, kamu rela? Misal, jodohnya nggak sama kamu? Atau dia lelah dan milih buat pergi, kamu rela?"
Ada hening yang panjang,
"Persiapkan hati aja Dash, semakin dewasa kamu dan Rain akan ketemu lebih banyak orang. Dan kalau kamu tetap ditempat dan bingung, juga egois, tolak aja Rain dan lepas dia, melupakan itu susah lho Dash, jangan kasih anak orang harapan tinggi tanpa kejelasan lalu kamu banting ke tanah paling bawah."
Ah, Leha sedang mellow, dan semua terkena imbasnya, kalau saja Si Omnya tidak menelpon dan memintanya menjaga si Tante, Dash lebih memilih rebahan dikamar. Dari pada mendapatkan wejangan dari dari orang galau to the max ini.
"Om kau harus membayarku besar untuk ini" bisiknya pada diri sendiri.
***
Tak terasa Leha sudah seminggu berada di lombok, ia telah belajar tentang budaya coklat juga jambu mete, dan satu buku full resep yang akan ia oleh jika sudah kembali,
Rumah Harlan bertambah Nalen yang tidak punya kesibukan, ia kadang membuntuti Leha, kadang menghilang seharian, yang jelas Jenara masih menjadi prioritas Dash dibanding Rain.
Tubuh Leha mengeliat, merenggangkan ototnya, setelahnya ia kembali bergelung membenamkan tubuhnya pada tumpukan selimut tebal nan hangat. Sangat nyaman.
Ini tidur ternyenyaknya selama ia memilih menjauh dari Isak. Hidungnya menghirup aroma familiar. Aroma menyenangkan dan menenangkan.
Ia menyurukan hidungnya lebih dalam, ia menggesekkan hidungnya pada benda dihadapannya yang hangat.
Tarikan dan pelukan erat mengejutkan Leha. Di depannya terdapat dada ia menggulirkan netranya ke atas. Di sana terlihat dagu juga jakun seksi yang is kenali.
Isak? Mengapa ada disini? Leha mendorong tubuh Isak menjauh.
"Jangan menjauh, please gini dulu, aku kangen" ucapan seraknya dan berat. Ia mengukung tubuh Leha lebih erat.
Leha mencoba mendorongnya keras, tapi Isak juga mencoba bertahan, ia menarik dan merengkuh Leha lebih erat.
Tangan Isak merengkuh kepala Leha mendekapnya didada. Wangi khas Idak menyeruak hidungnya. Wangi yang ia rindukan.
Air matanya menetes, padahal selama ini Leha berhasil tidak menangis. Bahkan bersama Rain kemarin saja ia tidak mengeluarkan air matanya. Lagi.
Leha sesenggukan. "Cup sayang, cup cup, sayang aku juga kangen kamu lama banget marahnya sama aku" gerutu Isak dalam kantuknya.
Selama Leha pergi dan ingin bercerai darinya, Isak tidak bisa tidur nyenyak. Rasa kehilangan membuat dirinya tidak peduli pada dirinya. Ia lebih menyibukkan diri mencari tahu apa yang membuat Leha mundur.
Dan akhirnya ia tahu, arti Leha di kehidupannya. Yang selama ini ia sangka cinta -pada masa lalunya- ternyata hanya euforia sesaat saja. Setelahnya Isak merasa kehilangan yang dahsyat.
Kembali Leha bergelung dalam dekatan Isak. "Kita belum maafan lho ya, aku cuma kangen aja" ujar ketus Leha.
"Iyaa maafan nanti nunggu lebaran" saut Isak dengan kekehan renyah. Ia merengkuh Leha lebih erat. Inilah rumah.
__ADS_1
Tbc.