Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 43


__ADS_3

Sejak membuka pintu kamar yang kedua kalinya akibat gedoran membabi buta dari Nami. Ibu tiga orang anak itu, menarik dan membawa pergi Leha. Menjauhkannya dari anak sulungnya. Apalagi setelah melihat bertambahnya bercak keunguan di leher Leha, juga bibir yang bengkak.


Nami tidak bisa diam saja. Leha perlu ia selamatkan dari terkaman makhluk ganas.


Sisa hari Leha habiska bersama Nami dan Sara, mereka mengelilingi pusat perbelanjaan, Leha mendapatkan gaun yang tertutup tapi terlihat seksi. Warna gelap.


"Aku nggak sangka Bun, si Abang seganas itu" Sara yang melihat bercak keunguan di tubuh Leha.


"Makanya Bunda kekepin Leha sama Bunda, pusing Bunda, Nak kalem Bunda ternyata beringas juga"


Leha walau kadang urat malunya sudah putus, tapi saat mendengar dirinya dibicarakan dan berbau sensual, malu juga dirinya. Jangan tanya seberapa merah wajah Leha.


Sudah mirip buah ceri.


"Ciee kakak ipar, pawang Bang Isak, kudu kuat ya kakak ipar, oh iya Dion nanyaain kapan mau lanjut belajar surfingnya"


"Aku tanya Bang Isak dulu"


"Cieee sekarang harus izin dulu nih" kembali Sara menyenggol Leha. Nami tersenyum senang melihat anak-anaknya akur. Leha semakin menunduk malu.


"Aku kira abang bakal galau berkepanjangan waktu ketemu Bita. Tahunya udah move on, aku seneng liatnya, kakak ipar, jaga abangku tersayang itu ya, walau datar dan agak kaku tapi dia terbaik."


Leha hanya mengangguk. Ia pun masih tidak percaya, apa benar ini kenyataan atau hanya mimpi. Hubungannya dengan Isak menjadi serius. Dan tidak ada lagi hubungan pura-pura.


Walau sebelumnya, Isak telah melamar dirinya, Leha masih ada keraguan yang besar. Dengan tindakan Isak yang hanya di mulut saja. Apalagi kedatangan Bita yang membuat Leha rendah diri.


Apa sekarang dirinya boleh percaya? Leha bingung dan takut, tetapi melihat bagaimana Nami dan Sara sangat bersyukur membuat Leha mendapatkan kekuatan untuk percaya pada Isak.


Dan jika berbicara masalah perasaan, seratus persen jika perasaan Leha, ia mencintai Isak. Lalu bagaimana dengan Isak. Leha pasrah yang terpenting saat ini Leha percaya jika hati Isak telah terbuka untuk Leha.


Leha keluar kamar Sara, mengenakan gaun dengan turtle neck, lengan panjang namun backless, menampilkan punggung Leha yang mulus dan seputih susu.


Gaun gelap beludru menjuntai mata kaki. Heels tinggi membuat tinggi badan Leha naik beberapa senti dan semua terlihat pas ditubuh Leha.


Rambut yang di kepang berantakan, juga berponi menambah kesan manis dan menggoda. Lipstik nude peachy adalah poin dari dandanan smokey eyes milik Leha. Menyempurnakan penampilan Leha.


Wanita itu terlihat elegan, dan sangat berbeda dari biasanya, cantik sangat, seksi pula.


Isak tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari Leha. Is menghampiri wanitanya. Dan saat menemukan menemukan punggung bolong milik Leha. Isak menhela nafas kasar.


"Siapa yang pilihin pakaian ini?"


"Bunda kenapa bang?" Nami keluar dengan tampang sangarnya. Tidak ada yang boleh mengomentari apapun pilihan sang ibu itu.


"Kenapa harus bolong gini sih Bun"


"Bolong apa? Itu namanya backless abang!" 


"Ya salahmu sendiri, kenapa bikin tanda si badan Leha," lanjut Nami.


"Sengaja"


"Dasar posesif!"


"Biarin, Ganti sana!"


Sara, Nami dan Leha melotot pada Isak, mereka telah selesai, setelah beberapa jam mereka habiskan untuk berdandan. Dasar bujang, dengan entengnya mereka menyuruh ganti. Mereka tidak tahu seberapa kami kaum wanita struggle menghadapi yang namanya persaingan di kancah kecantikan.


"Jangan gila bang!" Nami mengumpati anaknya.


"Atau Leha datang bareng Bunda sama Ayah aja, kamu sendiri aja sanalah bang! Kesel Bunda lama-lama."


"Eh Bun, iya nggak ganti, Leha sama Abang"


Isak telah merekuh pinggang Leha posesif. Nalen berdecak tak suka.


"Si bebek jadi Soang, kamu sekarang" bisik Nalen.


"Pak Nalen tahu soang toh"


"Kamu pikir aku bodoh apa?"


"Leha nggak ngomong lho ya"


"..."

__ADS_1


Nalen merasa geram.


***


Leha menjadi pusat perhatian. Lagi setelah Neymar menghampirinya. Dan membuat video menari winning dance lelaki itu. Sempat juga Neymar bereaksi tentang Leha, di ruang istirahat pemain saat itu. Membuat Leha menggila.


Isak merasa kecolongan. Lelaki itu hanya pergi sebentar menyapa kenalannya, eh saat tahu Leha telah dikelilingi orang-orang, melihat Leha begitu senangnya bertemu sang idola, tidak lama, karena sang manager sang idola menarik idolanya menjauh. Tapi Leha puas.


"Leha, Pak Isak?" Daru menghampiri. Matanya menatap tangan Isak uang posesif di pinggang Leha. Membuatnya tersenyum sumir.


"Tuan Isak, selamat, acaranya begitu meriah" ucap seseorang yang datang bersama Daru.


Susah sekali menelan ludahnya, ia tidak sendiri ada Izil yang juga ikut.


"Terima kasih Tuan Izil, silahkan nikmati pestanya" Izil mohon pamit, mereka kembali pada bangku mereka.


"Jangan jauh-jauh" ucap Isak.


"Ish si bapak, nempel mulu sama Leha, susah ini leha mau ambil minum disana" 


Leha menepuk pelan tangan Isak. Ia mengerutkan wajahnya. Isak sama sekali tidak melepasnya sejak menginjakkan kakinya di ballroom hotel.


"Aku ambil minum dulu Bapak haus!"


"Bapak?"


"Iya abang, Leha mau ngambil minum dulu abang ganteng, abang juga mau?"


Leha merasakan tangan Isak mengendur, Isak menggeleng, dan Leha menuju meja  prasmanan, disana banyak canape.


Leha meraih gelas limun dingin. Dan menyesapnya. Buih dari air soda menggelontor memasuki tenggorokan. Segar dan sedikit menyakitkan. Leha memang tidak terlalu suka dengan minuman bersoda.


"Leha?"


"Tuan Daru?"


Leha bertegur sapa, tadi mereka hanya sebentar bertemu, saat mengucapkan selamat pada Isak.


"Jadi apa hubungan kalian?" Lama mereka berdiam, juga Leha mendapati tatapan tajam Isak. Sayangnya Isak tak bisa mendatanginya, ia ditahan oleh rekan bisnisnya diujung sana. Leha menyungging senyumnya.


"Kami bersama" Leha mengatakan pelan namun dalam getaran suaranya, Daru bisa merasakan kebahagiaan disana. Hatinya terasa terhimpit. Senyum pedih tersungging.


"Yah saya terlambat" ucap lelaki itu.


Senyuman luruh secara perlahan dari raut wajah Leha. Ia memandang lelaki sebelahnya ini. Ia bisa menangkap wajah sendu Daru.


"Saya tertarik denganmu Leha, entah suka atau malah sudah cinta"


Suara pelan dengan nada bergetar. Leha merasa jika ini adalah sesuatu yang serius. Ia harus pula menanggapi dengan serius.


Mata Daru memerah, 


"Leha, Min—"


"Tak perlu Leha, Saya tidak butuh jawabanmu, Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan Saya saja padamu, tidak perlu jawaban"


Daru menggeleng, tangannya menyetop Leha untuk menjawabnya. Ia tak sanggup mendengar jawaban dari Leha.


"Tetapi Leha, harus Pak Daru, Leha tidak ingin membuat Pak Daru salah paham dan Leha masih ingin berteman dengan Pak Daru"


"Leha, Kamu ti—"


"Terima kasih Pak Daru, tapi Maaf, Leha tidak bisa menerima ungkapan hati Pak Daru" Leha menunduk dalam.


"Leha terima kasih sudah menjawab pernyataan hati Saya, jadi saya masih jadi temanmu kan?"


"Iya pak kita sodara bukan teman, Leha menganggap Pak Daru itu kakak buat Leha" 


Cengiran Leha menghangatkan hati Daru. Ya perasaan itu, Daru serahkan semua pada waktu. Kedepannya ia tak tahu dengan takdir.


"Saya, kesana dulu, sepertinya Tuan Izil mencari Saya" Daru melihat Isak yang mendekat, lelaki itu sedari tadi tak putus menatap Leha.


"Iya Pak Daru,"


"Sayang?"

__ADS_1


Leha menengok pada sumber suara, matanya melebar. Apa lagi yang lelaki ini mau! Apa ia juga cemburu pada Daru? Sampai memanggilnya sayang.


"Iya bang?"


"Kok abang manggilnya?"


"Lho kemarin Bapak minta Leha panggil Bang?"


"Kok Bapak lagi?"


Astagah cerewetnya ini orang satu.  Kemana sikap kaku, pendiam, datar, dan nggak banyak omongnya pergi?


"Terus Leha harus panggil apa?"


"Ya di jawab dong, Sayang!"


"Hah?"


Makin-makin, maksudnya apeee enih orang maunye, Ya Gustiiii gerutu Leha dalam hati.


"Jawab dong Sayaaang … "


Wajah Leha terlihat bingung, dan Isak menikmati wajah terbengong bingung itu.


"Ikuti Abang" bisiknya.


Isak merengkuh Leha posesif, ia melihat banyak mata yang mengamati wanitanya itu. Menarik mendekat dan menandai jika Leha adalah miliknya. Tangan Isak dipinggang Leha. Leha mengangguk, wanita itu lebih mendekatkan dirinya pada Isak. Agar bisa mendengar apa yang Isak akan katakan.


Senyum Isak mengembang, merasakan wangi rambut Leha. Ia menatapi Leha dari samping. Garis leher yang menggoda, juga garis rahang bulat milik Leha.


Matanya bergulir pada bulu mata lentik yang mengibas cantik.


"Ikuti apa?" Bisik Leha.


"Sini makanya" Suara Isak sengaja lelaki itu pelankan lagi. Mau tak mau Leha menyurukkan kepalanya pada dekat bibir Isak.


"Ulangi ucapan abang, yang keras!" Leha mengangguk.


"Sayang abang,"


"SAYANG ABANG!" Leha berteriak. Isak terbahak, ia tak menyangka Leha akan berteriak.


"Iya sayang kamu juga"


Isak mengecup cuping Leha. Leha tersentak. Ia dikerjai oleh Isak.


"Dasar kang curang, kang belibet, kang Modus!!"


"Kok?" Masih terkekeh melihat rona merah yang menjalari wajah Leha.


"Ya tinggal bilang aja ke Leha pake segala sok misterius buat penasaran" Bibir Leha merengut, entah sejak kapan Leha masuk dalam pelukan Isak.


Nami hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, di kurainya melihat keposesifan anaknya.


"Dasar buah jatuh tak jauh dari pohonnya! Sama banget sama ayah! Posesifnya"


"Kam sayang Bun,"


"Jadi abang ke Leha beneran sayang ya Yah?"


Sara hanya sendiri, tunangannya akan datang menyusul.


"Jadi nggak apa dong itu Bita datang, sendiri pula"


Sara menatap kedatangan Bita yang membuat semua mata tertuju pada wanita hamil yang menawan itu. Nalen pun menatap Bita. Datar. Gaun terusan ketat, menceplak perut bundarnya. Walau hamil, tubuh Bita tidak membengkak, hanya bagian tertentu saja yang membesar. Dan menambah keseksian wanita itu.


"Selamat Om, Tante. Sara, Nalen"


"Sama-sama sayang, kok sendiri? Zain mana?"


"Katanya menyusul tant, lho Lewi mana?"


Bita mengedarkan netrannya. Dan menemukan sedang dipojokkan dengan memeluk Leha posesif. Pasangan tertawa sesekali saling menggoda, berasa dunia milik berdua. Bita tersenyum sumir.


Nami dan Sara saling pandang. Nalen pun menatap Bita. Ia menangkap sorot tak biasa dari wanita itu. Nalen mengikuti pandangan Bita.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2