
Keluarga Ibrahim sangat menerima Leha. Leha datang lebih pagi untuk membantu Nami.
Awalnya itu rencananya, tetapi, mereka menyewa EO untuk mengurusi acara arisan keluarga ini. Jadinya Leha hanya mengekori Nami yang sedang mengecek pekerjaan EO sewaannya.
Leha lupa mereka orang-orang kaya, jadi terlalu sibuk jika harus mengurus semua dari awal, menggunakan jasa profesional adalah pilihan terbaik.
"Rajin sekali calon kakak ipar nggak jadi ini, sudah datang"
Benar! Itu Nalen. Siapa lagi yang selalu memanggilnya "calon kakak ipar yang nggak jadi" kalau bukan si kunyuk.
Panggilan yang menyebalkan. Karena itu benar adanya. Sedari tadi Leha mencari keberadaan Isak. Tetapi mengapa ia malah menemukan si kunyuk ini.
"Aku memiliki hadiah untukmu nanti, calon kakak Ipar nggak jadi" Nalen selalu saja mengganggunya. Lelaki itu menjauhi Leha dan Leha berterima kasih atas itu.
Arisan keluarga Ibrahim berjalan meriah, dikemeriahan itu Leha masih belum menemukan sosok Isak disana.
Ia mengirimi pesan pada Isak namun lelaki itu tidak menjawab. Begitu juga dengan telepon yang tidak diangkat. Kemana sebenarnya si pangeran pertama keluarga Ibrahim ini.
"Maaf terlambat"
Sosok yang Leha tunggu datang, senyum merekah Leha mendadak sirna melihat sosok lain berjalan dibelakang Isak.
Bukan hanya Leha saja yang terkejut, begitu juga keluarga Ibrahim. Mereka semua terkejut, Tapi ada satu orang yang menyeringai menatap Leha yang kehilangan senyumnya.
"Kenapa baru datang?"
"Macet Bun,"
"Terus si cantik ini siapa?"
"Saya Nabila Rahma tante, anak Lucia Bagarta"
"Oh, Mbak Lucia, ayo duduk, apa kabarnya mamamu sayang?"
"Baik tante, mama kirim salam"
"Salam balik ya"
Nami berjalan bersebelah dengan Nabila. Isak berjalan dibelakang mereka. Senyumannya terlihat lekat pada wajahnya.
"Bagaimana hadiahnya 'Calon kakak ipar nggak jadi' Senang?" Nalen berbisik dibelakang Leha.
Leha tak bisa berkata apapun,saat duduk di meja makan, Nabila duduk diantara Nami dan Isak. Sedangkan Ia berada di seberang lelaki itu.
Leha hanya bisa tersenyum. Banyak asumsi yang terdengar dari kiri kanannya. Banyak juga yang menatap Leha kasian. Kekasihnya membawa wanita lain.
Sara mengetahui itu. Leha menjadi pendiam. Ia menatap tak suka pada Nabila. Kakaknya itu benar-benar belum bisa move on ternyata.
Nabila memiliki fitur wajah dan tubuh persis cinta pertama Isak.
"Leha, kau tak apa?"
Leha hanya tersenyum menanggapi Sara.
"Bodohnya kamu, Sara! Kamu tak akan pernah baik-baik aja, dikala pacarmu membawa wanita lain di acara keluarga besar seperti ini" semprotan tajam Gina. Sepupu Sara.
__ADS_1
"Tapi aku lebih kasian pada wanita yang dibawa itu hanya sebagai pelarian atau pengganti? Kasian banget" ucap kasihan Gina
Leha suka dengan Gina yang jujur dan ceplas-ceplos.
Gina juga tak suka dengan Nabila yang memang memiliki kemiripan wajah dengan wanita yang pernah menjadi pembuat perpecahan antara keluarga Ibrahim.
"Bang Isak, kamu ketemu dimana wanita itu?" Ucap ketus Gina membuat semua mata yang sedari tadi hanya fokus dengan makanan juga mengobrol, menatap dirinya bergantian dengan Isak.
"Kamu tidak sopan Gina!" Tegur Elias, kakak Gina.
"Lho, aku hanya bertanya, ini acara keluarga besar, dan dia membawa orang asing, lalu wanita itu akan dikenalkan sebagai apa? Sedangkan kita semua tahu Bang Isak sudah memiliki kekasih, Leha, kau tak apa?"
Isak menatap Gina tajam, lalu saat Gina mengucapkan nama Leha, tatapan berpindah cepat ke samping Gina. Matanya menatap lurus pada Leha yang langsung menunduk merasa tidak enak.
"Ya aku kenalkan sebagai teman, apalagi?" Isak menjawab santai pada Gina namun tatapannya masih tertuju pada Leha.
"Membawa teman di acara keluarga besar? Lucu sekali, aku kira karena tampangnya miri—"
"Gina cukup!" Tegur Ganda.
Gina menatap ayahnya dengan tampang merengut. Ia berdecak kasar.
Nabila lebih terkejut mendengar kenyataan bahwa ini adalah acara keluarga besar Ibrahim. Untuk masalah Isak yang memiliki kekasih Nabila sudah tahu. Nabila tidak lagi berharap lebih pada Isak.
Dari awal lelaki itu selalu menceritakan tentang kekasihnya. Yang mengundangnya untuk datang adalah Nalen. Ia menatap Nalen yang tersenyum aneh pada Leha.
"Maaf ya tante."
"Ah tak apa, Gina memang begitu, ceplas ceplos, harusnya tante yang meminta maaf, kamu tak apa kan?"
"Kamu anak baik" pujian Nami.
Nabila dibuat bingung dengan keluarga Ibrahim. Ada ibu baik hati yang memujinya, tapi ia tak tahu telahbmelakukan kebaikan apa? ada anak kedua yang entah apa tujuannya mengundang dirinya atas nama Isak pada acara keluarga.
Nabila tahu Isak tak mengundangnya, terlihat dari mata dan alisnya yang terbuka lebar saat mendengar ucapan terima kasihnya atas undangan lelaki itu padanya.
Bukannya mengelak lelaki itu hanya mengiyakan.
Sengaja, Nami mendudukkan Nabila diantaranya dan Isak. Ia ingin tahu apa tujuan wanita ini datang ke rumahnya.
Sedari tadi ia tak melihat adanya sesuatu yang romantis dari anak sulungnya pada Nabila ini.
Dan tentu saja tidak mungkin Isak yang mengajak. Tetapi jika benar Isak yang mengajak, bukan Leha, sakarang yang menjadi kekasih Isak.
Dan semakin mendengar percakapan keduannya Nami mendapatkan jika Nabila pun hanya menganggap Isak itu tak lebih dari seorang kakak.
Leha lebih tak enak pada Nami. Ia memperhatikan Nami, saat Nami menatapnya, Leha tahu jika tidak ada yang perlu Leha kuatirkan.
"Gina kamu masih kesal?"
Gina masih saja merengut, ia tahu, jika ia salah sasaran. Membuat kekacauan hanya karena wanita itu mirip dengan orang yang tidak ia sukai dan ia ingin membuat wanita itu malu adalah hal yang kekanakan.
"Dasar Bocah!" Olok Juan. Sepupu Isak yang lain. Lelaki seusia Leha. Gina melirik lelaki tinggi itu dengan tajam.
"Cuma mirip, dan lo bikin suasana jadi nggak enak."
__ADS_1
"Halah lo sama semua nya juga sama kagetnya kan kayak guu, tadinya pengen langsung gua maki itu cewek!"
Gina menceploskan apa yang sedari awal ingin ia lakukan pada Nabila.
"Kaget sih, tapi semua udah nerima, lagian udah masalah lama juga"
"Omong kosog! Kalau nerima ya nggak bakal kagetlah"
"Ya kagetlah, tuh orang lagi video call-an sama orang-orang bilang nggak dateng eh … lha kok nongol, ya lo pikir aja deh" sahut Riga. Sepupunya yang lain.
Leha hanya sebagai pendengar tidak mengerti apa yang sepupu Isak ini obrolkan. Sara menoel dirinya.
Leha melebarkan netrannya, ia mendekatkan dirinya pada Sara.
"Nanti aku ceritain"
Leha hanya mengangguk. Ia kembali menikmati makanannya. Seperti sedang diawasi Leha menatap lurus. Ternyata Isak menatapnya tanpa kedip.
Leha mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan dan melihat Isak yang juga sibuk dengan pesannya.
Sholeha Badrun
Bapak bukan salah Leha yak! Leha kagak tahu apa-apaan, Sumpah!
Waktu ISAK maka Sholatlah!
Memangnya Saya nyalahin kamu?
Sholeha Badrun
Ya terus itu mata napa natap Leha gitu?? Mau Leha colok apa??? Eh … piss lop en lopyu 😘😏
Waktu ISAK maka Sholatlah!
Lopyuto 😗🙄
Sholeha Badrun
😲😨😱
Waktu ISAK maka Sholatlah!
Apa itu maksudnya?
Kenapa itu matanya bulat-bulat?
Sholeha Badrun
Ish Bapak pake nanyak! ya syok langsung pingsanlah dapet balesan lopyuto sama kiss.
Leha mengkerut di kursinya, mendekatkan ponsel pada wajahnya, Leha mengintip Isak diseberang, lelaki itu menyeringai juga menatap ponselnya.
Leha butuh udara. Pipinya memerah, Leha susah payah melipat bibirnya yang tak mau ia kendalikan, sudut bibirnya terus menarik ke atas.
Rasanya hatinya plong dan mengembang. Padahal Isak hanya berbalas pesan dengannya. Leha meraa dirinya semakin aneh.
__ADS_1
Tbc.