Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 74


__ADS_3

Leha melangkah menuju ruangan Isak. Ia akan bertemu dengan Sabrina. Wanita itu mendapatkan tugas untuk mewawancarai Ibrahim bersaudara.


Sabrina memberi tahukan pada Leha. Dan dnegan inisiatif Leha ingin mengunjunginya. Membawa tas kain dengan logo Katering Sehat. Ia masuk kedalam lift.


Ada tiga wanita yang berada satu lift dengannya. Si rambut bondol, rambut sebahu dan rambut gelombang. Karyawan yang tidak pernah Leha lihat. Mungkin anak baru.


Sebagai OB dulu Leha lumayan hafal dengan para karyawan, Leha mudah mengingat kebiasaan orang dan hafal dengan wajah orang. Jadi Leha cukup percaya diri jika ketiga karyawati yang satu lift dengannya tidak mengenalnya berarti anak baru.


"Lo tahu pak Isak cuti kenapa?"


"Pacarnya yang hamil besar itu keguguran."


"Hah! Serius lo! Si embak yang selalu kesini itu?"


"Iya"


"Lu jangan asal jeplak, pacar gimana udah nikah kali!"


"Lu nggak liat cincin yang pak bos pake? Udahlah doain aja mereka diberi kekuatan. Kasian liatnya, si bu bos juga semoga cepat pulih" ucap si rambut bondol.


"Heleh dulu aja lu, maki-maki yuh istri orang," rambut bergelombamg menyibir rambut bondol. "Udah tobat gua" rambut bondol terkekeh.


"Pantes gue pernah denger bu Rena nyewa gedung buat resepsi. Akad dulu kali ya" ucap rambut sebahu. "Jangan-jangan hamidun duluan" spekulasi rambut gelombang.


"Apapun itu doain ajalah mereka langgeng sampai maut memisahkan. Gue dukung si bu bos, cantik lho dia, siapa ya waktu itu namanya, emm Ta, Bita?"


"Udah nggak usah dipikir, menurut kita bakal diundang nggak di acara resepsi? Tapi setelah anaknya pergi, gimana ya perasaannya?"


Ting!


Lift berhenti di lantai ketiga karyawati itu. Mereka keluar meninggalkan Leha dengan pikiran berkecamuk.


Lift membawa Leha ke lantai ruangan Isak. Melangkah ia menemukan Rena sibuk berkutat dengan komputernya.


"Bu Rena" panggil Leha.


"Leha, kebiasaan," Rena mengerucutkan bibirnya. Sejak menikah dengan Isak. Rena memperlakukannya seperti teman dekat.


"Ini, spesial antar khusus,"


"Thanks kebetulan lagi pengen nyemil," Rena mengambil kotak kecil dan membukanya. Energi bar. Terbuat dari oat, kacang dan dry fruit juga brown sugar, ditambah tetesan kombucah.


"Hmm … ini mantep" Rena mengunyah dengan tangan masih menari diatas tuts keyboard.

__ADS_1


"Nggak mungkin kan lu nyari suami lu disini? Kan dia sama si Bita, Noh nungguin tuh perempuani" Lanjutnya.


"Iya, tahu, gue juga kaget waktu Bita di bawa kerumah sakit mana itu, apa sih namanya lupa gua, rum—"


"Rumah sakit internasional."


"Nah itu," Leha mencari tahu dengan memancing Rena.


"Emang laki itu ya, Bren gsek! Bini bunting gede bukannya dilindungi ini malah ngelindungin pelakornya. Mana ngilang abis itu. Bener-bener, nggak punya hati." Rena mengunyah keras.


"Kira-kira kemana tuh lakiknya? Masalahnya nggak ada yang tahu keluarga laki Bita, terkenal tapi nggak ada yang tahu muka itu keluarga." Leha hanya mengangguk. Sekelebatan ingatan muncul.


"Bentar gue inget, lo tahu Pak Daru, itu perwakilan Mount High?"


"Daru siapa?" Rena mengingat. 


"Ah, Handaru Brahma?"


"Iya dia, katanya masih sepupu sama Zain"


"Wah bagus tuh, lu kasik tahu laki lu, biar dia yang ngurus, biar kelar, masalahnya, gehara ntu betina, kerjaan gua nambah banyak, gak bisa family time, kasian Kenan, butuh pelukan hangat ibunya"


Drama Rena. Mengenal dekat Leha melihat sisi lain Rena yang suka membuat drama.


"Oke, gue mau nyamper pak suami dulu, sambil bawa bekal, biar kayak di drama-drama romantis, duluan mamanya Kenan," Leha melangkah menjauh.


Setidaknya Leha tahu, bukan begini. Leha merasakan sakit hati. Isak belum bisa terbuka dengannya. Dan kembali menjadi overthinking.


Ia mengendarai motornya. Menyusuri jalanan menuju rumah sakit. Bita telah menyatakan keinginannya untuk bersama Isak.


Dan memnuay hubungannya dengan Isak merenggang. Ia melihat Isak mematung saat itu. Ada rasa takut di diri Leha jika Isak bimbang.


Memilih antara dirinya atau Bita. Jelas sebelum dinikahi secara resmi apa sebaiknya Leha mundur.


Isak pasti bahagia dengan orang yang dicintainya selama ini. Ia tidak akan jadi penghalang. 


Leha menatap nanar jalanan, ia terus memacu, setidaknya ia tahu langsung kejelasan dari Isak. Dan setelahnya ia akan membuat keputusan. Ia tidak bodoh. Isak tidak mencintai nya. Ia hanya terbawa perasaan atas hubungan pura-pura mereka.


Cinta sesungguhnya sudah kembali. Dan pasti ia akan melindungi si cinta dari apapun. Belum lagi Bita yang sering berkunjung ke kantor Isak. Untuk apa? Pasti untuk meminta Isak kembali.


Semakin dekat entah mengapa semakin melambatkan langkahnya. Leha melihat ada Nami dan Ibrahim datang membawa kantong makanan.


Mereka masuk kesalah satu kamar. Leha bersembunyi di antara pintu juga pot bunga tinggi, ada sebuah sedikit ruang dibalik pintu itu. Leha yang bertubuh mungil menyelip diantaranya.

__ADS_1


"Bunda?" Ucap Bita riang, Leha bisa melihat ada Isak didalam sana, ia mengupas buah apel.


"Ini Bunda bawa masakan Bunda, katanya kemarin kamu kangen kan, habiskan ya, biar kamu cepat pulih,"


Mendengar itu mata Leha melebar, jadi Nami tahu jika Isak selalu menemani Bita. Rasanya ada tangan tak kasat mata meremas jantung Leha.


Mengapa mereka menyembunyikan darinya, apa Bita adalah mantu yang dulu ingin disegerakan Nami untuk Isak.


Ia tidak jahat, karena tidak rela keluarga Ibrahim menaruh perhatian pada Bita. Tapi rasa iri dan cemburu tidak bisa Leha elak. Mata Leha sendu mengintip ditempatnya.


"Jangan lupa kamu masih ada Onaldo" Nami mengusap kepala Bita lembut.


"Iya Bunda, Bita usahakan," mata wanita itu berkaca.


"Banyak berdoa, Ikhlas,"


"Bita sekarang cuma berdua sama Onaldo Bun" air mata Bita meleleh deras. Terisak menyedihkan.


"Kamu tenang disini ada Kami juga ada Isak yang akan menjagamu," kembali nyeri terasa. Apa ini pertanda jika perasaan yang ia tepis benar adanya.


"Ya aku disini" jawaban itu seketika mengulir netra Leha ke dalam ruangan.


Disana Isak menggenggam tangan Bita. Terlihat dari pantulan kaca jendela. Tatapan lembut dengan senyuman teduh yang tidak pernah Isak berikan padanya. Leha seperti disiram air es. Ia mematung, dengan wajah sendu dan kecewa.


Apa ia harus merelakan? Kabut muncul di matanya.


"Kamu banyak istirahat, Bunda dan Ayah ada keperluan penting, kamu nggak sendiri, tenang saja" kembali Nami mengelus sayang kepala Bita. Leha kembali bersembunyi. Saat Nami dan Ibrahim keluar ruangan.


Isak kembali mengupaskan apel untuk Bita. "Ini mengingatkan aku pada kenangan kita dulu, waktu aku sakit, kamu sampe bolos kuliah padahal ada kuis. Kamu lebih memilih menungguku"


"Dan sama kamu mengupas apel dan aku menggodamu," Bita mendekatkan wajahnya pada wajah Isak. Lama mereka bertatapan. Leha menahan nafasnya.


"Jangan main-main, kalau kamu tidak mau apel, ini makanlah ini," Isak meletakkan satu kaleng buah nanas yang sudah terbuka dengan garpu didalamnya. Isak menjauh. Ia akan menyiapkan makan siang Bita.


"Sama, sama kamu masih sama, kamu juga tersipu saat itu dan menjauh sebelumnya kamu memberiku buah kaleng," Bita tertatih mendekati Isak. Telinga lelaki itu memerah.


"Aku tahu aku masih menjadi penguasa disini, jadi mari kita mulai semua dari awal?" 


Bita membalik tubuh Isak menghadap padanya dan menunjuk dada lelaki itu. Matanya mengerling dengan binaran yang membuat tatapan Isak tertancap disana.


Di tempatnya Leha mengeratkan kepalan tangannya tanpa permisi lelehan air jatuh dari matanya. Melihat reaksi Isak dengan gestur selalu menolak, namun berbeda dengan matanya.


Matanya menggambarkan rindu yang mendalam, rindu akan mereka. Dan kenyataan itu yang air mata Leha mengalir. Apa ini waktunya melepas? 

__ADS_1


 


Tbc.


__ADS_2