
Pagi harinya Leha tidak mendapati Sari. Wanita itu kabur tanpa pamit. Ya sudahlah setidaknya Leha dan Sari telah saling memaafkan walau Sari belum mengucapkan kata maaf itu.
Leha menatap kerang sisa masih cukup banyak. Ia mengeluarkannya dan akan Leha masak untuk nanti Leha masakan makan malam.
Lalu setelahnya segera Leha mandi dan berangkat ke kantor Isak. Ia akan menyerahkan surat pengunduran diri. Leha sudah memutuskan ia akan resign dan fokus mengurus catering sehatnya.
Kembali berkutat dengan resep yang akan diperbaruinya. Ia perlu waktu menjauh dari kejadian sebelumnya. Dan mulai move on. Kata itu tercetus dan membuatnya tersiram air es.
Leha melangkah kakinya ke HRD tempat Bu Narti, berada. Ia mengetuk beberapa kali tapi tidak ada tanggapan. Meremas surat pengunduran dirinya.
"Leha?" Wanda menghampiri Leha. Wanita itu dengan cepat mengantongi surat pengunduran dirinya.
"Mbak Wanda? Lihat Bu Narti?" Tanya Leha.
"Lho kamu nggak tahu, ibu Pak Isak sadarkan diri"
"Jadi semua kepala divisi menjenguknya" Nafas Leha terpekik, tanpa sadar kakinya berlari kencang tak mengindahkan teriakkan Wanda. dan menghampiri motor dan cepat mengenakan helm. Memacu cepat motor kesayangannya.
Entah mengapa Leha ingin cepat melihat Nami. Rasanya hatinya membuncang rasa haru. Sepanjang jalan Leha mengucap syukur dengan air mata berderai.
Sampai di rumah sakit Leha terus mengayunkan kakinya cepat. Terburu.
"Hei ini rumah sakit jangan berlari di koridor" teguran yang tentu saja tidak Leha dengar. Ia mencari kamar Nami. Dan membuka pintunya.
Brak!
"Leha?" Bu Narti memandang Leha heran.
Ia melihat Nami yang menatap ke arahnya dan tersenyum pada Leha. Senyuman yang membuat Leha merasakan sosok ibu.
"Leha, Anak Bunda" Suara Nami terdengar pelan. Tangis Leha ambyar. Ia memacu langkahnya. Menerima uluran tangan Nami yang tidak sedingin terakhir kali Leha genggam.
"Bunda … Bunda … " Nami meraih tubuh gemetar Leha. Dan memeluknya. Ia mengelus punggung Nami.
"Bunda, jangan … jangan … " Leha terisak, rasanya lega. Tubuh Leha melemas.
"Bang! Bang! ini, kenapa istrimu ini!" Teriakan Nami membuat orang yang berada di sekitar mereka dan melihat kejadian Leha akhirnya paham. Mengapa seorang OB perusahaan mereka bisa merangsek masuk kedalam ruangan petinggi.
Begitu juga keluarganya yang saling pandang. Apa yang Nami katakan? Disana juga ada Bita yang melebarkan matanya.
Sigap Isak merengkuh tubuh Leha. Dan membopongnya ke kasur lipat di sebelah brankar Nami.
"Kenapa?" Nami terlihat cemas.
Sara yang merangsek pinggir ranjang Nami dan menekan tombol panggilan dokter. Tak lama dokter datang dengan dua orang suster.
Dokter itu memeriksa keadaan Leha. Tatapannya tertuju pada mata-mata yang penasaran.
"Ini dengan?"
__ADS_1
"Istri anak saya dok!" Nami yang menjawab lantang.
"Oh, Nak Isak telah menikah? Selamat ya," Isak hanya menatap Bundanya nyalang. Dan menggaruk tengkuk belakangnya. Tersenyum seadanya.
"Kelelahan dan Kurang tidur, pengantin baru ya, memang semangat, Istri Nak Isak hanya ketiduran saja."
Dan tatapan dokter paruh baya dengan rambut memutih itu penuh arti ke Isak.
"Iya dok, maklumlah masih hangat-hangatnya," timpal sang Bunda.
"Hmnn … " gumam Leha yang memiringkan tubuhnya mencari tempat nyaman. Mulutnya mengecap lalu kembali terdengar dengkuran halus.
Pluk!
Amplop putih terjatuh di kaki Isak.
***
Leha membuka matanya. Ia mengapa ia berada di kamar yang tak ia kenal. Aroma rumah sakit menyengat hidungnya. Alisnya naik. Ingatannya mulai berdatangan.
Leha berusaha mendudukan dirinya. Namun ada benda berat mengkungkungnya. Leha melihat tangan kekar melingkari pinggangnya.
Leha berusaha menyingkirkan tangan itu. Dengan perlahan Leha menggeliat, mencari cela untuk lepas. Tapi bukannya melonggar Leha direngkuh lebih dekat dengan pelukan yang mengerat.
"Biar begini dulu, Saya kangen" suara serak nan dalam terdengar dekat telingah Leha. Hembusan nafas hangat itu membuat Leha membatu. Wanita itu menegang. Kala ia merasakan lelaki itu menyurukkan wajahnya pada tengkuk Leha.
"Bapaak" bisiknya lirih menahan de sahan yang Isak timbulkan dari permainan bibir lelaki itu. Mata lelaki itu terbuka melihat wajah Leha dari samping. Kuping wanita itu memerah. Menahan dirinya. Sudut bibir Isak terangkat. Sangat menggemaskan pikir lelaki itu.
Drak!
Leha dengan cepat menyentak. Tangan Isak yang mulai ikut nakal. "Bun-Bunda?" Nafas Leha tersenggal. Ia mencoba meredah kan degupan jantungnya yang berlompatan.
"Bunda mau kemana?" Melihat Nami yang sudah bangun dari brankarnya.
"Bunda mau ke toilet" ucapnya.
"Leha antar" Nami mengangguk. Leha kabur. Sedari tadi ia menghindari menatap Isak. Leha memapah Nami. Dan mendudukkan wanita itu di closet.
"Leha tunggu di luar ya Bun"
"Ya"
Leha langsung meluncur ke wastafel. Ia mencuci mukanya dengan air dingin menghilangkan panas yang menjalari wajah juga tubuhnya.
"Bodoh!" Gumamnya lirih.
"Kenapa! Bodoh!"
Leha mengusap cepat wajahnya. Ia membuang nafas kasar dari mulutnya. Ia mengusap tengkuknya dengan air. Menghapus jejak basah yang Isak tinggalkan.
__ADS_1
"Leha kenapa kamu basah begitu?"
"Ah ini, tadi, em itu tadi Leha nggak hati-hati Bun, jadi nyiprat ke Leha." Ucapnya terbata.
"Dasar kamu ceroboh, ini masih pagi buta," Nami berjalan perlahan menuju lemari pakaiannya. Dan mendapatkan handuk kering dan juga pakaian bersih untuk Leha. Daster di atas dengkul.
"Bun Leha sekalian izin mandi ya"
"Hah jam segini?"
"Badan Leha lengket" setelah mengangguk Leha menunggu jawaban Nami.
"Yaudah sana, tapi pakai air hangat!"
"Siap bunda sayang," Leha memapah Nami kembali ke brangkarnya. Suasana kamar masih temaram, Leha melirik arah Isak tertidur. Dan sepertinya lelaki itu tadi mengigau, dan menganggapnya orang lain.
Leha masih tak lupa, dulu Isak.juga pernah memanggil nama Bita saat Leha membangunkan lelaki itu. Dulu Leha tak begiti peduli. Namun saat ini kok rasanya menyakitkan. Apa lagi dengan kelakuan Isak padanya tadi.
Hatinya serasa diremas keras. Menyakitkan.
***
Leha menikmati kamar mandi rumah sakit orang kaya. Rasanya mirip dengan hotel bintang lima. Guyuran air hangat Lehan rasakan dari ujung rambutnya mengalir pada ujung kaki. Menyegarkan.
Grriek!
Blam!
Leha menengok cepat ke arah belakang. Ada sebuah bayangan masuk, menatap lekat-lekat pada bayangan yang mendekat. Leha dengan cepat meraih handuk dan membungkus tubuhnya.
Siape dah ntu kagak mungkinkan perampok? Ya kali! Dan saat pintu pembatas antara kamar mandi dan tempat wastafel dibuka, tangan satunya sudah bersiap pada keran air yang akan ia buka pada air panas. Leha siap mengarahkan semprotan air pada siapapun itu!
Semprotan shower Leha arahkan pada bayangan yang mendekat dan menyemprotnya.
"Hargh panas … panas!"
Lelaki itu mundur dan melindungi tubuhnya dari panasnya air yang Leha siramkan. Ia jatuh terduduk. Merimpit di bawah wastafel.
"Rasakan! Siapa kau! Berani-beraninya masuk, nggak liat ini ada yang lagi pakai!"
"Panas! Kau gila!" Bentaknya membuat Leha tanpa sadar menggeser air ke arah air dingin.
Derapan langkah mendekat.
"Ada apa ini?" Suara tak kalah keras terdengar pada pintu kamar mandi. Melihat horor Leha dan lelaki yang duduk dilantai.
Mati gua!
Tbc.
__ADS_1