Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 61


__ADS_3

"Dia mantan terindah, gue kalah sama masa lalunya" ucap Sabrina terdengar agak lirih. 


"Ternyata dunia beneran sempit ya" celetukan yang Sabrina buat ceria. 


Tak!


Tulang ayam Leha jatuh, di meja. Mata membulat, bibir terbuka, menatap sang sahabatnya yang kembali mengunyah makan miliknya tak percaya.


"Yang embtul Nol!" Pekik Leha. Sabrina mengangguk. "Terus lu putus apa diputusin?" Ada sedikit kesal Leha saat melihat aura sendu yang Sabrina pancarkan.


"lya, jaman waktu kuliah, gue ketemu dia di jerman" Sabrina melanjutkan kuliahnya disalah satu universitas bagus di Jerman dan bertemu dengan Nalendra. Mereka menjalani hubungan lumayan lama 2 tahun dan serius. Tapi entah mengapa Nalendra yang awalnya manis dan perhatian menjadi cuek.


"Diputusin dan yah masalah pacaran gimana sih? Mulai bosan dan mencari lain" ucap Sabrina santai.


"Lu di selingkuhin, emang bang saat ntu si kunyuk, sukanya bikin rusuh!" Kesal Leha.


Sabrina menatap penuh selidik pada Leha. "Emang lo punya masalah sama dia?" Sabrina meraih waffle dengan ice cream dari gerai ayam sebelah, mengunyahnya.


"Bukan gue tapi ntu kunyuk yang selalu ngerecokin idup gue, gak setuju abangnya sama gue" Leha pun menceritakan  semua kelakuan Nalen pada Sabrina. 


"Kenapa dia begitu? Dulu perasaan Nalen ngga serese itu" Leha hanya menghentakkan bahunya.


"Terus gimana ceritanya lo ketemu sama lakik lo?" Leha tampak berpikir ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Sabrina atau karangan seperti yang Nami tahu? Leha bingung ia terbengong.


"Heh! Malah ngelamun! Gue nunggui!" Ucapnya menyuapkan kentang goreng pada Leha.


"Ya ketemu gitu gak sengaja, ya udah jatuh cinta deh" Leha tak berani menatap mata Sabrina yang penuh selidik.


"Kapan? Dan dimana? Jam, hari, bulan, tahun? Gue perlu detail!"


"Ah elah lu macam sensus aje! Semuanya aje, gimana gue pegangan tangan, ciuman sama indehoy!"


Pluk! Pluk! Pluk!


"Anak nakal! Lo ikutan sek bebas!" Pekik  Sabrina melempari leha dengan kentang yang berlapis saos tomat yang jatuh kepiring dan saosnya muncrat mengenai wajahnya.


"Nol dosa buang-buang makanan lu dikutuk gusti Allah!"


"Halah, dosaan mana sama lo! Yang suka indehoy! Pake segala nyebut lo!" Sabrina terus melempari kantang goreng, setelah kentangan habis Sabrina beralih pada waffelnya.


"Nol jangan! Kagak bae buang-buang makanan, Lu mau ngelempar kentang kagak ngapa tapi jangan itu!" Leha panik. Sabrina yang mengaduk Waffle dan es krimnya menatap Leha dengan alis menaut. 


"Siapa pula mau lempar lo pake ini! Suuzon lo uhktea!"


"Lanjutin cerita lo, Jadi kengen Bunda Nami, kabarnya gimana dia? Dia itu mertua ideal, Hot, baek dan nggak nyirnyir padahal dari kalangan konglo tapi ngerangkul"


Ponsel Leha berbunyi "Nih pucuk dicinta nasi ulam pun tiba" Leha memperlihatkan ponselnya pada Sabrina tulisan Bunda tertera pada layar yang berkedip.


"Leha?" Suara lelaki yang Leha kenali.


"Bapak?? Kok pake ponsel Bunda?"


"Ya kamu kalau saya yang menghubungi pasti tidak diangkat!" Ada rajukan yang terdengar di seberang. Kembali kernyitan terlihat dari dahi Leha. Ada apa dengan Isak?

__ADS_1


"Bundaaaa Brina kangeeennn" teriak Sabrina.


"Siapa itu?" Ujar Isak.


"Bisa kasih Bunda ponselnya."


"Nggak! Saya yang nelpon ya ngomong dengan Saya!" Benar Leha dibuat bingung dengan kelakuan Isak.


"Bapak sehat?"


"Iya"


"Ya kalau begitu kasoh dulu sama Bunda ponselnya ya Bapak yang ganteng, manis dan anak baik"


Hening.


Tapi Leha bisa mendengar suara langkah kaki. "Bun Leha" Leha menatap Sabrina yang mengharapkan berbicara dengan Nami. Tak menyangka Isak menurutinya membuat Leha tak bisa mengatakan apapun.


"Iya Anak Bunda?"


Leha kemudian menyerahkan ponselnya pada Sabrina.


"Bunda? Ini Sabrina, kangen Bunda" ucap Sabrina senang. Netranya mulai mengembun. Ia terharu bisa kembali berbicara pada malaikat baik hati.


Putusnya ia dan Nalen sangat membuat Sabrina sedih. Bukan masalah ia tidak lagi memiliki hubungan dengan Nalen melainkan ia tak bisa lagi berdekatan dengan Nami.


Sabrina sama seperti Leha. Mereka seorang Piatu. Bedanya jika Hamid memilih menduda hingga akhor hayat berbeda dengan Wahyu, ayah Sabrina, ia telah memiliki keluarga baru, dan membuat Sabrina terasing.


Masalah keluarga Sabrina lumayan rumit. Dan karena kesamaan itu mungkin membuatnya nyambung dengan Leha.


Dan disinilah Leha dan Sabrina di parkiran luas sebuah rumah munggil bergaya betawi milik keluarga Leha. Alias mereka berada di depan rumah Leha.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Sosok paruh baya keluar dari sebuah kamar dengan kipas satenya.


"Abah kapan balik?" Leha menghampiri Abahnya. Ia menyalami Abahnya.


"Tadi pagi, ini siapa?"


"Sabrina bah, temen Leha SMA"


"Sabrina Bah"


"Oh iya, Aye Abah Leha" Sabrina menyalami Hamid. 


"Lu udah balik Ha?"


Sari keluar dari kamar Leha dengan mengucek matanya. Ia baru bangun tidur siang.


Ya kerjaannya setiap harinya begitu. Pagi ia akan memberi makan kambing juga bebek peliharaan Hamid. Siangnya rebahan, sorenya memeriksa kembali keadaan kambing juga bebek Hamid. Kegiatan itu yang Sari lakukan sejak tinggal dirumah Leha.


Isak pernah menawarinya untuk kembali bekerja di Lewi tapi Sari menolak. Ia malu.

__ADS_1


"Sabrina Wanacara?" Desis Sari, pembawa berita gosip yang selalu Sari pantengin saat rebahan. Sari mendekat.


"Iya"


"Astajim Haaaaa ... kok mbak Sabrina, ada disini? Bening bener, putih, cakep banget mbak" 


"Makasih" Sabrina merasa senang, ia biasa mendapatkan kata-kata itu. Ia telah terbiasa.


"Mbak aku penggemarmu! Penggemarmu, boleh minta tanda tangan?"


"Ha, lu punya spidol?"


"Ada dikamar, buat ape dah ah?"


"Tanda tangan lah, pan kejadian begini langkah, kagak bakal dua kali gue ketemu beginian" Sari masuk dengan cepat ke kamar Leha. Ia keluar dengan wajah sumringah. 


"Mbak Sabrina disini Mbak tanda tangannya disini" Sari menjulurkan spidol kemudian menunjukkan punggungnya. "Yang gede ya mbak" kembali ia merequest.


"Disini?" Sabrina memposisikan tangannya dan mulai membubuhkan tanda tangan miliknya. "Untuk Sari" ucap Sabrina.


Sari kegirangan mendengar Sabrina menyebutkan namanya. 


***


Makan malam semakin seru karena Saipul datang dengan Kedua ulat sagu ginuk-ginuk ponakan Leha. Juga tidak ketinggalan ada Isak menyusul. Dan membuat Isak terkejut, adanya mantan adik iparnya. Yang ternyata sahabat SMA Leha.


Ramai.


"Nak Isak ikut Abah kerumah Wak Hasbih, kita ada yang mau dirundingkan"


"Ha, Abah kerumah Wak Hasbih, sama Isak"


"Ya Bah kalau bisa Mpok Jana suruh kemari aja," setelah Saipul pamitan pulang. Sebenarnya Leha melarang mereka pulang. Tapi kedua ginuk-ginuknya sudah mengantuk dan sedikit rewel.


"Ya, assalamualaikum"


"Kapan lu dikawini sama pak Bos?" Celetuk Sari. Selama ia menginap di rumah Leha, ia melihat kedekatan Leha dan mantan Bosnya itu sudah seperti layaknya pasutri.


"Apa dah lu, tiba-tiba ngomongin kawin" Leha kembali mencomot singkong goreng diatas meja.


"Bener, jangan sampe kebablasan."


"Apa dah kalian, siapa yang kebablasan?"


"Semua orang juga bisa ngeliat gimana si Isak ngebet sama lo! Sedari tadi ngintilin loooo mulu, nggak sadar lo? Kasaian kali sama jomblowati macam kita ya nggak Sar?"


"Betul sekali Na, lu kagak sadar apa kagak peka sik! Kalau ntu Pak Bos kagak ada inisiatif, coba elu yang lamar dese" ucap Sari. Dengan mengunyah kacang rebus. Sabrina juga mengunyah kedelai rebus yang mereka beli pada pedagang keliling yang sering lewat depan rumah Leha.


"Mbak sab, suka makanan kampung begini?"


Sari takjub saat melihat Sabrina mengulurkan tangan meraih rebusan kedelai. Sore sebelum mereka makan malam.


"Suka, ini lebih sehat dan alami, tapi sekarang makanan sehat begini jarang sekali gue dapet, adanya yang import, kalaupun kedelai adanya yang kering."

__ADS_1


"Iya padahal sehat, Wah boleh ini jadi cemilan di dalem katering sehat." Mengalirlah obrolan katering sehat milik Leha. Dan Sabrina menjanjikan akan mempromosikan makanan sehat di akun media sosial miliknya.


Tbc.


__ADS_2