Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 44


__ADS_3

"Lewi"


Bita mendekat. Senyuman Isak melebar. "Dimana Zain?" Tanyanya.


Isak didepan toilet ia menunggui Leha. Sejengkalpun Isak tak melepaskan Leha. Kandungan Bita masuk bulan ke lima tapi terlihat seperti bulan ke tujuh.


Bayi dalam kandungannya mengalami obesitas. Dan diet sangat disarankan. Isak melihat Bita berjalan cepat dengan heelsnya membuat agak ngeri.


"Kamu menunggu Leha?"


"Iya,"


"Kamu sangat bahagia, aku sangat bersyukur. Aku percaya sekarang."


Senyuman Isak menggembang, senyum yang tak pernah Bita lihat. Pandangannya menatap kedatangan Leha juga Nalen yang berdebat.


"Mengapa kau buru-buru pulang kampung kakak ipar? Disini lebih enak kau bisa bertemu dengan idolamu"


"Kau berisik sekali. Tanya saja dengan  abangamu langsung!"


"Ada apa ini?"


Isak menatap Nalen dan Leha bergantian. Ia menatap Leha yang berwajah masam.


"Nalen jangan ganggu kakak iparmu"


"Cieeee diakui nih yeee, gimana rasanya kakak ipar?"


Leha tentu terkejut. Perubahan Isak begitu dramatis dan membuatnya agak ngeri. Leha menatap tajam Nalen.


Bita melihat itu ia teringat dulu saat ia di posisi Leha. Ada rasa iri, namun Bita bisa menutupinya dengan senyuman manis yang menipu banyak orang. Tatapan Bita lurus menatap tawa Nalen.


"Mbak Bita? Sendirian?"


"Iya Zain menyusul nanti"


Bita sedikit gelagapan saat Leha berusaha mengobrol dengannya. Matanya meliar, melihat respon Nalen yang juga memandangnya dingin. Dan membuat wanita hamil itu muram.


***


Leha menguap lebar, pagi buta dan Leha hanya mengenakan baju tidurnya dan jaket tebal saja. Isak membangunkannya. Saat bulan masih setia pada langit malam.


Rena mengatakan jika pihak Kimura Level ingin bertemu langsung dengan Isak. Dan memang masalah di Qatar telah selesai. Tanpa menunggu Isak menjadwalkan dengan cepat.


Untuk orang tua nya akan menyusul seminggu kemudian. Mereka akan menggunakan jet pribadi.


Mereka hanya tidur dan lagi, Leha mendapatkan bisnis class. Estimasi kedatangan mereka saat makan siang, setidaknya nanti Isak bisa langsung ikut rapat oleh Kimura Level jam 2 siang.


***


Jam menunjukan pukul 11 siang dan tidak mungkin mereka tidak terkena macet. Turun bandara mereka membersihkan diri di ruang tunggu khusus.

__ADS_1


Dengan Pak Dio menjemput kedatangan mereka. Isak sudah mengenakan jasnya sedangkan Leha akan diantar pulang. Sudah dua minggu lebih ia berada di Qatar.


Abahnya sangat rindu. Leha sekarang membawa oleh-oleh sesungguhnya dari daerah, Leha membawa banyak coklat, pasmina, perhiasaan untuk dirinya sendiri. Yang banyak Nami belikan untuk Leha.


"Onti Leha dataaang membawa oleh-oleh untuk duo gembulnya ontiiii" Leha ada di kontarakan milik Saipul.


"Wah ade yang batu dateng enih, mane oleh-olehnya ontiii" Saipul menggendong kedua bocah gembul itu.


"Mana Diana?"


"Lagi ke pasar beli susu"


Leha sudah meletakkan satu kresek besar oleh-oleh khusus untuk gembul. Ia mengeluarkan coklat yang ia bawa.


Coklat yang menggunakan susu onta. Rasanya berbeda dengan coklat bisa. Bentuknya juga khas. Berbentuk onta.


"Wadaw coklat onta,"


"Dari susu onta enih lu beloman coba kan, nah ini coba makan-makan"


Sebenarnya Leha tidak suka kena tidak cocok di lidahnya.


"Ha emang kembar boleh makan coklat? Pan masih piyik ha"


"Belon boleh si, kalo gitu buat lu lu aje," Saipul mengangguk tapi ia juga menjilatkan sedikit coklat pada kedua gembul dan mereka doyan.


Ia menyuapkan lagi. Namun tak banyak-banyak tapi malah membuat mereka rewel.


"Demam semalem, ini abis maem teeus mau gue kasi tidur eh elu nongol."


Leha sudah menggendong Aldo. Ia menimang dan memeriksa dahinya, masih hangat.


"Mana termometernya?"


Saipul mengambilkan untuk Leha termometer. Dan mengklik tepat di dahi sang bayi. Dan 37, 8 °C


Masih demam makannya rewel. Apalagi kembar, satu sakit tentu yang satunya ikut sakit.


"Udah lu kasik obat?"


"Udah waktu panas tinggi semalem, sekarang gua kompres aja. Ini kompres barunya"


Saipul memberikan kompres instan. Leha memakaikan pada kelapa Aldo.


Ia mendengar motor yang berhenti di depan kontrakan Saipul. Itu pasti Diana.


"Gimana anak-anak Bang?"


"Leha, udeh pulang lu?"


"Iyak mpok"

__ADS_1


"Bentar yak gue bikin susu dulu"


Diana masuk dengan tergesa. Ia hanya bisa memberi anak mereka susu karena kedua nya jadi susah makan.


"Gue gak ganggu lagi dah, gua mau ke kosan Udin ntu orang di cariin mah abah gua kagak pernah main katanya"


"Pamit yak!" Leha menancap sepeda motornya dengan membawa oleh-oleh untuk Udin.


"Bang Lu kagak cerita? Udin sama Ratu berantem?"


"Ya oloh, Lupa gue, sibuk ngurus si kembar kesayangan ayah"


"Yaudelah entar digebok kalo itu Udin" ucap Saipul yang sedang mengganti popok Aldo.


***


"Din Udin!" Leha mengetuk pintu kamar Udin, tidak ada jawaban,


Apa masih ngojek tuh bocah, pikir


Ratu pun ia tak temukan. Leha kembali pulang ia menggantungkan oleh-olehnya di kenop pintu kosan Udin.


***


Rapat dengan Kimura Level berjalan lancar. Leha mengendurkan dasinya. Ia menatap ponselnya. Ada satu pesan dan satu panggilan dari Leha.


Pesan hanya bertulisan Bapak Kangen.


Isak tersenyum, ia mendial nomor Leha dan menunggu sambungan itu diangkat.


"Halo"


"Kamu belum tidur?"


"Hah? Belum ini mah masih sore bapak!"


"Kok bapak lagi?" Isak terdengar merajuk.


Tawa renyah khas Leha membuat Isak ingin bertemu dan memeluk Leha. Jujur rasa untuk Leha itu ada tapi rasa untuk Bita juga belum sepenuhnya hilang.


Saat ia mendapat pesan dari Bita juga detak jantungnya masih bergetar walau tidak sekuat dulu. Ia menyadari jika berkurang banyak.


Dan itu suatu kemajuan, makanya Isak mencoba untuk lebih serius dengan Leha. Isak tidak menyesal. Leha membuat harinya lebih hidup mungkin kayak jargon iklan televisi.


Setiap omelan juga rasa kuatir dan kecerewetan Leha membuat hidupnya rame. Apalagi jika logat betawi nya muncul. Kadang Isak tidak begitu mengerti.


Isak sedang mengusahakan untuk menutup lembaran masa lalunya. Semoga Leha mau menunggunya. Berpacaran setelah menikah. Itu adalah rencananya ke depan.


Dan yang pasti Isak tidak mau Leha meninggalkannya. Semua belum Isak utarakan hanya dalam pikirannya. Segera. Sebelum lamaran resmi. Ia akan bicarakan semuanya pada Leha.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2