Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 59


__ADS_3

Melihat pengawal wanita itu mundur. Ia membisikkan sesuatu yang memacu kemarahan wanita bertubuh mirip balon, bukan mau menghina tapi memang kelakuannya pantas untuk dihina.


"Pergi sekarang atau Lu nggak akan bisa jalan lagi!"


"Lu siapa? mengacam gua?!" Teriaknya.


"Aaahrgh!" Leha tak segan menggerakkan kakinya dan menjepit kaki si bulat.


"Hhh … Utang dia banyak! Bapaknya yang modar ntu ngejual dia ke gua! Lu nggak bisa ngambil dia sembarangan! Dia punya gua!" Ucapnya kencang.


"Bohong! Lu ngejebak bapak! Lu juga yang ngebuat bapak gua mati! Iblis lu!"


Mata Sari membola dan berkaca. Ia marah dan tidak terima. Haikal dan juga Perdi menghalangi Sari yang ingin mendekat pada wanita bulat itu. Arahan Leha pada kedua lelaki itu.


Tawa wanita bulat itu mengelegar. "Lu nuduh gua? Mana buktinya kagak ada?"


Mata Leha nyalang, ia memelintir tangan dan menarik salah satu jari gemuk milik wanita itu.


"Lu juga nggak punya bukti kalau dia punya lu! Jadi nggak usah pake segala keoonan lu! Pergi dari sini atau lu masuk penjara!"


"Lu semua liat aja! Gue akan buat perhitungan!" Wanita bulat itu memberontak kasar. Dan Leha mengangkat tangannya ke udara. Ia melepaskan wanita yang sedang merapikan  bajunya yang kusut.


"Jangan seneng dulu, gua bakal nyeret ntu pe cun siaalan!!" Wanita itu berlalu.


"Ah bentar. Gua punya lu terlibat kematian bapak dia, juga banyak kejahatan lu disini!" Leha menggantungkan benda kecil yang membuat mata si bulat melebar.


"Jadi kesini aje kalo lu mau masuk penjara!" Ucap Leha.


Saat di rumah sakit Sari akhirnya menceritakan apa yang sedang ia alami. Sari memberi Leha sebuah flashdisk pada Leha juga Isak.


Isak berinisiatif untuk mengambil laptop yang ada didalam mobilnya. Disana Sari juga baru melihat apa yang ada di dalam flashdisk itu. Sari menangis kecang. Melihat ayahnya yang tidak mau menandatangi surat untuk lelaki itu menyerahkan sang putri.


Lalu siksaan dilayangkan pada lelaki paruh baya itu. Sari tambah menangis saat tahu tubuh sang ayah dilempar begitu saja ke depan rumahnya.


Dan Sari ingat saat melihat sang ayah yang penuh luka dengan bau alkohol saat itu. Bukan  membantu ia menyiram sang ayah dengan air. Sari muak, melihat ayahnya yang sering pulang dalam keadaan mabuk itu.


Sesak. Dada Sari sesak. Mendapati ternyata ayahnya masih memiliki hati tidak menjualnya. Saat itu ayahnya sakit. Namun Sari tidak peduli. Ia hanya mengobati dengan obat yang ia beli di warung hingga akhirnya sang ayah menghembuskan nafasnya.


Dan dokter bilang karena serangan jantung dan luka yang membusuk didalam tubuh ayahnya. Saat itu Sari pikir luka membusuk itu akibat alkohol yang ayahnya minum.


Sari memukul dadanya. Ia tergolek di lantai ruangannya  yang dingin.


"Gua jahat Ha … "

__ADS_1


"Gua jahat … " tangisnya mengeras, rasanya walau ia telah menangis sekeras itu tapi rasa sesak penyesalan dan juga bersalah menggerogoti hatinya.


Seharian itu Sari hanya menangis, Leha selalu disampingnya dan menguatkannya.


"Lu dapet FD enih darimane?" Leha bertannya pada Sari saat wanita itu tampak lebih tenang.


"Orang yang mukulin gue, gue rampas dari dia makanya dia mukulin gue."


"Bukan cuma bapak lu aje, korbannya idah banyak, dan tuh orang yang videoin ini, gile kali ya?"


"Kamu tenang aja, saya akan bantu kamu, dan kamu tidak perlu takut lagi"


"Lu tinggal dirumah gue aja setelah ini, lebih aman" Leha menatap Sari ia tak tahu jika ada hal semacam itu yang terjadi pada temannya.


"Nggak usah, ntar Mami Sandra tahu tempat lu, gue nggak mau buat keributan di tempat lu!"


"Tenang aje, kampung gue bisa ngelindungi lu dari itu si mami-mami entu, udah lu tenang aja, gue sama temen-temen gue bakal ngelindungi lu!" Tegas Leha.


Itulah mengapa Sari tinggal di rumah Leha.


Kampung Leha menjadi lebih diperketat. Mereka menerima keberadaan Sari. Kampung leha adalah kampung padepokan  silat. Padepokan besar milik Abah Leha juga Uwaknya. Namun yang banyak mengelola Uwak Hasbi.


Leha bisa dikatakan jago. Ia sudah masuk sabuk hitam, juga ilmu kebatinan Leha ikuti juga. Namun ia ikut hanya sampai kelas satu SMA karena ia lebih tertarik pada Paskibra.


Leha masuk tingkat sabuk hitam, ia berhenti disitu tingkat 7. Mana masih ada 3 tingkat lagi yang harus Leha capai.


***


Leha menyalakan aplikasi ojol miliknya. Centung keras terdengar.


Ia mengangguk penumpangnya. Leha masih terus mengojek saat berangkat ke kantor. Setidaknya bisa untuk uang bensinnya.


Rumah sang penumpang tidak jauh dari rumahnya dan dia searah. Perumahan elit. Ia masuk dan satpam mengizinkannya. 


Ia telah berdiri di depan sebuah rumah megah dengan pagar kayu yang tertutup tinggi.


Leha mengirim pesan pada sang penumpang. Tak lama Leha mendengar ketukan sepatu mendekatinya.


Leha menatap wajah cantik dengan dan dandanan ala wanita karir. Karyawan elit, Lewi crop.


"Leha?" Suara wanita itu membuyarkan lamunanya.


"Kamu Sholeha Badrun?"

__ADS_1


"Leha lu lupa gue?" Wanita  berambut sebahu lurus dan halus itu menepuk bahu Leha kencang. Lalu si wanita itu menggoyang-goyangkan tubuhnya didepan Leha.


"Sabrinol! Ini elu! BRINOL!!!" Pekiknya kencang.


"Iyaak, Sholehot lu kemana aja! Gue pernah nyari rumah lu, tapi gak ketemu!"


Wanita itu memeluk Leha kencang begitu pun dirinya membalas tak kalah kencang.


"Kangen gue ama elu! Kerja ojol lu?"


"Iyak, tapi gue jadi OB juga"


"Dasar lu ye, selalu aja nggak mau diem."


"Kalau diem aje dirumah badan gua pegel-pegel bawaannya. Udah naek lu!"


Sabrina Wanacara, sosok pembawa berita gosip di salah satu program televisi. Dia adalah sahabat Leha saat SMA juga sahabat yang menggantikan Leha untuk masuk menjadi anggota paskibra kepresidenan.


Wanita cantik yang ayu. Tinggi bak model. Rupawan. Pokoknya mah cakep.


"Ha, lu kerja dimana? Ntar makan yok, kita rayain pertemuan kembali belahan jiwa gue ini"


"Duileeh lebay!"


"Ah elah nggak seneng banget kayaknya ketemu gue lu, Lehot!"


Nama unik Brinol dan Lehot. Dulu mereka pernah menemukan majalah dewasa di gudang sekolahan. Entah punya siapa. Dan nekatnya mereka membuka majalah itu.


Ikut berpose menggelikan dengan nama panggung mereka Brinol dan Lehot. Kelakuan acak mereka tidak hanya sampai disitu. Masih banyak lagi.


Namun mereka jarang bertemu hingga tidak lagi kontakan saat Sabrina mulai sibuk dengan kegiatannya menjadi model majalah remaja. Benar. Dengan wajah khas indonesia yang ayu. Sabrina dilirik banyak agensi.


Tapi Sabrina hanya 3 tahun saja menjadi model, setelahnya ia melanjutkan sekolah keluar negeri.


"Lu mau jemput gue ntar pulang lu kerja atau gue kasih bintang satu sama komenan menjatuhkan"


"Keluar dah sifat julit lu! Males gua!" Sabrina terpingkal mendengar gerutuan Leha.


"Lu selesai jam berapa?" 


"Jam 6an"


"Okey ntar gue jemput, turun!" Perintah Leha. 

__ADS_1


"Siap bos. Makasih bestie, gue nggak usah bayar yak!" Leha mengangguk. Lalu melajukan motor beat kesayangannya. Ia tidak menyangka bertemu sahabat yang telah lama tak bertemu.


Tbc.


__ADS_2