Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 47


__ADS_3

Leha tidak bisa tidur, ia memikirkan jika ia dijebak. Benar apa yang Enda ucapkan. Ia tak merasa membawa berkas milik Isak.


Dan Enda akan membantunya. Saat itu tidak mungkin ia kembali. Ia sedang berkelahi di pembakaran sampah belakang gedung perusahaan.


Ia bisa memakai itu sebagai buktinya. Sudah banyak pesan yang Leha kirim pada Isak namun tidak satupun dibalas lelaki itu. Kesal.


Ia marah dengan ucapan Isak, namun Leha mengesampingkan itu semua. Ia ingin membuktikan jika dirinya dijebak.


Leha telah mengatakan semuanya pada Isak. Dan sampai pagi harinya Pesannya hanya dibaca tanpa dibalas.


Bahkan telponnya tidak diangkat. Rasanya begitu menyakitkan.


Besok Leha akan berkoordinasi dengan Enda juga Sari.


***


"Bisa bertemu dengan Isak?"


"Sudah ada janji bu?"


"Belum, bilang saja Tabita Dania"


"Baik Bu,"


***


Hari kedua Leha dirumahkan. Untung abahnya tidak dirumah. Dan Leha mendapat kabar dari Enda jika hukuman Leha tetap, dirumahkan tiga hari.


Leha membagi tugas. Enda mengumpulkan cctv dan Sari mengawasi. Enda mendapatkan rekaman cctv. Dengan mudah. Enda dekat dengan salah satu orang keamanan.


Sari mencari orang yang mencurigakan. Tapi menurutnya tidak ada yang mencurigakan. Dipertengahan pengintaian Leha tidak dapat menghubungi Sari.


Leha tidak ambil pusing. Ia seharian menunggu kabar dari Sari. Dan ia tak sabar menunggu kedatangan Enda kerumahnya.


Enda datang dengan memberikan Leha flashdisk, di dalam terdapat rekaman cctv. Leha mencocokan. Benar pada hari yang sama dan yang sama ia berada di dua tempat. Kan nggak mungkin. Besok ia akan datang ke kantor untuk menemui Isak.


"Dijebak ini lu Ha, benerkan apa yang gua bilang, gila siapa yang nggak suka sama lu di kantor?" 


"Perasaan gue nggak ada musuh, kecuali genggong gosip ntu dah, apa ini masih kroconya ntu geng gosip Nda?"


"Bisa jadi, mereka sih yang bakal kita curigai. Lagian salah sendiri nggak sih?"


"Tapi siapa ini yang nyamar jadi elu?"


"Pusing lah gue!"


Leha memyandarkan kepalanya pada sofa kayu milik Hamid. Siapa yang tega menjebaknya.


"Lu liat Sari kagak tadi di kantor? Dia gie suruh jadi mata-mata, di pertengahan malah ilang kagak ada kabarnya."


"Gue liat tapi gue kira lu nggak ngelibatin dia, tadi papasan tapi dia agak aneh. Kagak fokus sama kerjaan, dia agak pucet mukanya."


"Apa dia sakit?"


"Yaudahlah besok gue besok mau kekantor."


"Satan gue sih lu baek-baek dirumah aja dulu, sampe masa 'dirumahkan' lu ini kelar, baru lu masuk dan ngasik bukti kalao lu dipitnah."

__ADS_1


"Bener sih, gue kagak mau buat masalah lagi. Oiya kalau gitu gue nitip enih ya. Kasik langsung ke Pak Isak. Dar gue"


Enda pulang setelah mereka berdiskusi lama. Jana datamg kerumah Leha.


"Leha ini ada orang ngotot mau jadi pelanggan. Dia dm dm Mpok terus. Gimana ini Ha, di cecer terus Mpok ampe takut gue"


"Mana?"


Leha melihat pesan yang dikirimkan pada Leha. Dia merasa tidak asing dengan namanya.


Melihat sosial media milik wanita itu. Leha menyadari. Tabita Dania.


Kok dia berada di indonesia?


***


Leha bertemu dengan Tabita. Di Sebuah restoran yang Bita pilih. Suasananya cukup indonesia. Ada pendopo-pendopo kecil mengelilingi restoran ini.


Suara gamelan sesundaan mengalun, berasa kayak dikawinan sunda. Menu makannya ada yang model prasmanan, ada pula yang pesan dulu.


"Lehaa" seruan senang didepannya.


Leha beranjak melihat wanita dengan perut buncit. Sangat berbeda dengan Dewi yang buncitnya yang kecil, kalau yang ini besar.


Melangkah saja, kesusahan, nafas yang tersenggal tampak didepan Leha dengan cengiran.


"Pelan-pelan Mbak Bita, Leha nggak kemana-mana kok"


"Iya aku tuh dari turun pesawat iti pengen langsung ketemu kamu."


"Duduk mau minum apa?"


"Kamu tahu Leha kenapa aku milih makan disini, ini tempat kalau aku sama Lewi kangen masakan indonesia. Biasa kalau mudik bareng dari bandara langsung kesini, makanannya enak-enak"


"Kamu cobain gurame bakarnya itu kesukaan kita, Lewi itu suka banget sama ikan, juara pokoknya kalau makan ikan."


Leha masih mencerna. Dengan segala info yang Bita berikan.


"Mbak Bita, ini Leha bawa contoh masakan dari katering Bita"


Dan tentang Isak yang suka ikan, Leha malah menemukan jika Isak benci sekali sama ikan. Yang suka itu Nalen. Leha memperhatikan jika mereka makan. Nalen akan memilih bakaran seafood sedangkan Isak dedagingan.


"Oh iya sampe lupa, malah ngomong aneh-aneh. Tapi kenangan ya membekas karena menyenangkan. Dan memiliki arti khusus."


"Oh iya ini yang ingin aku reques, Gurame bakar ini, apa kamu bisa memasaknya untukku?"


Setelah makanan pesanan mereka datang satu persatu.


Leha mengernyitkan dahinya. Apa maksud omongan Bita. Sedari tadi ia merasa agak aneh. Dengan wanita di depannya ini. Bukan seperti Bita yang ia kenal awal-awal.


"Maaf telat"


Leha menengok ke sumber suara.


"Lewi kamu sudah datang, ayo sini-siniiiii aku pesan makanan kesukaan kita disini"


Leha menatap sosok yang mengacuhkannya dua hari ini. Bita menyeret Isak dan mendudukkan lelaki itu disebelahnya. Berhadapan dengan Leha.

__ADS_1


"Aku juga undang Leha. Siapa tahu dia bisa masakin menu disini buat aku"


Bita membalikkan piring Isak dan melayaninya layaknya seorang istri. Sedangkan Leha sang tunangan, hanya diam memperhatikan.


Begitu pun dengan Isak yang hanya menatap datar Leha. Suasana tentu canggung hanya Bita yang antusias, dan dua mahkluk lainnya hanya makan dan sesekali menimpali ucapan Bita.


Dalam hati, Bita tidak tahu jika Isak dan Leha sedang dalam konflik. Ponsel Leha berseru kencang. Lagu winning dance.


"Mbak, Leha misi dulu yak, mau angkat telepon"


"Iya Mpok. Bu Ainun iya, bentar lagi"


"Mbak Bita, Leha mau pamit dulu ya Mbak, ini Leha mesti nganter kantering  yang lainnya."


"Lho maafin aku ya Ha, okay nggak apa ada Lewi juga disini"


"Iya Mbak, Pak Leha permisi"


Leha mengambil helm ojolnya. Lalu melihat ponselnya pura-pura sibuk. Leha menaiki Beatnya. Memacunya kencang menembus jalanan ramai.


Rasa kesal, bercampur rasa marah, gundah dan sedih juga bahagia mengelung di dalam dada Leha. Isak yang mengabaikannya begitu menyakitkan.


Ia tidak bisa merasakan makanan yang ia makan tadi. Perhatian dan sikap lembut Isak pada Bita membuat Leha terluka.


Mungkin ia akan dipecat setelah ini, atau ia akan mengundurkan diri. Leha tidak lagi semangat untuk menunjukkan dirinya tak salah. Semangatnya yang kemarin menggebu lenyap tertiup angin.


Paling benar memang galau kau naik motor. Tanpa sadar kau sudah mengantarkan ke tempat tujuan akhir. Leha pun tak paham, dengan pikiran yang caruk marut ia bisa selamat.


***


"Ha, Lehaaa" Nilam lari menemui Leha yang baru saja sampai dan melepaskan helmnya.


"Kenapa?" Leha melihat nafas Nilam yang tersenggal.


"Bentar gue nafas dulu" Ia mengamati Nilam dan turun dari motornya. Melangkah ke arah ruangan OB.


"Mbak Leha"


"Pak Min"


Leha mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya, Nilam masih diam mengatur nafasnya mengikuti dibelakang Leha. Ini hari pertama Leha kembali bekerja. Setelah menjadi 'dirumahkan' selama tiga hari.


Leha membuka lokernya dan mengambil seragam OBnya. 


"Leha, Sari mengundurkan diri!"


BRAK!


Leha menutup pintu loker keras-keras. "Ada apa?"


"Itu dia kita nggak tahu,"


"Dimana dia?"


"Harusnya sih lagi bersih-bersih lantai H" Sari bertugas dengannya. Leha melihat jadwalnya. Juga ada Enda di jadwal itu. Tadi di parkiran ia melihat motor Enda ada disana.


"Aku kerja dulu ya Lam. Sama nyari tahu kenapa itu buntelan kentut ngundurin diri!"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2