
"Buat manula, yang diet, atau bahkan yang memang ingin hidup sehat harusnya bisa Ha"
"Iya Pak, Leha sudah kepikiran tapi Leha masih takut pak"
"Aku besok mau lagi Leha" ucap Ibrahim
"Baik Pak" senyuman Leha mengembang,
"Leha mau bagi-bagi makanan ini dulu ke perawat dan satpam"
Isak bangkit. Langkah besar ke tempat Leha. Ia mengambil kantong plastik yang Leha bawa.
"Aku ambil 2" Isak merogo kantong plastinya yang ia bawa, lalu meletakkannya di meja dan satu Isak berikan pada Bita.
Menerima itu mata Bita melebar. "Kamu tahu" dan Bita dibuat melambung. Leha melihat itu. Ini bukan waktunya untuk cemburu.
"Kebiasaanmu nggak berubah, jika pengen sesuatu, kasihan anakmu" ucapan datar yang disalah artikan oleh semua orang yang mendengarnya. Termasuk Leha.
"Sisa 4 kita kasih aja ke pak satpam" Leha hanya mengangguk. Ia mengambil kantongnya namun Isak menjauhkannya dari Leha.
Lelaki itu menggandeng tangan Leha didepan semua nya dan menyeretnya dari sana.
Bita memperhatikan punggung lebar Isak yang menjauh. Tidak! Ia tak boleh menyerah. Tangannya mengepal roknya. Nalen tahu.
Leha dibuat bingung dengan perasaan Isak. Ia katakan jika ia sedang membuang semua masa lalunya. Namun kadang kala Isak melakukan kebiasaan masa lalunya dengan santai. Dan tentu itu menyakitkan bagi Leha.
Dan sekarang tangannya digandeng. Mengapa dirinya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Akan luluh jika Isak bersikap baik, mais dan penurut.
Sampai kapan ini akan terus berlanjut. Leha masih mengikuti langkah panjang Isak. Terus memperhatikan tangan mereka yang bertaut.
***
"Apa yang aku mau dari kakakku?" Nalen bersandar di dinding. Sengaja menunggu ibu hamil itu keluar toilet.
"Wow akhirnya kau menganggapku ada, apa kabar Nalen? Sudah berapa lama kita tidak berbicara? Setahun, dua tahun atau sepuluh tahun?"
Rahang Nalen mengeras.
"Kemana suamimu itu? Hot Dadah apa Sugar Dadah? Aku tak menyangka Bita" ucap Nalen menyindir Bita.
"Sepupu dilarang nikah! Apa kau lupa bagaimana kau menolak Isak, yang ternyata kau bukan sepupu kami" menusuk ulu hati Bita.
__ADS_1
"Itu dulu!" Desisnya.
"Dulu? Bukannya kau suka padaku, ya kan sepupu"
"Kau ini lucu sekali Nalen, apa urusannya denganmu sekarang? Aku tidak lagi menggaggumu! Ingat kau yang bilang lebih dulu dengan alasan 'Sepupu dilarang nikah' menggelikan!" Ucap Bita membungkam mulut julit Nalen.
"Untuk apa aku mengejar Abangmu, mungkin cinta tapi itu bukan urusanmu! Urusi urusanmu aja, Bambina, aku dengar dia kembali kemarin, Dan ya aku memang mengejar abangmu, sekarang!" Bita melengos, ia melewati Nalen yang diam membisu.
"Dan aku tidak bodoh Nalen, kau melepaskanku karena Isak menyukaiku, bukan? Dasar Bodoh!" Ucap Bita.
Maafkan mama Nakku!
Suara ketikan sepatu Bita menjauh. Di ujung jalan, mulut Leha dibungkam oleh Isak. Leha tidak tahu ada masa lalu seperti itu. Nalen si sad boy yang sesungguhnya.
Leha menggulirkan matanya ke atas disana Leha bisa melihat mata Isak melebar. Pancaran sedih, gelisa dan bahagia? Juga keterkejutan. Lama Isak terdiam dalam jeda.
Ah yang Isak cinta bukan Leha, bukan orang seperti dirinya yang pantas untuk Isak. Orang baru, yang tidak tahu siapa Isak sebenarnya.
Leha hanya kesalahan.
"Hei Bang, kau dengar sendiri, ini waktumu untuk berjuang!"
"Mendengar dari si Sad Boy, jika mungkin saja Bita dan suaminya sedang bermasalah."
Isak menatapnya lurus.
"Disini, ada Bita masih melekat erat kan? Jangan jadi bodoh, Bita hamil, dan dia butuh abang, Abang masih mencintainya. Bita masih bertahta dihati Abang" Lanjut Leha menunjuk dada Isak. Ia tersenyum pahit. Wajah Isak memerah. Remuk.
Mengapa kemarin Leha harus sepolos itu menerima kembali, dengan janji, berusaha melupakan, nyatanya, semakin dilupakan semakin cinta dan menguatkan.
Kembali ingatannya berputar pada pertemuan pertama mereka, terjebak dengan orang tua, nonton piala dunia, menjadi bahan gosip.
Dan kasih sayang yang Isak tunjukkan terakhir kalinya. Bergandengan tangan. Merengkuh tangannya. Debaran terakhir. Debaran yang membuatnya lupa jika Isak sedang berusaha. Dan gagal.
Bodohnya kamu Leha!
Harapan yang kosong, adalah kata- kata, suatu hari. Suatu hari jika Leha terus berusaha, suatu hari jika Leh tetap memberi perhatian, suatu hari jika Leha terus disampingnya, maka Isak akan mencintainya.
Harapan Leha terlalu tinggi. Harapan semu.
Bisa Leha! Lu Bisa!
__ADS_1
"Terima kasih Bapak, kita akhiri disini, Leha lepas abang, Leha pernah cinta Bapak!"
Leha menyingkir. Ia akan ke kamar Nami. Air bening terbendung dimatanya. Dengan langkah cepat Leha masuk dalam ruangan Nami. Dalam hatinya. Leha teeus memanggil nama Isak. Dadanya tersengat menyakitkan.
Menutup pintu Nami, ia berjalan perlahan. Memanggil Nami.
"Bunda"
"Bangun Bunda"
"Bantu Leha!"
Leha meremas tangan Nami perlahan.
"Bunda bantu Leha kuat!"
"Leha cinta Bang Isak!"
"Cinta banget Bunda!"
"Bunda Bangun, Ajari Leha kuat!"
"Bundaa …"
Leha menunduk dalam, ia mencium tangan Nami. Ibu baik hati yang menerima Leha.
"Bunda bangun Bun,"
Tangisannya tercekat. Isakan semakin terdengar menyedihkan.
"Bun, Leha pamit ya, terima kasih, buat kasih sayang yang Bunda kasih buat Leha."
"Bunda Leha sayang Bunda selamanya"
Leha melepaskan genggaman tangannya pada Nami.
Klek!
PIPPIPPIPPIPPIPPIP ….
Tbc.
__ADS_1