Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 36


__ADS_3

"Lewi?"


Leha menatap Isak yang membeku ditempatnya. Lelaki itu menoleh pada sumber suara perlahan. Netra Isak membola. Ia seperti melihat sosok hantu yang mengerikan. 


Penasaran. Leha menaikkan salah satu alisnya. Ia ikut melongok pada sumber suara yang merdu itu. Tapi mengapa Isak seperti melihat hantu.


"Nabila" guman Leha. Ia melihat sosok Nabila dengan rambut berwarna kecoklatan dengan ikal, terlihat lebih dewasa dan lebih cantik.


"Bita" ucap lembut Isak, Leha memperhatikan sudut bibir Isak yang perlahan mengembang, senyuman lembut. Raut wajah yang tak pernah Leha lihat dari Isak.


Raut bahagia dan kerinduan.


"Lewiiii … "


Wanita itu berlari ke arah Isak dan Leha. Dan menubruk tubuh Isak keras. Lelaki itu terdorong kebelakang.


"Kangen tauk"


"Hmm … "


Wanita itu memeluk erat Isak. Menenggelamkan wajahnya pada bahu Isak. Isak pun sama merengkuh erat wanita itu. Ia merengguk wangi yang ia rindukan. 


Memasukan dalam paru-parunya. Leha hanya sebagai penonton bisa merasakan kerinduan dari keduannya.


"Sayang" suara bas terdengar dari seberang Leha. Leha yang sedari tadi hanya sebagai penonton drama, melongok dari dua manusia yang akhirnya melepaskan pelukan mereka.


"Hati-hati dengan kandunganmu"


Sosok tinggi itu dengan rambut coklat terang dan mata keabuan itu mendekat. Wajahnya tampan dengan rahang tegas juga brewok yang rapi. Ia menggendong bocah gembul rambutnya sama coklatnya dengan lelaki itu.


"Aduh sorry honey mama lupa, salahin ini nih ongkelmu ini, masa dia nggak mau nengokin mama sih" Rajuk wanita itu.


"Hai Isak?" Sapanya pada Isak wajah lelaki itu kembali dalam mode datar.


"Hai" super datar.


"Hai ongkel Ewi, kenalkan aku onaldo gendong aku dong" 


Wanita itu menggerakkan tangan sibocah gembul itu pada Isak. Isak maju ia mengulurkan tangan dan mulai mendekap si gembul itu.


"Kyahahahak"


"Waah kamu suka ya nak sama Ongkel Ewi? Tapi dia jahat ya nak, masa nggak mau jengukin kamu" ia mendekat pada sang anak dan memainkan tangan anaknya, menonjok-nonjok dada Isak.


"Ongkel nakal-nakal" ucapnya menyerupai bayi.


"Sayang" Suara dalam lelaki itu memandang lurus pada istrinya.


"Kan bener Zain, Lewi nggak mau ketemu dengan kita, memangnya apa salah kita?"


Leha masih nonton dengan banyak tanya. Sebenarnya ini drama apa yang sedang ia hadapi saat ini. Wajah Isak yang tadi mulai relaks kembali menegang, ia tak baik-baik saja.


Apa ini saatnya Leha untuk masuk ke dalam adegan? Membuat suasana semakin hidup dan memulai perannya sebagai pacar pura-pura Isak.


Leha mendorong troli dan berhenti di samping Isak. Leha mengulurkan tangannya menarik-narik kemeja Isak.


"Star? Siapa mereka?"


Ia memiringkan kepalanya dan menatap Isak yang seperti tersadar dari kekakuannya.


"Kenalkan ini sepupu Sa, ehem … sepupuku, Tabita, dan suaminya, Zain"


"Oh hai, aku kekasih Isak, Leha, Sholeha Badrun"


Leha mengulurkan tangannya pada Bita yang menyambut uluran tangan Leha dengan antusias.


"Halooo … aku Bita, ini Zain, suamiku dan ini Leonardo, dipanggil si gembul Onaldo,"


"Tapi btw, Star, seriusly? Lewi?"

__ADS_1


"Iya itu nama panggilan sayang kami, Dia memanggilku Honey, dan Aku memanggilnya Star"


Leha berucap bangga. Ia tak menyadari Isak menarik nafasnya berat. Ia tak mengerti apa yang ada dipeikiran Leha.


"Tunggu Honey Star? Cereal itu?" Leha mengangguk. Tawa Bita mengelak kencang.


"Ahahaha, aduh ... perutku ... Kau sungguh luar biasa Leha,"


Bita tertawa hingga mengeluarkan air mata. Bita tidak bermaksud merendahkan Leha tapi ini sungguh lucu, Apalagi ini untuk seorang Lewi yang kaku dan dingin.


"Say halo ke onti Leha" ia mengarahkan tangan anak gembulnya pada Leha.


Leha mengangkat Onaldo dan mengendongnya. Ia terbiasa dengan duo gembul anak Saipul. Leha terlihat luwes saat mengambil Onaldo dari gendongan Isak.


"Hiaahahaha …"


Onaldo sangat senang saat di gendongan Leha. Ia mengacak-acak rambut Leha.


"Kamu ginuk-ginukku nomor tiga, soalnya nomor satu sama dua ditempati si kembar. Aduuhhh Gemesnyaaaa ...,"


"Aahahaaaaa … "


"Ah maaf aku ngegendong nggak izin, ini gak apa kan aku gendong"


Leha baru menyadari jika dirinya terlalu blangsak, dengan seenaknya sendiri mengendong bayi orang lain tanpa meminta izin dari si ibu.


"Nggak apa-apa lihat Onaldo senang dan gak rewel itu bagus."


***


"Hhaaabbrrr"


"Eaiahahehahk"


"Hhaaabbrr"


"Eaiahahahek"


"Kamu apa kabar?"


Isak membuka percakapan. Setelah lama mereka melihat Leha yang bermain dengan Onaldo. Zain, suami Bita, ia melanjutkan belanja yang sempat tertunda.


"Baik, kamu bagaimana?"


"Kamu … bahagia?"


Isak tidak menjawab pertanyaan Bita, matanya lurus pada mata Bita. Isak bisa melihatnya. Tentu saja Bita bahagia tapi ia ingin memastikan langsung dari mulut wanita itu.


"Sangat bahagia" Binaran itu. Terpancar dari kedua bola mata Bita. Tangannya mengelus perut yang mulai membuncit.


"Ongkel nanti kalau aku muncul ke dunia tengokin aku ya"


Bita berbicara dalam bahasa bayi. Senyuman hangat tergambar jelas menular pada Isak. Pipi gembul khas ibu hamil ya merona. Wajah Bita terlihat sanangat segar. Sungguh. Cantik.


"Iya"


"Bener janji ya?"


Bita mengacungkan jari kelingkingnya, Isak teringat pada Bita kecil yang juga sering mengacungkan kelingkingnya padanya.


"Iyaa janji" senyum tulus juga lembut tercetak dari wajah Isak.


"Lalu, ngomong-ngomong nih ongkel, ceritakan bagaimana kau bertemu dengan onti Leha?"


Isak terdiam. Lelaki itu mengulirkan tatapannya pada sosok yang sedang menimang Onaldo. Pekikan Onaldo tampak bahagia terdengar.


"Tak sengaja"


"Iyaaa ... Terus, terus, terus??"

__ADS_1


"Dia—"


Dering ponsel Leha terdengar kencang. Lantunan lagu winning dance milik Neymar. Leha yang kesusahan karena menggendong Onaldo tak bisa meraih ponselnya dalam tas.


Isak dengan cekatan mengambil Onaldo sari gendongan Leha. Dan Leha mengangkat telepon dari Nami yang menunggu mereka.


"Ya Bun,"


Leha menatap Isak memberikan kode lewat matanya, satu tangannya memainkan pipi Onaldo.


Bibir Leha berbicara tanpa suara, memberitahu apa yang Nami ucapkan, dimana? Lalu berapa lama akan sampai?


Bilang bentar lagi, Isak ikut berbicara tanpa suara. Leha mengangguk.


"Sebentar lagi Bun," 


"Iyaaa ... Bunda mah, percaya itu sama Gusti Allah, kalo percaya sama Leha mah, musyrik yang ada, ahahahahahaaa … terus ini pesenan ada yang kurang, nggak? aku borong snack lho,"


Obrolan mereka berlanjut.


"Biar aja Bang Isak bangkrut"


Onaldo meraih jari telunjuk Leha dan memainkannya. Leha menaik turunkan tangannya. Senyumannya mengembang. Memandang lekat Onaldo dengan mulut terus mengobrol dengan Nami.


Isak menatap dalam pada Leha. Bita melihat mereka bertiga layaknya keluarga kecil. Ia tersenyum. Binaran mata Isak sama sepertinya saat menatap sang suami.


"Sayang, kenapa berdiri?"


"Lihat itu sayang, dia, menemukannya, seperti aku menemukanmu"


Zain memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tangannya mengelus perut buncit Bita.


"Jadi apa kamu bahagia?"


"Ya"


"Sangat Bahagia"


Bita mengangguk kencang. Ada rasa haru yang bercampur kebahagian yang tidak terkira menbuncang relung hatinya. Ia bersyukur Isak menemukan kebahagiannya.


Walaupun Bita tak tahu jika mereka hanya berpura-pura.


***


Isak datang disambut oleh Nami. Wanita paruh baya yang semakin cantik itu mengomel panjang lebar, karena Leha dan Isak yang datang terlalu lama.


"Bunda"


Bita dan keluarga kecilnya muncul dengan melambai pada Nami dari balik pungging Isak. Nami dibuat tak bergerak. Wanita itu menutup mulutnya. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Bita sayaaang ... " Nami menghambur pada Bita.


"Bun jangan!"


Isak memperingati sang ibu saat akan menghantamkan tubuhnya pada tubuh Bita,


"Kenapa?"


Nami menatap pada perut Bita, Bita memperlihatkan gundukan bulat itu. Nami memandang bergantian antara wajah sumringah ibu hamil dengan gendukan bulat itu.


"Onaldo punya adik??"


"ALAHAMDULILAAHHH"


"CUCU BUNDAAA NAMBAAAHHH!!"


Teriakkan Nami membuat keluarga yang berkumpul didalam rumah, keluar dan mereka terkejut dengan tamu tambahan yang Isak dan Leha bawa.


"Tabita?" Nalen bersuara.

__ADS_1


Mendengar suara lirih itu Zain merengkuh pinggang sang istrinya, posesif. Yang Zain cemburui bukanlah kedekatan Isak dengan Bita, melainkan Nalen. Nalendra Ibrahim, adik Isak, cinta pertama Bita.


Tbc.


__ADS_2