
Nalen menghampiri Nabila. "Entah apa masalah lo dengan kakak lo ataupun kekasihnya jangan libatkan gue!"
Nabila mengucapkan lantang. Dan ia tak ingin terlibat dengan masalah apapun itu.
"Bukannya kau tertarik dengan kakak sulungku itu?"
"Iya gue tertarik sebagai kakak bukan kekasih ataupun suami, tidak"
"Omong kosong, kau ingin mengelabui siapa, huh?"
Nalen tak bermaksud untuk merendahkan, tapi trik yang Nabila gunakan untuk mendekati Isak sebagai kakak-kakak an sudah terlalu basi.
"Sebenarnya apa masalah lo sama gue sih? Kenapa gue harus terlibat dengan masalah lo! Siaal benar nasib gue!" Semprot Nabila.
"Kau mau tahu, mengapa kau terlibat? Karena kau mirip dengan cinta pertama kakak sulungku itu"
"Memangnya kau tak penasaran mengapa Isak, sang dingin, playboy, datar, tak berperasaan, suka seenaknya itu, mau menanggapimu, padahal pada setiap kencan butanya yang lain, ia begitu tak peduli, tapi denganmu, ia berbeda" lanjut Nalen mencoba memprovokasi Nabila.
Nabila memang merasa istimewa jika didekat Isak. Lelaki itu selalu memperlakukan dirinya secara terhormat, melindungi juga perhatian.
Dan Nabila menganggap itu hanya perlakuan kakak ke adiknya. Nabila memang suka dan tertarik, tetapi setelah ia menelaah perasaannya lebih dalam ia tak menemukan benih-benih cinta itu.
Selama dekat dengannya, Isak tak sekalipun memperlihatkan ketertarikan seksual padanya.
Ia pun, jika membayangkan adanya ketertarikan seksual pada Isak mengapa jadi merinding dan jijik.
"Serius? Lalu kemana cinta pertamanya itu pergi? Sudah menikah dengan orang lain? Atau meninggal?"
Nalen merasa provokasinya tak berhasil, mengapa tanggapan Nabila tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Memang tanggapan apa yang lo harapkan dari gue?"
Nalen menutup mulutnya bagaimana wanita ini bisa mendengar ucapan dalam hatinya.
"Ucapan dalam hati apa? Lo ngomong kenceng banget!"
Cewek gila!
"Lo yang gila, nggak ada angin, nggak ada hujan, lo ngerusuhin hidup gue!"
"Pake segala bohong, Kalau kakak lo yang mengundang gue" lanjut semprotan Nabila pada Nalen. Ia sebal dan kesal. Merasa dipermalukan Nalen di keluarga besar Ibrahim.
"Ya itu membuktikan kalau kau memang tertarik pada kakakku!"
"Kan dari awal, gue ngomong, kalau emang tertarik, gimana sih, bodoh banget!"
"Nah itu!"
"Itu kenapa?" Ketusnya,
Astagah puyeng euy!
Lelaki di depannya ini kalau ngomong berputar-putar tidak ke inti. Membuat Nabila kesal sendiri.
"Tolong kalau ngomong keintinya Om! Lo itu muter-muter ngomongnya!" Cecar Nabila.
"Aku bantu kau deketin kakak sulungku"
__ADS_1
"Nggak, makasi, gak tertarik" Tolaknya mentah-mentah.
Nabila yang anggun berubah jadi bar-bar. Sejak awal memang begini sifatnya. Isak tahu. Mengingatkan lelaki itu pada Leha. Dari situlah Isak selalu membicarakan tentang kelakuan Leha pada Nabila.
Isak selalu berkelit saat Nabila bertanya tentang perasaan sukanya pada Leha. Isak bahkan bersumpah ia tak akan pernah bisa suka dengan Leha. Tapi semua kelakuan lelaki itu berbanding terbalik dengan sumpah yang ia ucapkan.
Nami mendengar obrolan itu. Ternyata semua itu ulah anak kedua nya.
Benar-benar anak bandel itu! Harus di beri pelajaran.
"Bob, kirim semua undangan kencan buta atas nama Nalendra Ibrahim. Lalu punya Isak, sudahi saja"
***
"Rena siapakan segala keperluanmu, kita kan berangkat ke Qatar nanti malam"
"Kenapa mendadak Bang?" Mode sodara keluar jika Isak dengan seenaknya mengacaukan jadwal yang telah ia susun sedemikian rupa.
"Perusahan Qatar sedang ada masalah"
Nami dan Ibrahim sudah lebih dulu kembali ke Qatar setelah acara arisan dirumah mereka berakhir.
"Berapa lama?"
"Mungkin dua minggu paling sebentar"
"Abang lupa kalau mau rapat dengan Kimura Level?"
"Siaal! Aku lupa!"
Isak mengacak rambutnya. Kimura Level perusahaan besar yang sangat Isak harapkan dapat bekerja sama dengan Lewi Crop miliknya.
"Ya nggak bisa dong Bang! Aku dapetin jadwal ini aja, gak gampang"
"Abang tau sendiri gimana kinerja mereka kan!"
Isak kembali mengacak rambutnya, masalah di Ibrahim Crop juga tidak bisa menunggu dirinya.
"Carikan aku asisten yang kompeten dan kamu pegang Kimura Level, aku akan minta Raka membantumu"
"Siap bos"
Rena memutar otak siapa yang akan ia ajukan untuk jadi asisten Isak. Rena keluar dari ruangan Isak dan berpapasan dengan Leha yang mengantarkan kopi untuk Isak.
"Pagi Mbak Rena"
"Pagi Leha, boleh aku juga minta kopi?"
"Siap! Antar yang ini dulu ya mbak"
Mata Rena berbinar serasa masalahnya telah selesai, Ia kembali ke mejanya. Dan mengetik sesuatu di komputernya.
Suara dentik mouse, membuat senyuman Rena semakin naik. Ia telah menemukan asisten yang pas untuk bosnya itu.
***
Di Bandara,
__ADS_1
Isak menempelkan benda pipih persegi itu di telinganya. Nada tersambung tapi tidak diangkat, pesannya pun tidak dibalas. Kakinya terus bergerak, jika panik atau tidak sabaran Isak akan melakukan itu, kebiasaan.
"Rena kemana ini?"
"Katanya sudah dapat asisten dan sampe sekarang belum datang juga!" Omel Isak. Ia menunggu diruang tunggu khusus pesawat bisnis class. kali ini ia menggunakan penerbangan umum.
Ponselnya berdering dengan cepat Isak mengangkat tanpa melihat nama si penelpon.
"Rena mana orangnya! Saya sudah lumutan nunggunya. sebentar lagi check in, kamu beneran sudah dapat asist—"
"Bapak! Bapak dimana?"
"Leha?"
Isak mengenali suara diseberang, melihat id si penelpon. Sholeha Badrun. Pangkal hidung Isak mengkerut. Heran.
"Iya Bapak, ini Leha, bapak dimana?"
"Di bandara"
"Tahu Bapak di bandara, di bagian mananya?"
"Ruang tunggu khusus, sebentar! kenapa kamu nanya?"
"Pan Leha mau nyamperin, eh bapak pake baju putih sama pake topi abu kan? kakinya juga gerak-gerak Itu bapak kaann??"
"Iya"
Isak memperhatikan kakinya yang terus bergerak lalu berhenti saat ia menyadari,
"Bapak coba balik badan, Nah lihat ada wanita caem dada dada sama Bapak nggak?"
Leha melambai heboh ke Isak.
"Nggak ada, Saya nggak liat dada, adanya simpanse perempuan yang lagi melambai heboh ke Saya"
"Ish bapak mah suka bener! Udah ah Leha matiin" sekilas Leha cemberut.
Leha menyudahi aksinya juga sambungan teleponnya, tetap saja ia menyeret kopernya dengan heboh. Senyum girang tergambar jelas diraut wajahnya.
Leha masuk dalam ruang tunggu dan ia sudah berdiri didepan Isak. Dengan cengirannya.
"Kenapa kamu disini, ini koper kamu mau kemana?"
Isak tidak ingin mengamini perasaannya yang mulai tak enaknya.
Centung!
Leha berdiri, ia merapikan pakaiannya. Berdehem, membersihkan tenggorokannya, Leha mengulurkan tangan. Bersama dengan pesan Rena yang datang terlambat.
Rena
Bang, Leha sudah sampai? Aku hubungi ponselnya sibuk terus. Dia yang bakal jadi asisten Abang. Aku sudah mengecek dan dia bisa, aku yakin. Well, have a safe flight ya bang.
"Bapak perkenalkan, saya Sholeha Badrun, Asisten pengganti untuk Bapak Isaac Lewi Ibrahim II, selama berada di Qatar"
Isak tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Kali ini Leha berangkat ke Qatar untuk bekerja, bukan untuk menonton piala dunia. Walau masih dengan status yang sama, pacar pura-pura Isaac Lewi Ibrahim II.
__ADS_1
Tbc.