
Leha tak mengira Isak akan mengeramasi dirinya juga mengeringkan rambutnya. Dan yang paling epik, Isak mengangkat tubuhnya ke kamar Sara.
Paginya saat terbangun Leha ada di kamar Sara. Walau saat berangkat ke kantor ia diturunkan di jalan oleh si taipan tampan menawan dan kejam. Tidak masalah.
Senyum Leha terus tercetak di wajahnya. Tak luntur.
Setelahnya Isak selalu memanggil Leha untuk menuntaskan tugas wanita itu. Menghalau atau bisa disebut mereka adalah pasukan perusak kencan buta.
Mengapa demikian, karena Leha mengajak Mpok Marni, Saipul, Udin dan Ratu. Mereka tim. Satu kali Leha menjadi wanita hamil. Ia mengamuk,
"Bang Isak! Kau tega! Siapa perempuan itu baaang? Madumu kah?"
Leha bercucuran air mata, bahkan tak kaleng-kaleng ingusnya pun ikut mengalir deras.
Ia menarik tisu milik sang pasangan kencan buta Isak kala itu.
"Mbak tahu, ibu hamil tidak boleh tumbang! Karena bayi kami perlu nutrisi! Lalu melihat bapaknya begini! Huaarrggaaa … huaarggaa …"
"Sa-saya bisa apa mbak? Huuaaarrggh …"
"Mas Isak lebih baik urus istrinya! Dasar buaya!"
Dan wanita itu meninggalkan tempatnya. Melihat dari jauh Udin memberi kode pada Leha. Lalu pergi. Ia pun menyudahi aktingnya.
Isak mengepalkan tangan didepan Leha. Lalu disambut oleh kepalan tangan Leha.
"Capeknya main akting beginian, ini belon dimakankan pak sama embaknya?"
"Belom, dia cuma makan ijo-ijo dimangkok itu"
"Beh spesies kambing muda si embeknya, eh embaknya"
"Hush! Nggak boleh ngomong sembarangan, kamu lagi hamil!"
Isak mengelus perut Leha. Ia tersenyum geli melihat dandanan aneh wanita satu ini.
"Oh bapak! Memang paling pengertian! Leha habisin makannya dulu ya pak!"
Wanita itu pun makan dengan lahap sesekali Memberi Leha tisu untuk mulutnya.
Itu sepenggal cerita dari puluhan kencan buta yang diikuti Isak.
"Hei anak baru!" Ia berada di warung soto mie. Ia ingin membungkus untuknya dan teman-temannya.
Sari tak bisa ikut ia harus membersihkan ruang rapat, Mbak Dewi, ia sedang mual, dan Upaya Leha membelikan makan siang untuk para rekannya.
Kumpulan penggosip itu mendekati Leha. Ia merasa tidak memiliki masalah dengan mereka pun tak menanggapi.
"Wah belagu! Lu dipanggil senior itu diwaro!" Salah seorang dengan rambut pendek dan wajah sangar. Pitri.
"Pit, udah! Namanya juga anak sombong, masuk lewat jalur panas ya begitu" sambar wanita dengan kacamata, dan bando boneka di kepala juga rambut panjang berwarna pirang tak jadi. Karlita.
__ADS_1
"Berapa pak?"
Leha tetap tidak menanggapi. Ia tak takut hanya tak ingin membuat keributan.
"30ribu mbak"
"Ini pak" Leha menyerahkan uang 50ribu dan menunggu kembaliannya.
"Elu ya! Emang lu ngangetin kasur siapa aje? Siape? Pak manager apa pak HRD. Soalnya kalau pak Bos nggak mungkin mau sama lu!"
Tawa tergelak diikuti oleh para kloninya. Aneh.
"Ada apa ini?"
Rena keluar dari ruangan dalam. Warung ini memiliki tempat makan luar yang langsung dekat jalan juga yang berada di dalam ruangan. Lebih tertutup dan bersih.
"Bu Rena? Ah kami hanya menyapa anak baru"
"Ya kan Ha?"
Leha tak menanggapi. "Ini mbak kembaliannya" Leha menerimanya dan pergi. Setelah ia berpamitan dengan Rena tentunya.
Yang tidak Leha tahu. Ada sosok yang sangat merindukannya. Nami Ibrahim. Mengintip dari dalam ruangan tersekat jendela gelap.
"Bunda kok berdiri disini? Udah selesai makannya?"
Rena melongok mangkuk Nami masih tersisa banyak.
"Rena kamu kenal Leha? Apa dia bekerja di kantor Isak?"
Namun Rena tidak mengetahui kelanjutan hubungan mereka saat ini. Setelah Leha menceritakan bahwa Isak adalah penumpang ojolnya. Yang Rena lihat, Isak sering memanggil Leha. Dan mereka sepertinya dekat.
"Iya Bun, Leha salah satu karyawan Lewi Crop,"
"Isak tahu?"
"Iya Bun"
"Terus hubungan mereka bagaimana?"
"Bagaimana maksudnya Bun?"
"Deket? canggung? Nggak pernah ketemu? Atau pernah ketemu tapi biasa aja?"
"Emmm … Bang Isak pernah naik Ojolnya Leha"
Rena tidak menceritakan spekulasi yang ia punya menyangkut hubjngan keduannya karena masih sebatas opininya saja. Opini yang kadang kala salah.
"Leha juga ngojek?"
"Iya Bun"
__ADS_1
"Bagus!" Ucapan senang Nami.
Sudut-sudut bibirnya tertarik, Rena melihat aneh pada Ibu si Bos. Ia merasakan adanya firasat akan adanya kejadian besar setelah ini.
***
"Siang Tante Nami?"
Seorang wanita muda menghampiri Nami yang sibuk di sebuah butik.
"Ya,"
Alis Nami terangkat ia tak ingat siap wanita muda ini, pasti salah satu, calon yang mendekati anaknya.
"Saya Diana, Tante, anak Rima Kirman"
"Ah, Mbak Rima apa kabar?"
"Mama baik tante"
"Tante, Mas Isak sudah punya pacar ya?"
"Pacar?"
"Iya, Mas Isak bawa, waktu kencan buta denganku tante."
"Pacar?"
"Iya tante, pacar yang menurutku gak bagus buat keluarga tante"
Diana bisa melihat kemurkaan Nami. Tak mungkin jika wanita anggun didepannya ini akan rela memiliki menantu macam ondel-ondel itu.
"Kenapa memangnya?"
Senyum culas terbit di bibir Diana.
"Ya tante aku hanya takut pacar Mas Isak akan mempermalukan nama keluarga Ibrahim. Dari tingkah laku, penampilan semua, Emm … maaf ya tante …"
"Nggak apa bilang saja Diana, Tante ingin dengar"
"Buruk Tante, aku bukannya mau menjelekkan ya tan, cuma, aku nggak mau Tante Nami malu, keluarga Ibrahim namanya akan buruk, karena kelakuan pacar Mas Isak itu"
Dan mengalirlah segala ejekan, olokan dan sindiran dalam bentuk "kalem".
Nami bukan hanya mendengar bahwa sang anak sudah memiliki kekasih, malah ada pula yang mengadu jika Isak memiliki istri yang tak diakui bahkan, Nami menjadi penasaran. Siapa yang menjadi si pacar juga istri tak diakui oleh anaknya ini.
Untuk masalah perilaku atau apapun itu Nami pikirkan belakangan. Penasarannya semakin menjadi saat ini, apalagi ia tahu jika Leha bekerja di perusahaan sang anak.
Aduan seperti ini bukan hanya sekali dua kali tapi sering. Dan Nami harus mencari tahu.
Ponsel wanita itu bergetar. "Apa saja yang kau dapatkan?" Nami keluar dari butik dan masuk dalam mobil yang telah menunggunya.
__ADS_1
"Terus awasi dan laporkan" Nami memutuskan sambungannya. Senyum lebar terpatri di wajahnya.
Tbc.