Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 26


__ADS_3

Isak menatap jam tangannya. Sudah tengah malam dan orang disebelahnya asik menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu. Nafasnya teratur dengan dengkuran halus.


Film yang mereka tonton bahkan belum setengah jalan. Leha tertidur. Isak tak lagi menunggu untuk menuntaskan film yang berdurasi selama 3 jam itu.


"Leha" bisik Isak.


Bukannya terbangun Leha lebih merapatkan  dirinya pada Isak.


"Dingin pak" ucapnya sambil menelusupkan kepalanya ke sela leher Isak.


"Leha bangun"


"Hmnn … "


Leha bergerak lebih dalam pada curuk leher Isak. Isak menghela nafas pelan. Tubuhnya dililit oleh Leha dan susah untuk bergerak.


Tapi perlahan Isak mengurai lilitan tangan Leha. Dan akhirnya ia pun terbebas. Penonton film midnight tidak serame jam biasa. Banyak kursi kosong di sekitaran mereka.


Isak terbangun dari tempatnya. Ia merapikan pakaiannya yang kusut gara-gara Leha.


"Ayo berdiri."


Isak menarik lengan Leha. Wanita itu masih mengantuk dan susah sekali untuk sekedar membuka matanya.


"Berdiri dulu"


Sekali tarik tubuh Leha berdiri. Namun pijakannya tidak terlalu kuat, ia hampir saja terjatuh, namun dengan cepat Isak menahan pinggang Leha.


"Berdiri yang bener dulu" bisik Isak.


Leha mengikuti perintah Isak dengan mata terpejam.


"Naik ke kursi"


Tanpa pikir panjang Leha melakukannya. Leha naik ke kursi. Dengan bertopang pada lengan Isak. Isak berdiri membelakangi Leha. Meletakkan tangan Leha ke pundak lelaki itu.


"Naik"


Isak menarik Leha mendekat dan Leha yang mengantuk, langsung menemplok pada punggung hangat dan nyaman milik Isak. Leha mengeratkan pelukannya pada Isak.


Isak membetulkan posisi Leha di punggungnya. Tak lupa ia membawa sisa popcorn dan minumannya lalu melangkah perlahan.


Banyak mata yang tak lagi fokus pada layar dan terfokus pada adegan yang Isak dan Leha buat.


"Astaga kebawa film mah mereka"


"Gitu dong Yank"


"Agak geli sih ya"


"Manisnyaaa … "

__ADS_1


Banyak lagi komentar yang lelaki itu dengar saat berjalan keluar bioskop. Ia melipir ke dekat tempat sampah dan membuang sisa popcorn dan minumannya.


"Jangan banyak gerak! Berat!"


"Iiiish! Bapak!"


Leha sedikit berontak. Ia mencari kenyamanan pada punggung Isak.


Leha mengeratkan pelukannya. Kepala wanita itu menyuruk di curuk leher Isak. Terasa hangat hembusan nafas Leha pada leher Isak.


Leha mencium wangi lembut yang ia sukai. Kepalanya ia dorong masuk dan menempel pada leher Isak. Lelaki itu merasa sesuatu yang basah menempel di lehernya.


Isak mengepalkan tangannya. Menahan geli, juga gelenyar aneh, ia merasakan Leha yang menggosokkan ujung hidungnya ke lehernya, nafas hangat wanita itu mengelus permukaan kulit lehernya.


"Jangan banyak gerak" desisnya berat.


Nafas Isak memburu. Lelaki itu menahan gejolak panas yang Leha timbulkan.


"Wanita ini!" Geramnya tertahan.


Ia melangkah cepat menuju unitnya. Sedari tadi ponsel wanita itu terus bergetar panggilan dari Hamid. Tapi Isak indahkan, menunggu sampai di unitnya.


***


Isak menempelkan kartu dan pintu unitnya terbuka. Langkah Isak berhenti. Ia mendapati tiga pasang mata yang menatapnya menelisik dengan cara yang berbeda-beda.


"Kenapa kalian disini?"


"Bang itu Leha kan? Kalian balikan? Benerankan?"


Isak tidak mendengarkan ucapan Sara. Ia melewati, masuk kedalam kamar Sara.


"Bang aku nginep disini, Nalen juga" ucap Sara. Isak kembali keluar dari kamar Sara.


"Kau pergilah ke unit tunanganmu itu! Tidurlah disana!"


Isak kembali akan masuk ke dalam kamar Sara untuk meletakkan Leha disana.


"Bukan muhrim Bang! Kalau Bunda tahu Sara kena omel!"


Isak memutar bola matanya malas. Alasan. Selama ini Sara sering menginap di tempat tunangannya itu dan Bunda memang mengomel tapi Sara tidak pernah mendengarkan.


"Kan ada kamar Abang!"


Isak memutar tubuhnya dan melihat Sara yang tersenyum penuh makna. Isak kembali keluar kamar Sara dengan Leha masih tertidur nyenyak di punggung lelaki itu.


"Nalen, kamu tidurlah di unitnya"


Isak menggerakan dagunya ke tunangan Sara.


"Nggak"

__ADS_1


Tolak Nalen, ia beranjak cepat masuk kedalam kamar dan menguncinya.


"Sayang aku ngantuk nih, kamu pulang ya, bye-bye met bubu sayang"


Sara mendorong sang tunangan keluar unit kakaknya. Mencuri satu kecupan.


"Kita ldr dulu sayang, cuma malam ini aja" 


Kembali Sara mengecup bibir tunangannya yang hanya bisa mengangguk dan mengelus kepala Sara. Ia melambai pada sang tunangan hingga lift tertutup, baru Sara masuk kembali ke dalam unit Isak.


Disana masih ada Isak dengan Leha yang sudah ia letakkan di sofa. Sara melewati sambil menguap, tatapan tajam Isak mengikuti adiknya hingga hilang dalam kamarnya.


Isak kembali mengangkat Leha masuk dalam kamarnya. Ia meletakkannya di ranjang. Menyelimuti. Lama berdiri ia menatap Leha yang pulas. Isak membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih.


Ia akan tidur di sofa. Bergerak ke lemari. Ia mengambil selimut cadangan. Juga bantal di ranjang.


DRANK!


Byur!


"Aahk!" pekik terdengar dari luar.


Isak keluar dengan gembolannya, begitu juga Nalen. Mereka melihat Sara menumpahkan satu botol besar air mineral ke sofa.


"Maaf Bang,"


Sara dengan cepat mengambil kain kering dan menepuk-nepuk pada tumpahan air di atas sofa. Bukannya membuat kering Sara malah meratakannya. Bibirnya melipat mencoba agar tidak tersenyum.


Sengaja!


Intinya ia ingin kakak tertua nya itu menghabiskan malam bersama Leha. Dalam satu ranjang. Kalau bisa dengan panas. Tapi sepertinya tidak.


"Kau sengaja kan!" Desis Isak murka.


"Sengaja apa?" Pekikan Sara melipir perlahan mendekati kamarnya.


Saat netranya bertemu dengan Isak, dengan cepat Sara melarikan diri masuk ke kamarnya dan menguncinya. Begitupun dengan Nalen.


Isak mendesah pasrah. Ia kembali masuk ke kamarnya. Menatap sisi kosong ranjang. Isak merebahkan dirinya. Ia tidur miring menghadap Leha. Mengamati wanita yang dianggapnya aneh itu.


Wangi tubuh mungil itu terhirup olehnya. Wangi yang membuatnya lelap. Wangi menenangkan yang pernah ia rasakan. Isak tertidur pulas tanpa selimut.


***


Leha menyibak selimutnya, ia menuju kamar mandi. Selesai, kembali naik ke ranjangnya masuk dalam selimut. Dinginnya ruangan membuat Leha bergelung mencari kehangatan.


Ia menyentuh sesuatu hangat dengan wangi menyenangkan. Leha mendekat dan mendekap benda besar, liat dan hangat itu.


Kakinya dilingkarkan pada benda itu. Wajahnya ia surukkan pada sesuatu yang lembut dan wangi menenangkan.


Tak lama sesuatu merengkuh dan menariknya lebih menempel erat pada benda hangat itu. Mengalungkan tangannya. Leha kembali tertidur lebih pulas lagi.

__ADS_1


Mereka bergelung saling berpelukan erat dibalik selimut.


Tbc.


__ADS_2