
Leha mendapatkan pesan dari Yasir. "Nona Leha, bisa ikut rapat dengan para investor, Tuan Harlan meminta anda untuk ikut serta" pesan yang membuat kelabakan.
Seumur hidup ia tak pernah ikut rapat penting apalagi dengan investor. Di bayangan Leha rapat itu diselenggarakan di ruangan rapat besar dengan berderet para petinggi perusahaan.
Suasana tegang, wajah serius yang mematikan, antara anggota saling melirik sinis dan penuh dengan kewaspadaan. Bersaing untuk saling menjatuhkan.
Tapi semuanya salah, rapat ini lebih terlihat seperti jamuan makan siang. Meja prasmanan berderet mengikuti dinding ruangan.
Banyak makanan disediakan. Ditengah ruangan adanya empat meja bundar dengan kursi-kursi mengelilingi meja itu.
Ada namanya di atas meja. Leha duduk dengan tegang. Belum lagi pesan susulan yang Yasir kirim membuat Leha membatu.
"Nona Leha nanti di rapat, Tuan Harlan ingin anda menjabarkan laporan yang anda buat"
Gugup pasti. Leha meremas tangannya.
"Sholeha?"
"Pak Daru" Pekikan Leha terkejut. Namun berangsur menjadi kelegaan. Seyidaknya ada seseornag yang ia kenali disini, selain Harlan dan Yasir, tentunya.
"Bapak disini juga?"
"Iya, Perwakilan perusahaan Pak Izil" Daru mengangguk.
Leha ber'o' panjang.
"Kamu kelihatan gugup?" Leha mengangguk kembali tangannya bertaut, keringat dingin membasahi telapak tangannya.
"Leha harus presentasi dan Leha baru sekali melakukan di perusahaan seperti ini Pak" ucapnya dengan menunduk. Masih terus memainkan jarinya yang menaut.
"Lakukan saja seperti yang kamu laporkan pada Om" Harlan muncul, lelaki paruh baya itu menepuk bahu Leha.
"Om," Leha nyengir aneh.
"Bahas semua yang kamu tulis untuk saya, dan menurut Om bagus juga laporan yang kamu buat, tidak perlu gugup"
"Tuan, yang lain sudah menunggu" Yasir mendekati Harlan yang baru saja datang, ia mengangguk pada Yasir.
"Kamu jangan khawatir, mereka semua hanya akan menyentil ginjalmu, kalau kamu membuat kesalahan" wajah Leha pucat pasi. Tawa Harlan tergelak. Ia sangat suka menjahili Leha.
"Kau tak apa? Om Harlan hanya bercanda" Daru mengenal Harlan, makanya ia mengajukan pada Izil untuk berinvestasi pada gerai Boba Nusantara.
Rapat dimulai. Pembukaan dilakukan oleh Yasir sebagai pembawa acara, lalu sambutan dari Harlan dan dilanjut oleh orang-orang yang melaporkan perkembangan pekerjaannya masing-masing dalam tim Boba Nusantara.
Giliran Leha. Ia menjabarkan laporan yang ia teliti dan tulis untuk Harlan. Awalnya ia sangat gugup namun melihat antusias para anggota rapat pada dirinya membuat kepercayaan diri Leha naik.
Belum lagi, resep yang ia buat beberapa telah terhidang di meja para anggota tim siap untuk dicicipi. Leha menutup presentasi dengan sangat lega.
Jamuan makan dibuka setelahnya. Makanan yang ada disekeliling adalah makanan prasmanan untuk makan siang. Dan juga makanan contoh Boba Nusantara.
"Setelah ini kamu akan kemana?" Leha dan Daru keluar ruangan, rapat telah selesai. Dengan menetapkan tanggal pembukaan gerai. Juga pembangunan ruko sedang berjalan.
"Pulang, Pak" ucap Leha.
"Bagaimana kalau aku antar?"
"Nggak usah repot Pak, Leha naik Ojol aja" ucap Leha menolak. Mereka menunggu lift.
"Nggak apa Leha, aku ingin keliling jakarta, sudah disini tiga hampir empat bulan, tapi belum pernah jalan-jalan, penasaran dengan PRJ" ucap Daru.
"Pak Daru mau kesana?" Daru mengangguk. Daru bisa merasakan antusias Leha.
"Pengen kulineran disana, melihat di sosial media sepertinya banyak makanan enak disana" umpannya. Dan target menggigit umpannya. Mata Leha berbinar. Apapun tentang makanan Leha pasti akan langsung tertarik.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sosok tinggi denagn pakaian rapi yang berada didalam lift, terdiam melihat Leha yang menatap Daru dengan tatapan berbinar juga senyuman lebarnya. Kenapa ada lelaki itu disini, pikirnya. Lelaki itu menatap sinis Daru.
"Leha?"
Perlahan wajah Leha menoleh ke sumber suara.
"Bapak!"
"Bapak inget janji Bapak ke Leha?" Leha menatap Isak. Berbicara mengenai PRJ, Leha pernah mengajak Isak kesana namun lelaki itu menolak karena masih sibuk, dan menjanjikan akan menemani Leha saat ia mempunyai waktu luang.
"Janji?" Isak keluar dari lift, mereka bertiga berdiri didepan pintu lift.
"Iya, jalan-jalan ke PRJ"
Isak mengerang, ia sama sekali tidak suka dengan keramaian. Apalagi PRJ. Ramai dan sumpek, melihat di sosial media bagaimana semua orang berbondong-bondong menyerbu tempat itu.
__ADS_1
"Iya, tapi—"
"Bapak nggak mau?"
"Bukan nggak mau, tapi Saya sedang sibuk Leha,"
"Yaudah Leha kesana dengan Pak Daru saja" Leha melipir ke dekat Daru, "Bapak ayo kita kesana" ucap Leha dengan berbinar. Ia berdiri disebelah Daru.
"Eh apa-apaan, nggak-nggak, kamu dengan Saya" ucap Isak tidak suka.
"Tadi bilangnya Bapak sibuk? Nggak apa-apa, Bapak selesein aja kerjaan Bapak, Leha kesana sama Pak Daru, Pak Daru juga penasaran sama makanan di PRJ" ucap Leha dengan tenang.
"Pak Daru kapan kita kesananya?" Lanjut Leha menyentuh lengan Daru membuat Isak mendengus kesal.
Ia menarik Leha untuk berdiri disampingnya.
Ia tak suka Leha dekat-dekat lelaki lain. "Bapak sebentar Leha mau ngomong sama Pak Daru."
"Nggak usah, kamu ke PRJ dengan Saya saja, mau kapan? Besok minggu? Atau sore ini pun Saya bisa" ucapnya menggebu, ada rasa jengkel dalam ucapan Isak.
"Bener bapak mau? Ikhlas nggak? Kok kayaknya nggak ya?" Ucap Leha jahil.
"Ck! Saya ikhlas! Kamu tidak lihat dari tampang Saya kalau saya ikhlas?" Dengan seperempak Leha dan Daru menggeleng bersamaan.
Wajah dengan alis naik, dahi yang mengkerut dalam, bibir yang menipis, dimana bisa dikatakan kalau lelaki itu ikhlas.
Melihat tanggapan keduanya Isak membuang nafas kasar.
"Pak Daru sekalian ikut aja, hari sabtu dari pagi hingga malam, Deal!" Leha memutuskan dengan seenaknya sendiri. Namun kedua lelaki itu mengikuti kemauan Leha.
"Sudah selesai rapatnya?" Leha mengangguk, kemarin ia memberitahu Isak saat lelaki itu menelponnya. Jika ia akan rapat dengan BoNus, Boba Nusantara.
"Sudah"
"Ayo Saya antar pulang, sekalian ketemu Abah," Isak menekan tombol liftnya.
"Cieee mau apa ketemu Abah? Mau lamar Leha ya Bapak? Duh akhirnya dilamar juga, setelah janji-janji manis sakarin yang kau tebaaaarrr~"
"Berisik!"
"Malu tuuhhh …" ucapnya menggoda Isak. Leha menusuk-nusuk pipi Isak. Leha sepertinya lupa jika disitu masih ada Daru.
Ting!
"Kemarin aja manja panggilnya 'Yang' 'Yang aku diganggu Yang' sekarang jadi cuek, hiliw" gerutu Leha dengan memonyong-monyongkan bibirnya.
"Berisik!" Bisik lirih Isak. Lelaki itu menjepit bibir Leha.
"Ini bibir panjang juga ya" sakit tapi Leha malah terkekeh yang tertahan. Ia senang melihat wajah Isak yang merona.
"Kenapa malah ketawa?" Melebarkan mata Isak memperingati Leha yang tidak wanita itu hiraukan. Pelototan yang gagal.
Daru berdehem. Ia merasa gerah dengan kemesraaan yang pasangan itu lakukan. Keduanya menengok ke tempat Daru.
Daru melambai. Tanpa suara namun matanya sepeti berbicara. 'Tolong diingat disini masih ada orang, jomlo pula, tolong kasihani'
"Tuh kamu itu, liat sikon kalau godain Saya!" Ucap Isak yang melepas jepitan tangannya di bibir Leha. Dan berganti menjepit pipi tembem wanitanya itu.
"Ish Bapak kepedean"
"Tapi Bapak sukakan digoda Leha? Ya kan? Ngaku-ngaku jangan gengsi, nanti nangis kalau Leha tinggal"
"Apa sih! Udah berani ya? Hmm … " kembali Wajah kedua nya semakin dekat.
"Astaga! Ini lift kapan nyampenya?!" Pekikan Daru.
Menjauhkan kedua nya yang menempel sangat dekat. Leha dan Isak tidak sadar jika godaan-godaan mereka membuat mereka nyaman dan ingin selalu berdekatan. Wajah kedua nya memerah.
Ting
"Gerahnya" seruan Daru dengan melonggarkan dasinya. Menjadi obat nyamuk di lift itu memuakkan, apalagi obat nyamuk dari orang yang kita suka menyesakkan dada.
Isak keluar dengan mengipas wajahnya yang panas, juga melonggarkan dasinya. Ini tak bisa dibiarkan.
Sedangkan Leha memukul-mukul kepalanya pelan.
Bagaimane ceritanye gue pengen bangat nyosor Isak. Pengen ngerasain bibir manis itu lagi.
Me sum! Hei kau nak bontot Abah Hamid Tahan napa! Pekiknya dalam hati.
Leha melipat bibirnya, ia melirik Isak yang juga meliriknya. Dan mereka terkejut lalu membuang tatapannya ke sembarang arah.
__ADS_1
Wajah mereka bersemu, di dekat mobilnya, Daru mendengus keras melihat tingkah pasangan itu. Menghela nafas kasar lalu meninggalkan kedua manusia yang kasmaran itu. Tak ingin lagi menyiksa diri.
"Ayo Saya antar pulang"
"I-iya Bapak" balas Leha lirih. Ia sangat malu. Berjalan menunduk ke parkiran mobil Isak.
Isak sudah berada dipintunya. Namun Leha jalan cepat, nyelonong melewati Isak, jalan terus entah mau kemana. Ia berjalan menunduk tidak melihat Isak telah berada didepan mobilnya.
"Hey kau mau kemana?" Teriakkan Isak menghentikan langkah cepat Leha.
Wanita itu menengok perlahan dan tatapannya bertemu dengan Isak. Lalu kembali ia menunduk dan berjalan cepat ke pintu penumpang mobil Isak.
Isak yang awalnya juga malu dan ikut merona, melihat kelakuan ajaib Leha itu membuatnya lupa pada rasa malunya, walau tak dipungkiri kejadian di lift meninggalkan debaran kencang pada jantungnya.
Isak menghela nafas kasar, berharap jantungnya tidak berisik. Leha telah duduk rapi. Tegang.
"Gunakan sabuk pengamanmu" ucap Isak. Leha tidak mendengar, kupingnya tertutup oleh kencangnya debaran jantungnya sendiri.
"Leha sabuk pengaman" tetap Leha tidak bergeming.
Kembali Isak melipat kedua bibirnya. "Kamu ini, jangan bengong, pakai sabuk pengamanmu" dengan gerakan tak terduga, Isak mendekat pada Leha tangannya menjulur didepan wajah Leha mengambil sabuk pengaman. Dan menguncinya.
Isak mengulir mata kedepan, ia tak sadar wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Leha yang menahan nafasnya. Hidung mereka bersentuhan. Nafas hangat Isak membelai pipi Leha.
Tidak tahu siapa yang memulai, kedua bibir mereka menyatu. Kedua tangan Leha merangkum wajah Isak. Diawali dengan kecupan-kecupan ringan. Lalu kecupan hanya menempel bibir. Lama. Mata Leha terbuka.
Ia menjauh, tak mendapat respon. Karena Isak yang hanya diam mematung. Leha menjilat bibirnya sendiri.
Klek!
Dengan gerakan cepat Isak kembali melepas sabuk pengaman Leha dan menarik tubuh Leha, mendudukan Leha di pangkuannya.
Dengan gerakan tak sabaran kembali bibir mereka menempel, menaut dan saling memperdalam ciumannya. Tangan Leha perlahan masuk kedalam rambut Isak. Mengacak rambut hitam legam itu.
Nafas mereka menderu, saling berlomba, Isak menurunkan kecupannya sepanjang garis rahang menuju leher Leha, juga Leha mendongak memberi akses pada Isak untuk menjelajahi leher wanita itu.
Erangan tertahan. Suara nafas yang terengah menjadikan suasana semakin panas, darah Leha mendidih. Berdesir, Mengalir ke intinya yang entah mengapa ikut terasa aneh dan menyenangkan.
Hingga, tangan Leha menyenggol klakson mobil. Membuat keduanya terkejut dan terdiam. Mata keduanya membola.
Apa yang barusan mereka lakukan. Mereka terlihat berantakan. Rambut keduanya acak-acakan. Bajunya kusut, bibir bengkak, Leha masih duduk dipangkuan Isak. Menunduk melihat bajunya yang hampir tak terkancing.
Ia merapikan pakaian yang kancingnya terbuka. Sejak kapan?
Lalu merapikan rambutnya. Leha merasakan ada sesuatu yang keras di dekat pahanya. Leha mematung menatap ke sumber yang mengeras itu.
"Jangan menggodaku!" Suara serak dengan deruan nafas tertahan Isak. Leha mengulir matanya menatap Isak yang menatapnya tajam berbeda.
"Pindah!" Ucapnya dengan nada tinggi mengeram.
Dengan gerakan cepat Leha melompat kembali ke kursi sebelah Isak. Leha ragu. Mengintip ke sumber keras itu.
"Jangan di lihatin! Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab!" Desis Isak.
Entah mengapa Leha bukannya takut, ia semakin tergoda. Dengan susah payah Leha menahan hasratnya.
Tapi ia juga menginginkannya. Dalam diam pikirannya tidak lagi sejalan dengan apa yang ia mau. Menggigit keras bibirnya. Akhirnya Leha kalah. Menatap sayu pada Isak.
"Tenang, Leha tanggung jawab, Bapak" tangan Leha meluncur, mengelus paha Isak perlahan dan berani. Hingga ia menemukan sumber keras itu.
"Leha" peringatan Isak. Yang semakin membuat Leha berani.
"Kamu yakin?" Leha mengangguk, Isak menatap mata Leha yang juga mendamba dirinya.
"Siaal!" Pekik Isak. Lelaki itu melajukan mobilnya kencang membelah jalanan. Tak lama membelokkan ke sebuah hotel berbintang.
Isak kembali menanyakan keyakinan wanita disebelahnya. "Benar Yakin?"
Kembali Leha mengangguk. Dengan lebih berani wanita itu mengecup telinga Isak dan membangunkan gelombang gairah yang ditekannya mati-matian tadi. Isak mengumpat. Ia turun dan membuka pintu Leha. Melempar kuncinya pada valet.
Menarik Leha perlahan masuk lift khusus hotel. Isak memiliki kamar disana. Keluar lift dengan tergesah Isak berhenti disebuah pintu berwarna marun lebar dan tinggi.
"Masuk kedalam dan tidak ada jalan keluar, Kau siap?" Kembali Leha yang sudah terbawa hasrat hanya mengangguk, "Iya Bang!" Jawabnya seksi.
Tak ada lagi alasan, Isak mendorong pintu juga Leha masuk kedalam. Mendempet tubuh Leha di dinding dan me lu mat bibirnya dalam.
Pintu perlahan menutup. Dan menjadi saksi bagaimana keduanya menyalurkan segala hasrat yang selama ini tidur dalam diri mereka.
Tbc.
Wah Fanaaasss😶
__ADS_1