
Hamid dan Ibrahim sepakat jika resepsi pernikahan anak mereka percepat. Dikarenakan agar tidak menimbulkan fitnah walau mereka telah sah.
Yang tadinya resepsi akan diadakan tiga bulan lagi menjadi dua minggu lagi. Semua terkejut dan merasa gembira. Mereka siap membantu lagi untuk resepsi.
Sony pun bersedia. Sabrina sudah menanyakan pada MUAnya itu. Kesibukan Leha menjadi sangat padat. Belum lagi rencana membuat 100 sampel. Jadi Leha harus menyediakan 300 sampel. Karena terdiri dari tiga contoh.
"Fitting bajunya besok ya, untuk para braidesmate sudah semua"
"Bang besok lho inget ya, fitting bajunya"
"Iya sayang"
"Abang sudah makan? Aku lihat jadwal abang makin padat, jaga kesehatan,"
"Abang kangen lho sama kamu, kenapa pake pingit segala sih, lha nyoblos aja udah duluan" ucap Isak.
"Ish me sum, takutnya Leha tekdung abang, kan kita besok ketemu, tahaaan dan sabar" Leha terkekeh renyah.
"Eh udah ya bang, Leha mau makan dulu, baksonya udah dateng." Ucap Leha.
"Jangan banyak sambal"
"Iya"
***
Kabar yang baru saja ia dengar, meremas jantungnya. Wanita itu menggigiti kukunya dengan gelisa. Dalam sehari ia mendapatkan dua kabar yang membuatnya stres.
Wanita itu menggulir ponselnya. Melihat pesan yang baru saja ia terima. Banyak foto yang meremukan hatinya.
Satu pesan lagi ia terima sebuah lokasi dimana akan meluluh lantahkan dirinya. Dengan balita digendongannya ia berjalan keluar ruangan.
Memesan taksi online. Dan menuju lokasi yang dikirim oleh entah siapa itu. Dan gilanya wanita itu, waktu telah menunjukan pukul 9 malam.
Keadaan jalanan pada pukul 9 malam, masih saja macet. Ia harus menempuh sekitar 2 jam lebih untuk sampai tujuan. Terlihat sebuah rumah sederhana dengan pekarangan asri. Disana ia mendapati sebuah mobil yang sangat dikenalnya.
Menunggu di dalam taksi online yang telah ia bayar dimuka sebesar 1 juta rupiah. Supir taksi sepakat menunggu dalam diam.
Si Supir menduga jika wanita cantik yang berlinang air mata dengan hamil besar juga membawa bocah kecil itu sedang mengintai suami yang selingkuh, karena yang ditangkap oleh mata si supir,
Sebuah Keluarga kecil yang sedang berbahagia di dalam rumah itu, terlihat dari jendelanya. Isak tangis si perempuan hamil itu sangat menyayat hati.
"Pak saya boleh nitip anak saya sebentar."
Si supir mengangguk. Wanita itu mengusap kepala sang anak yang terlelap. Kemudian mengusap wajahnya sendiri. Lalu keluar dari mobilnya.
Wanita hamil itu mengetuk kencang pintu kokoh didepannya. Ia tidak lagi peduli dengan wajahnya. Ia terus mengetuk, hingga ia dengar suara menyahut dari dalam.
"Ya?" Seorang wanita dengan rambut hitam panjang, bingung dengan kedatangan wanita hamil didepannya ini yang tidak ia kenali.
__ADS_1
"Siapa Han?" Seorang lelaki keluar dengan menggendong bayi perempuan.
Wanita hamil itu mendorong kuat si wanita rambut hitam, yang membuat tubuh si rambut hitam oleng ke samping.
"Aw" si rambut hitam tersungkur. Wanita hamil itu berdiri membelakangi si lelaki yang berteriak mendekat padanya
"Ada apa ini? Han kamu nggak apa? Siapa ka—" sorot mata kedua nya bertemu. Si lelaki melebarkan matanya. Menatap tak percaya pada wanita di depannya.
"Bita" Wanita yang dipanggil Bita itu menatap kecewa pada sang suami.
"Zain, kenapa? Kenapa?" Teriak Bita yang memukul Zain. Ia tak melihat ada balita perempuan digendongan sang suami. Sang ibu balita lantas mengambil anaknya dan merengkuhnya.
"Zain … kamu! Pelakor kayak kamu, nggak pantas hidup!" Dengan membabi buta Bita menyerang perempuan berambut hitam itu.
Ia menjambak dengan kencang rambut hitam panjang itu. Gerakan Bita gesit untuk.ukuran wanita hamil hingga Zain tak bisa mencegahnya.
"Kamu selalu pulang malam untuk dia, Zain? Anak kandungmu mencarimu, dan kamu bersenang-senang dengan anaknya, Hah!"
"Aaarg" pekik kesakitan wanita itu. Bita menarik dengan tak memiliki hati. Benar. Hatinya telah di hancurkan.
"Bita jangan gila kamu!" Bentak Zain.
"Kamu yang gila Zain, aku tidak akan melepaskannya, untukmu ja lang!"
Bita terus menarik rambut si perempuan itu yang sudah melesot di lantai. Ia menarikndan Mendongakkan kepala si rambut hitam. Lalu menamparnya pipinya kencang.
Bita mengulurkan tangannya ke anaknya. Siap untuk mencekik leher anak yang terduduk dilantai.
"Cih! Aku akan melenyapkan semuanya, kau janda gatal! Ja lang! Apa yang kau beri untuk suamiku? Berapa kau dibayar berapa sekali ngangkang? Hah!"
Kepalan tangan Bita menggebuk kepala wanita itu berkali-kali.
"BITA CUKUP! AKU TIDAK MENGIRA BAHWA KAU SETIDAK PUNYA HATI INI! KAU SEKEJAM ITU! WANITA GILA" umpat Zain.
"OH ZAIN, DISINI SIAPA YANG TIDAK PUNYA HATI? KAMU ATAU AKU? AKU SEDANG HAMIL ANAKMU DAN KAMU MALAH SIBUK DENGAN JANDA GATAL, BREN GSEK KALIAN! MATI!"
"APA KAU LEBIH MEMILIH WANITA BINAL INI? JUGA ANAK HARAMNYA DARI PADA ANAK KANDUNGMU SENDIRI?"
"DASAR JA LANG! WANITA HINA! BINAL! Kau tanya aku tak punya hati, itu karena kau! Kau yang membangunkan sisi gelapku yang ini "
Bita menendangi wanita yang meringkuk. Zain, lelaki itu bahkan tidak bisa menghentikan istrinya. Ia ikut meringkuk melindungi si wanita rambut hitam.
"Ikut denganku atau kau kehilangan semuanya. Kau ingatkan perjanjian pra nikah kita?" Geramnya
Bita menunggu tapi Zain lebih memilih mengurus perempuan itu. Bita dengan amarah besar melangkah meninggalkan rumah itu.
Masuk kedalam taksi online yang menunggunya. Tampangnya lebih berantakan.
"Pak antar saya ke alamat ini" dan perjalanan. Pukul setengah dua, lama ia berseteru. Bita puas melihat si wanita itu yang babak belur.
__ADS_1
***
Ting nong! Ting nong! Ting nong!
Isak mengusap wajahnya. Menatap ke nakas, ia meraih ponselnya, menatap jam digital menunjukan pukul 2 dini hari.
Siapa yang bertamu di jam 2 dan dalam keadaan hujan begini.
"Lewi" ucap Bita lemah. Ia berdiri dengan Onaldo digendongannya. Air mata bercucuran.
"Kamu kenapa?" Isak meraih Onaldo dan menggendongnya. Meletakkan di sofa besar. Bita berjalan pelan dengan dipapah perlahan.
"Bi kamu berdarah,"ucap Isak saat melihat baju bawah Bita. "Kamu tunggu disini kita ke rumah sakit."
Isak berlari kesalah satu kamar. Membangunkan Nalen. Nalen yang kesal, menemukan Bita yang berantakan pun terkejut.
"Apa yang terjadi?" Nalen, memegang bahu Bita.
"Bawa Bita ke mobil secepatnya. Kita bawa sekalian Onaldo"
Semua sudah dimobil, mereka melaju cepat ke rumah sakit. Subuh dan jalanan lengang. Mereka sampai dengan cepat. Bita ditangani dengan profesional.
Dengan mendengar nama perusahaan Lewi membuat para profesional dengan tanggap datang dan memeriksa kapanpun.
Dan benturan yang Bita alami mengakibatkan bayi yang berada dalam perut Bita, harus ditinjau lebih lanjut.
Bita hanya diam, wajahnya kusam, matanya kosong. Pipinya masihbterlihat bekas air mata yang telah mengering. Rambutnya berantakan. Namun mendengar kabar tentang bayinya. Rahangnya mengeras. Tidak lagi ia rasakan tubuhnya mendingin.
Bita masih di Icu, Isak masih menunggu di rumah sakit, sedangkan Nalen membawa Onaldo kerumah Nami dan Ibrahim.
Kedatangan Nalen dengan Onaldo di gendongannya membuat tanda tanya besar pada Nami.
Akhirnya Nalen bercerita apa yang Isak sampaikan. Mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bita.
Para dokter berlarian masuk kedalam ruangan Bita. Bita mengeluh sakit luar biasa pada perutnya.
Salah satu dokter memberitahu Isak untuk melakukan kuretase. Isak tidak dapat memutuskan, tapi melihat rintihan juga jeritan tertahan Bita, lelaki itu mengiyakan. Dan Isak menunggu operasi Bita.
Nalen datang bersama Nami juga Ibrahim, sedangkan Onaldo dititipkan pada Mbok Siti. Pekerja yang sudah lama mengabdi di keluarga Ibrahim.
Si tempat lain, Jam makan siang, Leha menunggu Isak. Mereka akan fitting baju, namun dari pagi Isak tidak dapat dihubungi.
Bukan hanya Isak, Nami juga susah sekali dihubungi. Menunggu hingga sore Isak tidak muncul, Leha mencoba menghubungi Rena pun sama.
Operasi panjang Bita. Keluarga Ibrahim menunggu dengan cemas. "Zain bisa dihubungi?" Gelengan dari kedua anaknya yang didapat Nami.
"Jangan bilang ini ada sangkut pautnya dengan Zain?" Nalen menghela nagas kasar.
"Jangan menuduh, kita harus tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Bita." Ucap Nami. Mereka melupakan Leha dan persiapan pernikahan Isak dan Leha. Perhatiannya tersita pada Bita.
__ADS_1
Bayi Bita telah Ibrahim dan Isak makamkan. Segera setelah dokter mengangkat si jabang bayi milik Bita dan Zian itu.
Tbc.